
Banyaknya orang yang juga ingin melihat keadaan pabrik yang terbakar membuat jalanan penuh dan terjadi kemacetan.
Rain yang sudah tak sabar menunggu memilih untuk keluar dari mobil dan berjalan kaki menuju tempat kebakaran.
Rain berlari agar mempercepat langkahnya untuk segera sampai di sana.
Sesampai di lokasi kebakaran, di sana banyak sekali orang-orang yang berkumpul. Bukan hanya karyawan pabrik tapi juga masyarakat yang bergerumul untuk melihat lokasi kebakaran.
Rain tampak ke sana kemari mencari Annisa, dan bertanya tentang keberadaan Annisa.
" Kamu dimana Annisa ? "
Rain mengusap wajahnya kasar, ia bingung harus mencari Annisa kemana dengan banyaknya orang yang berkumpul di lokasi tersebut.
" Pak Rain "
Salah satu anak buah Rain datang dan menghampiri Rain.
" David, bagaimana ? apa kamu sudah menemukan Annisa "
" Ibu Annisa ada di dalam ambulance pak, di sebelah sana "
Anak buah Rain yang bernama David menunjuk ke arah ambulance dimana Annisa berada.
" Baik Terima kasih "
Rain pun segera berlari ke ambulance tersebut. Rain merasa sedikit tenang karena akhirnya ia bisa bertemu Annisa.
" Annisa "
Dengan nafas tersengal-sengal, Rain memanggil Annisa.
" Mas Rain "
Rain langsung memeluk Annisa, bahkan memeluk Annisa dengan erat. Rain sangat bersyukur Annisa selamat dan ia bisa kembali bertemu dengan Annisa. Rain tidak bisa membayangkan jika sampai terjadi sesuatu kepada Annisa.
" Kamu baik-baik saja, ada yang terluka "
Rain memperhatikan Annisa dari ujung kepala hingga ujung kaki.
" Kakimu ? kenapa Annisa ? "
" Oh ini, tidak kenapa-kenapa Mas, aku baik - baik saja "
" Telapak kaki Annisa terkena serpihan kaca yang cukup besar Pak Rain "
Lela menambahkan cerita, dan tentu saja hal itu semakin membuat Rain khawatir.
" Mas Rain, kita mau kemana ? "
Tiba-tiba saja Rain menggendong Annisa, membuat Annisa sedikit terkejut.
" Kita harus ke rumah sakit "
" Ta..ta..pi.. Mas "
" Pergi saja Annisa, memang lebih baik harus di periksa lebih lanjut. Aku tidak apa sendiri di sini "
" Baiklah kalau begitu kami pergi "
Rain membawa Annisa di dalam gendongannya, Annisa merasa malu karena orang-orang melihat Rain menggendongnya.
" Mas, aku bisa berjalan. Aku baik-baik saja Mas Rain "
__ADS_1
" Kaki mu sedang terluka, kalau terjadi infeksi bagaimana ? "
Reyhan melihat Rain yang sedang menggendong Annisa dan segera menghampiri mereka.
" Rain, Annisa , apa yang terjadi denganmu Annisa ? "
" Kita harus ke Rumah sakit sekarang Rey "
" Oh..Baiklah "
Reyhan bergegas kembali ke mobilnya di iringi Rain dan Annisa di belakangnya.
" Mas, kita langsung pulang saja ya. Luka ku ini sudah di obati oleh petugas ambulance. Jadi tidak perlu khawatir "
" Ikuti saja perintahku Annisa, aku tidak bisa tenang kalau aku tidak mendengar langsung dari Dokter yang akan menanganimu "
Annisa terpaksa diam dan mengikuti perintah Rain, jika Rain sudah berkata seperti itu maka apa yang bisa Annisa perbuat.
Reyhan tersenyum tipis melihat Rain yang begitu mengkhawatirkan Annisa.
Rain membawa Annisa ke IMC hospital, rumah sakit yang terkenal dimana Rain juga memilki saham di rumah sakit tersebut.
Rain kembali menggendong Annisa dan membawa Annisa ke dalam ruang UGD. Semua orang yang ada di sana tentu sangat mengenal Rain.
" Cepat periksa istriku "
Dengan sigap seorang Dokter datang dan memeriksa Annisa.
" Ada apa dengan kaki anda ? "
" Kamu tidak lihat kakinya, kakinya terluka, cepat periksa "
Padalah Dokter bertanya kepada Annisa, tapi Rain yang terlebih dahulu menjawabnya.
Dokter yang memeriksa Annisa ingin membuka perban yang melilit di kaki Annisa, namun baru saja ingin menyentuh kaki Annisa, Rain tiba-tiba meminta Dokter tersebut untuk berhenti.
