Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 67


__ADS_3

Rain benar-benar menepati janjinya untuk merawat Annisa. Selama seminggu Rain tidak turun bekerja hanya untuk menemani dan menjaga Annisa.


Malam ini Rain kembali membawa Annisa ke Dokter untuk memeriksakan luka di kaki Annisa. Rain ingin memastikan apakah luka di kaki Annisa sudah membaik atau tidak, karena esok harinya Rain sudah harus bekerja.


Karena luka di kaki Annisa cukup dalam, tentu saja belum pulih seutuhnya, namun bisa terlihat kalau luka di kaki Annisa mulai mengering. Dokter mengatakan kalau penyembuhan di kaki Annisa akan membaik sekitar 2 hingga 3 Minggu.


" Rey, aku akan mengambil cuti selama satu atau dua Minggu lagi. Untuk meeting kita adakan secara online saja, dan berkas-berkas yang perlu aku tanda-tangani, antar saja ke apartemen "


" Baik Rain "


Rain menutup sambungan teleponnya setelah berbicara kepada Reyhan.


" Mas, bekerjalah besok. Aku baik-baik saja Mas Rain "


" Tidak Annisa, aku akan merawat dan menjaga mu hingga luka mu benar-benar pulih "


" Tapi Mas.. "


" Aku tidak suka penolakan Annisa "


" Baiklah "


Annisa kesal dengan sikap Rain yang selalu keras kepala.


" Kita makan malam dulu , setelah itu baru pulang "


" Tidak Mas, aku ingin pulang sekarang "


" Kenapa ? apa kau lelah ? "


" Ya "


Rain mengerenyitkan keningnya mendengar jawaban singkat dari Annisa. Rain memandang Annisa dimana Annisa sedang mengalihkan pandangannya ke balik jendela kaca mobil. Melihat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang.


" Turunkan aku mas, aku bisa jalan sendiri " pinta Annisa.


Rain menurunkan Annisa tepat di depan pintu masuk apartemen. Kayla juga ada di sana karena ia yang membukakan pintu untuk Rain dan Annisa.


Annisa berjalan dengan sedikit tertatih, ia memaksa jalan sendiri, ingin menunjukkan kepada Rain bahwa ia baik-baik saja.


" Annisa, biar aku gendong "


" Aku bisa sendiri Mas "


Annisa segera mempercepat langkahnya dan masuk kedalam kamar.


" Annisa "


Rain memanggil Annisa dan mengiringi Annisa masuk kedalam kamar.


" Kak Rain dan Kak Annisa kenapa ? apa mereka bertengkar ? "


Kayla tampak bingung memikirkan Rain dan Annisa.


Setelah dari kamar mandi, Annisa segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Rain yang sejak tadi menunggu Annisa juga ikut berbaring.


Annisa buru-buru memejamkan kedua matanya, ia kesal dengan Rain karena Rain begitu keras kepala.


" Annisa "


" Aku lelah Mas, aku ingin tidur sekarang " Annisa berbicara dengan kedua mata yang masih tertutup.

__ADS_1


" Annisa kenapa ? apa dia marah kepadaku ? Apa mungkin kata-kata ku tadi terlalu kasar kepada Annisa ? " batin Rain.


Rain mengelus lembut pucuk kepala Annisa, lalu menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua. Rain juga melingkarkan tangannya di tubuh Annisa.


" Maafkan aku " ucap Rain.


Rain menutup kedua matanya dan tak lama tertidur. Saat Rain tertidur, Annisa membuka kedua matanya dan menatap Rain.


" Maafkan aku juga Mas, aku hanya kesal karena Mas Rain terlalu keras kepala " batin Annisa.


Seperti biasa, Annisa pasti bangun lebih awal dari Rain. Seusai sholat subuh, Annisa pergi ke dapur untuk membuat sarapan.


" Wangi sekali... "


Kayla keluar dari kamar, masih setengah mengantuk ia berjalan ke arah dapur karena mencium aroma wangi masakan yang tercium dari arah dapur.


" Kayla "


Annisa tersenyum melihat Kayla.


" hoammm....kak Annisa, kak Annisa masak ? "


Kayla duduk dan memerhatikan Annisa yang sedang sibuk memasak.


" Iya, mau buat sarapan. Sudah hampir seminggu kakak hanya di kamar saja. Dan sekarang luka di kaki kakak sudah membaik, jadi kakak sudah bisa masak untuk sarapan kalian "


" Minggu depan aku sudah harus kembali kak, aku pasti rindu masakan kak Annisa "


" Hanya rindu masakannya, sama orangnya tidak rindu ? " ucap Annisa sembari terkekeh.


