
Rain dan Annisa dalam perjalanan pulang, Rain selalu berusaha untuk meluangkan waktunya mengantar dan menjemput Annisa.
" Malam ini kamu tidak perlu memasak, kita akan makan di luar " ucap Rain dengan senyum manisnya kepada Annisa.
Semenjak bersama Annisa, Rain terlihat begitu bahagia dan ceria, tidak seperti dulu sewaktu berpacaran dengan Sania. Rain merasa seperti bukan dirinya sendiri, ia seperti seorang boneka yang selalu menuruti kemauan Sania. Bersama Annisa ia merasa menjadi dirinya sendiri, Annisa tidak seperti Sania yang selalu meminta dan menyuruh Rain melakukan apa yang Sania inginkan.
" Wahh..jadi aku tidak perlu memasak , kita mau makan dimana ? boleh tidak aku yang pilih tempatnya " tanya Annisa.
" Tentu boleh, kamu mau makan di mana ? "
" Hmm...kebetulan tempatnya dekat Rain, terus saja habis itu belok kiri ya "
" Belok kiri , oke "
Rain begitu bahagia hari ini karena Rain rasanya sudah tidak sabar ingin memberi tahu Annisa bahwa ia akan mengajaknya ke Belanda.
Sekitar 100 meter, tempat makan yang ingin Annisa kunjungi sudah terlihat. Yaitu sebuah warung makan sederhana yang berada di pinggir jalan. Warung makan itu terlihat ramai pengunjung, apalagi sore menjelang malam seperti ini.
" Sebelah kiri Rain, ya di sini " tunjuk Annisa ke arah warung tersebut.
" Di sini ? " tanya Rain dengan sedikit mengerenyitkan keningnya, pasalnya ia tidak pernah sama sekali ke tempat seperti ini.
" Ya di sini ? ayo turun Rain " ajak Annisa semringah.
Rain pun mau tidak mau ikut turun dari mobil dan masuk ke warung tersebut, terlihat begitu banyaknya lauk pauk yang di jejerkan, Rain meneguk air liur melihat banyaknya makanan yang ada di sana. Rain tidak pernah memakannya, enak atau tidak Rain tidak tahu. Belum lagi tempatnya yang kecil dan panas, membuat Rain semakin gerah.
" Annisa, sampai kapan kita harus mengantri ? " tanya Rain karena saat ini Annisa dan Rain berada di paling belakang, sedang mengantri untuk membeli makanan.
Annisa tersenyum melihat Rain, Rain terlihat risih berada di warung itu apalagi harus bergerumul dengan orang banyak.
Annisa mengambil tisu yang ada di dalam tasnya , lalu ia mengelap keringat Rain yang mulai bercucuran di kening Rain. Rain terdiam lalu menatap Annisa, dengan telaten Annisa mengelap keringat Rain.
Rain tersenyum dan senang dengan apa yang Annisa lakukan. " Hal sekecil ini , membuat aku begitu bahagia Annisa " batin Rain.
" Sabar ya Rain, bersusah - susah dahulu, bersenang-senang kemudian " ucap Annisa dengan tersenyum manis kepada Rain.
Cukup lama menunggu dan mengantri, Rain dan Annisa mendapat giliran mereka.
" Aku jadi lapar mata melihat ini semua ", ucap Annisa, sedangkan Rain terlihat bingung melihat banyaknya makanan di depan mereka.
__ADS_1
" Saya mau ini, itu, ini, dan itu ya Pak, tambah Pete goreng satu " ucap Annisa.
" Pete ? apa itu Pete ? " batin Rain.
" Kamu mau yang mana Rain ? " tanya Annisa.
" Hah..aku.."
" Gimana kalau Soto daging ? kesukaan kamu, atau mau ini juga, ada sate cumi , kulit , hati , ayam .. "
" Kamu saja yang pilih Annisa " pinta Rain.
" Baiklah " dengan senang hati Annisa memilih lauk pauk untuk Rain.
Selesai memilih, Annisa dan Rain mencari tempat duduk sembari menunggu makanan mereka. Annisa sengaja mencari tempat duduk paling belakang dan dekat dengan kipas angin agar Rain tidak merasa gerah dan kepanasan.
" Makanannya sudah datang, nah ini soto daging kesukaan kamu Rain " Annisa memberikan semangkuk soto daging kepada Rain.
" Ini ada sate ampela, telur dadar, dan juga rendang. Kamu pasti suka Rain "
Rain menarik nafas panjang, " selama ini hanya Soto buatan ibu dan Annisa lah yang paling enak. Tidak mungkin ini juga enak " batin Rain.
