
Ting..tong..ting..tong..
Annisa bergegas membuka pintu saat suara bel pintu berbunyi. Dan seorang kurir datang membawa sebuah kotak putih yang cukup besar. Karena alamat yang di tuju benar, Annisa pun menerima paket tersebut.
" Rain..apa kau.. Aaaaa.... !! ", teriak Annisa saat melihat Rain yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk. Annisa pun reflek menutup kedua matanya dan menjatuhkan kotak yang tadi ia bawa.
" Ada apa Annisa ? " tanya Rain, Rain justru berjalan ke arah Annisa dan sekarang sudah berdiri di depan Annisa.
Perlahan Annisa membuka kedua matanya dan ia kembali terkejut melihat Rain yang kini sudah berada di depannya. Annisa pun kembali menutup kedua matanya.
" Pakai baju dulu Rain, aku akan keluar ", ucap Annisa, berbalik badan berniat untuk keluar dari kamar.
Namun saat berbalik badan, Rain justru menarik lengan Annisa dan membawa Annisa kedalam pelukannya.
Jantung Annisa berdetak saat kencang saat ia berada dalam pelukan Rain. Sebenarnya bukan hanya Annisa, Rain pun merasakan hal yang sama. Bahkan Annisa bisa merasakan detakan jantung Rain yang begitu cepat.
" Bukankah kau sering melihatku tanpa memakai baju seperti ini ? "ucap Rain.
", Ya benar Rain, tapi tidak seperti ini " ucap Annisa masih memejamkan kedua matanya.
" Seperti apa ? ", tanya Rain berusaha menggoda Annisa.
" Hanya memakai handuk seperti ini Rain ", ucap Annisa.
Rain terkekeh, " jika kau tidak terbiasa, maka mulai sekarang kau harus membiasakannya " ucap Rain, mengecup pucuk kepala Annisa lalu melepas pelukannya.
Perlahan Annisa pun membuka kedua matanya. Rain kini sudah tak berada di depannya, Rain berjalan menuju lemari untuk mencari pakaian.
Annisa segera mengambil kembali kotak yang jatuh di lantai.
" Rain, ini ada paket untuk mu " ucap Annisa , lalu meletakkannya di atas tempat tidur.
" Itu bukan untukku, tapi untukmu ", ucap Rain.
Annisa mengerenyitkan keningnya, " Untukku ? " tanya Annisa , lalu mengambil kotak itu dan membukanya.
" Jangan di buka di sini, bukalah di kamarmu " ucap Rain.
" Kenapa harus di kamarku ? isinya apa Rain ? " tanya Annisa dan langsung membuka kotak tersebut.
", Uppss...sorry Rain, aku sudah membukanya " ucap Annisa sembari terkekeh, ia penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak tersebut.
" Wah..dress nya cantik sekali , kenapa kau membeli ini Rain, untuk siapa ? " tanya Annisa polos, ia masih tidak mengerti jika Rain membeli dress itu untuknya.
__ADS_1
" Kau suka ? " tanya Rain, sembari memakai pakaian, kemeja hitam yang serasi dengan dress yang Annisa pegang sekarang.
" Suka Rain, serasi dengan warna kemeja yang kau pakai " ucap Annisa.
" kalau kau suka, segeralah ganti pakaian. Aku tunggu di depan ", ucap Rain.
" Apa ? aku..pakai dress ini ? " tanya Annisa terkejut.
" Kau ini banyak tanya , apa kau mau aku bantu berganti pakaian di sini " ucap Rain.
" Ehh..jangan Rain, baiklah aku ke kamarku dulu " ucap Annisa segera berlari keluar kamar. Rain terkekeh melihat Annisa.
****
Annisa tersenyum saat melihat dirinya di depan kaca, dress yang Rain beri untuknya sangatlah bagus dan begitu cantik di pakai oleh Annisa.
" Maa syaa Allah, aku tidak pernah memakai dress sebagus ini, dress ini harganya pasti mahal. Apa maksud Rain ya, apa dia ingin mengajak ku jalan ?? apa aku perlu berdandan ? "
Tok..tok..tok..
Sebuah ketukan pintu mengagetkan Annisa.
" Annisa, aku tunggu di luar " teriak Rain.
" Iya Rain "
Annisa pun memoles sedikit wajahnya, tidak banyak hanya memoles sedikit wajahnya dengan bedak, blush on, alis, dan juga lipstik. Membuat Annisa semakin terlihat cantik.
Rain dengan sabar menunggu Annisa di depan pintu Apartemen, sesekali Rain melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.
" Ternyata kau di sini, aku mencarimu sejak tadi ", ucap Annisa sembari menutup pintu.
