Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 87


__ADS_3

Abah Rahman membawa Rain untuk menemui Amir, dan dengan terpaksa Amir mengiyakan permintaan Abah dan menerima Rain untuk tidur bersama nya.


Amir adalah salah satu pengajar di pondok pesantren milik Abah yang juga merupakan orang kepercayaan Abah Rahman.


" Kamu bisa tidur di sebelah sana Rain, dan aku tidur di sebelah sini " tunjuk Amir , karena hanya ada satu kasur kapuk , Amir pun meminta Rain untuk tidur di kasur itu, sedangkan Amir hanya tidur beralaskan tikar. Walaupun saat ini Amir masih kesal dan patah hati, ia juga tidak tega menyuruh Rain untuk tidur di lantai.


" Tidak perlu , Amir. Biar aku saja yang tidur di tikar ini " Rain pun segera berbaring, ia merasa kepalanya sedikit pusing.


" Baiklah, terserah kamu saja " ucap Amir.


Karena merasa pusing, Rain pun tak lama tertidur hingga sore hari menjelang maghrib. Amir pun harus membangunkan Rain yang tertidur dengan sangat pulas.


" Rain, Rain, bangunlah..sebentar lagi Maghrib menjelang " ucap Amir sembari membangunkan Rain.


Rain terbangun dengan sedikit terkejut, ia pun segera bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


" Kamu mau kemana Amir ? " tanya Rain saat melihat Amir ingin keluar dari rumah.


" Aku ingin ke masjid " jawab Amir singkat.


" Aku ikut bersamamu "


" Cepatlah "


Rain bergegas bersiap untuk pergi ke masjid bersama Amir.


****


" Paman.... " teriak Arkana dari kejauhan, Rain berbalik badan untuk melihat Arkana yang memanggilnya.


Rain tersenyum bahagia melihat Arkana yang berlari ke arahnya, Rain tidak menyangka ternyata selama ini ia memiliki seorang putra yang begitu tampan, bahkan wajahnya sangat mirip dengannya. Rasa bahagia dan rasa sesal kembali meliputi perasaan Rain saat ini.


Rain berjongkok untuk menyelaraskan posisi tubuhnya dengan Arkana, Arkana berlari ke arah Rain dan langsung memeluk Rain.


" Paman kembali " ucap Arkana.


Rain meneteskan air matanya saat merasakan pelukan hangat dari Arkana.


" Dia putraku, putraku " batin Rain , lalu mengeratkan pelukannya ke Arkana.


" Kapan paman kembali ? aku tidak melihat paman di rumah ? " tanya Arkana.


Rain segera menyeka air matanya agar Arkana tidak melihat, Rain pun menatap dalam wajah Arkana. Arkana merasa aneh dengan tatapan Rain, karena tidak seperti biasanya saat mereka bertemu.


" Paman " panggil Arkana.

__ADS_1


Rain tersadar lalu menunduk , kemudian kembali menyeka air matanya yang menetes.


" Paman baru saja kembali " ucap Rain, berusaha tersenyum di depan Arkana.


" Paman tidak jadi ke kota ? kenapa paman ? "


" Tidak, ada sesuatu yang tertinggal , jadi Paman kembali "


" Tertinggal ? apa itu Paman ? "


" Sudah, paman sudah mendapatkannya. Dimana ibumu ? " tanya Rain sembari melirik ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Annisa.


" Ummi ? ummi ada di rumah bersama nenek "


" Ummi mu tidak ikut bersama ke masjid ? " tanya Rain kembali.


" Tidak Paman , Paman tinggal bersama paman Amir ? "


" Iya, Paman tinggal bersama Amir untuk sementara waktu "


" Kenapa tidak tinggal bersama di rumah Arkana saja ? "


Rain tersenyum lalu mengelus lembut pucuk kepala Arkana, putranya ini sangat lah pandai dan sangat pasih berbicara.


" Sudah adzan, kita sholat bersama ? " ajak Rain sembari mencoba mengalihkan pertanyaan Arkana.


Arkana tiba-tiba menarik tangan Rain, dan menyatukan jemari tangan mereka. Rain merasa terharu dengan apa yang di lakukan Arkana, mereka berdua pergi ke masjid dengan saling bergandengan tangan.


Hati Rain merasa bergetar saat mendengar suara adzan yang berkumandang, terlihat banyak sekali santri yang pergi ke masjid untuk melaksanan shalat berjamaah. Arkana dan Rain berjalan menuju tempat untuk mengambil air wudhu, Rain memerhatikan bagaimana Arkana berwudhu, Arkana begitu tersentuh melihat bagaimana Arkana yang masih kecil sudah sangat pintar dan rajin sekali melaksanakan sholat bahkan sholat malam pun tak di tinggalkan oleh Arkana.


