
Annisa melihat beberapa orang tengah berkumpul , di sana juga ada Ummi shofiah.
" Ummi " sapa Annisa.
" Annisa " panggil Ummi dengan wajah khawatir.
" Ada apa Ummi ? dimana Arkana ? apa terjadi sesuatu kepada Arkana ? "
Annisa pun ikut khawatir, selesai mengajar ia memilih pulang dan mengira bahwa Arkana sudah ada di rumah. Namun ternyata malah sebaliknya.
" Ada yang melihat kalau Arkana keluar dari pesantren "
" Apaa ?? keluar Ummi ? dengan siapa Ummi ? "
" Ummi tidak tahu Annisa, mereka mengatakan kalau Arkana sendirian saja "
" Sekarang Abah dimana, Ummi ? "
" Abah dan beberapa santri sedang keluar mencari Arkana "
" Baik Ummi, apa mungkin Arkana hanya keluar untuk bermain, Ummi ? "
Annisa mencoba berpikir positif, karena Annisa yakin Arkana tidak mungkin pergi jauh. Apalagi Annisa juga sering memberi nasihat kepada Arkana untuk tidak bepergian sendirian dan bermain tidak jauh dari area pesantren.
" Tapi Annisa "
" Ada apa Ummi ? "
" Kata Amir, Rain juga tidak ada , di rumah mereka juga tidak ada "
Annisa membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Ummi, awalnya Annisa berusaha tenang. Namun mendengar Rain juga tidak ada membuat Annisa berpikir bahwa Rain sudah membawa Arkana pergi. Dan ummi shofiah pun juga berpikir sama hal nya dengan Annisa.
Tanpa berkata apapun, Annisa beranjak pergi.
" Annisa..kamu mau kemana nak ? "
" Annisa ingin mencari Arkana, Ummi " teriak Annisa.
Annisa keluar dari pesantren, Annisa berlari , mencoba mencari Arkana sembari bertanya ke beberapa warga sekitar.
" Abah " panggil Annisa saat melihat Abah dengan beberapa santri dan warga sekitar.
" Annisa "
" Abah, bagaimana, Arkana bagaimana Abah ? "
" Kamu tenang ya nak, ada yang mengatakan kalau melihat Arkana masuk kedalam hutan itu " tunjuk Abah.
" Hutan , apa yang Arkana lakukan di sana, dan Rain. Ummi memberitahu kalau Rain juga tidak ada , Abah "
" Iya benar, Annisa. Abah masih belum tau Rain ada dimana. Dan kemungkinan Rain tidak bersama Arkana karena salah seorang warga yang melihat Arkana , mengatakan kalau Arkana hanya sendiri saja "
Entah Annisa harus senang atau tidak mendengar penjelasan Abah. Yang jelas Annisa merasa sedikit tenang karena Arkana tidak bersama Rain, itu artinya Rain tidak membawa Arkana pergi darinya.
" Lalu bagaimana Abah, kita harus mencari Arkana sekarang "
" Kamu benar Annisa, Amir dan beberapa santri beserta warga sudah masuk ke dalam hutan mencari Arkana. Kita tunggu saja ya "
" Tapi Abah, Annisa tidak bisa kalau hanya menunggu seperti ini "
" Hutan itu berbahaya Annisa, di sana banyak hewan buas yang kita tidak tahu, belum lagi ada banyak tanjakan - tanjakan tinggi, dan jalannya saat ini pasti sangat licin karena hujan "
" Baiklah , Abah "
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, tidak ada tanda - tanda sedikitpun dari Amir dan lainnya. Annisa merasa gusar, ia begitu khawatir akan Arkana. Annisa pun diam-diam pergi ke hutan tanpa sepengetahuan Abah Rahman.
****
" Apa yang Paman lakukan di sini ? " tanya Arkana.
" Aku ingin menelepon seseorang " jawab Rain.
" Menelepon ? apa paman punya ponsel ? " tanya Arkana dengan semringah.
" Punya, kamu ingin lihat ? "
" Mau , Paman "
" Coba ambil di saku celana Paman "
Arkana merogoh ponsel yang ada di saku celana Rain. Dan benar saja ponsel yang terlihat begitu canggih itu ada di tangan Arkana sekarang. Arkana telrihat begitu takjub melihat ponsel yang ada di tangannya saat ini.
" Wahhh...ini keren sekali Paman Rain "
" Kamu suka ? kamu tahu itu ponsel ? "
" Paman meremehkan kan ku, walaupun di sini tidak ada ponsel. Tapi Ummi selalu bercerita mengenai alat komunikasi yang keren ini Paman "
" Ibumu memang sangat pandai , Arkana " batin Rain.
Arkana sibuk memperhatikan Ponsel yang ia pegang dengan satu tangannya.
" Paman, kenapa kita berhenti " tanya Arkana ketika Rain berhenti berjalan.
