Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 97


__ADS_3

Annisa merasakan perih pada perutnya karena tidak ada makan sejak kemarin. Tentu yang merasa kelaparan bukan hanya Annisa namun juga Rain.


Rain dan Annisa berjalan sambil beriringan, Rain mengerti dan tahu kalau Annisa saat ini sedang kelaparan karena Rain juga merasakan hal yang sama. Rain mungkin bisa menahan rasa sakitnya, tapi melihat Annisa tentu Rain tidak tega. Sejak kemarin sampai saat ini Rain tidak menemukan buah-buahan yang bisa mereka makan.


Rain hanya bisa berharap mereka bisa segera menemukan jalan keluar.


" Annisa, jika kamu lelah , kita bisa beristirahat terlebih dahulu " pinta Rain.


" Tidak perlu, aku masih sanggup berjalan "


Rasanya Rain ingin sekali menggenggam tangan Annisa dan berjalan bersama berdampingan , agar Rain bisa menjaga keseimbangan Annisa saat berjalan sehingga Annisa tidak mudah terjatuh saat melewati jalanan yang licin.


" Sudah waktu Dzuhur , Annisa "


Rain melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, jam yang waktu itu di berikan Reyhan kepadanya. Rain jadi teringat ponselnya yang sudah hilang saat ia dan Arkana di kejar oleh harimau, Rain jadi sulit untuk menghubungi Reyhan. Dan mungkin saja saat ini Reyhan sedang menghubungi nya.


Karena tidak ada air untuk berwudhu, Rain segera melakukan tayamum , Annisa memperhatikan apa yang Rain lakukan. Annisa merasa senang karena Rain kini sudah mengerti cara bertayamum. Annisa juga ikut melaksanakan tayamum.


Rain mengambil beberapa lembar dedaunan yang menaruhnya di tanah sebagai alas atau pengganti sajadah mereka.


" Aku akan menjadi imam " ucap Rain lalu bersiap.


Annisa tersenyum tipis di balik cadarnya.


Rain dan Annisa melaksanakan sholat dengan khusyuk, walaupun berada di dalam hutan dan keadaan yang darurat tidak membuat kedua nya melupakan kewajiban mereka.


lantunan ayat Al-Qur'an yang Rain lafalkan dalam sholat seperti menyihir Annisa. Seusai sholat dan mulai berdoa, seketika membuat air mata Annisa menetes, Annisa ingat saat masih bersama Rain, setiap doa di sholat malamnya ia selalu meminta kepada sang pencipta agar menjadikan Rain suami yang salih dan taat, Annisa ingin sekali suatu saat Rain menjadi imam nya dalam sholat dan membimbing nya dengan baik.


Seusai berdoa, Annisa segera menyeka air matanya agar Rain tak melihat. Annisa justru tersenyum kembali di balik cadarnya, ia merasa senang karena Rain sudah mulai berubah.


" Aww...."


Rain merintis kesakitan pada perutnya, Annisa melihat Rain namun masih tampak tak peduli.


" Perutku, perutku sakit sekali Annisa " ucap Rain dengan wajah nya terlihat sangat kesakitan. Lalu setelahnya Rain terbaring tak sadarkan diri.


Annisa yang awalnya terlihat tak peduli segera menghampiri Rain.


" Mas Rain.."


" Mas..."


" Mas Rain sadar... "


Annisa berusaha membangunkan Rain, dan tampak bingung karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


" Apa yang harus aku lakukan ? " batin Annisa.


Rasa takut dan kekhawatiran akan Rain memenuhi perasaan Annisa saat ini.


" Mas Rain..aku mohon sadarlah Mas.. "

__ADS_1


Kedua mata Annisa mulai berkaca-kaca, entah apa yang terjadi kepada Rain, Annisa merasa tidak bisa kalau kehilangan Rain , ia sangat takut saat ini.


" Mas..ayolah...Mas Rain sadarlah "


Hiks..hiks..hiks..


Annisa menangis di hadapan Rain, Annisa begitu takut sehingga ia tidak bisa menahan air matanya lagi.


" Sadar Mas Rain..bangunlah...jangan tinggalkan aku Mas "


Annisa menggerakkan - gerakkan tubuh Rain, sesekali ia menepuk pelan kedua pipi Rain agar Rain segera sadarkan diri.


Annisa merasakan kaki dan tangan Rain yang mulai terasa dingin, Annisa semakin khawatir di buatnya.


