Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 110


__ADS_3

Reyhan mengantar rombongan Abah Rahman dan lainnya ke sebuah rumah atau lebih tepatnya perumahan elit yang sudah Rain siapkan untuk mereka. Amir duduk di depan bersama Reyhan, sedangkan Abah Rahman, Ummi shofiah dan juga Arkana duduk di belakang.


" Apakah nak Reyhan rekam kerja nya Rain ?Abah Rahman bertanya kepada Reyhan.


" Benar Om, saya bukan hanya reka kerja, saya sahabat dan juga bisa di bilang kamu sudah seperti keluarga "


Abah Rahman tersenyum, " Panggil saja saya Abah Rahman nak Rey "


" Oh..maaf , baiklah Abah Rahman "


" Maafkan kami ya nak Reyhan, kamu sudah merepotkan "


" Tidak om, ehh Abah, saya tidak merasa direpotkan sedikit pun, karena kalian keluarga nya Annisa, berarti kalian keluarga saya juga "


" Jadi nak Reyhan kenal dengan Annisa ? " tanya Ummi Shofiah.


" Tentu Ummi, saya bahkan sudah menganggap Annisa sebagai adik saya sendiri, saya juga menjadi saksi pernikahan Rain dan Annisa. Saya bersyukur sekali , akhirnya bisa kembali bertemu dengan Annisa "


Dalam perjalanan, Reyhan asyik mengobrol bersama Reyhan , Amir hanya diam sembari mendengarkan, dan Arkana sibuk memperhatikan jalanan, memperhatikan lampu-lampu jalan yang gemerlap, begitu juga dengan bangunan - bangunan yang menjulang tinggi, membuat takjub Arkana.


Hanya butuh waktu satu jam akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


" Ini rumahnya ? " tanya Amir saat melihat rumah yang cukup besar dengan pagar yang menjulang tinggi.


" Benar ini Rumahnya " ucap Reyhan.


Tanpa di minta, pagar rumah yang menjulang tinggi terbuka begitu melihat mobil yang Reyhan bawa.


Saat pagar terbuka, terlihat ada lima orang lelaki yang berdiri di dekat pagar dekat seragam berwarna hitam. Seragam kelima lelaki itu sama dan mereka terlihat sangat menyeramkan.


Begitu turun dari mobil, baik Abah, Amir, Ummi dan Arkana tercengang melihat rumah yang ada di depan mereka, terlihat mewah dengan desain modern tentunya.


Reyhan mempersilahkan mereka semua masuk kedalam rumah. Kekaguman tidak hanya terlihat dari luar rumah, sampai di dalam rumah pun sama.


Amir berbisik di telinga Abah Rahman, " Abah, rumahnya besar sekali, sangat megah "


Abah Rahman tersenyum, " Alhamdulillah, Amir"


" Wahhh...Paman Rey, ini rumah siapa ? Apa ini rumah Abi di kota ? " tanya Arkana.

__ADS_1


" Tentu Arkana, ini rumah Ayahmu "


" Besar sekali "



Arkana berlari menuju sofa dan langsung duduk, merasakan betapa empuknya sofa tersebut, sangat berbeda dengan yang mereka punya di rumah.


Beberapa pelayan datang menemui mereka, Amir langsung menundukkan kepalanya melihat beberapa pelayan wanita yang masih cukup muda memakai pakaian yang tingginya di atas lutut, tentu saja Reyhan tidak memikirkan hal itu.


" Kembalilah , ganti pakaian kalian dengan yang lebih panjang , setelah itu kembali lagi ke sini "


Melihat Amir dan Abah Rahman yang tidak nyaman, Reyhan yang mengerti pun meminta para pelayan tersebut mengganti pakaian mereka dengan lebih sopan.


" Maaf Amir, Abah, kalau begitu saya akan menunjukkan kamar kalian "


Reyhan mengajak rombongan Abah Rahman menuju kamar mereka, kamar Abah dan Ummi terlebih dahulu, kemudian Amir, dan terakhir Arkana.


Kamar Arkana di desain lebih unik dari yang lainnya, tentu dengan desain yang sangat di sukai oleh Arkana, berbagai macam buku dan juga mainan banyak sekali tersusun rapi di kamar tersebut. Semua tentulah atas perintah Rain yang ingin melakukan terbaik untuk Arkana, membuat Arkana bahagia dan senang dengan kamar barunya.


" Kamar ini..keren sekali Paman, terima kasih banyak Paman Rey "


" Tentu Pama, Arkana sangat suka "


" Baiklah kalau begitu , Arkana mandi ya , setelah itu turun ke bawah untuk makan malam "


" Baiklah Paman "


Di tempat lain pun, Amir merasakan hal yang sama. Amir berbaring di atas ranjang empuknya, Amir bahkan sampai terpejam sembari tersenyum.


