
Annisa dan Kayla tiba di kediaman Tante Sarah, yang merupakan tempat tinggal Kayla dan Rain juga.
" Aku sudah lama sekali tidak datang ke rumah ini. Rumah ini punya banyak sekali kenangan kak Annisa, kenangan ku bersama ayah, ibu dan juga kak Rain " terlihat kedua mata Kayla berkaca - kaca mengingat kembali kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
Annisa tersenyum , " Semua orang pasti punya kenangan terindah dengan kedua orangtuanya, aku pun begitu " batin Annisa.
Kayla datang tanpa memberi tahu Tante Sarah, dan tentu kedatangan Kayla membuat Tante Sarah sangat terkejut.
" Tante Sarah ", teriak Kayla, Kayla berlari ke arah Tante Sarah dan memeluk Tante Sarah.
" Kayla...ya tuhan, kapan kamu kembali. Kenapa tidak memberi tahu Tante "
Annisa pun mendekat , Tante Sarah melirik sejenak ke Annisa dan kembali dengan tatapan tidak sukanya.
" Kayla ingin buat kejutan untuk Tante dan juga kak Rain, oh ya gimana keadaan Tante ? sudah membaik ? "
" Sudah, kamu tenang saja. Apalagi dengan kedatangan kamu. Tante semakin membaik Kayla "
Annisa hanya diam , duduk dan memperhatikan Tante Sarah yang sedang asyik mengobrol dengan Kayla. Annisa menyayangkan sikap Tante Sarah, seandainya saja Kayla dan Rain tahu bahwa sebenarnya Tante Sarah itu sudah membohongi mereka, mereka pasti akan sangat kecewa.
" Kay, kita ke kamar Tante sebentar ya, ada yang ingin Tante tunjukkan sama kamu "
", Oh, apa Tan ? ya sudah yuk kak Annisa kita ke kamar Tante Sarah "
" Annisa tidak perlu ikut, biar tunggu di sini saja "
" Kenapa Tan ? "
" tidak apa sayang, kan Tante mau nunjukkan sesuatu buat kamu, bukan untuk Annisa "
" Tapi kan Tan, Annisa tidak apa juga ikut kita "
", Tidak apa Kayla, pergilah ke atas. Aku juga ingin ke toilet sebentar " bohong Annisa.
" Ya udah, tunggu ya kak Annisa "
Tante Sarah menyunggingkan senyumnya, ia sengaja membawa Kayla bersama nya karena ia tidak ingin Annisa ikut dan bersama mereka.
Di dalam kamar Tante Sarah, Tante Sarah menunjukkan sebuah kalung cantik yang memang ia belikan untuk Kayla, dan memberikannya kepada Kayla.
" Tan, ini manis sekali "
Kayla berdiri di depan kaca sembari memandangi kalung yang berliontin berlian yang menyemat di lehernya.
" Tentu sayang, kamu semakin terlihat cantik "
Tante Sarah dan Kayla terus berbincang,Tante Sarah sengaja mengajak Kayla berbicara banyak sehingga Kayla lupa akan Annisa yang sudah cukup lama menunggu mereka di bawah.
__ADS_1
" Kak Annisa, keasyikan ngobrol kan. Kak Annisa sendirian di bawah Tan " Kayla beranjak ingin menemui Annisa.
" Kamu tidur di sini ya Kay, temani tante. Tante kangen sama kamu, kapan lagi kamu bisa tidur bareng Tante. Seminggu lagi kan kamu udah kembali ke Belanda "
" Hhmmm..baiklah Tan, tapi aku bilang sama kak Annisa dulu " Kayla keluar dari kamar dan menemui Annisa.
Tante Sarah tersenyum, " ini kesempatan ku untuk meracuni pikiran Kayla " batin Tante Sarah.
Annisa akhirnya memilih pulang setelah Kayla memberi tahunya bahwa Tante Sarah memintanya menginap.
Suara dering ponsel membangunkan Annisa dari lamunannya, Rain menghubungi dan Annisa segera menjawab telepon dari Rain.
" Assalamualaikum suamiku tersayang "
Rain tersenyum tipis mendengar salam manis dari Annisa. Rain seperti orang yang baru merasa jatuh cinta, sangat berbeda dengan yang dulu ia rasakan dengan Sania.
" Wa'alaikumussalam , istriku tersayang "
Annisa pun ikut tersenyum, ia senang sekali karena selama ini Rain tak pernah menjawab salamnya dengan baik, dan kali ini menjawab salam Annisa dengan manis.
" Sudah pulang ? dimana Kayla ? "
" Kayla menginap , aku sedang di jalan pulang Mas "
Rain kembali tersenyum dan tersipu mendapat panggilan Mas dari Annisa. Reyhan melirik ke arah Rain dan terkekeh melihat Rain yang sejak tadi senyum-senyum sendiri sembari menelepon Annisa.
" Aku baik-baik saja Mas, tidak perlu khawatir " Annisa mengerti jika Rain mengkhawatirkan dirinya.
