
Rain datang menemui Arkana dengan membawa paperbag yang berisi mainan dan buku-buku untuk Arkana.
" Apa yang Paman bawa ? " tanya Arkana.
Mereka berdua sedang duduk di teras rumah.
" Lihatlah "
Rain memberikan paperbag itu kepada Arkana, Arkana membuka paperbag tersebut dan terkejut melihat isinya.
" Wahh...ini hebat sekali paman "
Arkana membuka dan membongkar semua isi paperbag nya, dan menaruh semua mainan dan buku-buku itu di atas meja.
" Kamu suka ? " tanya Rain.
" Ini untuk Arkana? "
Rain tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
" Wahh...dari mana paman mendapatkan nya, di sini tidak ada yang menjual mainan seperti ini, dan buku-buku ini juga sangat bagus. Semua ini hanya di jual di kota, apa Paman baru saja ke kota ? "
Rain hanya tersenyum mendengar celotehan Arkana, awal bertemu dengan Arkana, Arkana bersikap sangat dingin dan irit bicara, namun ternyata setelah lama mengenalnya, sifat Arkana sangatlah mirip dengan Annisa yaitu periang.
" Ya, Paman tadi ke kota dan membeli ini untukmu "
" Terima kasih Paman " ucap Arkana lalu memeluk Rain.
" Sama-sama Arkana " Rain merasa bahagia saat Arkana memeluknya.
Setelahnya Arkana pun sibuk memainkan mainan yang di belikan oleh Rain. Di dalam , di balik jendela , Ummi shofiah memperhatikan Rain dan Arkana. Ummi shofiah sempat menangis karena melihat betapa bahagianya Arkana.
" Apa yang Paman lakukan di kota, Paman sudah bertemu dengan keluarga paman ? lalu kenapa Paman kembali lagi ke sini ? "
" Kamu sangat mirip dengan ibumu , Arkana " ucap Rain lalu mengusap lembut pucuk kepala Arkana.
" Mirip dengan Ummi ? maksud paman ? " tanya Rain bingung.
" Paman belum bertemu dengan keluarga paman di kota, jadi Paman kembali ke sini " jawab Rain bohong.
" Oh..apa Paman punya adik ? "
" Punya, adik paman perempuan "
" Benarkah ? kata Ummi , Abi juga punya adik perempuan, namanya bibi Kayla "
Deg...
Rain terkejut dengan penuturan Arkana.
" ibumu yang bercerita mengenai hal itu ? "
" ya Paman, sejak kecil , Abi sudah pergi untuk bekerja, dan kata Ummi , Abi tidak bisa pulang karena pekerjaan abi begitu banyak, itulah yang membuat abi tidak pulang hingga sekarang. Hanya Ummi saja yang sering ke kota untuk menemui abi. Arkana tak pernah bertemu dengan Abi, hanya Ummi saja yang sering bercerita mengenai Abi "
Kedua mata Rain berkaca-kaca mendengar penjelasan Arkana, padahal Rain sudah sangat menyakiti Annisa, namun tidak sedikitpun Annisa menceritakan hal yang buruk tentangnya kepada Arkana.
" Paman kenapa ? " tanya Arkana.
" Tidak Arkana, Arkana..paman ingin memberi tahu mu sesuatu? "
__ADS_1
" Apa itu Paman ? "
" Sebenarnya.."
" Assalamualaikum "
Annisa datang dan membuat Rain berhenti berbicara.
" Wa'alaikumussalam, ummi "
Arkana beranjak dan berjalan ke arah Annisa lalu memeluk Annisa.
" Ummi, ada Paman Rain. Ummi lihat, paman membawakan ku banyak sekali mainan dan buku cerita "
Annisa melihat ke arah tumpukan mainan dan buku-buku yang ada di atas meja. Entah Annisa harus senang atau bagaimana, saat melihat Rain, Annisa hanya ingin segera pergi dari hadapan Rain.
" Ini sudah sore Arkana, Arkana masuk dan segera mandi ya " pinta Annisa.
" Baik Bu, tunggu sebentar"
Arkana berjalan ke arah Rain, lalu mengambil mainan dan buku-buku yang ada di atas meja, memasukkan nya kembali ke dalam paperbag.
" Paman, sudah sore dan aku harus mandi. Terima kasih hadiahnya Paman " ucap Arkana.
" Ya Arkana, sama-sama " Rain mengelus lembut pucuk rambut Arkana sebelum akhirnya Arkana meninggalkan nya masuk kedalam Rumah.
Tanpa melihat dan berkata apapun, Annisa juga ikut masuk kedalam rumah dan menutup pintu Rumah seperti yang ia lakukan waktu itu. Menganggap seolah-olah Rain tak ada di sana.
Kali ini Rain juga hanya berdiam diri, dan tidak berkata apapun kepada Annisa. Membiarkan Annisa menutup pintu dan meninggalkan nya.
