Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 80


__ADS_3

Keesokan harinya Rain memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya. Rain melihat seisi rumah yang semua terlihat sederhana, tidak ada barang-barang yang mewah.


Rain memilih untuk pergi ke teras rumah, di teras ternyata ada Arkana yang sedang duduk sembari membaca sebuah buku.


Rain lalu menghampiri Arkana dan duduk di samping Arkana. Arkana hanya melirik ke arah Rain dan kemudian beranjak dan memberi sedikit jarak antara dirinya dan Rain. Rain tersenyum tipis melihat sikap Arkana.


" Dimana ayah dan ibumu ? aku tidak melihat mereka di dalam ? " tanya Rain.


" Mereka adalah nenek dan kakek ku, mereka berada di pondok dan sedang mengajar " jawab Arkana tanpa memandang Rain, ia masih fokus membaca bukunya.


Rain kembali tersenyum melihat sikap Arkana, melihat sikap Arkana membuat Rain gemas.


" Kau di sini untuk menjaga ku ? " tanya Rain kembali.


" Tidak " jawab Arkana singkat.


" Dimana kedua orangtuamu ? tanya kembali.


" Ummi dan Abi ku tidak ada, mereka sedang ada pekerjaan di kota " jawab Arkana.


Rain hanya tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Aku ingin bertemu dengan kakekmu ? kamu mau mengantarku ? " pinta Rain.


Arkana terdiam lalu menutup bukunya, setelahnya ia melihat ke arah Rain. Arkana melihat Rain begitu sehat hari ini, wajah Rain juga tidak terlihat pucat lagi.


" Baiklah " ucap Arkana lalu beranjak dari duduknya.


Rain kembali tersenyum lalu berjalan menyusul Arkana.


Rain berjalan berdampingan dengan Arkana, Rain memperhatikan sekelilingnya. Tak jauh dari rumah Abah Rahman, Rain melihat banyaknya rumah-rumah kecil dimana tempat para santri tidur dan menginap. Ada beberapa bangunan juga yang tampak seperti sekolahan ,ada satu masjid, dan juga juga beberapa bangunan lagi yang Rain tidak tahu untuk apa bangunan tersebut. Rain juga bisa melihat sebuah lapangan kecil dimana ada beberapa santri yang sedang berlatih sepak bola.


Beberapa Santri melihat Arkana dan juga Rain, mereka saling berbisik dan berbincang, mereka saling berbisik mengenai Rain dan Arkana yang wajahnya sangat mirip. Bahkan bisa di bilang mereka mirip seperti seorang ayah dan anak.

__ADS_1


" Ini pondok pesantren? " tanya Rain.


" Iya " kembali Arkana hanya menjawab singkat apa yang Rain tanyakan.


" Milik kakek dan nenek mu ? " tanya Rain.


" Iya " jawab Arkana.


Lama-kelamaan Rain menjadi kesal karena Arkana hanya menjawab pertanyaan nya dengan satu kata saja.


" Tunggu sebentar" ucap Rain.


Arkana pun menghentikan langkahnya. Rain berjongkok dan memutar badan Arkana agar melihatnya.


" Kamu takut padaku ? " tanya Rain, memegang kedua lengan Arkana.


" Tidak "


Arkana merasakan hal yang berbeda saat Rain mengusap kepalanya. Arkana merasa rindu dengan sosok seorang ayah.


" Kata Ummi, jadilah seorang yang tidak banyak bicara. Bicaralah seadanya namun berarti , dan kata Ummi , aku tidak boleh banyak berbicara dengan orang asing " jelas Arkana.


Rain mendengus kesal, " lagi-lagi kata Ummi, lagi-lagi kata Ummi, lihat saja kalau Ummi mu sudah datang nantinya. Aku akan memberi tahunya cara mendidik anak yang benar " batin Rain.


" Aku bukan orang asing, bukankah aku tamu di rumah kalian ? "


" Arkana AWAS.....!! " teriak salah satu santri.


Melihat sebuah bola besar yang menghampiri Arkana dan ingin mengenai Arkana, Rain segera membalik badannya untuk melindungi Arkana, dan jadilah punggung Rain yang terkena bola tersebut.


" Anda tidak apa ? maaf "


Beberapa Santri yang tengah bermain bola menghampiri Rain dan Arkana. Arkana hanya diam dan menatap Rain saat Rain berusaha melindunginya.

__ADS_1


" Tidak, kami baik-baik saja. Lain kali berhati-hati lah " pinta Rain.


" Baiklah paman, Arkana maafkan kakak ya "


" Iya kak " jawab Akana.


Beberapa Santri pun meninggalkan Arkana dan Rain setelah mereka meminta maaf.


" Kau tidak apa kan ? tanya Rain .


" Tidak, terima kasih Paman, sudah menyelamatkan ku " ucap Arkana.


Rain tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari Arkana.


" Itu namanya refleks cepat, lain waktu kamu harus belajar dari ku. Agar dapat bergerak cepat dalam segala hal untuk menghindari bahaya seperti tadi " ucap Rain membanggakan dirinya karena merasa Arkana tidak pernah di ajarkan hal seperti itu dari kedua orangtuanya dan Kali ini Rain merasa menang.


Arkana hanya tersenyum tipis mendengar apa yang Rain katakan. Senyum tipis yang bahkan Rian pun tak dapat melihatnya.


Rain dan Arkana kembali melanjutkan perjalanan mereka.


" Di sebelah sana apa, Arkana ? " tanya Rain.


" Itu Asrama atau tempat tinggal untuk santri wanita , Paman "


" Oh...ternyata tempat ini lumayan luas juga " ucap Rain.


" Itu suara kakek, sepertinya kakek berada di masjid " ucap Arkana lalu berjalan terlebih dahulu dari pada Rain.


Rain hanya mengikuti langkah Arkana hingga mereka sampai di masjid. Terlihat Abah Rahman sedang mengajarkan mengaji kepada sebagian Santri.


Rain masuk kedalam masjid bersama Arkana, Arkana dan Rain duduk di bagian belakang sembari menunggu Abah Rahman selesai mengajar ngaji.


Hati Rain merasa sejuk dan tentram saat mendengar suara merdu anak-anak santri yang sedang mengaji. Rain juga memperhatikan sekeliling masjid, seketika kedua mata Rain berkaca-kaca, setelah sekian lama barulah ini ia kembali menginjakkan kaki nya kedalam masjid. Rain juga kembali mengingat Annisa, di kala dulu saat dalam perjalanan dan waktu sholat tiba, Annisa selalu minta untuk berhenti di masjid , dan Rain hanya bisa menunggu di luar , tidak ikut bersama Annisa untuk melaksanakan sholat. Sungguh rain adalah imam yang tak baik, Rain tidak bisa membimbing dan mencontohkan yang baik untuk istri nya Annisa. Rain kembali merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2