Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 77


__ADS_3

Arkana menghampiri Ummi shofiah yang tengah sibuk memasak di dapur.


" Nenek " sapa Arkana.


" Iya Arkana ? " tanya Ummi Shofiah sembari membersihkan sayuran yang baru saja ia potong.


" Kapan Ummi pulang nek ? " tanya Arkana yang sudah merindukan sang ibu.


Ummi Shofiah tidak langsung menjawab pertanyaan Arkana, ia terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaan nya. Dan setelahnya Ummi shofiah mengajak Arkana untuk duduk bersama.


" Kamu merindukan ibumu ? " tanya Ummi Shofiah dengan lemah lembut dan Arkana menjawab dengan hanya menganggukkan kepalanya.


" Bukankah ibumu sudah katakan kalau ia sedang ada pekerjaan di kota dan akan pergi selama seminggu ? "


Dengan wajah malas , Arkana kembali menjawab pertanyaan Ummi shofiah dengan kembali menganggukkan kepalanya.


" Ini baru tiga hari, Arkana. Masih tersisa empat hari lagi. Jadi bersabarlah ya " jelas Ummi shofiah sembari mengelus lembut rambut Arkana.


" Anak pintar, kalau begitu kembali lah ke kamarmu. Bukankah Kakek meminta Arkana untuk menjaga tamu kita ? "


" Dia bukan tamu nek, dia lelaki misterius yang tidak kita kenal. Dan Ini sudah tiga hari, kenapa dia belum sadar juga nek ? "


Ummi shofiah kembali tersenyum mendengar pertanyaan Arkana. Ummi shofiah mengerti kalau sebenarnya pertanyaan yang di lontarkan Arkana karena ia tidak suka kalau ada seseorang yang tidur di kamarnya. Ia terbiasa sendiri, dan tidak suka kalau ada yang menemani nya kecuali sang ibu.


" Arkana, kembalilah !! secepatnya dia pasti akan sadar. Maka dari itu Arkana harus ada di sampingnya ya kalau nanti sewaktu - waktu dia sadar. Agar dia tidak bingung dan segera kabari Nenek kakek kalau dia sudah sadar. Jangan lupa hafalan nya juga sayang, di baca terus ya "


" Baiklah nek "


Arkana terpaksa kembali ke kamarnya, mengikuti perintah sang nenek. Ia merasa bosan karena tidak keluar kamar sama sekali sejak tiga hari ini karena harus menjaga lelaki misterius ketika Abah Rahman sedang tak ada di rumah dan pergi mengajar.


" Seharusnya kakek dan nenek tidak membiarkan ku sendiri dan hanya berdua dengan lelaki itu " omel Arkana sembari berjalan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Arkana masuk ke dalam kamar, dan memperhatikan lelaki itu. Terlihat beberapa luka di tubuhnya mulai mengering. Namun tidak ada tanda bahwa ia akan sadar.


Karena di kamar Arkana hanya ada satu kasur, Arkana pun duduk di samping lelaki itu. Kamar Arkana tidaklah besar, hanya ada sebuah kasur kecil yang di bentangkan di lantai, sebuah lemari kecil dan meja untuk ia belajar. Walaupun begitu kamar Arkana selalu tampak bersih dan rapi.


Arkana pun mulai membaca tilawah dan memulai hafalan nya. Di usia nya yang menginjak 6 tahun, Arkana sudah Pasih membaca Alquran. Dan ia juga sudah banyak menghafalkan beberapa surah, tentu hal itu berkat bimbingan Abah Rahman, Ummi shofiah, terutama Annisa sang ibu.


Mendengar suara merdu Arkana, perlahan lelaki misterius itu membuka matanya. Dengan sesekali mengerjap-ngerjap kan matanya. Dan setelah membuka mata dengan sempurna, lelaki itu menoleh ke sebelah kanan, mencari sumber suara merdu yang membuat hatinya merasa nyaman.


Arkana tidak sadar kalau lelaki di sampingnya sudah sadar dan memperhatikan nya saat ini.


" Siapa dia ? suaranya sangat merdu " batin lelaki itu.


