
Annisa merasa takjub melihat tempat tinggal mereka yang sangat besar dan mewah.
" Lihat Ummi, rumah kita bagus bukan ? " tanya Arkana sembari menunjuk rumah mereka.
" Iya Arkana , Arkana menyukainya? "
" Suka Ummi, sangat suka, Arkana juga punya kamar sendiri, kamar Arkana sangat luas Ummi, kamar Arkana tiga kali lipat besarnya dari kamar Arkana sebelum nya, bukan..lima, ya benar Ummi, lima kali lipatnya "
Rain dan Annisa tersenyum melihat Arkana yang begitu senang dengan kamar barunya.
Tanpa harus turun dari mobil, pagar rumah mereka sudah terbuka saat tahu mereka datang. Annisa bisa melihat banyaknya orang-orang yang berbaju serba hitam yang menjaga rumah mereka.
" Ayo Ummi, lihat kamar Arkana "
Arkana menarik tangan Annisa dan membawa Annisa menuju kamarnya.
" Lihat kan Ummi, kamarnya besar sekali, ada banyak mainan dan juga buku-buku di sana "
Annisa melihat sekeliling kamar Arkana yang memang sangat luas, dengan di dominasi warna biru.
Rain berdiri di depan pintu, Arkana berjalan ke arah Rain dan memeluk Rain.
" Terima kasih Abi "
" Sama-sama Arkana, Abi akan melakukan apapun agar Arkana senang, sekarang Arkana istirahat ya, Ummi juga pasti lelah dan ingin istirahat "
" Baik Abi "
Arkana berbalik menuju Annisa, Arkana juga memeluk Annisa.
" Arkana mau istirahat dulu Ummi, Ummi juga harus istirahat "
" Iya sayang "
Annisa membungkukkan badannya lalu mengecup pucuk kepala Arkana. Annisa keluar dari kamar Arkana dan membiarkan Arkana untuk istirahat.
" Sekarang waktunya kamu juga istirahat " ucap Rain.
" Iya Mas "
Rain melingkarkan tangannya di pinggang Annisa, Annisa kembali terkejut dengan aksi Rain yang selalu membuat jantung Annisa berdetak kencang.
Kamar Rain dan Annisa tidak jauh dari kamar Arkana, kamar mereka berdua berada di lantai dua.
Ceklek...
Rain membuka pintu kamar mereka perlahan, kembali Annisa terkejut melihat kamar mereka yang begitu luas dengan nuansa berwarna putih.
Annisa masuk kedalam kamar mereka dan kembali memperhatikan sekeliling kamar. Dan terakhir Annisa melihat ranjang mereka yang juga bernuansa putih namun tidak terlalu tinggi.
__ADS_1
" Aku sengaja memilih ranjang yang sedikit rendah, karena aku tahu kamu tidak terlalu suka ranjang yang terlalu tinggi "
" Iya Mas, terima kasih. Sudah lebih dari cukup "
" Baiklah, sekarang kamu istirahat saja Annisa. Aku akan turun sebentar "
" Ya Mas "
Annisa beranjak dari ranjang untuk beralih menuju kamar mandi. Annisa ingin mencuci wajahnya dan berganti pakaian.
Rain berada di ruang kerjanya, selama beberapa hari di rumah sakit, tentu membuat pekerjaan Rain semakin menumpuk. Maka dari itu, setelah sampai di rumah, Rain langsung mengadakan meeting online bersama beberapa rekan bisnisnya, meeting tersebut seharusnya diadakan beberapa hari yang lalu, namun karena Rain tidak bisa di ganggu sama sekali, Rain pun baru bisa melakukan nya hari ini.
Annisa yang tidak bisa tidur, akhirnya memilih untuk keluar dari kamar, karena di rumah bukan hanya ada mereka, Annisa tetap berpakaian tertutup dengan memakai cadarnya. Sebenarnya Annisa merasa tidak terlalu nyaman tinggal di rumah yang terlalu besar, namun Annisa juga tidak ingin Rain merasa kecewa apabila Annisa mengutarakan ketidaknyamanan nya.
Annisa berjalan menuju kamar Arkana, perlahan Annisa membuka pintu dan bisa melihat Arkana yang sedang tertidur.
Setelahnya Annisa turun ke bawah untuk mencari Rain.
" Permisi Nyonya, ada yang bisa saya bantu "
Salah seorang asisten rumah tangga yang ada di rumah mereka bertanya kepada Annisa setelah melihat Annisa ia segera menghampiri.