Annisa melihat ke kiri dan kanan, hanya ada pepohonan dan semak belukar, dan mereka berdua. Tidak ada yang bisa Annisa pintai pertolongan.


" Mas..aku mohon sadarlah, bukannya Mas Rain ingin membuktikan kalau Mas ingin memantaskan diri untuk Arkana ? Aku sudah melihatnya Mas, dan sekarang tunjukkan hal yang sama kepada Arkana, aku mohon Maaf jangan tinggalkan kamu "


Annisa terus menangis, dan ia menunduk dan membaringkan kepalanya di dada Rain.


" Katakan kalau kamu mencintaiku Annisa "


Annisa terdiam mendengar ucapan Rain.


" Mas Rain... "


Annisa melihat Rain yang sudah sadar lalu tersenyum manis kepadanya, Annisa segera menyeka air matanya.


" Aku di sini Annisa, aku tidak akan meninggalkan kalian. Aku hanya sakit perut karena lapar "


Annisa memanyunkan bibirnya yang tak tersembunyi di balik cadarnya. Annisa beranjak lalu pergi menjauh dari Rain. Annisa pergi karena kesal dan juga kepada Rain. Kesal karena Rain sudah mengerjainya, dan merasa malu karena tentu saja ucapan nya dan tangisannya tadi di dengar oleh Rain.


Rain lalu bergegas menyusul Annisa.


" Maafkan aku Annisa " ucap Rain.


Annisa hanya diam dan terus berjalan tidak menghiraukan Rain yang berusaha membujuknya.


" Annisa "


Rain berjalan mendahului Annisa dan kini berdiri tepat di depan Annisa. Sejenak sepasang mata mereka saling bertemu, namun Annisa segera menundukkan pandangannya.


" Terima kasih Annisa, terima kasih karena masih mencintai ku sampai saat ini "


Kedua mata Rain tampak berkaca-kaca, dan Annisa pun juga begitu saat mendengar ucapan Rain.


" Annisa...Rain.."


" Annisa...Rain... "


Rain dan Annisa menyeka kedua air mata mereka dan mencoba mendengarkan kembali asal suara yang memanggil nama mereka.

__ADS_1


" Annisa...Rain... "


" Itu suara Abah " ucap Annisa.


" Sebelah sini Annisa "


Rain dan Annisa berlari mencari sumber suara.


" Annisa..Rain... "


" Suaranya dari atas sana Annisa " ucap Rain.


" Kami di sini... " teriak Rain.


" Abah..seperti nya itu suara Rain " ucap Amir.


Abah Rahman, Amir dan beberapa warga berjalan menyusuri jurang. Dan benar saja mereka melihat Rain dan Annisa di bawah sana.


" Annisa " teriak Abah saat melihat Annisa.


" Abah , Alhamdulillah ya Allah "


Annisa dan Rain begitu senang dan bersyukur karena akhirnya mereka bisa kembali bertemu dengan Abah Rahman dan lainnya.


" Tunggu di sana Rain, Annisa, kami akan menurunkan tali agar kalian bisa naik "


Amir menurunkan tali yang cukup kuat kepada Rain dan Annisa. Rain meminta Annisa untuk terlebih dahulu naik ke atas.


" Jangan lihat ke bawah, fokus lihat keatas saja Annisa , aku akan naik setelah kamu , tenang saja "


" Baiklah "


Annisa perlahan mulai naik dengan menggenggam seuntas tali yang tadi di ulurkan oleh Amir.


Setelah Annisa, Rain pun mulai naik. Annisa terus memperhatikan Rain, ia takut bila terjadi sesuatu pada Rain.


" Alhamdulillah "


Semua orang yang ada di sana mengucap syukur setelah Rain dan Annisa sudah terselamatkan.


" Ummi....." teriak Arkana saat melihat kedatangan Annisa dan juga Rain. Arkana langsung memeluk ibunya.


" Arkana "


Suasana kembali haru, Annisa bersyukur bisa kembali bertemu dengan Arkana dan melihat Arkana baik-baik saja.


Setelah memeluk Annisa, Arkana beralih kepada Rain.


" Paman pasti menjaga Ummi dengan baik di sana ? apa Paman menyelamatkan Ummi dari Harimau seperti Paman menyelamatkan Arkana "


Annisa lantas melihat Rain setelah mendengar ucapan Arkana, Annisa kini tahu apa yang menyebabkan lengan Rain terluka.

__ADS_1


__ADS_2