Seketika lelaki itu mengingat akan Annisa, suara merdu Annisa saat pernah mengaji di tengah malam.


Lelaki itu mencoba untuk bangkit dan duduk, karena luka di perutnya masih belum kering. Ia merasakan sakit dan sedikit meringis.


Suara rintihan lelaki itu menyadarkan Arkana, Arkana sedikit terkejut karena melihat lelaki misterius di sampingnya sudah sadar dan berusaha untuk duduk.


Lelaki misterius itu berhasil duduk, dan saat melihat ke arah depan. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Arkana. Lelaki tersebut terkejut karena wajah anak kecil di depannya sangat mirip dengannya. Lelaki misterius itu adalah RAIN.


" Kemana dia ? " batin Rain, Rain berusaha bangkit namun tubuhnya tidak mampu.


" Nenek....!! " teriak Arkana.


" Ada apa Arkana ? "


" Lelaki misterius itu sudah sadar nek "


" Sudah sadar ? baiklah kalau begitu segera temui kakek dan beritahu " pinta Ummi shofiah.


Arkana berlari keluar rumah dan mencari Abah Rahman yang tengah sibuk berceramah di masjid sembari memberi bimbingan kepada para santri dan santriwati penghuni pondok pesantren nya.

__ADS_1


Setelah memberi tahu Abah Rahman, Abah Rahman segera pergi untuk menemui Rain. Para santri pun menjadi penasaran akan sosok lelaki misterius yang kata mereka mirip dengan Arkana.


Rain terlihat bingung melihat Abah Rahman yang datang dengan satu orang lelaki yang bernama Amir, salah satu guru di pondok pesantren yang sudah sangat mengenal Abah Rahman dan menjadi salah satu kepercayaan Abah Rahman.


" Dimana aku ? " tanya Rain.


" Tenanglah, kamu berada di rumah ku. Perkenalkan aku Rahman, dan ini Amir " jelas Abah Rahman.


" Aku harus pergi " ucap Rain lalu mencoba bangkit namun tubuhnya menolak dan terasa begitu sakit.


" Beristirahat lah, kamu sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari. Kalau kondisi mu sudah pulih, kamu bisa pergi " ucap Abah.


Rain hanya diam dan mencoba menenangkan dirinya sendiri.


" Kalau boleh tau, siapa nama kamu nak ? " tanya Abah Rahman.


Rain diam dan cukup lama berpikir sembari memperhatikan Abah Rahman. Abah Rahman terlihat orang yang baik , dan sepertinya mereka bukan orang jahat menurut Rain.


" Nama ku RAIN, apa di sini ada telepon. Aku perlu menghubungi seseorang " pinta Rain.


" Di tempat kami tidak ada ponsel nak Rain, tapi kita bisa menggunakan telepon umum yang ada di balai desa. Hanya saja butuh waktu untuk mencapai balai desa "


Rain kembali diam, ia harus segera menghubungi Reyhan dan memberi tahu keberadaan nya. Ia ingin segera pergi dari desa ini dan mencari Annisa.


" Permisi Abah, ini makanannya "


Ummi shofiah datang dan memecah keheningan, Ummi shofiah membawakan semangkuk bubur untuk Rain karena setelah sadar Rain pasti kelaparan.


" Makanlah nak, kamu pasti lapar. Kami semua akan keluar, ini istri saya Ummi shofiah. Jika butuh sesuatu, kamu bisa berteriak. Kami ada di depan "


Semua orang keluar dari kamar dan meninggalkan Rain. Arkana bersembunyi dari balik pintu , namun masih bisa memperhatikan Rain.

__ADS_1


Abah Rahman memberi ruang untuk Rain kembali beristirahat dan makan.


Perut Rain berbunyi dan ia merasa sangat lapar apalagi melihat bubur yang ada di depannya. Namun Rain tidak berani memakannya karena sebenarnya Rain masih belum sepenuhnya percaya dengan Abah Rahman dan keluarga nya. Terlebih dengan apa yang ia alami sebelumnya, Rain harus lebih berhati-hati karena ia tahu bahwa ada seseorang yang menginginkankan mati namun belum tahu siapa dalang dari semua ini.


__ADS_2