" Ada apa Pak ? "
" Aku ingin Dokter wanita yang memeriksa istriku, tolong panggilkan sekarang "
" Maaf Dokter Rain, di UGD saat ini hanya ada Dokter Angga "
" Saya tidak perlu tahu, saya ingin yang memeriksa istri saya sekarang seorang Dokter wanita "
Rain berbicara dengan sedikit meninggikan suaranya, dan tentu dengan tatapan tajam. Membuat para perawat takut melihat Rain.
" Ba..ik..Pak Rain, tunggu sebentar "
Dokter Angga dan perawat pun keluar dari ruangan, mereka akan mencari Dokter wanita untuk memeriksa Annisa.
" Rumah sakit besar dan terkenal, bagaimana bisa cuma ada satu Dokter di sini "
Rain merasa kesal, Annisa menatap wajah sang suami lalu mengelus lembut lengan Rain.
" Mas..sabar, mas tidak sadar kalau Mas sudah membuat Dokter dan perawat tadi ketakutan "
Annisa berbicara kepada Rain dengan nada bercanda dan tersenyum.
Melihat senyum Annisa membuat rasa kesal Rain menghilang.
" Padahal kaki kamu lagi terluka, kenapa kamu masih bisa tersenyum seperti ini " batin Rain.
Tak lama seorang Dokter Wanita datang dengan seorang perawat di sampingnya. Dokter Wanita yang bernama Santi , Rain bisa melihat nametag yang tertempel di jas putihnya.
__ADS_1
" Permisi saya ijin memeriksa ya Pak, Bu "
Dokter Santi menyapa dengan ramah, ia segera memeriksa kaki Annisa dan membuka kembali perban yang sebelumnya sudah di pasang oleh petugas kesehatan di lokasi kebakaran.
Hati Rain merasa sakit saat melihat luka yang cukup besar yang ada di telapak kaki Annisa. Rain bisa merasakan bahwa rasanya pasti sangat sakit dan perih.
" Luka nya harus di jahit karena luka nya cukup besar "
" Jahit ? apa tidak sakit Dokter ? "
Rain langsung bertanya kepada Dokter Santi, Dokter Santi tersenyum, ia bisa lihat bahwa Rain terlihat sangat mengkhawatirkan Annisa.
" Hanya sedikit Pak Rain, sebelumnya saya akan membius sedikit di sini, agar Bu Annisa tidak merasakan sakitnya saat saya menjahit lukanya "
" Baiklah, lakukan yang benar dan jangan sampai membuatnya kesakitan "
" Baik Pak Rain "
Dokter Santi kembali tersenyum dan ia dengan sigap melakukan tugasnya.
Annisa sedikit meringis saat Dokter Santi menyuntikkan obat bius di telapak kakinya.
" Kamu kesakitan Annisa, sudah kukatakan kan lakukan dengan benar "
Rain memarahi Dokter Santi, ia khawatir karena melihat wajah Annisa yang kesakitan.
" Aku baik-baik saja Mas , bukan sakit Mas tapi rasanya geli, ia kan Dokter "
Annisa melihat ke arah Dokter Santi dan Dokter Santi menganggukkan kepalanya lalu tersenyum kepada Rain.
" Baik lanjutkan "
Rain mengambil kursi lalu duduk di samping Annisa. Rain tidak meninggalkan Annisa sedikit pun, ia bahkan memperhatikan Dokter Santi dengan sangat teliti. Ia ingin melihat secara langsung bagaimana Dokter Santi menangani Annisa.
" Baiklah, sudah selesai "
Dokter Santi menarik nafas panjang, luka yang di alami Annisa cukup dalam sehingga butuh banyak jahitan.
" Ibu Annisa bisa langsung pulang ya Pak Rain , tidak perlu di rawat . Nanti saya akan meresepkan obat untuk di bawa pulang, untuk sementara luka nya jangan sampai terkena air dulu ya Bu, setelah 4 hari kembalilah ke rumah sakit untuk memeriksakan lukanya "
" Baik Dokter , terima kasih banyak "
" Sama-sama, saya permisi ya Bu, Pak "
Dokter Santi keluar dari ruangan menyisakan Annisa dan Rain.
" Tidak sakit kan ? "
Rain menatap dalam Annisa, lalu mengelus lembut wajah Annisa.
" Tidak Mas, aku baik-baik saja. Kan Mas dengar sendiri aku tidak perlu dirawat. Itu berarti tidak ada hal serius yang terjadi kepadaku "
" Aku hanya khawatir Annisa "
" Iya Mas, aku bisa lihat dari kemarahan Mas tadi " ucap Annisa sembari terkekeh.
Rain tersenyum melihat Annisa.
" Terima kasih Mas "
Annisa menatap dalam Rain, semakin dalam dan membuat Rain mendekatkan wajahnya ke Annisa.
" Kak Annisa.. "
__ADS_1
Rain dan Annisa segera mengalihkan pandangan mereka dan memalingkan wajah saat mendengar suara Kayla yang baru saja masuk ke ruangan bersama Reyhan.