Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 13


__ADS_3

Annisa kembali keluar dengan membawa secangkir teh untuk Rain. Rain langsung meneguk teh yang Annisa berikan hingga habis. " Pas " batin Rain. Tubuhnya yang terasa dingin kini menjadi hangat setelah meminum teh dari Annisa.


" Jadi, anda sungguh ingin meminjamkan uang itu ? " tanya Annisa lagi tak percaya, wajar saja Annisa terus bertanya dan masih dalam mode tak percaya, karena Rain bisa berubah pikiran secepat ini.


" Kau tidak ingin menyuguhkan ku makanan ? kau tau, aku sejak tadi belum makan, dan itu semua gara - gara kau "


Annisa memanyunkan bibirnya, bukannya menjawab pertanyaan yang Annisa ajukan, Rain kembali berulah.


" Salah anda sendiri tidak makan, kenapa jadi saya yang di salahkan " ucap Annisa tak terima di salahkan.


" Ya salah mu lah, sebelum kamu datang kerumah ku, aku berniat untuk makan malam. Tapi gara - gara kau datang, aku jadi tidak berselera !! "


Annisa menghirup nafas dalam, " baiklah. Tunggu di sini ". Annisa kembali ke dapur untuk membawakan Rain makanan.


lima belas menit menunggu, Annisa keluar dengan membawa piring berisi mie dengan campuran sawi dan juga cabe rawit. Annisa meletakkannya di atas meja, lalu kembali lagi kedapur untuk mengambil semangkuk nasi, ikan asin, dan sepiring lagi mie yang sama untuk Annisa makan.


Rain mengerenyitkan keningnya melihat makanan yang saat ini sudah tertata rapi di depannya. " ikan asin ? " Rain teringat akan ayah dan ibunya nya. Sewaktu ayah dan ibu Rain masih hidup, mereka berdua suka sekali makan ikan Asin. Hanya saja Rain tidak pernah mau memakannya karena menurut Rain rasanya tidak enak. Baunya saja tidak enak, apalagi rasanya.


" Anda ingin makan kan ? hanya itu yang saya punya. Ayo di makan " ucap Annisa dan mengambil mie miliknya, menuangkan sedikit nasi dan mengambil satu ekor ikan asin.


" Aku tidak jadi makan !! " ucap Rain.


" Yakin, ini enak Pak. Bapak pasti suka !! " ucap Annisa sembari mengunyah makanan dalam mulutnya. Rain menelan ludah melihat betapa asyiknya Annisa makan , apalagi melihat Annisa memakan ikan Asin yang tak pernah Rain makan sebelumnya.


Perut Rain berbunyi, Rain memang sangat lapar karena belum makan malam sama sekali. Sesekali Rain melirik Annisa, dan perut Rain kembali berbunyi saat melihat betapa lahapnya Annisa makan walaupun hanya sekedar mie dan juga ikan asin.


" Alhamdulillah..kenyang. Bapak yakin tidak mau makan ? kalau tidak, saya bawa kembali ke dalam ya pak "


" Hmmm " jawab Rain.


Selesai makan, Annisa kembali duduk di kursi lain di sebelah Rain.


" Pak, bapak sungguh ingin meminjamkan uang itu kepada saya ? " tanya Annisa kembali.

__ADS_1


" Iya "


" Alhamdulillah, jadi..kapan bapak akan meminjamkan nya "


" besok, aku akan meminta Reyhan mengambil uang itu ke bank. Kau ingin uang cash kan ? "


" Cash ? tidak..tidak..Pak. Bapak bisa kirimkan ke rekening saya saja. Dan..itu..bisakah bapak mengirimkan nya sekarang ? "


" Sekarang ? " tanya Rain.


" Iya , sekarang Pak " ucap Annisa dengan wajah memelasnya.


" Untuk apa uang itu sebenarnya ? " batin Rain bertanya - tanya. Ia tidak ingin bertanya langsung kepada Annisa.


" Baiklah, mana nomor rekeningnya "


" Tunggu sebentar Pak " Annisa beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamar. Mengambil secarik kertas yang isinya tertulis nomor rekening rumah sakit tempat Bu Ratna di rawat. Sebelumnya salah satu perawat di rumah sakit memberikan nomor rekening itu kepada Annisa.


