
Annisa begitu senang dan bahagia setelah mendapat kabar dari Rain yang akan membawanya pergi ke Belanda. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh Annisa.
" Ke luar negeri, maa syaa Allah, aku tidak pernah membayangkannya, terima kasih ya Allah " batin Annisa, Annisa segera menyiapkan semua perlengkapannya dan juga Rain. Untuk ia bawa ke Belanda esok hari.
" Rain, aku sudah menyiapkan semua pakaian mu, kira-kira apa yang perlu kamu bawa lagi ? ", tanya Annisa.
Rain berjalan mendekat ke arah Annisa , " Aku tidak perlu apa-apa lagi Annisa, yang terpenting kamu bersamaku " ucap Rain, dan alhasil membuat Annisa tersipu malu.
Dritt...Dritt..Dritt...
Dering ponsel Rain berbunyi, Rain segera mengambil ponselnya dan menjawab panggilan tersebut.
" Apa ?? baiklah, aku segera kesana " ucap Rain. Rain yang baru saja selesai mandi segera memakai pakaiannya. Terlihat kekhawatiran di raut wajah Rain.
" Kenapa Rain ? " tanya Annisa.
" Tante Sarah, Tante Sarah jatuh pingsan " ucap Rain.
" pingsan ? dimana Rain ? bagiamana ceritanya ? " tanya Annisa.
" Aku juga tidak tahu pasti, aku akan kesana segera. Kamu ingin ikut ? " tanya Rain.
" Ya aku ikut, tunggu sebentar Rain "
Rain dan Annisa dalam perjalanan menuju ke kediamannya.
" Rain, tenang, beristighfarlah, Tante Sarah pasti baik-baik saja "
Annisa mengelus lembut pundak Rain, mencoba menenangkan Rain Karena Rain terlihat sangat mengkhawatirkan Tante Sarah.
Rain langsung berlari masuk kedalam rumah setelah sampai di kediamannya.
" Dimana Tante Sarah ? " tanya Rain kepada pembantunya di rumah.
" Di kamarnya Pak Rain "
Dengan langkah cepat, Rain berjalan ke kamar Tante Sarah. Di susul Annisa yang berada di belakang Rain.
Hati Rain sangat terpukul melihat Tante Sarah berbaring dengan wajah pucat. Bahkan sebuah jarum infus menancap di tangannya. Di dalam sana juga ada seorang dokter yang baru saja menangani Tante Sarah.
Merasakan sentuhan tangan dari Rain, perlahan Tante Sarah membuka kedua matanya.
" Rain " ucap Tante Sarah.
__ADS_1
" Tante, Tante baik-baik saja ? " tanya Rain.
" Tante baik Rain " ucap Tante Sarah.
" Kenapa Tante Sarah bisa jatuh pingsan ? ada apa Dokter ? " tanya Rain.
" Tekanan darah ibu Sarah tinggi , membuatnya kehilangan kesadaran. Tapi anda tidak perlu khawatir Pak Rain, saya sudah memberi obat untuk ibu Sarah " jelas Dokter.
Rain menatap dalam Tante Sarah. " Tante akan baik-baik saja, Jangan khawatir ", ucap Rain.
" Dimana Iyas ? " tanya Rain kepada pembantu rumah mereka.
" Sedang dalam perjalanan Pak Rain "
" Baiklah "
Annisa hanya diam, ia ikut duduk di atas tempat tidur seperti Rain. Walaupun Tante Sarah tidak menyukainya, Annisa merasa sedih juga melihat Tante Sarah yang tidak berdaya dan terbaring sakit.
Tak lama Iyas datang dengan raut wajah yang juga penuh kekhawatiran.
" Ibu,, ibu baik-baik saja kan ? ya ampun kenapa bisa seperti ini Bu ? " tanya Iyas.
" Tenang Iyas, ibu baik-baik saja " ucap Tante Sarah.
Rain menjadi bimbang, ia merasa tidak enak hati jika harus berangkat ke Belanda besok sedangkan Tante Sarah masih dalam keadaan sakit.
" Aku tidak apa jika kita tidak jadi ke berangkat besok " ucap Annisa tiba-tiba, seolah tahu apa yang Rain pikirkan sekarang.
" Aku bisa mengerti apa yang kamu pikirkan sekarang " ucap Annisa.
