Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 85


__ADS_3

Rain tersenyum bahagia begitu keluar dari balai desa, ia senang karena bisa berbicara dengan Reyhan. Dan juga ia senang karena adiknya Kayla baik - baik saja.


" Rain, kamu sudah selesai ? lihat di sana, ada seseorang yang menunggumu. Dia akan mengantarmu sampai di jalan umum, di sana akan banyak mobil , dan akan mengantarmu ke kota " jelas Amir.


" Kamu belum menjawab pertanyaan ku , Amir ? " Rain masih menagih hutang Amir kepadanya.


" Untuk apa Rain ? kenapa kamu begitu penasaran dengan ibu nya Arkana ? apa kamu menyukainya? " muncul kecemburuan Amir kepada Rain karena Rain tampak begitu antusias mengetahui kedua orangtuanya Arkana terlebih kepada Annisa.


Rain tertawa kecil melihat ekspresi wajah Amir.


" Aku sudah katakan kan Amir, santai saja . Aku hanya menanyakan nama ? kamu jawab atau tidak , tidak menjadi masalah untukku " ucap Rain santai.


" Sudah Rain, pergilah. Kasihan bapak itu sudah menunggumu. Kamu bilang tidak penting kan, jadi aku tidak perlu mengatakan apapun mengenai Annisa " ucap Amir keceplosan.


" Annisa " batin Rain, Rain membulatkan kedua matanya lalu menatap Amir.


" Apa yang kamu katakan tadi ? " tanya Rain kembali.


" A..a..ku..nama ibunya Arkana itu Annisa, aku keceplosan, kamu sudah tahu kan. Ayo cepat pergi "


" Annisa " ucap Rain.


Rain segera berlari menuju kembali ke pondok pesantren, Amir terlihat bingung namun ia ikut mengejar Rain.


" Rain..., kenapa kamu kembali ? " teriak Amir sembari berlari.


Rain tidak menghiraukan teriakan dari Amir, ia terus berlari , pikiran Rain hanya ada Annisa, bahkan wajah Rain kini sudah basah dengan air mata. Rain ingin segera kembali dan sampai di kediaman Abah Rahman, Rain yakin kalau Annisa yang di maksud Amir adalah Annisa istrinya.


*****


Setelah berbicara dengan Abah Rahman dan Ummi shofiah, Annisa beranjak menuju kamarnya untuk menemui Arkana. Annisa melihat Arkana tertidur sembari memegang buku , Annisa pun dengan perlahan mengambil buku yang masih ada di tangan Arkana lalu memindahkan Arkana ke tempat tidur.


Kedua mata Annisa kembali berkaca - kaca melihat Arkana. Seketika semua kejadian hampir 6 tahun lalu kembali teringat jelas di ingatan Annisa, bagaimana Rain mengusirnya dan tak memberinya sedikit ruang untuk berbicara dan mendengar penjelasan Annisa. Annisa juga bahkan tak sempat untuk memberi tahu Rain bahwa dirinya sedang mengandung.

__ADS_1


Para santri dan santriwati yang melihat kedatangan Rain tampak bingung, apalagi melihat Rain yang berlari dengan cepat menuju ke kediaman Abah Rahman di susul Amir di belakangnya.


Dengan nafas tersengal - sengal dan keringat yang bercucuran, Rain tiba di kediaman Abah Rahman. Rain segera masuk kedalam rumah dan kebetulan Annisa baru saja keluar dari kamar Arkana. Mereka berdua saling berhadapan dan saling tatap.


Seketika suasana menjadi hening, Annisa masih terkejut karena Rain berdiri di depannya saat ini.


Dan setelah beberapa menit, Annisa menundukkan kepalanya. Annisa merutuki dirinya karena sempat beberapa menit saling bertatapan dengan Rain, seharusnya Annisa menundukkan kepala begitu Rain melihatnya.


Perlahan Rain melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah Annisa, mendengar suara langkah kaki Rain membuat Annisa gugup. Annisa tidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan sekarang.


" Annisa " ucap Rain dengan suara lemah, air mata Rain kembali mengalir membasahi pipinya.


Annisa membulatkan kedua matanya saat mendengar Rain memanggil namanya.


" Annisa " panggil Rain dan terus melangkahkan kakinya menuju Annisa.