Arkana lalu melihat Rain yang wajahnya tampak tegang dan melihat ke arah depan. Perlahan Arkana juga melihat ke arah depan , dan Arkana begitu terkejut karena seekor harimau berada di depan mereka dengan jarak yang cukup dekat.
Rain memberi isyarat kepada Arkana untuk diam, Arkana pun mengikuti perintah Rain. Perlahan Rain berjalan mundur dan setelah beberapa langkah Rain berlari secepat mungkin untuk menjauh dari macam tersebut.
" Pegangan yang kuat Arkana " teriak Rain.
Arkana tampak ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa.
" Lari Arkana " pinta Rain.
" Arkana...cepat pergi " teriak Rain kembali yang akhirnya membuat Arkana pergi.
Arkana pun lari dan berlindung di balik pepohonan yang besar, sembari menangis Arkana mencoba menguatkan dirinya.
Arkana terus menangis sembari berdoa, berharap Rain selamat dari cengkraman harimau tersebut.
Cukup lama menunggu, tidak ada tanda-tanda dari Rain. Arkana pun kembali menangis , ingin keluar dari persembunyiannya, Arkana takut karena takut kalau harimau itu masih berkeliaran di luar.
" Arkana... "
" Arkana... "
Suara teriakan Rain terdengar oleh Arkana, Arkana lalu bergegas keluar dan benar saja ia melihat Rain, Arkana dan Rain pun saling berlari kemudian berpelukan.
" Arkana "
" Paman..hiks..hiks..hiks..Paman baik-baik saja "
Kali ini Arkana tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, Arkana masih saja menangis. Ia begitu bersyukur Rain masih hidup.
" Jangan menangis, paman di sini , paman akan melindungi mu "
Rain mengelus wajah Arkana lalu kembali memeluk Arkana.
__ADS_1
" Tangan paman "
Arkana melihat tangan Rain yang berdarah, dan terlihat beberapa cakaran harimau.
" Tidak apa Arkana, paman baik - baik saja. Ayo kita pergi dari sini "
Rain dan Arkana kembali berjalan untuk keluar dari hutan. Karena pertemuan mereka dengan harimau tersebut, membuat Rain dan Arkana sedikit kesusahan mencari jalan pulang.
Amir beserta rombongan nya kembali dari hutan, mereka kembali karena tidak bisa menemukan Arkana.
" Amir " panggil Abah Rahman.
" Maaf Abah, kami belum menemukan Arkana , kamu curiga kalau Arkana berada di arah selatan tempat para harimau, kami kembali karena ingin mengambil beberapa perlengkapan dan pengamanan, setelah itu kami kembali mencari Arkana lagi Abah "
Abah Rahman khawatir mendengar penjelasan Amir, namun Abah Rahman berusaha kuat dan tidak memperlihatkan kekhawatiran nya.
Saat Amir dan rombongan lainnya berisap kembali ke hutan, saat itulah Rain dan Arkana akhirnya menemukan jalan keluar. Semua orang tampak senang melihat Arkana dan Rain.
" Kakek.... !! " teriak Arkana lalu berlari ke abah Rahman.
" Rain, kamu tidak apa ? " tanya Amir setelah menghampiri Rain.
" Kami kira , Arkana hanya seorang diri " ucap Amir.
" Tidak, dia bersama ku " jawab Rain.
" Baiklah kalau begitu, obati dulu lukamu " pinta Amir.
Amir membawa Rain untuk mengobati lukanya.
" Syukurlah kamu selamat Arkana "
" Iya kakek, maafkan Arkana karena sudah pergi ke hutan "
" Iya sayang, tidak apa Arkana. Abah di sini juga bersama ibumu "
" Bersama Ummi, dimana Ummi ? "
" Annisa.."
Abah Rahman mencari keberadaan Annisa, Abah Rahman juga baru sadar kalau Annisa tidak ada di antara mereka.
" Ada apa Abah ? " tanya Amir.
" Annisa tidak ada "
" Annisa ? dia ada di sini juga ? " tanya Rain yang juga datang menghampiri Abah Rahman.
" Ya nak Rain, tadi dia ada bersama kami. Atau jangan-jangan... "
Abah Rahman melihat ke arah hutan, begitu pula dengan Rain dan juga Amir. Melihat hal itu membuat Rain langsung saja berlari kembali ke dalam hutan untuk mencari Annisa.
" Rain... "
" Rain... "
Abah Rahman dan Amir berteriak memanggil Rain namun di abaikan oleh Rain.
" Kakek, kita harus menyusul Paman. Di dalam hutan ada harimau besar , kakek " ucap Arkana.
" Harimau ?? Astaghfirullahadzhim " ucap Abah Rahman.
" Kalau begitu kami kembali ke hutan, Abah " ucap Amir.
__ADS_1
" Baiklah Amir "
Bersambung