Rain mulai mengambil air wudhu, setelah sekian lamanya baru ini Rain menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, yaitu sholat lima waktu yang wajib untuk di laksanakan, saat mengambil air wudhu, Rain meneteskan air matanya.


Rain menyadari bahwa ia selama ini sudah sangat jauh, sangat jauh dari sang pencipta, Rain merasa malu kepada sang pencipta karena sampai saat ini Allah masih sayang kepadanya, Allah masih menyelamatkan nya dan kini Allah pertemukan ia kembali dengan Annisa , dan Allah juga memberikan Rain sebuah hadiah besar untuknya yaitu Arkana yang kini hadir di antara mereka.


Selesai sholat, Rain begitu khusyuk berdoa bahkan kembali beberapa butir air matanya kembali menetes. Rain tidak sadar kalau Arkana yang berada di sampingnya sedang memperhatikan dirinya.


" Paman sedang bersedih ? " tanya Arkana.


Rain dan Arkana sedang berjalan menuju kediaman Abah Rahman.


" Tidak, Paman sedang berbahagia " ucap Rain.


" Berbahagia? tapi aku melihat paman menangis. " ucap Arkana.


" Menangis ? " tanya Rain.

__ADS_1


Rain menghentikan langkahnya, lalu berjongkok untuk berbicara dengan Arkana.


" Ya menangis, saat paman berdoa " ucap Arkana.


" Kamu diam-diam memperhatikan paman ya ? " ucap Rain sembari tertawa kecil dan mencubit pipi gembul Arkana.


" Tidak Paman, Paman berada di sampingku, tentu sangat jelas aku bisa melihat kalau paman tadi menangis "


" Baiklah anak pintar , kalau begitu paman akan mengaku kalau paman memang menangis, tapi seperti kata paman, kalau paman menangis karena bahagia, apa Paman tidak boleh menangis ? " tanya Rain.


Rain kembali menatap dalam Arkana, " bagaimana Arkana, bagaimana caranya aku untuk mengatakan kepadamu kalau aku adalah ayahmu, ayahmu Arkana. Apa yang harus aku katakan kepadamu Arkana ? " batin Rain.


" Syukurlah kalau Paman bahagia, menangis itu tidak di larang paman. Apalagi menangis saat berdoa, menangis di hadapan Allah. Kata Ummi jika kita sedang berada dalam kesedihan maupun kebahagiaan, selalu ingatlah kepada Allah. Dan jika ada sesuatu yang membuat hati kita tidak tenang, maka berdoa dan mintalah kepada Allah agar hati kita selalu tenang, bahkan kalau perlu menangis, menangislah. Allah sangat senang apabila ada seorang hamba nya yang datang kepadanya, mengingatnya , takut kepada nya lalu berkeluh kesah kepadanya bahkan sampai menangis " jelas Arkana panjang lebar.


Rain kembali tersentuh dengan penjelasan Arkana.


" Kamu sangat pandai Arkana, Annisa mendidik mu dengan sangat baik. Sedangkan aku, selama ini aku justru menelantarkan kalian berdua, maafkan ayah, Arkana. Maafkan Ayah " batin Rain.


Kedua mata Rain kembali berkaca-kaca menyesali perbuatannya. Arkana dan Rain kembali berjalan menuju kediaman Abah Rahman.


Annisa sedang menunggu Arkana di luar rumah, Annisa terkejut saat melihat Arkana datang dengan Rain.


" Assalamualaikum, Ummi "


" Wa'alaikumussalam "


Annisa segera menundukkan kepalanya di hadapan Rain.


" Ayo Arkana, kita masuk " ajak Annisa.


" Masuk, tapi Paman, Paman baru saja tiba Ummi "


" Ini sudah malam Arkana " ucap Annisa.


" Ta..pi..ta..pi...Ummi "


" Arkana , dengar apa yang Ummi katakan " ucap Annisa sedikit tegas, membuat Arkana diam dan tak lagi berbicara.


" Paman, Arkana masuk dulu ya " ucap Arkana.


Rain hanya bisa tersenyum kepada Arkana. Annisa pun membawa Arkana masuk kedalam rumah, dan langsung menutup pintu Rumah.


Rain hanya bisa menarik nafas panjang ketika pintu sudah tertutup.


" Aku hanya ingin bicara kepadamu Annisa, bagaimana ini ? melihatku saja kamu tidak mau, astaghfirullahadzhim, bagaimana ini ya Allah " batin Rain.

__ADS_1


Cukup lama menunggu didepan pintu, Rain pun pergi. Rain tidak tahu bahwa Annisa sedang menangis di balik tirai jendela sembari memperhatikannya sejak tadi hingga akhirnya Rain pergi dan tak terlihat lagi di depan rumah mereka.


__ADS_2