" Jika harus sesulit seperti ini yang akan aku lalui, maka aku akan bersabar, Annisa " batin Rain.
Malam harinya Annisa pergi ke tempat Amir dengan membawa paperbag yang berisi hadiah yang Rain berikan kepada Arkana. Annisa berniat untuk mengembalikan semua itu kepada Rain.
Sebelumnya Annisa sempat berdebat dan sedikit memarahi Arkana, hingga akhirnya Arkana mengerti dan mau menuruti kemauan Annisa untuk mengembalikan semua hadiah itu kepada Rain.
" Assalamualaikum "
" Wa'alaikumussalam, Annisa "
Dengan senyum bahagia nya Amir saat kedatangan Annisa.
" Aku bisa minta tolong kak ? " pinta Annisa.
" Iya, kenapa Annisa ? "
" Aku ingin mengembalikan ini kepada Rain "
Annisa memberikan paperbag itu kepada Amir.
" Ini apa Annisa ? " tanya Amir.
" Katakan saja aku mengembalikan nya kak, aku permisi, assalamualaikum "
" Wa'alaikumussalam "
Setelah mengucap salam, Annisa pergi. Ia ingin segera pergi karena tidak ingin bertemu dengan Rain.
" Aneh sekali , Annisa " ucap Amir , membawa paperbag ke dalam rumah.
__ADS_1
Rain yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat apa yang Amir bawa.
" Rain , ini dari Annisa. Kata nya dia ingin mengembalikan nya "
" Dimana dia ? " Rain justru bertanya mengenai Annisa.
" Maksudmu Annisa ? ya dia sudah pergi ? "
Tanpa berkata apapun, Rain berlari keluar rumah untuk mengejar Annisa.
" Hai Rain, kamu mau kemana ? " teriak Amir namun di abaikan oleh Rain.
Rain berlari keluar rumah dan mencari Annisa. Dalam perjalanan ke rumah, Annisa berjalan perlahan karena saat ini ia sedang menangis. Ia menangis karena menyesal telah membuat Arkana sedih, pasalnya tadi mereka sempat berdebat mengenai hadiah yang Rain berikan.
" Maafkan Ummi, Arkana, maafkan Ummi " ucap Annisa sembari menangis.
" Annisa tunggu !! "
Rain menarik lengan Annisa dan kini ia sudah berada di depan Annisa. Annisa terkejut melihat Rain. Sepasang kedua mata mereka saling bertemu, Rain bisa melihat bahwa mata Annisa yang basah karena menangis.
" Annisa "
Annisa segera menyeka air matanya dan menundukkan kepalanya.
" Maaf, aku harus pergi "
" Tidak Annisa, aku tidak akan membiarkan kamu pergi " ucap Rain lalu kembali mencekal lengan Annisa.
Annisa merasa gugup karena takut jika ada orang yang melihat mereka berdua.
" Lepaskan aku " ucap Annisa.
" Sampai kapan kamu harus menghindari aku , Annisa "
Annisa menarik nafas panjang, ia mencoba menguatkan dirinya sendiri.
" Lalu, apa yang harus aku lakukan. Kamu tidak ingat kalau kamu mengusirku , bukankah lebih baik menjauhi orang yang membenci kita "
Ucapan Annisa membuat hati Rain terasa tersayat - sayat.
" Annisa, tolong dengarkan aku "
" Bukankah kamu juga tidak mau mendengarkan apa yang aku ingin katakan waktu itu, sedikitpun kamu tidak mau mendengarkan ku ? jadi jangan salahkan aku kalau aku juga tidak ingin mendengarkan sedikitpun ucapanmu "
Rain terdiam , Annisa sangat pintar membolak-balik kan ucapannya, yang mana kala apa yang dikatakan oleh Annisa benar.
Annisa mencoba melepas tangan Rain darinya, namun Rain kembali sadar dan justru semakin kuat memegang lengan Annisa.
" Aku..Maafkan aku , Annisa. Maafkan aku, aku berjanji akan melakukan apa saja , asal kamu memaafkan ku , maafkan atas kebodohan ku, Annisa " Rain menatap Annisa dalam, sejujurnya walaupun sudah sangat lama berpisah, Rain masih sangat mencintai Annisa.
" Aku sudah memaafkan mu , dan yang harus kamu lakukan hanya pergi . Biarkan aku memulai hidupku dengan tenang "
Rain tak kuasa menahan air matanya mendengar ucapan Annisa.
" Tapi Annisa, aku tidak bisa. Aku ingin memulai semuanya kembali Annisa, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya "
" Kamu juga tidak memberiku kesempatan , bahkan untuk mengatakan bahwa aku sedang mengandung pun aku tidak bisa "
Kenangan pahit masa lalu Annisa kembali teringat oleh Annisa, Annisa pun tak kuasa menahan air matanya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Annisa, membuat Rain hari Rain kembali sakit. Rain kembali menyesali semua perbuatannya.