
Abah Rahman dan Amir duduk di ruang tamu, Amir mendekati Abah Rahman dan berbisik.
" Ustadz, maaf kalau saya lancang. Tapi apakah menurut Ustadz lelaki yang ada di dalam bukan orang jahat ? secara kita bisa lihat bagaimana ia kita temukan dengan banyak bekas luka. Mungkin saja dia seorang penjahat atau mungkin seorang narapidana yang sudah kabur dari tahanan "
Abah Rahman tersenyum mendengar penjelasan Amir. Abah Rahman mengerti akan kekhawatiran Amir, bahkan Ummi shofiah pun juga sempat bertanya hal itu kepada Abah Rahman.
Abah Rahman menepuk-nepuk pundak Amir, " Jangan bersuudzhon Amir, tugas kita sebagai sesama manusia saling membantu dan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan, tidak perlu khawatir Amir. Percayalah kepada Allah, Allah maha mengetahui dan dia akan menjaga kita semua " jelas Abah Rahman.
" Baik Ustadz, maafkan saya "
Abah Rahman kembali tersenyum kepada Amir lalu meminum kopi yang di suguhkan oleh Ummi shofiah.
Di teras Rumah, Arkana tengah merenung sendiri. Ia sudah berada di teras rumah selama dua jam lebih, Arkana ingin melanjutkan kembali hafalan dan bacaan Alquran nya. Namun ia tidak ingin masuk kedalam kamarnya sendiri karena ada Rain di sana.
" Arkana ? ayo mengaji bersama di masjid ? " ajak salah satu santri yang kebetulan lewat di depan rumahnya. Karena tinggal bersama di pondok, Arkana sudah sangat mengenal para santri dan santriwati di sana. Mereka juga sering bermain bersama, paras tampan Arkana membuat para santriwati juga menyukai nya.
Mendapat ajakan dari temannya, Arkana pun antusias. Namun ia tampak bingung karena Al Qur'an kesayangan nya dan juga peralatan tulisnya masih berada di kamar. Biasanya setelah mengaji, mereka akan belajar menulis Arab.
__ADS_1
" Ayo Arkana, kamu ikut tidak ? "
" Iya kak sebentar, Arkana beri tahu kakek dan nenek dulu "
" Baiklah, aku tunggu "
Arkana bergegas masuk kedalam rumah, perlahan ia melangkahkan kan kaki menuju kamarnya. Arkana sempat terdiam sejenak di depan pintu kamarnya, Arkana berharap lelaki misterius itu sudah kembali tidur dan ia bisa dengan leluasa mengambil tas dan perlengkapan tulisnya.
Ceklek...
Melihat Rain tertidur, Arkana dengan santai berjalan mengambil tasnya. Arkana bisa melihat semangkuk bubur buatan neneknya yang masih utuh. Tapi Arkana tidak terlalu menghiraukan nya dan segera mengambil barang - barang nya.
Saat ingin mengambil buku kecilnya yang berada tepat di samping Rain. Arkana terkejut karena Rain tiba-tiba memegang tangannya. Walaupun terkejut, raut wajah Arkana tetap terlihat santai, ia lalu menengok ke sebelah kiri dan menatap Rain yang juga menatapnya.
Rain bangkit dan duduk tanpa melepaskan tangan Arkana, Rain merasa anak lelaki di depannya ini cukup hebat karena ekspresi wajahnya tidak terkejut sama sekali karena ia tiba-tiba memegang tangan anak lelaki itu.
Arkana hanya memandang tangan Rain yang sedang memegangi tangannya. Mengerti maksud Arkana, Rain pun melepas genggaman nya.
__ADS_1
" Siapa namamu ? " tanya Rain, Rain merasa penasaran dengan anak laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengannya.
Arkana hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Rain, Arkana tampak sibuk merapikan perlengkapan tulisnya.
Rain merasa kesal Karena anak lelaki di depannya ini terlihat begitu sombong.
" Hei, aku bertanya siapa namamu? " tanya Rain kembali.
Tetap dengan pendiriannya, Arkana hanya diam dan tidak mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya.
" Apa kamu tuli ? kamu tidak mendengarkan aku bicara ? " tanya Rain.
Di sebut tuli, Arkana pun merasa kesal.
" Kata Ummi, aku tidak boleh berbicara dengan orang asing " ucap Arkana , melihat ke arah Rain sejenak lalu pergi dan menutup pintu kamar dengan keras.
Rain merasa kesal melihat sikap Arkana, " anak siapa dia ? apa dia anak pak tua yang tadi ? tapi kurasa tidak mungkin . Sombong sekali, kalau aku bertemu dengan orangtuamu, aku akan memberi tahu mu untuk mengajari mu sopan santun yang benar kepada yang lebih tua " ucap Rain.
__ADS_1