
" Kamu mengenali hutan ini Annisa ? " tanya Rain.
" Tidak " jawab Annisa singkat.
" Sepertinya kita tidak punya pilihan lain, kita harus mencari cara agar bisa naik ke atas "
Annisa hanya diam mendengarkan Rain. Tentu sulit untuk mereka kembali ke atas karena jurang nya cukup dalam dan setidaknya untuk mencapai ke atas mereka harus memilki perlengkapan yang memadai.
Karena hari mulai gelap dan tidak menemui jalan keluar, Rain dan Annisa memilih untuk menghentikan perjalanan mereka.
Annisa hanya duduk diam tanpa berbicara sedikit pun.
" Tunggu sebentar di sini Annisa "
Rain meminta Annisa menunggunya, Annisa hanya dan menganggukkan kepalanya.
Rain beranjak mencari pohon - pohon besar , dan mengumpulkan beberapa ranting untuk membuat api unggun. Ya walaupun mungkin agak sedikit sulit untuk Rain karena hari baru saja hujan.
" Annisa, ikutlah denganku " pinta Rain.
Annisa beranjak dan mengikuti Rain.
" Hari sudah semakin gelap Annisa, aku tahu kamu lelah. Berbaringlah di sana, aku sudah menyiapkan nya untukmu "
Rain mengumpulkan daun-daun yang cukup besar untuk ia jadikan alas agar Annisa bisa beristirahat.
Tanpa berkata apapun, Annisa mengikuti perintah Rain dan duduk di tempat yang sudah Rain buatkan untuknya. Sedangkan Rain berusaha untuk membuat api unggun dengan korek api yang ia bawa.
Siang pun berganti malam, api unggun yang susah payah Rain buat akhirnya menampakkan cahaya nya, api dengan cepat menyebar dan membakar ranting. Membuat Rain dan Annisa sedikit merasa hangat, seperti yang kalian tahu bahwa sebelumnya tubuh mereka basah karena hujan.
Rain dan Annisa sama-sama menatap api unggun yang ada di depan mereka tanpa saling berbicara. Sesekali Rain melihat ke arah Annisa.
" Terima kasih Annisa " ucap Rain.
Annisa melihat Rain dan Rain juga , mereka duduk dengan berdua dengan sedikit berjarak.
" Terima kasih sudah melahirkan Arkana, anak yang cerdas dan pemberani "
Rain tersenyum kepada Annisa , dan Annisa sontak mengalihkan pandangannya ke api unggun yang ada di depan mereka.
Rain bercerita kepada Annisa bagaimana ia bisa sampai desa tempat tinggal Annisa. Tentu saja hal itu mengejutkan Annisa karena ada seseorang yang berusaha membunuh Rain. Seketika Annisa teringat saat Tante Sarah yang juga dahulu pernah mengancam nya.
Flashback on
__ADS_1
Karena tidak bisa menemui Rain di apartemen dan rumahnya, Annisa berniat untuk mengunjungi Rain di tempat kerja Rain. Walaupun Rain sudah mengusirnya, Annisa tetap gigih dan tidak menyerah untuk menjelaskan bahwa ia tidak bersalah dan tidak seperti yang ada di pikiran Rain.
Dan kalaupun Rain masih tidak percaya kepadanya, setidaknya sebelum ia pergi, Annisa bisa memberi tahu bahwa ia sedang mengandung.
Baru saja melangkah untuk masuk kedalam perusahaan, Annisa di tarik oleh seseorang dan orang itu adalah Tante Sarah.
" Apa yang kamu lakukan Annisa ? " tanya Tante Sarah.
" Tante, aku..aku ingin menemui Rain "
" Untuk apa Annisa ? untuk meyakinkan Rain kalau kamu tidak bersalah, hahaha...percuma " Tante Sarah justru tertawa di depan Annisa.
" Bagaimana Tante tahu , siapa yang memberi tahu Tante ? "
" Tentu saja aku tahu, apapun yang terjadi dan menyangkut hal mengenai Rain aku pasti tahu Annisa "
" Aku tidak ingin membuang waktu Tante Sarah, aku ingin segera menemui Rain "
Annisa ingin pergi namun Tante Sarah kembali menarik lengannya.
" Dasar keras kepala , kamu dengar baik-baik ya Annisa !! kamu ingin Rain selamat kan ? "
Pertanyaan Tante Sarah tentu membuat Annisa bingung.