", Baiklah, aku sudah siap " ucap Annisa dengan senyum manisnya. Membuat Rain seketika diam seperti patung, terpana dengan kecantikan Annisa.
" Rain " ucap Annisa, membangunkan Rain dari lamunannya.
" Maaf Annisa, kau sudah siap. Baiklah kita pergi ", ucap Rain, meraih tangan Annisa dan menggenggamnya. Annisa hanya diam dan melihat ke arah Rain dimana pandangan Rain fokus ke depan. Annisa lalu tersenyum.
Rain membawa Annisa ke sebuah rrestoran mewah, tak tanggung - tanggung , Rain juga sudah menyediakan ruangan VVIP untuk mereka berdua.
Annisa mengikuti langkah Rain membawanya.
" Silahkan duduk " ucap Rain, mendorong kursi dan meminta Annisa untuk duduk. Annisa tersenyum dan mengikuti perintah Rain.
__ADS_1
" Kenapa hanya ada kita Rain ? " ucap Annisa, saat melihat tidak ada satu orang pun pengunjung lain di sana. Kursi dan meja juga hanya di sediakan untuk mereka.
" Aku sudah meminta mereka untuk tidak menerima pengunjung lain, hanya kita saja " ucap Rain.
" Hah !! bisa seperti itu ? ", tanya Annisa.
", Tentu bisa, apapun bisa dilakukan oleh seorang Rain " ucap Rain.
" Sombongmu kembali lagi Rain ", ucap Annisa sembari terkekeh. Dan Rain juga ikut tertawa mendengar ucapan Annisa.
Tak lama datang seorang pelayan membawa berbagai hidangan dan mereka sajikan di meja, Annisa menelan ludah melihat beragam makanan tersebut.
" Banyak sekali Rain " ucap Annisa.
" Makanlah, makan sepuasmu Annisa " ucap Rain.
Annisa tersenyum , " Terima kasih Rain , aku jadi tidak perlu memasak makan malam untuk kita ", ucap Annisa sembari terkekeh.
Rain hanya tersenyum mendengar ocehan Annisa, mereka berdua pun menikmati makan malam romantis mereka dengan bahagia.
Selesai makan malam Romantis, Rain tidak langsung membawa Annisa pulang. Rain membawa Annisa kesebuah danau , dimana danau tersebut terdapat jembatan yang cukup panjang yang membentang hingga di tengah danau, jembatan tersebut terlihat sangat cantik karena banyaknya lampu yang berwarna warni yang mengelilingi jembatan tersebut.
" Wah..cantik sekali Rain " ucap Annisa, saat mereka sudah berada di tengah danau. Pemandangan Bulan yang begitu terang membuat suasana semakin terlihat romantis.
Rain hanya diam sembari terus menatap Annisa yang tengah memperhatikan Bulan yang begitu terang.
Rain pun merogoh kotak cincin di saku jasnya yang ia bawa sejak tadi. Lalu ia bentangkan tepat di depan wajah Annisa. Melihat hal itu Annisa segera beralih pandangan kepada Rain.
Melihat kotak cincin tersebut, membuat Annisa teringat akan cincin nikah yang waktu itu pernah Rain berikan kepadanya. Lebih tepatnya cincin yang terpaksa Rain berikan kepadanya. Saat meninggalkan Rain, Annisa juga ikut meninggalkan cincin itu dan meletakkannya di atas meja sofa.
Rain membuka kotak cincin dan mengambil cincin tersebut, lalu ia meraih tangan Annisa dan menyematkan cincin itu di jemari Annisa.
" Jika waktu itu aku memberi mu dengan keterpaksaan, maka malam ini aku berikan dengan penuh kesungguhan " ucap Rain.
Rain pun memberikan satu cincin lagi kepada Annisa, dan mengisyaratkan Annisa untuk memakaikan cincin itu kepadanya.
" Jika waktu itu aku menerimanya dengan keterpaksaan, maka malam ini aku memberi nya dengan penuh ketulusan " ucap Annisa.
Rain dan Annisa pun saling mengumbar senyum, Rain menarik lengan Annisa dan membawa Annisa kedalam pelukannya.
" Berjanjilah untuk tidak meninggalkan ku Annisa, apapun keadaannya " ucap Rain.
" Berjanjilah juga Rain, bahwa kau akan selalu percaya kepadaku apapun yang terjadi " ucap Annisa.
__ADS_1
Rain dan Annisa pun saling tatap dan saling tersenyum. Dan perlahan Rain menarik tengkuk Annisa, Annisa pun mulai memejamkan kedua matanya saat kedua bibir mereka saling bertemu. Begitu pula dengan Rain.
Bersambung...