" Kedua-duanya Kak, aku juga rindu kakak ipar aku yang baik hati ini. Aku beruntung sekali punya kakak seperti kak Annisa "


Kayla beranjak dari duduknya dan menghampiri Annisa.


Annisa dan Kayla saling pandang lalu saling tersenyum.


" Oh ya kak, kakak masak apa ? "


" Cuma nasi goreng dan telur ceplok, karena stok di kulkas cuma ada ini "


" Nasi gorengnya pasti enak , aku jadi lapar kak "


" Kalau begitu cepat mandi, habis itu baru sarapan "


" Baik kak "


" Tunggu sebentar Kay "


" Iya kenapa kak ? "


" Kamu sudah sholat subuh ? kalau belum sholat dulu, habis itu mandi baru sarapan ya "


" Sholat kak ? "


" Iya sholat subuh ? kenapa ? "


" Aku kan tidak pernah sholat " batin Kayla.


" Kay, kenapa malah melamun "


" I..i..ya kak "

__ADS_1


Kayla segera masuk ke kamarnya, Annisa hanya tersenyum melihat Annisa.


*****


Rain terbangun dari tidurnya, ia langsung beranjak duduk saat tidak melihat Annisa di sampingnya.


Rain bergegas ke kamar mandi, dan di dalam kamar mandi Annisa juga tidak ada. Rain pun segera keluar dari kamar untuk mencari Annisa.


" Mas , sudah bangun " ucap Annisa saat melihat Rain.


" Apa yang kamu lakukan ? " tanya Rain, lalu Rain melihat ke arah kaki Annisa.


" Memasak , untuk sarapan kita "


" Kaki kamu jangan terlalu banyak di gerakkan, bukannya Dokter sudah memberi tahu "


" Aku sudah membaik Mas, coba lihat " Annisa menggerakkan kakinya, dan ia juga berjalan maju mundur di depan Rain.


" Tapi tetap saja Annisa "


" Mas, aku baik-baik saja. Mas tau, luka di kaki ku ini hanya luka kecil. Dulu, aku pernah mendapat luka yang lebih besar dari ini , sewaktu kecil aku pernah ikut ayah mencari ikan di laut, dan tidak sengaja kaki aku terinjak serpihan kaca besar dari botol minuman yang berserakan di pantai. Entah siapa yang membuang dan memecahkan botol itu di pantai Mas. Karena luka itu ku mengalami demam tinggi, bahkan telapak kaki aku di jahit dengan puluhan jahitan "


Rain terdiam mendengarkan cerita dari Annisa.


" Tapi aku bersyukur Mas pecahan botol kaca itu mengenai kakiku. Karena kalau tidak seperti itu, mungkin bisa jadi banyak orang terluka. Apalagi di pantai banyak anak-anak yang bahkan lebih kecil dari aku yang suka bermain di lantai "


Rain masih mendengarkan cerita dari Annisa, " Hati kamu terbuat dari apa Annisa, bagaimana bisa kamu justru bersyukur dengan luka yang kamu dapatkan " batin Rain.


" Lukanya di kaki sebelah kiri Mas, ya mungkin karena waktu itu aku masih kecil, jadi bekas lukanya sudah hilang. Jadi luka yang ada di kaki ku sekarang hanya luka kecil Mas, Mas tidak perlu khawatir ya "


Annisa tersenyum manis kepada Rain, Annisa berharap dengan ceritanya ini Rain bisa mengerti kalau sebenarnya Annisa sudah baik - baik saja. Jadi tidak ada yang harus di khawatir kan lagi.


" Itu dulu, bukan sekarang. Karena kamu istriku, jadi aku akan selalu menjaga kamu. Sampai luka kamu benar-benar sembuh , mau itu luka kecil atau luka besar "


Annisa tertunduk mendengar ucapan Rain. Lalu ia memanyunkan bibirnya di depan Rain.


" Iya Mas, tapi aku baik-baik saja Mas. Mas sudah bisa bekerja , aku bisa di rumah bersama Kayla "


" Aku bisa bekerja dari rumah, Annisa "


" Tapi Mas, Mas sudah lama sekali tidak bekerja. Bagaimana nanti kalau ada yang... "


Cup..


Annisa terdiam saat Rain justru membungkam bibir Annisa dengan bibirnya.


" Mas Rain..apa yang.. "


Cup..


Rain kembali mencium Annisa.


" Mas sudah... "


Cup...


Rain kembali mencium Annisa, Annisa pun akhirnya menyerah. Ia diam dan tidak lagi berbicara.


Rain tersenyum melihat Annisa yang sedang cemberut.


" Aku mandi dulu " bisik Rain di telinga Annisa, lalu mengelus lembut pucuk kepala Annisa.

__ADS_1


Setelah Rain masuk kamar, Annisa tersenyum karena ulah Rain.


Bersambung...


__ADS_2