Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 107


__ADS_3

Rain dan Annisa berdiam sejenak beberapa saat sembari masih berpelukan. Hingga akhirnya terdengar suara seseorang yang datang dan membuka tirai.


Dengan secepat mungkin Rain dan Annisa saling melepas pelukan mereka.


" Abi.. "


" Nak Rain "


Arkana dan Ummi shofiah tiba, mereka berdua sama - sama terkejut melihat Rain.


" Abi.....!!! "


Arkana berlari ke arah Rain dan langsung memeluk Rain. Rain tentu dengan sangat gembira menerima pelukan Arkana. Rain juga sangat merindukan anaknya Arkana.


Annisa menyeka air matanya lalu kembali memakai cadarnya, Ummi shofiah membuka sedikit tirai agar tidak terlalu pengap.


" Bagaimana kamu bisa sampai di sini nak Rain "


Rain melepas pelukannya kepada Arkana, " kebetulan saya sedang menemui teman saya di sini Ummi "


" Teman kamu, yang mana nak Rain ? " tanya Ummi sembari melirik kepada para pasien yang lain yang ada di sana.


Karena bingung bagaimana menjelaskan nya kepada Ummi shofiah, Rain terpaksa mencari alasan lain. Dan akhirnya kini ia kebingungan sendiri.


" Dia..dia ada di ruangan lain Ummi "


" Oh.. bagaimana kabarmu nak ? Kami ingin memberi tahumu mengenai Annisa, tapi kami tidak punya apapun untuk bisa memberi tahu mu "


Ada rasa penyesalan Rain karena waktu itu terburu-buru, ia memang tidak sempat meninggalkan alamat atau nomor ponsel yang bisa mereka hubungi.


" Maafkan saya Ummi, ini salah saya karena waktu itu saya terburu - buru "


" Tidak apa-apa nak, bukan salahmu. Yang terpenting sekarang kamu sudah tahu keadaan Annisa "


" Ummi terkena Anemia , Abi. Lihatlah kantung darah itu, Ummi sudah seperti drakula yang meminum darah "


Arkana menunjuk ke arah kantong darah yang mengalir ke bergantung di sebelah kiri Annisa, dimana terdapat selang yang langsung mengalir lewat jarum infus yang tertancap di tangan Annisa.


" Arkana, setelah kantung darah ini habis. Ummi akan memakan mu "


Annisa tertawa kecil sembari menggoda Arkana, seperti itulah Annisa, walaupun sedang dalam keadaan sakit. Sebisa mungkin ia tidak menunjukkan rasa sakitnya, terlebih di depan anaknya Arkana.


" Lihat Abi..Ummi ingin memakan ku "


Rain dan Ummi shofiah tersenyum melihat Arkana.


" Dimana Abah, Ummi ? "


" Abah berada di luar nak Rain, Abah bersama Amir. Mungkin saat ini mereka sedang berada di masjid dekat sini, kamu tahu sendiri kan, di tempat ini tidak boleh terlalu banyak orang yang berkunjung "


Rain menurun kan Arkana dari gendongan nya, lalu melihat Annisa.


" Bagaimana denganmu Annisa, apakah merasa baik ? Atau ada yang sakit ? "


Ummi shofiah tersenyum melihat perhatian Rain kepada Annisa.


" Aku..aku baik-baik saja Mas Rain "


" Jangan takut Ummi, katakan saja jika Ummi merasa sakit, ada Abi yang akan menjaga Ummi " celoteh Arkana.


Rain tersenyum mendengar celotehan Arkana, anaknya memang pandai sekali mencari perhatian Annisa , memuji Rain di depan Annisa.


" Kapan Annisa bisa pulang , Ummi. Apakah Dokter mengatakan sesuatu "

__ADS_1


" Belum tahu kapan Annisa bisa pulang , nak Rain. Dokter hanya mengatakan Annisa haru mendapatkan donor darah paling tidak sebanyak tiga kantung , ini baru satu kantung , masih ada dua lagi "


" Bagaimana dengan Abah dan Amir , Ummi. Malam ini apa mereka akan kembali tidur di masjid ? " tanya Annisa yang mengkhawatirkan keadaan abahnya.


" Iya Annisa, kalau bukan di sana mau di mana lagi, di sini tidak mungkin bukan ? "


Mendengar hal itu tentu tak luput dari perhatian Rain.


" Karena ada Rain di sini, Ummi mau keluar lagi ya, Ummi mau cari Abah dan Amir "


" Baiklah Ummi "


" Arkana tetap di sini ya nek "


" Iya Arkana sayang "


Ummi shofiah meninggal Rain, Annisa dan Arkana.


Arkana memperhatikan penampilan ayahnya, Arkana baru sadar kalau penampilan sang ayah sangatlah berbeda.


" Dimana Abi mendapatkan jas ini ? Abi terlihat sangat keren " puji Arkana.


Annisa pun juga baru menyadari penampilan Rain, dan banyak hal yang muncul di pikiran Annisa.