" Aku bisa melakukan apapun Annisa, bahkan untuk membunuh Rain " bisik Tante Sarah di telinga Annisa.
" Apa maksud Tante, kenapa berbicara seperti itu. Rain itu keponakan Tante sendiri "
" Kalau kamu ingin Rain selamat, maka segera lah pergi dan jangan pernah menunjukkan wajah mu lagi "
Tante Sarah mendekat ke Annisa dan kembali membisikkan sesuatu.
" Kalau kamu berani melawanku, aku akan memberikan pelajaran yang lebih dari apa yang sudah kamu alami Annisa "
" Tante..Tante Sarah keterlaluan" ucap Annisa dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
" Silahkan pilih saja Annisa, jika kamu pergi maka aku akan membiarkan Rain hidup , tapi kalau kamu tetap ingin bersama Rain , maka ingat bahwa aku juga tidak akan berhenti untuk mengganggu hubungan kalian , dan aku pun ragu, apa Rain akan mempercayai mu ?? "
Tante Sarah tersenyum sinis lalu setelahnya pergi meninggalkan Annisa.
Flashback off
" Saat hanyut di sungai, aku sudah mengira bahwa aku akan mati. Dan saat itu aku hanya memikirkan mu Annisa "
__ADS_1
Kedua mata Annisa tampak berkaca-kaca mendengar cerita Rain.
" Aku ingin tidur " ucap Annisa lalu berbaring , ia tidak ingin mendengar lagi cerita Rain karena Annisa tidak tahan mendengar nya, Annisa tidak ingin Rain melihatnya menangis.
" Tidurlah Annisa, aku akan berjaga "
Tengah malam , saat Rain juga mulai mengantuk, Rain mendengar suara rintihan Annisa. Rain mendekat ke Annisa dan melihat tubuh Annisa seperti menggigil.
" Annisa "
" Annisa "
Rain mencoba membangunkan Annisa, Rain melihat Annisa masih menutup kedua matanya namun Annisa terus meringis dan menggigil.
Rain tampak khawatir dan menaruh telapak tangannya di kening Annisa.
" Kamu demam Annisa " ucap Rain.
Rain lalu membawa kepala Annisa di pangkuannya.
" Astaghfirullahadzhim, apa yang harus aku lakukan "
Rain tampak bingung karena mereka berada di dalam hutan, tidak ada apapun yang bisa Rain lakukan untuk menurunkan panas tubuh Annisa.
Annisa terus menggigil, hujan lebat yang membasahi tubuh mereka tentu menjadi penyebab Annisa mengalami demam, apalagi mereka tidak berganti pakaian, pakaian yang ada hanya kering di badan.
Rain membawa Annisa sedikit mendekat arah api unggun agar Annisa merasa hangat, lalu Rain membaringkan Annisa. Karena Annisa masih saja menggigil, Rain memeluk Annisa, membuat agar Annisa merasa hangat.
" Bertahan Annisa, bertahan " ucap Rain.
Rain menjaga Annisa semalaman, saat subuh tiba Rain tidak bisa lagi menahan kantuk nya dan akhirnya ikut tertidur.
Dan keesokan harinya, Annisa terbangun dan wajah Rain lah yang pertama kali ia lihat. Sejenak Annisa terdiam dan menatap wajah Rain cukup lama, sudah lama sekali Annisa tidak melihat wajah Rain dengan jarak dekat seperti ini. Seperti dulu , setiap bangun tidur wajah Rain lah yang pertama selalu ia lihat.
Annisa tersadar dan langsung melepas pelukan Rain dari tubuhnya, Annisa sadar kalau mereka seharusnya tidak boleh seperti ini. Rain yang merasa gerakan dari Annisa juga ikut terbangun.
Rain reflek menaruh telapak tangannya di kening Annisa.
" Kamu sudah tidak demam lagi " ucap Rain sembari tersenyum.
" A..a..ku..aku pergi sebentar "
Annisa tampak salah tingkah, lalu pergi meninggalkan Rain.
__ADS_1
" Annisa , kamu jangan pergi terlalu jauh " teriak Rain.
Rain lalu senyum-senyum sendiri melihat Annisa yang tampak salah tingkah. Rain menjadi yakin kalau Annisa sebenarnya masih mencintai nya.