" Sudah, kau lihat " ucap Rain memberikan ponselnya kepada Annisa dan menunjukkan kepada Annisa bahwa ia sudah mengirim uang tersebut ke rekening yang Annisa pinta.


Annisa begitu senang sampai ia tak sadar air mata menetes di pipinya. Annisa pun segera menghapus air mata itu dan menyerahkan kembali ponsel Rain.


" Terima kasih , saya janji akan mengembalikan uangnya " ucap Annisa.


Annisa kira Rain tidak bisa melihat air mata itu, Annisa salah. Dengan jelas Rain bisa lihat kedua mata Annisa berkaca - kaca. Ingin rasanya Rain bertanya , tapi ia urungkan karena rasa ego dan gengsi nya yang tinggi.


" Iya, dan kau ingat itu semua tidak gratis " ucap Rain.


" Iya , saya tau. Saya sudah katakan kan, saya akan mengganti uang bapak. Saya akan menyicilnya "


" Benar, tapi ingat bukan hanya itu "


" Maksud anda ? "

__ADS_1


" Kau harus mengikuti semua perintah ku, kita akan mengumumkan pernikahan kita ini. Kau harus ikut dan tinggal bersamaku. Hanya dalam kurun waktu setahun saja. Setelah itu kita bercerai !! " jelas Rain, hal ini sudah ia pikirkan sejak Annisa meninggalkan memasak di dapur.


Entah mengapa hati Annisa sakit mendengarnya. " Setelah itu kita bercerai !! " kata terakhir itu, terasa menyakitkan bagi Annisa. Dengan mudahnya Rain menyebut kata cerai seolah pernikahan hanyalah sebuah permainan. Perceraian adalah hal yang tidak di sukai oleh Allah.


Annisa tau pernikahan ini bukanlah pernikahan yang sebenarnya di inginkan oleh nya atau pun Rain. Semua terjadi karena terpaksa. Annisa juga tidak tau bagaimana nantinya ia menjalani rumah tangga bersama Rain. Tapi bukankah pernikahan itu adalah suatu hal yang sakral dan cukup sekali untuk selamanya. Dan itulah yang Annisa inginkan, semua orang juga pasti mengingankan hal itu.


" Baiklah " jawab Annisa.


" Hanya itu " tanya Rain.


" Anda ingin saya menjawab apa ? menolak semua nya ? bukankah nya waktu itu saya katakan jika saya akan mengikuti semua perintah anda jika anda mau meminjamkan saya uang itu. Dan saya akan menepati janji saya . Kalaupun saya katakan tidak mau, anda juga akan tetap memaksa saya kan ? dan saya juga tidak punya pilihan lain " jelas Annisa.


" Baiklah, kalau begitu kita ke apartemen ku sekarang "


" APA ?? sekarang ? tapi.. "


" Kau ingin membantah perintahku !! " ucap Rain dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.


" Tidak, baiklah tunggu sebentar "


Annisa pun bersiap dan ikut bersama Rain menuju apartemen. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang terasa. Baik Rain dan Annisa hanya diam dan larut dengan pikiran mereka masing - masing.


" Kenapa diam saja dan berdiri di situ , ayo masuk " pinta Rain.


" Iya "


" Kamarmu di sebelah sana, kau tenang saja. Aku tidak akan melakukan apapun padamu seperti pikiran negatif yang ada di otak mu itu. Sekarang aku ingin tidur " ucap Rain dan langsung masuk begitu saja ke kamarnya.


Annisa memanyunkan bibirnya " kenapa dia bisa tau apa yang ada di pikiranku saat ini ? " ucap Annisa.


" Ya sudahlah, aku juga lelah. Gara - gara dia aku harus tidur jam segini " Annisa melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 03.30. Sebelum tidur Annisa melakukan sholat tahajjud terlebih dahulu. Tak lupa Annisa bersyukur karena akhirnya Allah menjawab doa nya dan membantunya untuk mendapat uang pengobatan Bu Ratna.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2