" Apakah Abi terlihat sangat tampan ? "


" Tentu , sangat tampan "


" Arkana bisa mendapatkan dan memakai baju seperti Abi ? Arkana mau ? "


" Wahh..sungguh Abi ? Arkana mau !! "


Rain dan Annisa tersenyum melihat Arkana yang tampak kegirangan.


Arkana dengan asyiknya bercakap dengan Rain dan Annisa. Dan banyak mengajukan beberapa pertanyaan kepada Rain, terlebih dengan apa yang Rain lakukan saat Rain pergi.


Di luar rumah sakit, Ummi menghampiri Abah Rahman dan Amir yang sedang duduk di teras masjid.


Melihat Ummi , Abah beranjak berdiri.


" Ada apa Ummi ? Kenapa Ummi sendiri ? bagaimana Annisa ? "


" Ada Rain, Abah "


" Rain ? "


Amir ikut beranjak setelah mendengar Ummi menyebut nama Rain.


" Rain ada di sini Ummi ? " tanya Amir.


" Iya Amir, Abah mau bertemu Rain ? "


" Baik Ummi, kita ke sana "


Mereka bertiga kembali ke ruang rawat Annisa untuk menemui Rain.


" Rain, ada Abah menunggu di luar "


" Oh..baik Ummi "


Rain keluar dari ruang rawat Annisa untuk menemui Abah. Abah sengaja tidak masuk kedalam ruangan rawat Annisa karena memang tidak di perbolehkan terlalu banyak orang atau penunggu pasien di dalam ruang rawat.


" Abah "

__ADS_1


Rain mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Abah. Abah tersenyum bahagia bertemu dengan Rain. Abah pun memeluk Rain, Amir yang berada di samping Abah memasang wajah kesal nya melihat Abah yang begitu senang melihat Rain.


" Bagaimana kabarmu Rain ? "


" Alhamdulillah, baik Abah "


" Amir " sapa Rain setelahnya.


Amir hanya tersenyum tipis kepada Rain, Amir memperhatikan penampilan Rain yang terlihat sangat berbeda sekali dengan balutan kemeja dan jas , sangat berbeda jauh dengan penampilan Rain saat di pesantren.


" Abah senang bisa bertemu kamu Rain, bagaimana dengan urusan kamu di sini, sepertinya semua sudah baik-baik saja ? " tanya Abah Rahman.


" Tentu baik saja Abah, sampai dia lupa untuk kembali dan mengabari istri dan anaknya " ucap Amir yang justru menjawab pertanyaan Abah Rahman.


Amir berpikir kini Rain sudah mendapatkan pekerjaan, sudah memilki kehidupan yang lebih mapan sehingga lupa kepada Annisa dan Arkana.


" Sebenarnya masih banyak yang harus saya lakukan Abah, semua urusan saya belum selesai, ada beberapa hal yang masih sulit untuk saya selesaikan. Sebelum saya benar-benar minta maaf Abah, waktu itu saya pergi tanpa meninggalkan apapun , tapi jujur saya tidak pernah berpikir untuk meninggalkan atau melupakan Annisa dan Arkana, begitu pula dengan Abah dan Ummi "


Abah Rahman tersenyum lalu menepuk-nepuk pelan pundak Rain.


" Abah mengerti Rain, yang terpenting sekarang kita sekarang sudah bertemu di sini. Kita sama-sama berdoa semoga Annisa cepat pulih dan bisa keluar dari rumah sakit ini "


Dritt...Dritt..Dritt..


Dering ponsel Rain berbunyi, dan tertulis nama Reyhan di balik layar ponselnya. Amir kembali memerhatikan Rain, memperhatikan ponsel yang Rain yang terlihat sangat bagus dan canggih.


" Permisi Abah, saya mau angkat telepon dulu "


" Iya Rain "


Rain menjauh dari Abah dan Amir untuk mengangkat telepon dari Reyhan.


" Assalamualaikum, ada apa Rey "


" Wa'alaikumussalam, Rain . Rain kamu bisa kembali ke kantor ? "


" Ada apa Rey ? "


" Ada sesuatu yang penting Rain , aku tidak bisa menjelaskan nya di telepon "


" Tapi Rey, aku.. "


" Segeralah kemari Rain, ini mengenai kedua orangtuamu "


" Apa kamu menemukan sesuatu Rey ? "


" Ya Rain, ini sangat penting, segeralah kembali "


" Baiklah "


Rain segera menutup sambungan teleponnya dengan Reyhan.


" Maaf Abah, saya mau ijin pergi sebentar , ada hal yang sangat penting untuk saya urus Abah "


" Lihatlah Abah, baru saja tiba dia sudah ingin pergi lagi. Jangan bilang , kamu akan pergi selama nya Rain, dan mencampakkan Annisa dan Arkana "


Amir masih kesal kepada Rain, Rain yang sudah paham dan mengerti akan Amir pun tak mengambil hati ucapan Amir.


" Amir, tenanglah " pinta Abah.


" Pergilah nak Rain "


" Terima kasih Abah, saya akan minta ijin kepada Annisa dulu di dalam " ucap Rain dan di balas anggukan oleh Abah Rahman.

__ADS_1


__ADS_2