
Abah Rahman dan Ummi shofiah menceritakan kepada Annisa bagaimana Rain bisa berada di rumah mereka. Dan Annisa juga terkejut karena tahu bahwa Rain ditemukan dengan bekas luka di tubuhnya dan hampir tak bernyawa.
" Kenapa tak kamu tidak cerita sejak awal kalau Rain adalah Ayahnya Arkana , Annisa. Kamu tidak ingin memberi tahu Rain ? " tanya Abah Rahman.
" Annisa tidak tahu Abah, Ummi, Annisa tidak tahu apa yang harus Annisa lakukan "
Annisa kini sudah mulai tenang dan sudah tak menangis lagi.
" Lalu, kamu tidak ingin Arkana tahu bahwa ia sudah bertemu dengan ayahnya? sampai kapan kamu akan menutupi semua ini dari Arkana nak ? "
Annisa terdiam, apa yang di katakan oleh Abah dan Ummi nya benar. Namun Annisa begitu takut jika Rain mengetahui bahwa Arkana adalah anaknya.
" Annisa hanya takut , Abah, Ummi. Bagaimana kalau nantinya Mas Rain akan membawa Arkana dan menjauhkan Annisa dari Arkana, dan kalau pun Annisa menceritakan semua ini kepada Mas Rain, apa Mas Rain akan percaya kepada Annisa ? apalagi saat itu Annisa belum sempat mengatakan kepada Mas Rain kalau Annisa sedang mengandung "
Abah tersenyum mendengar cerita Annisa, sebagai orang tua angkat Annisa, Abah Rahman dan Ummi shofiah mengerti akan ketakutan yang di rasakan Annisa.
" Kamu yakin kalau Rain tidak percaya kepadamu ? setelah melihat wajah mereka berdua ? apa Rain akan menyangkalnya , Annisa ? " tanya Ummi Shofiah.
Annisa kembali diam mendengar penjelasan Ummi shofiah.
" Percayalah nak, jangan takut dan berprasangka buruk. Dengan semua yang telah terjadi , pertemuan mu kembali dengan Rain. Semua adalah campur tangan Allah, mungkin Allah menginginkan Arkana untuk bertemu dengan Ayahnya, sebaik rencana adalah rencana Allah SWT " jelas Abah Rahman.
" Arkana pasti akan bahagia kalau tahu ini semua. Kita tidak mungkin terus menerus membohongi Arkana dan bercerita mengenai ayahnya yang sedang bekerja bukan ? " ucap Ummi shofiah.
" Abah akan mencoba menyusul Amir dan Rain, mungkin mereka masih dekat " ucap Abah Rahman dan ingin beranjak dari duduknya namun di tahan oleh Annisa.
" Abah, biarkan Mas Rain pergi. Annisa mohon Abah " pinta Annisa.
Abah Rahman lalu memandang Ummi shofiah, dan Ummi shofiah hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.
" Baiklah, Abah menghargai keputusan mu Annisa "
" Terima kasih Abah "
*****
" Amir " panggil Rain.
" Iya , ada apa ? " tanya Amir dingin, sebenarnya Amir sedikit kesal karena diminta Abah Rahman untuk menemani Rain.
" Kamu tahu kedua orangtua Arkana, kenapa aku tidak melihat mereka dirumah, dan kemarin hanya ada ibunya saja , dimana ayahnya ? " tanya Rain.
" Kenapa kamu bertanya mengenai kedua orangtua Arkana? "
" Aku hanya ingin tahu " jawab Rain.
__ADS_1
" Aku tidak berkah untuk menceritakan hal ini , hal ini pribadi keluarga mereka, dan aku tidak berhak menceritakan nya kepada mu " ucap Amir.
Rain tertawa kecil mendengar penjelasan Amir.
" Tidak usah seserius itu , Amir. Aku hanya bertanya dimana ayahnya Arkana. Dan kamu hanya tinggal menjawab saja di mana ayahnya berada " jawab Rain lalu berjalan terlebih dahulu dari Amir.
Amir merasa kesal melihat Rain yang justru tertawa kepada nya.
" Sejak kedatangan ibunya ke pondok pesantren, dan saat itu Arkana masih dalam kandungan. Aku tidak pernah melihat Ayahnya, Abah Rahman bercerita bahwa Ayah Arkana sedang bekerja di kota. Namun setelah Arkana lahir hingga sejak sekarang , aku tak pernah melihat Ayahnya " jelas Amir.
Rain yang berjalan terlebih dahulu dari Amir sontak menghentikan langkahnya.
" Kamu puas, setelah ini aku tidak akan menjawab pertanyaan apapun darimu " ucap Amir lalu berjalan meninggalkan Rain.
Rain terdiam sejenak, Rain mencoba berpikir dan mencerna apa yang di katakan oleh Amir.
" Amir tunggu !! " teriak Rain lalu mengejar Amir.
" Ada apa lagi ? " tanya Amir.
