
Annisa menundukkan kepalanya saat melihat Rain, lalu ia segera masuk begitu saja ke dalam rumah. Arkana dan Ummi shofiah hanya terlihat bingung dengan tingkah Annisa.
" Arkana " sapa Rain.
" Paman " Arkana berlari kecil ke arah Rain.
" Bagaimana Paman, apa Paman sudah bisa menghubungi teman Paman itu ? "
Rain menjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Arkana, Rain lalu mengelus lembut pucuk kepala Arkana.
" Tidak bisa Arkana " jawab Rain.
" Jadi bagaimana nak Rain ? " tanya Ummi Shofiah.
" Sepertinya besok saya akan pergi dari sini Bu, saya akan pergi ke kota , saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi "
Entah mengapa Arkana merasa sedih saat Rain mengatakan kalau dirinya akan pergi dari desa mereka dan kembali ke kota.
" Baiklah, nanti kamu bisa berbicara dengan Abah. Abah akan mencari seseorang untuk menemani mu sampai kamu mencapai angkutan untuk menuju kota "
" Baik Bu, oh ya Bu sepertinya tadi saya melihat seseorang? " tanya Rain.
Rain hanya samar-samar melihat Annisa dari kejauhan.
" Ibuku sudah pulang Paman, yang Paman lihat tadi ibuku " ucap Arkana.
" Ibumu ? " rasa penasaran Rain tentang orangtua Arkana kembali datang.
" Iya benar Paman "
" Ibu nya Arkana baru saja tiba, Silahkan nak Rain masuk dulu. Beristirahat lah " pinta Ummi dan di balas anggukan oleh Rain.
Diam-diam Annisa memperhatikan Rain dari balik tirai jendela, dan saat melihat Rain , Arkana dan Ummi shofiah ingin masuk kedalam Rumah. Annisa langsung masuk ke dalam kamarnya untuk bersembunyi.
" Ummi dimana ya nek ? " tanya Arkana saat tak melihat Annisa.
" Mungkin di kamar , Arkana. Ibumu pasti lelah "
" Kalau begitu Arkana mau ke kamar Ummi dulu "
Rain hanya menatap Arkana yang berlari kecil menuju kamar Annisa. Lalu setelahnya Rain juga kembali ke kamar Arkana untuk beristirahat.
" Ummi " panggil Arkana.
Annisa segera menyeka air matanya saat mendengar suara Arkana.
" Iya Arkana "
__ADS_1
Arkana berlari ke arah Annisa dan memeluk Annisa.
" Apa Ummi lelah ?? " tanya Arkana.
" Hmm...sedikit " jawab Annisa dengan tersenyum manis kepada Arkana.
" Kalau begitu istirahat lah Ummi " pinta Arkana sembari mengelus lembut pipi Annisa.
Kedua mata Annisa kembali berkaca-kaca menatap Arkana.
" Arkana mau temani Ummi ? " pinta Annisa.
" Baiklah Ummi, Arkana siap menemani Ummi " jawab Arkana sembari memberi hormat kepada Annisa, hal itu membuat Annisa tertawa kecil melihat tingkah lucu anaknya Arkana.
Arkana pun menemani Annisa , berbaring di samping Annisa sembari memeluk Annisa. Saat Arkana mulai memejamkan kedua matanya, Annisa tak bisa lagi menahan bendungan air matanya, buliran air mata pun turun membasahi pipi nya.
" Ya Allah, aku tidak salah lihat. Mas Rain ada di sini, bagaimana semua ini bisa terjadi ? apa yang aku lakukan sekarang ya Allah ?? " batin Annisa sembari menangis.
Annisa terus menangis tanpa henti, Annisa tidak menyangka kalau ia akan bertemu dengan Rain bahkan setelah hampir 6 tahun lama nya. Annisa tidak membenci Rain, namun Annisa justru merasa takut saat ini. Annisa takut kalau saja nantinya Rain tahu kalau Arkana adalah anaknya, Annisa takut jika Rain akan membawa Arkana pergi dari nya.
Terlebih dengan semua kekuasan yang Rain miliki, Annisa sangat takut akan kehilangan Arkana. Hanya Arkana lah satu-satunya harta berharga Annisa.
*****
Keesokan harinya Rain bersiap untuk pergi dengan kembali di antar oleh Amir. Rain, Arkana, Ummi shofiah, Abah Rahman dan Amir sedang berada di luar rumah.
Sebenarnya ada rasa penasaran di hati Rain karena tak melihat ibu nya Arkana , bahkan saat makan malam pun Annisa tak keluar sama sekali karena alasan ingin beristirahat. Abah rahman dan Ummi shofiah juga sempat merasa bingung namun karena Annisa baru saja sampai dari perjalanan jauh , mereka pun mengerti keadaan Annisa.