" Enak " ucap Rain , Rain mengatakan hal itu karena memang soto dagingnya enak, ya walaupun soto daging buatan Annisa dan ibunya yang paling enak, tapi soto daging yang ia makan ini juga lumayan enak bagi Rain.
" Enak kan, aku yakin kamu pasti menyukainya. oh ya, ini ada dadar telur juga, kamu pasti suka " Annisa menyendok sedikit telur dadar dan menyuapi Rain. Tentu dengan senang hati Rain menerima suapan dari Annisa.
" Enak kan ? " tanya Annisa.
" Iya Annisa, enak sekali " ucap Rain, Rain pun makan dengan sangat lahap.
" Dulu aku sering makan di sini , sekarang saja sudah jarang. Warung ini sudah berdiri selama puluhan tahun Rain, dan rasanya itu tidak pernah berubah. Jadi wajar saja jika peminatnya banyak. Kamu lihat kan begitu lamanya kita menunggu "
" Iya Annisa, bahkan makanan di sini lebih enak dari restaurant-restaurant yang pernah aku kunjungi. Warungnya terlihat sederhana, tapi ternyata masakannya enak sekali "
" Begitulah Rain, maka dari itu kita tidak boleh memandang seseorang itu cuma tampak dari luarnya saja, atau fisiknya. Bisa jadi kan seseorang itu terlihat jelek di mata kita, dan ternyata hatinya bagaikan emas, dan justru kebanyakan tu kita lihat seseorang itu fisiknya sangat baik , ternyata justru memilki hati yang jahat "
" Lalu, apa yang kamu lihat dari aku ? fisik aku cukup tampan, lalu apa hati ku seperti emas ? " tanya Rain sembari terkekeh.
" Sombong sekali " ucap Annisa.
__ADS_1
Mereka berdua makan dengan lahap dan hikmat, sesekali mereka saling bersendau gurau. Rain benar-benar terlihat bahagia.
Dari kejauhan , Rain dan Annisa tidak tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikan mereka. Orang tersebut terlihat sedang menghubungi seseorang dan berbicara melalui telepon.
Dan yang ia hubungi adalah Tante Sarah, bahkan seseorang itu diam-diam mengambil foto Rain dan Annisa dan mengirimkannya ke Tante Sarah.
Tante Sarah pun semakin geram melihat keakraban Rain dan Annisa.
" Lihat, untuk apa wanita itu membawa Rain ketempat seperti itu. Warung kotor , tidak higienis, Rain..Rain..bodoh sekali kamu , mau saja di ajak ke warung makan seperti itu " Tante Sarah mendengus kesal.
Rain bersendawa dengan suara yang cukup nyaring, membuat Annisa tertawa.
" Maaf Annisa " ucap Rain , Rain merasa malu bersendawa di depan Annisa.
" Tidak perlu minta maaf Rain, itu tandanya kamu sudah kenyang " ucap Annisa sembari terkekeh, wajar saja Rain begitu kenyang, Rain menghabiskan semua lauk pauk yang Annisa pilihkan untuknya, bahkan Rain sempat meminta nasi tambahan.
Selesai makan, Rain dan Annisa menuju ke meja kasir. Dan salah satu pelayan warung memberikan secarik nota total pembelian mereka.
Rain mengeluarkan uangnya , namun yang membuat pelayan tersebut terkejut, Rain memberinya uang berlebih.
" Maaf Pak, uangnya kelebihan banyak "
" Selebihnya ini untuk membayar makanan orang-orang yang makan di sini. Kalau misal nanti kurang, kabari saja saya di nomor ini. Saya akan mengirim uang "
Rain memberi kartu namanya ke pelayan warung tersebut.
" Maa syaa Allah, bagaimana rasanya setelah berbagi Rain ? " tanya Annisa, Annisa mengacungkan tangannya di depan Rain. Seperti seorang reporter , dan tangan Annisa di anggap sebagai microponnya.
Rain tersenyum melihat aksi konyol Annisa.
" Hmm..saya sangat senang " jawab Rain.
Annisa tersenyum mendengar jawaban Rain.
" Alhamdulillah, terima kasih sedekahnya Pak Rain, in syaa Allah akan menjadi amal kebaikan untuk Pak Rain " ucap Annisa.
Annisa ingin menurunkan tangannya dari hadapan Rain. Namun Rain justru menangkap dan memegang tangan Annisa, menarik Annisa hingga jarak keduanya kini sangat dekat.
" Terima kasih juga karena kamu membuat aku menjadi lebih baik " batin Rain
__ADS_1
Bersambung....