" Tidak ada Bu, saya hanya ingin mencari Mas Rain "
" Saya Annisa, ibu Santi "
Ibu Santi tersenyum kepada Annisa, Bu Santi merasa senang karena Annisa terlihat sangat baik dan berbicara sopan kepadanya.
" Saya tahu Nyonya, Tuan saat ini sedang berada di ruang kerja nya , di sana " tunjuk Bu Santi.
Annisa merasa sedikit tidak nyaman karena di panggil dengan sebutan Nyonya, terlebih wanita yang ada di depannya ini lebih tua darinya.
" Baiklah, terima kasih Bu "
" Iya Nyonya "
Bu Santi membungkuk dan memberi hormat kepada Annisa.
Annisa berjalan menuju ruang kerja Rain, Annisa ingin masuk namun ia takut mengganggu Rain yang sedang bekerja. Dan akhirnya Annisa memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
" Akhirnya selesai juga " ucap Rain.
Rain melirik jam yang ada di tangannya, tidak terasa ia sudah melakukan meeting selama tiga jam, karena hari sudah larut malam. Rain kembali ke kamarnya, karena tidak ingin membangun kan Annisa, Rain membuka pintu kamar mereka secara perlahan.
Rain tersenyum saat melihat Annisa yang sudah tertidur pulas. Rain lalu berjongkok dan mendekat ke wajah Annisa.
" Kamu cantik sekali Annisa "
__ADS_1
Rain mengelus elus pucuk kepala Annisa, Rain merasa terkesima melihat kecantikan alami Annisa. Terlebih Annisa tidur tidak memakai jilbabnya sehingga Rain bisa melihat rambut panjang Annisa yang begitu indah. Yang membuat Annisa semakin terlihat cantik.
Selama beberapa hari di rumah sakit, Annisa tidak membuka sedikit pun jilbab nya walaupun hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu.
Karena Rain juga merasa lelah, Rain berbaring di samping Annisa, dan perlahan membawa Annisa kedalam pelukannya, Rain memeluk Annisa dengan posisi Annisa yang membelakangi nya.
" Aku mencintaimu Annisa " ucap Rain lalu mengecup lembut pucuk kepala Annisa, setelahnya Rain menutup kedua matanya dan tertidur.
*****
Di tempat lain, sepasang kekasih sedang bercumbu dengan mesranya, mereka bahkan bercumbu di dalam sebuah mobil.
" Kenapa berhenti sayang ? " tanya Iyas.
" Kita sedang di dalam mobil Iyas, bukan di apartemen " ucap wanita itu dengan wajah kesal.
" Bukankah kita sering melakukannya di dalam mobil ? Ayolah sayang "
Iyas kembali menangkup wajah teman wanitanya berusaha untuk mencium teman wanitanya itu.
" Tidak Iyas, aku tidak mau "
Iyas merasa kesal karena penolakan dari teman wanitanya itu. Namun Iyas masih mencoba untuk sabar menghadapinya.
" Kenapa sayang ? Kamu takut orang lain melihat, baiklah kalau begitu kita ke apartemen mu saja "
" Aku juga tidak mau, aku hanya ingin kepastian "
Iyas yang semula bersiap untuk menjalankan mobilnya terpaksa berhenti sejenak.
" Kepastian apa sayang ? Apa yang kamu maksud ? "
" Apa aku harus menjelaskan nya terus menerus, aku ingin kepastian Iyas, kapan kita menikah, dan bagaimana dengan perusahaan milik Rain ? Kapan kamu bisa memilikinya "
" Sayang, kamu mengerti kan. Padahal aku sudah hampir mendapatkan kannya, sedikit lagi. Namun si brengsek Rain itu justru kembali lagi dan menghancurkan semua rencana ku dan juga Mama "
" Kalau begitu sampai kapan aku harus menunggu Iyas, sampai kapan ? sudah bertahun - tahun aku harus bersembunyi, aku juga sudah merelakan semuanya , masa depan aku cuma untuk menunggu kamu sampai kamu memilki perusahaan Rain "
Iyas menarik tangan wanitanya lalu memeluk wanita itu.
" Beri aku sedikit waktu lagi, aku berjanji akan merebut semua nya dari Rain. Aku mencintaimu, aku berjanji setelah ini kita akan menikah "
Wanita itu luluh dengan ucapan cinta Iyas.
" Kamu mencintaiku? " tanya Iyas sembari kedua tangannya menangkup wajah teman wanita nya itu.
" Ya, aku mencintaimu "
Wanita itu pun luluh dan mereka berdua kembali bercumbu di dalam mobil. Mereka berdua tidak sadar kalau di luar ada seseorang yang sedang mengambil atau memotret mereka berdua dari kejauhan.
__ADS_1