" Apa sudah dekat dengan apartemen ? "
" Hmm..masih jauh, kenapa Mas ? "
" Minta Supir taksi untuk mengubah arah, datanglah ke kantorku sekarang. Aku tunggu kamu di bawah "
" Ke kantor Mas Rain ? oh baiklah Mas "
Rain mematikan sambungan teleponnya dan bersiap menjemput Annisa di lobi kantor.
" Batalkan semua jadwal ku sore ini "
" Batalkan ? kamu mau kemana Rain ? "
Rain mengabaikan pertanyaan Reyhan dan keluar dari ruangan begitu saja.
" Rain..Rain.. kalau sudah bucin begitulah "
Rain bergegas turun dan menunggu Annisa. Rain tersenyum sembari melirik ke kanan dan kekiri menunggu kedatangan Annisa.
__ADS_1
Annisa tiba tepat di depan lobi kantor, dan saat bersamaan pula Sania datang dan langsung memeluk Rain.
Annisa terdiam menyaksikan pemandangan di depannya, kedua mata Annisa tampak berkaca-kaca. Hati Annisa juga terasa tersayat - sayat, ini kedua kalinya ia melihat Rain di peluk dengan wanita yang sama yang waktu itu pernah ia lihat.
Rain melihat ke arah Annisa , " Apa yang kamu lakukan Sania " dorong Rain, melepaskan pelukan Sania. Dorongan yang cukup keras membuat Sania hampir jatuh.
Semua orang yang ada di sana berkumpul melihat keributan yang di buat Sania.
" Rain, kenapa kamu tega mendorongku "
Rahang Rain mengeras, kedua matanya memerah menahan amarah.
" Aku tidak perduli denganmu Sania "
Rain berjalan ke arah Annisa dan menarik Annisa pergi bersamanya. Annisa masih diam dan mematung.
" Rain...rain..." Sania teriak dan mencoba mengejar Rain, namun penjaga yang berada di lobi segera menahan Sania.
" Sial, aku gagal lagi. Tapi tak apa, setidaknya semua orang melihatnya dan aku melakukannya tepat di depan wanita desa itu " batin Sania lalu pergi dengan senyum kemenangan.
Rain masih menggenggam tangan Annisa dan membawa Annisa masuk kedalam lift. Di dalam lift tidak ada pembicaraan apapun antara Rain dan Annisa. Annisa masih saja diam tanpa berbicara sedikit pun.
Rain membawa Annisa kedalam ruang kerjanya, Reyhan yang melihat kedatangan Annisa dan Rain memilih keluar ruangan untuk memberi waktu Rain dan Annisa berdua.
Rain melepas genggaman tangannya dari Annisa. Rain membelakangi Annisa dan mencoba mengatur nafasnya. Saat ini ia sedang sangat marah karena ulah Sania. Entah dari mana Sania bisa datang dan tau ia ada di sana.
" Sania sialan....!!! " teriak Rain.
Annisa mendongakkan kepalanya, kini Annisa berusaha menahan rasa sakit hatinya dan menyimpan rasa itu agar tak terlihat di hadapan Rain. Annisa berjalan ke arah Rain dan menyentuh pundak Rain. Merasakan sentuhan Annisa, Rain membalikkan badannya menghadap Annisa.
" Beristighfarlah Mas "
Rain menatap dalam wajah Annisa, Rain mengerti bahwa kejadian tadi pasti menyakiti hati Annisa.
Rain menangkup wajah Annisa, " Wanita itu.. "
" Wanita itu Sania, aku tau karena Mas baru saja menyebut namanya tadi " jelas Annisa sembari tersenyum, terlihat tenang tanpa memperlihatkan kesedihannya di hadapan Rain.
" Kamu tidak marah ? " hal itu yang justru di tanyakan Rain.
" Tidak, aku tidak marah Mas. Apa dia wanita spesial yang pernah ada di hatimu Mas ? karena aku juga pernah mendengar Mas Rain menyebut namanya saat Mas sakit waktu itu "
Hati Rain terasa teriris, ternyata sudah sangat jauh ia menyakiti hati Annisa, bahkan Rain sempat sempat menyebut nama Sania di hadapan Annisa tanpa ia sadari.
" Dia hanya masa laluku Annisa , dan masa depanku adalah kamu. Maafkan aku karena kejadian tadi "
" Tidak perlu meminta maaf Mas, aku mengerti. Sepertinya aku harus terbiasa karena suamiku yang tampan ini memilki banyak sekali penggemar " Annisa terkekeh dan melingkarkan lengannya di pinggang Rain.
__ADS_1
Rain tersenyum lalu membawa Annisa kedalam pelukannya. Rain mengira Annisa akan marah , ternyata tidak, bahkan Annisa bisa membuat Rain tertawa dan menghibur Rain, yang seharusnya di lakukan Rain kepada Annisa, bukan sebaliknya.