Rain berjalan mendekat ke arah Annisa lalu meraih kedua tangan Annisa.
" Terima kasih karena selalu mengerti, aku janji kita akan berangkat setelah kondisi Tante Sarah membaik " ucap Rain lalu memeluk Annisa.
Sebenarnya Annisa sedikit bersedih karena mereka tidak jadi berangkat ke Belanda, namun apa yang bisa Annisa lakukan. Musibah tidak ada yang tahu, ini sudah jalan terbaik yang Allah berikan kepada mereka.
" Bagaimana ? " bisik Tante Sarah kepada Iyas.
" Berhasil Bu , Rain membatalkan rencana keberangkatan mereka " ucap Rain.
Tante Sarah pun kegirangan, tak sia-sia akting sakitnya di depan Rain. Tante Sarah sangat mengenal Rain, ia yakin dengan cara seperti ini Rain pasti akan luluh dan bimbang dan pada akhirnya membatalkan rencana keberangkatan mereka seperti yang diinginkan oleh Tante Sarah.
" Aku akan mengantarmu pulang , setelah itu aku akan kembali lagi ke sini menemani Tante Sarah " ucap Rain.
__ADS_1
" Mengantarku pulang ? tidak Rain, aku akan tetap di sini "
" Tapi Annisa , kamu yakin ? aku takut kamu tidak betah di sini " ucap Rain.
" Tidak betah bagaimana Rain ? seorang istri akan selalu mengikuti kemana imamnya melangkah, dalam keadaan apapun , istri harus selalu ada di samping suaminya, mau susah, senang , dan lainnya " jelas Annisa.
Lagi-lagi Rain merasa takjub dengan apa yang di katakan Annisa. Dan hal itu membuat Rain semakin cinta dengan Annisa.
" Baiklah, aku akan mengajakmu ke kamar ku " Rain merangkul Annisa dan mengajak Annisa ke kamarnya.
Annisa takjub melihat kamar Rain, kamar Rain sangat luas. Kalau di gabung , ukurannya tiga kali lipat lebih ukuran kamar apartemen mereka.
" Ini kamar kamu ? " tanya Annisa.
" Iya, sudah lama juga aku tidak tidur di sini " Rain membuka pakaiannya , lalu berbaring di atas tempat tidur. Sepulang bekerja, Rain belum sama sekali beristirahat.
" Kamarnya sangat bagus Rain, tapi warnanya sangat gelap " ucap Annisa sembari terkekeh, pasalnya kamar Rain semua berwarna hitam , warna kesukaan Rain.
Annisa berjalan ke arah Rain, dan duduk di atas tempat tidur.
" Kamu tidak suka ? baiklah aku akan mengganti catnya. Warna apa yang kamu sukai ? " tanya Rain.
" Hijau, sepertinya kalau di ganti dengan warna cerah pasti akan lebih bagus " ucap Annisa.
" Baiklah, aku akan menggantinya nanti " ucap Rain.
" Aku akan ambilkan kamu minum Rain " ucap Annisa ingin beranjak dari duduknya , tapi Rain justru menarik tangannya dan kini terjatuh di atas badan Rain.
" Aku sudah katakan, aku hanya perlu kamu disini. Aku tidak perlu apapun " ucap Rain lalu mengecup lembut kening Annisa.
" Baiklah, aku akan menuruti perintah anda Pak Rain " ucap Annisa sembari terkekeh, membuat Rain pun juga ikut tertawa.
Annisa turun dari atas badan Rain dan berbaring di sebelah Rain. Kemudian Rain membawa Annisa kedalam pelukannya , berada dalam pelukan Annisa membuat Rain merasa tenang.
" Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku dalam keadaan apapun " ucap Rain.
" Berjanjilah juga untuk selalu percaya kepadaku apapun yang terjadi " ucap Annisa.
Janji yang dulu pernah mereka ucapkan bersama, kini saling mereka ucap kembali.
" Aku mencintaimu Annisa " ucap Rain lalu mengecup lembut pucuk kepala Annisa.
Annisa tersenyum dan di balik pelukan Rain kedua mata Annisa berkaca-kaca. Annisa berharap semoga hubungan mereka akan selalu dalam lindungan Allah, dan di jauhkan dari hal-hal yang buruk.
__ADS_1
Bersambung...