
Tanpa berbicara apapun kepada Rain, Annisa langsung saja memasuki kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Annisa benar-benar kesal dengan kelakuan Rain.
" Rain... sungguh menyebalkan, bisa nya dia tertawa di saat aku ketakutan. Rain benar - benar keterlaluan!! " Annisa mendengus kesal.
Setelah puas melampiaskan kekesalannya sendiri dengan marah-marah dan berbicara sendirian di kamar, Annisa memutuskan untuk mandi dan setelah itu melaksanakan sholat.
Di kamar sebelah Rain tampak gusar, ia bingung harus bersikap apa kepada Annisa. Rain sebenarnya merasa bersalah kepada Annisa, apalagi melihat Annisa yang menangis karena ulahnya. Tapi ingin meminta maaf rasanya begitu berat untuk Rain ucapkan.
Rain tidak dapat tidur, ia berusaha memejamkan kedua matanya namun tak bisa. Rain pun beranjak lalu keluar dari kamar, Rain membuka dan menutup pintu kamarnya dengan sangat perlahan.
Begitu keluar dari kamar, Rain melihat sekeliling ruangan. Ia tidak melihat Annisa, Rain pun berjalan perlahan menuju dapur, dan di sana Rain juga tidak melihat Annisa. Hal itu berarti Annisa masih di kamarnya. Rain memilih duduk di sofa dan menyalakan televisi, Rain sengaja menyalakan televisi dengan suara yang sedikit keras agar Annisa dapat mendengarnya lalu Annisa keluar dari kamar.
Cukup lama Rain menunggu, Annisa pun tak kunjung keluar dari kamarnya. Sesekali Rain melirik ke arah kamar Annisa, Rain mendengus kesal karena Annisa tidak juga keluar dari kamar, ia pun meninggikan lagi volume televisi sampai-sampai telinga Rain pun sakit mendengarnya. Tapi Rain tidak peduli, ia melakukan hal itu agar Annisa merasa bising dan keluar dari kamarnya.
Rain kembali melirik ke arah kamar Annisa. " Apa dia tidur? tapi ini baru jam 8 malam " ucap Rain sembari melirik ke arah jam dinding.
Tidak bisa lagi menunggu, Rain pun beranjak dan berjalan ke arah kamar Annisa. Rain berniat mengetuk pintu kamar Annisa, tapi ia urungkan. " Apa perlu aku seperti ini? " ucap Rain, Rain ingin kembali ke sofa namun langkahnya terhenti dan kembali lagi ke kamar Annisa.
" atau jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya di dalam? " timbul kekhawatiran di benak Rain, ia ingin mengetuk pintu kamar Annisa namun ternyata Annisa terlebih dahulu membuka pintu kamarnya. Melihat hal itu Rain jadi salah tingkah, ia langsung berlari dan lompat ke arah Sofa, berpura-pura seperti tidak ada yang terjadi.
Annisa keluar dari kamar tanpa melirik ke arah Rain yang sedang menonton televisi, Annisa berjalan melewati Rain yang ada di depan nya dan berjalan ke arah dapur. Rain diam-diam melirik ke arah Annisa, Rain memanyunkan bibirnya melihat sikap cuek Annisa.
Annisa ke dapur hanya untuk mengambil segelas air minum, setelah itu ia kembali ke kamar.
" Apa dia buta? dia tidak lihat aku di sini. Apa dia marah? seharusnya kan aku yang marah kepadanya " omel Rain.
Rain melipat kedua tangan nya, " Apa aku perlu meminta maaf? tidak.. tidak.. dia yang salah karena dia sudah mengerjai ku. Tapi kalau seperti ini, rasanya tidak enak " ucap Rain.
Annisa yang periang dan selalu banyak bicara bila bersama Rain tiba-tiba menjadi pendiam ? tentu saja ada yang menjanggal di benak Rain.
Rain menurunkan volume suara televisi menjadi normal, lalu ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamar Annisa.
Tok.. tok.. tok..
Tok.. tok.. tok..
Ceklek..
__ADS_1
Annisa membuka pintu kamarnya, lalu ia memasang wajah datarnya sembari melihat Rain.
" Kau tau ini jam berapa? " tanya Rain.
" Jam 8 " ucap Annisa singkat.
" Lalu? " tanya Rain.
" apa? " tanya Annisa.
" Aku lapar " ucap Rain.