" Nyaman sekali, sangat berbeda dengan yang ada di rumah, ternyata Rain sangat kaya, sangat jauh dengan diriku, tapi tidak apalah, paling tidak aku tidak khawatir kalau Annisa dan Arkana akan kesusahan " batin Amir.


Rain benar-benar menyiapkan semua yang terbaik untuk Abah Rahman, Ummi shofiah, Amir dan Arkana. Bahkan Rain menyewa banyak pelayan atau pembantu di rumah tersebut khusus untuk melayani dengan baik mereka. Tak lupa Rain juga meminta musholla khusus yang wajib ada di rumah tersebut, agar memudahkan mereka melaksanakan sholat saat waktunya tiba.


*****


Rain buru-buru kembali ke dalam rumah sakit setelah mengantar rombongan Abah yang bersama Reyhan.


Rain bahkan berlari agar secepatnya bisa sampai di ruang rawat Annisa, Rain tidak ingin Annisa merasa sedih karena ia terlalu lama, dan takut jikalau Annisa membutuhkan sesuatu namun dirinya tak ada.

__ADS_1


Dengan nafas tersengal - sengal, Rain masuk ke dalam ruang rawat Annisa , sampai di sana ternyata Annisa sudah tertidur.


Rain tersenyum melihat Annisa , mungkin efek obat yang Annisa minum membuat Annisa lebih cepat tertidur, padahal baru saja hitungan menit Rain pergi.


Perlahan Rain merapikan posisi tidur Annisa, lalu menarik selimut dan menyelimuti Annisa.


Karena Annisa tertidur sangat lelap, kesempatan ini Rain ambil untuk memindahkan Annisa ke tempat rawat yang lebih baik. Yaitu di ruangan VVIP dimana mereka tidak akan bersama dengan banyaknya pasien lain yang juga ada di sana.


Rain tentu ingin melakukan yang terbaik untuk istrinya, Rain juga meminta agar semua perawat beserta Dokter yang menangani istirnya semua adalah perawat atau Dokter wanita.


Sekitar pukul 2 malam, Annisa terbangun dari tidurnya, dan tentu saja Annisa terkejut karena ia berada di ruangan yang berbeda. Setelah beberapa menit Annisa mengerti bahwa ia berada di ruang VVIP, dan tentu sangat mudah untuk Rain melakukan semua ini. Annisa juga melihat Rain yang sedang melakukan sholat tahajjud di sampingnya.


Annisa memperhatikan Rain yang sedang melakukan sholat tahajjud, Annisa merasa senang karena Rain kini sudah rajin sekali beribadah.


Melihat Rain yang sudah selesai dengan sholatnya, Annisa buru-buru memejamkan kedua matanya, Annisa berpura-pura bahwa ia masih tertidur.


Rain berdiri lalu melipat sajadah nya, setelahnya Rain berjalan ke arah Annisa dan memperhatikan wajah cantik Annisa.


Rain pun mengelus lembut pucuk kepala Annisa kemudian mengecup kening Annisa. Dan saat bersamaan hidung Annisa terasa gatal, Annisa tidak bisa menahannya dan akhirnya...


HUAACIMM....


Annisa bersin, Annisa pun lalu membuka kedua matanya, ia tak bisa berpura-pura tidur lagi.


Rain mengambil gelas yang berisi air dan memberikannya kepada Annisa, Rain memegangi gelas tersebut dan membantu Annisa minum.


Setelah Annisa minum, Rain menaruh kembali gelasnya kemudian duduk di samping Annisa. Memperhatikan wajah cantik Annisa dengan dalam, membuat Annisa merasa gugup karena di tatap oleh Rain.


" Apa kamu lapar ? " tanya Rain.


" Kenapa kita di sini ? " Annisa justru bertanya hal lain.


" Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu Annisa, setidaknya di sini kita tidak harus bergabung dengan pasien lain, dan kamu juga lebih bebas bergerak kan ? "


" Tapi, aku tidak masalah kalau harus bergabung dengan pasien lain "


" Tidak masalah untukmu, tapi masalah untukku. Aku hanya ingin yang terbaik untuk istriku, dengan begini aku juga bisa menjaga istriku lebih baik dan merasa nyaman dan aman "


Sebenarnya apa yang di katakan oleh Rain benar, karena setidaknya Annisa bisa lebih merasa aman dan nyaman, terlebih saat ini jika hanya ada dia dan Rain, setidaknya ia bisa dengan leluasa bergerak dan bisa lebih leluasa untuk memakai atau tidak memakai cadarnya.

__ADS_1


__ADS_2