" Siapa nama ibunya Arkana ? " tanya Rain.
" Aku semakin mencurigaimu, sudah ku katakan aku tidak akan menjawab pertanyaan dari mu lagi " ucap Amir.
Mereka berdua kini sudah sampai di balai desa, rencananya Amir akan meminta bantuan petugas desa untuk mengantarkan Rain menuju jalan umum agar Rain dapat mencari tumpangan menuju kota.
Rain masuk kedalam balai desa, dan mencoba menghubungi Reyhan. Dan ternyata sejak tadi Reyhan sudah berulang Kali menghubungi telepon di balai desa, petugas desa pun senang karena Rain datang.
" Silahkan Pak, sejak tadi keluarga anda sudah menghubungi kami " dengan rasa bahagia, Rain segera mengambil alih telepon untuk berbicara dengan Reyhan.
" Reyhan " panggil Rain.
" Rain, apa ini kau ? " tanya Reyhan tak percaya , tapi suara yang Reyhan dengar sangat mirip dengan suara Rain.
" Ya Rey, ini aku Rain "
" Ini tidak mungkin " batin Reyhan, pasalnya baru saja seminggu lalu ia memakamkan Rain, bagaimana bisa kini Rain justru menelepon nya.
Seminggu lalu Reyhan begitu sibuk karena kecelakaan yang terjadi dengan Rain. Ia pun tak fokus dengan ponselnya dan begitu banyak yang harus ia lakukan setelah kepergian Rain. Dan setelah semua itu usai, Reyhan terkejut dengan banyaknya panggilan tak terjawab dari sebuah nomor yang tak ia kenal. Reyhan pun mencoba untuk kembali menghubungi nomor tersebut dan sempat beberapa kali tak di jawab.
Namun karena rasa penasarannya, hari ini Reyhan kembali mencoba menghubungi nomor tak di kenal itu.
" Rey, kau masih mendengarkan ku ? " tanya Rain.
" Apa kamu tau makanan kesukaan ku ? " tanya Reyhan dan membuat Rain sedikit bingung.
__ADS_1
" Apa maksudnya Rey, apa aku harus menjawab pertanyaan konyol ini ? " tanya Rain.
" Jawab saja, apa kamu tahu makanan kesukaan ku "
" Baiklah, tidak ada makanan yang tak kau suka Rey, kau menyukai semua jenis makanan "
" Apa kamu tahu kebiasaan ku sebelum tidur ? " tanya Reyhan kembali.
" Hentikan Rey, apa maksud mu " tanya Rain kesal karena Reyhan justru berbuat konyol.
" Jawab saja, agar aku percaya kalau kamu Rain "
" Apa, kamu tak percaya denganmu Reyhan. Setelah berpuluh tahun lamanya kita bersama ? apa aku harus berteriak dan mengatakan kebiasaan mu setiap malam yang harus tidur dengan selalu memakai kaus kaki ? " ucap Rain dengan sedikit meninggikan suaranya dan membuat para petugas desa melihat ke arah Rain.
" Ini benar kau Rain.... Alhamdulillah... aku memang yakin kamu masih hidup Rain... " ucap Reyhan sembari menangis.
Reyhan sengaja bertanya hal konyol seperti itu kepada Rain karena selama ini hanya Rain lah yang tahu seperti apa pribadi dan sifatnya termasuk kebiasaan sehari-hari Reyhan.
" Kamu menangis Rey ? " tanya Rain.
" Bagaimana aku tidak menangis Rain, baru seminggu lalu aku melihat sendiri dan menghadiri pemakaman mu " ucap Reyhan.
" Apa ?? apa yang kamu katakan Rey, bagaimana bisa ?? " tanya Rain.
Reyhan pun menceritakan semua yang terjadi seminggu yang lalu.
Rain hanya diam mendengar kan penjelasan Reyhan.
" Kamu dimana sekarang Rain ? aku akan menjemputmu? " tanya Reyhan.
" Tidak Rey "
" Ada apa Rain ? "
" Aku tidak akan pergi, untuk sementara biarkan saja orang-orang tahu bahwa aku telah tiada. Termasuk Kayla, bagaimana dengan Kayla? "
" Kayla bersama dengan Tante Sarah"
" Baiklah, kamu tahu kan bahwa sepertinya ada seseorang yang berusaha untuk membunuh ku. Aku ingin kamu mencari tahunya Rey, dan aku akan kembali ke kota setelah semua nya terbongkar "
" Kamu benar Rain, tapi apa kamu yakin kamu baik - baik saja di sana ? apa aku perlu mengirim beberapa pengawal untukmu "
" Tidak perlu Reyhan, aku baik-baik saja di sini. Aku hanya perlu sebuah ponsel dan juga beberapa pakaian, dan Uang " pinta Rain.
" Baik, kalau begitu beritahu aku kamu dimana dan aku akan membawakan nya untukmu "
__ADS_1
" Baik Rey, tolong hati-hati " ucap Rain.