Tanpa berkata apapun, Annisa berjalan ke arah dapur. Rain tersenyum tipis melihat Annisa, dan ia mengekor di belakang Annisa mengikuti Annisa ke arah dapur.
Annisa dengan cekatan menyiapkan makanan untuk Rain, Annisa memilih untuk memasakkan Rain nasi goreng plus telor ceplok. Dan tidak butuh waktu lama, nasi goreng plus telor ceplok pun sudah tersedia di depan Rain. Setelah itu Annisa kembali diam tanpa berbicara kepada Rain, Annisa berniat kembali ke kamarnya. Melihat hal itu Rain kembali gusar.
" Tunggu " ucap Rain, dan Annisa menghentikan langkah nya.
" Aku mau ayam goreng " pinta Rain.
Melihat Ayam gorengnya sudah mulai matang dan Annisa sudah mengangkatnya dari wajan, Rain kembali berulah.
" Aku minta sosis juga " ucap Rain.
Annisa menarik nafas panjang, dan tanpa berkata apapun kembali menyiapkan apa yang di minta oleh Rain. Rain senyum-senyum sendiri melihat Annisa, ia senang karena bisa mengerjai Annisa. Ya walaupun sebenarnya Rain senang karena Annisa berada bersama nya dan menemani nya. Tidak hanya berdiam diri di kamar.
Annisa menyodorkan sepiring ayam goreng dan juga sosis goreng permintaan Rain. Selesai itu Annisa berniat kembali ke kamar, namun Rain tak habis akal dan ia kembali meminta sesuatu kepada Annisa.
" Sebentar, aku ingin teh hangat " pintar Rain.
Annisa memejamkan kedua matanya sembari menarik nafas panjang mencoba menahan kesal terhadap Rain. Dengan sabar akhirnya Annisa kembali mengikuti permintaan Rain.
Rain kembali senyum-senyum sendiri melihat Annisa, dan saat Annisa juga bersamaan melihat ke arah Rian sembari mengaduk teh, Rain langsung mengalihkan pandangan nya ke sembarang arah. Annisa hanya menatap tajam ke arah Rain.
" Ada lagi? " tanya Annisa saat ia menyodorkan segelas teh hangat kepada Rain.
" Ada satu lagi? "
__ADS_1
" Apa? " tanya Annisa.
" Suapi aku " pinta Rain tanpa berpikir panjang. Ia sudah bingung harus memakai alasan apalagi agar Annisa tidak meninggalkannya dan menemani nya makan.
" Suapi? tidak!! " ucap Annisa.
" Tanganku..!! " Tiba-tiba saja Rain memegangi tangan nya, ia berpura - pura jika tangan kanan nya mengalami keram.
" Kenapa tanganmu? "
" Tolong Annisa, tangan ku keram " ucap Rain dengan wajah kesakitan.
Annisa memperhatikan wajah Rain, Annisa tidak tau apakah tangan Rain benar-benar keram atau semua ini hanya alasan Rain saja.
" Aduh... keramnya sampai ke sini Annisa, tolong "
Melihat Rain yang benar-benar kesakitan, Annisa mengambil kursi dan duduk tepat di depan Rain. Ia memegangi tangan kanan Rain yang terasa keram.
" Yang ini? " tanya Annisa.
" Ya benar , aduh.. pelan-pelan Annisa " ucap Rain. Rain berpura-pura seolah-olah sakit agar Annisa percaya.
" Sudah enakan? " tanya Annisa sembari memijiti tangan Rain, Annisa bertanya dengan tatapan mengarah ke tangan Rain tanpa melihat wajah Rain.
" Sudah lumayan " ucap Rain.
" Baiklah, kalau begitu sekarang makanlah " Annisa mengambil sesendok nasi goreng dan menyuapi Rain.
Rain dengan senang hati menerima suapan dari Annisa. Rain tersenyum senang, ya tersenyum di dalam hati nya. Tidak ia tunjukkan di depan Annisa.
" Kau tidak ikut makan? " tanya Rain dan Annisa hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rain menarik nafas panjang, Rain kira Annisa sudah tidak marah lagi kepadanya. Tapi ternyata masih, Annisa masih mengirit pembicaraan nya kepada Rain.
" MAAF "
Sebuah kata maaf yang sulit Rain ucapkan akhirnya keluar, Annisa yang sedang menunduk sembari memijiti tangan Rain pun langsung menadahkan kepalanya menatap Rain.
__ADS_1