" Berhenti " ucap Annisa , mengarahkan tangannya kepada Rain agar Rain tidak terus berjalan mendekatinya, Annisa juga masih menundukkan kepalanya.


" Aku bukan Annisa , maaf anda salah orang "


Annisa mencoba mengelak dan berbohong, padahal dengan jelas Rain sangat percaya kalau wanita yang ada di depannya ini adalah Annisa. Bahkan tanpa harus menunjukkan wajahnya pum, Rain sudah tahu karena Rain sangat mengenali suara Annisa.


Rain terus melangkahkan kakinya hingga kini ia sudah berada tepat di depan Annisa, jarak mereka berdua pun sangat dekat. Membuat Annisa semakin gugup.


" Saya bukan Annisa " ucap Annisa , lalu Annisa ingin pergi dari hadapan Rain. Namun Rain dengan sigap menarik lengan Annisa dan kini kedua tangan Rain sudah memegang kedua lengan Annisa.


" Aku tahu kamu , Aku tahu kalau kamu Annisa, jangan membohongi ku Annisa " ucap Rain.


" Lepaskan saya " ucap Annisa sembari mencoba melepas pegangan tangan Rain. Annisa sebenarnya saat ini mencoba menguatkan dirinya dan mencoba menahan bendungan air matanya.


" TATAP AKU ANNISA...!! " ucap Rain dengan meninggikan suaranya, membuat Abah Rahman dan Ummi yang ada di kamar mendengarnya.


Annisa pun reflek menatap wajah Rain, dan kini kedua mata mereka saling bertemu. Annisa bisa melihat bagaimana kedua mata Rain yang sembab dan basah karena air mata.

__ADS_1


" Ada apa Annisa ? " tanya Abah Rahman, dan mereka terkejut saat melihat Rain kembali dan kini saling berhadapan dengan Annisa.


Rain dan Annisa saling memandang ke arah Abah Rahman dan Ummi shofiah. Di belakang Rain dan Annisa juga ada Amir yang baru saja tiba dan ikut terkejut melihat pemandangan di depannya.


Annisa segera melepas pegangan tangan Rain dan lengannya, dan Annisa menjauh dari Rain.


" Nak Rain ? kamu kembali ? " tanya Ummi Shofiah.


Rain menyeka air matanya lalu mencoba mengatur nafasnya dan berbicara dengan Abah Rahman dan Ummi shofiah.


" Ya Abah, Ummi, saya kembali " ucap Rain.


" Ada apa nak Rain ? apa ada sesuatu yang tertinggal ? " tanya Abah Rahman.


" Ada Abah, istri dan anak saya yang tertinggal di sini " ucap Rain lalu melihat ke arah Annisa.


Annisa hanya terus menunduk, semua rasa takut Annisa akhirnya terjadi, padahal Annisa sudah merasa lega karena Rain pergi. Namun ternyata Allah berkehendak lain.


Amir yang berada di depan pintu syok setelah mendengar ucapan Rain.


" Apa maksudmu nak Rain ? " tanya Ummi Shofiah.


" Dia Annisa , Ummi. Dia Annisa istriku" ucap Rain sembari menunjuk ke arah Annisa.


Amir kembali terkejut mendengar penuturan Rain. Sedangkan Abah Rahman dan Ummi shofiah tidak terkejut karena sebelumnya mereka sudah tahu semuanya dari Annisa.


" BERHENTI.... !! " ucap Annisa dengan meninggikan sedikit suaranya. Semua yang ada di ruangan itu melihat ke arah Annisa.


" Berhenti mengatakan kalau aku istrimu, aku bukan istrimu, dan tidak ada anakmu di sini. Jadi lebih baik kamu pergi dari sini " ucap Annisa, Annisa tak lagi menundukkan kepalanya, kini ia berbicara dengan tegas kepada Rain.


Hati Rain terasa tersayat saat mendengar ucapan terakhir Annisa, Rain merutuki dan menyesali kebodohannya karena tak mempercayai Annisa. Sehingga hal itu membuat Rain terdiam seperti patung.


Annisa pun memilih untuk masuk kembali ke kamar Arkana, ia ingin memastikan apakah Arkana masih tidur atau tidak karena Annisa tidak ingin Arkana mendengar perseturuan mereka di luar, selain itu Annisa juga ingin menghindar dari Rain.

__ADS_1


__ADS_2