Walaupun hanya seminggu saja mengenal Rain, Arkana merasakan sedih yang sangat mendalam. Namun rasa sedih itu tak di tampakkan oleh Arkana di depan Rain.
" Terima kasih Abah, Bu, sudah membantu saya dan menerima saya di sini " ucap Rain.
" Panggil saja saya Ummi, nak Rain " pinta Ummi shofiah.
" Baik Ummi "
Amir mendengus kesal saat melihat bagaimana Abah Rahman dan ummi shofiah sangat terlihat akrab dengan Rain, bahkan Rain saja di minta untuk memanggil Abah dan Ummi. Amir saja yang sudah lama mengenal Abah Rahman dan Ummi shofiah tidak pernah di minta Abah Rahman untuk memanggil nya dengan sebutan Abah.
Rain kembali berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Arkana, Rain sebenarnya merasa berat juga untuk berpisah dengan Arkana. Namun Rain harus segera pergi untuk mencari Annisa dan mencari dalang dari percobaan pembunuhan yang terjadi kepadanya.
" Jadi anak baik ya Arkana, ingat yang sudah aku ajarkan kepadamu " ucap Rain sembari mengelus lembut pucuk kepala Arkana.
Annisa bersembunyi di balik tirai jendela dan memperhatikan bagaimana Rain dan Arkana terlihat sangat akrab. Kedua mata Annisa kembali berkaca - kaca melihat Arkana dan Rain.
" Ya Paman, aku akan mengingat nya " ucap Arkana lalu memeluk Rain.
Rain merasakan seperti ada nya aliran listrik yang mengalir pada tubuhnya saat merasakan pelukan dari Arkana. Rain merasa sangat nyaman dan seperti merasakan ada ikatan dengan Arkana.
__ADS_1
Air mata Annisa mengalir saat melihat Arkana memeluk Rain.
" Maafkan Ummi , Arkana. Maafkan Ummi " batin Annisa.
Annisa merasa bersalah karena sudah memisahkan Arkana dengan ayahnya sendiri. Arkana juga memerlukan sosok seorang ayah, namun apalah daya Annisa. Annisa harus melindungi dirinya dan juga anaknya Arkana.
" Baiklah Paman, berhati-hati lah " ucap Arkana.
Dengan berat hati Rain melangkahkan kaki meninggalkan kediaman Abah Rahman dan pergi bersama Amir.
" Ayo Arkana, kita masuk " ajak Abah Rahman dan di balas anggukan oleh Arkana.
" Ummi " panggil Arkana saat melihat Annisa yang sudah berdiri di balik pintu.
Abah Rahman dan Ummi shofiah bisa melihat kedua mata Annisa yang sembab.
" Arkana, Arkana bisa bantu nenek di dapur ? " tanya Ummi Shofiah mencoba mengalihkan perhatian Arkana.
" Bisa nek "
" Baiklah, kalau begitu kita ke dapur sekarang ya " ajak Ummi shofiah dan meninggalkan Abah Rahman bersama Annisa.
" Duduklah Annisa " pinta Abah Rahman dan Annisa pun duduk tepat di depan Abah Rahman.
" Ada apa nak ? Abah tahu kalau ada sesuatu yang mengganggu mu " tanya Abah Rahman.
Mendengar pertanyaan Abah Rahman,membuat Annisa tak bisa membendung air matanya dan kembali menangis. Terakhir kalinya Annisa menangis di depan Abah Rahman saat pertama Annisa datang dan bertemu dengan Abah rahman dan Ummi shofiah, dimana Annisa menceritakan semua keluh kesah dan masalah berat yang menimpa dirinya.
Sejak saat itu Abah Rahman tak lagi melihat Annisa menangis, Annisa selalu tampak kuat hingga sekarang.
Ummi shofiah datang dan terkejut melihat Annisa menangis, Ummi shofiah pun duduk di samping Annisa dan memeluk Annisa.
" Arkana , Ummi " tanya Annisa saat melihat Ummi shofiah, Annisa takut kalau saja Arkana melihatnya menangis.
" Ummi meminta Arkana untuk masuk kedalam kamarnya " ucap Ummi.
" Annisa, ada apa nak ? kenapa kamu menangis ? " tanya Ummi Shofiah.
" Mas Rain ,, Ummi , Abah "
Abah Rahman dan Ummi shofiah membulatkan kedua mata mereka saat Annisa menyebut nama Rain.
" Kamu mengenal Rain ? " tanya Abah .
" Dia...Dia adalah ayahnya Arkana , hiks..hiks..hiks.. " Annisa kembali menangis.
Abah Rahman dan Ummi shofiah terkejut setelah mendengar apa yang Annisa ucapkan.
__ADS_1