
Reyhan sedang duduk dan sibuk dengan laptop yang ada di depannya. Ia mencoba mencari informasi mengenai Tante sarah, dan profil kehidupan Tante Sarah terdahulu.
Jika dulu tempat kerja Reyhan berada di di ruangan yang sama dengan Rain, kini sudah tak lagi setelah Iyas menggantikan posisi Rain. Iyas meminta Reyhan untuk bekerja di luar ruangan yaitu bersama dengan sekertaris mereka.
Iyas kini menjadi pengganti kedudukan Rain setelah rapat resmi yang di adakan beberapa hari lalu. Rapat resmi yang tentunya sedikit membuat perusahaan terguncang. Terutama untuk Reyhan dan para karyawan di sana.
Tante Sarah dengan jelas menyatakan bahwa Iyas sebagai pengganti Rain untuk memimpin perusahaan. Awalnya sebagian karyawan banyak yang mengeluh, dan ada beberapa orang yang berani dan terang-terangan secara langsung menolak ajuan yang di lakukan oleh Tante Sarah.
Dan setelah beberapa hari kemudian beberapa orang yang menolak tiba-tiba di berhentikan secara sepihak , tentu saja hal itu membuat karyawan yang lain menjadi takut dan tidak lagi berani mengajukan penolakan mereka.
Dan penolakan tersebut juga terjadi kepada Reyhan, Reyhan juga menolak dan sempat berdebat kembali dengan Tante Sarah. Namun kembali lagi Reyhan kalah, hanya saja kali ini Reyhan tidak bernasib sama dengan karyawan lain yang di berhentikan dari pekerjaan, Reyhan masih bekerja karena tante Sarah masih membutuhkannya.
Di dalam ruangan kerja Rain, Iyas tampak asyik menari sembari mendengarkan musik yang begitu keras. Beberapa hari ini Iyas begitu bahagia dan menghambur - hamburkan uang Rain. Setiap hari ia selalu menari dan mendengarkan musik keras di ruang kerja Rain, dan malam harinya ia pergi ke club untuk kembali bersenang-senang.
Iyas begitu menikmati dan berbahagia karena ia sudah menjadi pemimpin di perusahaan Rain. Ya walaupun belum benar-benar resmi karena mereka masih menunggu persetujuan dan tanda tangan Kayla agar mau memindahkan tangankan perusahaan yang di miliki kakaknya untuk di pimpin oleh Iyas.
Dan tentu saja hal itu menjadi tanggung jawab Tante Sarah, ia berusaha keras mencari cara agar bisa meluluhkan hati Kayla dan membuat Kayla mau menuruti keinginannya.
*****
Karena ponselnya hilang saat kejadian di hutan, keesokan harinya Rain pergi ke balai desa untuk menghubungi Reyhan.
" Rain.....!! "
" Iya ini aku Rey "
" Syukurlah, aku mencoba menghubungi mu tapi ponsel mu tidak bisa dihubungi, aku sangat menghawatirkan mu Rain "
" Ponsel ku hilang Rey "
__ADS_1
" Hilang ? apa terjadi sesuatu "
" Tidak Rey, semua baik-baik saja , bagaimana? ada kabar terbaru ? "
" Ada Rain, ada hal yang begitu penting "
Reyhan menceritakan semua nya kepada Rain, mulai dari Iyas yang kini memimpin perusahaan, dan mengenai Reyhan yang mulai mencurigai Tante Sarah yang menjadi dalang dari semua yang terjadi. Walaupun berat untuk di ungkapkan, namun Reyhan terpaksa melakukannya, ia harus menceritakan semua ini kepada Rain.
Rain tampak diam beberapa saat setelah mendengar penjelasan Reyhan. Kedua mata Rain tampak berkaca-kaca menahan air mata, hati Rain begitu sakit saat ini karena tidak menyangka bahwa Tante Sarah sejahat itu kepadanya.
" Rain, kamu baik-baik saja ? "
Reyhan mengerti bahwa apa yang ia katakan dan jelaskan kepada Rain pasti akan melukai hati Rain, karena bagaimana pun Tante Sarah itu sudah Rain anggap sebagai pengganti ibu nya selama ini. Pasti berat untuk Rain setelah mengetahui bahwa orang yang melakukan kejahatan kepadanya adalah orang terdekat nya sendiri yaitu Tante Sarah.
" Aku baik-baik saja Reyhan "
" Bagaimana dengan Kayla? "
" Kayla masih bersama dengan Tante Sarah, apa aku harus memberi tahunya ? sepertinya aku harus memberi tahunya Rain, agar Kayla bisa berjaga-jaga dan pastinya aku yakin saat ini Tante Sarah berusaha untuk meminta persetujuan Kayla agar Iyas dapat menjadi pemimpin perusahaan secara Resmi "
" Bawalah Kayla keluar dari sana Rey, apapun caranya "
" Baiklah, aku akan berusaha, lalu kapan kamu kembali Rain ? "
" Aku akan kembali mengabari mu , ada suatu hal yang harus aku selesaikan dulu di sini "
" Baiklah kalau begitu, jaga dirimu di sana Rain. Jika perlu bantuan aku akan segera kesana untuk membantu "
" Ya Rey, terimakasih "
__ADS_1
Rain menutup sambungan teleponnya. Rain menundukkan kepalanya, dan air mata yang tadi ia tahan pun tumpah, namun Rain dengan cepat menyebar air matanya itu karena tidak ingin orang-orang di sana melihatnya. Rain mencoba menenangkan diri, bahkan sempat terdiam dan berdiri lama untuk beberapa saat, kedua kaki Rain terasa lemah dan tak kuat berjalan. Rain merasa begitu terguncang dengan apa yang menimpanya saat ini.
Setelah cukup tenang, Rain keluar dari balai desa dan kembali ke pesantren. Rain tidak butuh banyak waktu, dan ia harus segera pergi ke kota.
Sesampai di pesantren, Rain langsung menemui Abah Rahman.
" Assalamualaikum, Abah "
" Wa'alaikumussalam, nak Rain "
" Mari duduk " ajak Abah.
Rain dan Abah Rahman duduk di sebuah bangku panjang yang berada di dekat masjid , tempat biasa anak-anak santri menghabiskan waktu mereka sebelum waktu sholat tiba.
" Abah, bolehkah saya membawa Annisa dan Arkana pergi ? "
Abah Rahman tersenyum mendengar pertanyaan Rain.
" Jika kalian sudah memilki komitmen untuk kembali bersama, tentu Abah mengizinkan. Karena kamu berhak atas istri dan anakmu "
" Saya akan membicarakan ini dengan Annisa, saya harus segera kembali ke kota , Abah. Ada suatu hal yang harus saya selesaikan, tapi saya juga ingin Annisa dan Arkana ikut bersama dengan saya "
" Ya nak Rain, bicarlah dahulu dengan Annisa. Dan mengenai Arkana, kalian harus memberi tahunya. Arkana harus tahu bahwa nak Rain adalah ayahnya "
" Iya Abah , terima kasih "
Abah Rahman dan Rain tidak tahu bahwa Arkana mendengar percakapan mereka. Setelah mendengar hal itu Arkana berlari dan segera kembali kerumah, menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Di dalam kamar, Arkana menangis . Wajar saja jika ia selama ini merasa nyaman dengan Rain karena ternyata Rain adalah ayahnya, dan itu juga salah satu alasan kenapa wajah mereka berdua sangatlah mirip.
__ADS_1