
Rain baru saja pulang dari club tempat biasa ia menghabiskan malam nya. Jika biasanya Rain pulang larut malam, tidak dengan malam ini. Jam 10 malam Rain sudah tiba di apartemennya.
Rain melirik ke arah kamar Annisa lalu kemudian masuk kedalam kamarnya sendiri. Setelah membersihkan diri, Rain mencoba untuk tidur namun tidak bisa. Rain pun keluar dari kamar dan duduk di sofa sembari menyalakan televisi.
Sesekali Rain kembali melirik ke arah kamar Annisa, " apa dia sudah tidur ? " batin Rain merasa penasaran. Namun kemudian kembali asyik menonton televisi yang menyiarkan siaran sepak bola.
Merasa bosan dan mulai mengantuk, Rain beranjak dari sofa dan ingin menuju kamarnya. Namun suara pintu terbuka dan mengejutkan Rain.
" Kau.. " ucap Rain dan berjalan menghampiri Annisa.
" Dari mana saja kau.. kau tak lihat ini jam berapa ? " tanya Rain dengan meninggikan sedikit suaranya, Rain mengira jika Annisa berada di dalam kamarnya. Ternyata tidak dan bahkan baru pulang larut malam begini, rasa curiga pun menyelimuti hati Rain.
" Maaf, saya punya urusan penting dan baru bisa pulang sekarang. Saya akan membersihkan apartemen ini segera " ucap Annisa lalu berlalu masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.
" Ck...lihat..sombong sekali dia , akhh sial, untuk apa aku peduli dia pulang jam berapa ? itu urusan nya " ucap Rain lalu berjalan masuk kedalam kamarnya.
Di dalam kamar, Rain tampak gelisah. Rain mencoba untuk kembali memejamkan kedua matanya namun tak bisa. Bayang - bayang akan ucapan Tante Sarah mengenai Annisa terngiang - ngiang di otak Rain. Hingga sebuah ketukan pintu membangunkan Rain dari lamunan nya.
Tok..Tok..Tok..
" Pak..Pak, apa anda sudah tidur ? " teriak Annisa dari luar pintu kamar Rain. Rain beranjak dari tidurnya dan berjalan membuka kan pintu untuk Annisa.
" Apa ? " tanya Rain dingin.
" Hmm..Bolehkan saya masak dan makan di dapur anda ? " tanya Annisa.
" Hmm.. " jawab Rain dan di balas senyuman oleh Annisa.
" Terima kasih " ucap Annisa lalu berjalan menuju dapur. Rain diam dan masih berdiri di depan pintu dan terus melihat ke arah Annisa. Dan saat Annisa menghentikan langkahnya dan berbalik badan melihat Rain, Rain langsung salah tingkah dan berpura - pura melihat langit - langit kamar.
Annisa kembali berjalan ke arah Rain. " Bapak juga mau makan ? " tanya Annisa.
" Tidak " ucap Rain lalu masuk ke dalam kamarnya.
Annisa menarik nafas panjang melihat sikap Rain yang kembali dingin. Annisa kembali ke dapur untuk memasak. Hanya memasak omelet telur saja, karena di dalam kulkas Rain hanya terdapat telur dan susu.
Annisa hendak menyendokkan sesendok nasi dan omelet buatannya ke dalam mulutnya, namun tidak jadi karena melihat Rain datang.
" Bapak juga mau makan ? " tanya Annisa kembali.
" Tidak " ucap Rain lalu duduk di depan Annisa.
" Ini ambil " ucap Rain, menunjukkan kartu ATM nya kepada Annisa.
" Apa ini Pak ? " tanya Annisa bingung.
__ADS_1
" Itu kartu ATM, jangan bilang kau tak tau " ucap Rain masih dengan sikap dingin nya.
" Saya tau Pak, maksud saya kenapa bapak memberikan nya kepada saya ? "
" Pakailah, pakai ATM itu untuk membeli sayur atau bahan makanan untuk di masak. Mulai besok kau haru s menyiapkan sarapan dan makan malam untukku, kau bisa masak kan ? "
" Bisa Pak, saya bisa memasak. Baiklah, besok sepulang bekerja saya akan masak malam untuk anda "
" Kau bisa memakai ATM itu juga untuk membeli keperluan mu "
" Hah..maksud bapak ? " tanya Annisa tidak percaya, membuat Rain kesal karena Rain harus mengulang ucapannya.
" Kau bisa pakai ATM ini untuk keperluan mu juga " ucap Rain dengan nada suara yang sedikit meninggi.
" Yang benar Pak ? " tanya Annisa semringah.
" Ya "
" Tapi, ini bukan di tambahkan menjadi hutang saya kan Pak ? "
" Tidak, anggap saja itu nafkah saya untukmu . Dan saya tidak akan menghitung itu sebagai hutang "
" Baik, terima kasih Pak "
" Tapi ingat, hutangmu juga harus tetap kau bayar "
Setelah itu Rain kembali ke kamarnya, Rain tersenyum tipis. " Kita akan lihat, siapa sebenarnya kau Annisa " batin Rain.
Keesokan harinya..
Annisa bangun pagi - pagi sekali, selesai sholat subuh Annisa langsung menuju dapur untuk memasak. Karena Annisa belum membeli bahan - bahan untuk memasak, pagi ini Annisa kembali membuat omelet telur untuk Rain dan juga untuk dirinya.
Annisa senang karena dengan begini ia juga bisa memasak untuk bekal makan siangnya, jadi ia bisa sedikit menghemat.
Aroma masakan omelet buatan Annisa tercium hingga ke dalam kamar Rain, selesai berpakaian Rain keluar dari kamar dan menuju dapur untuk sarapan.
" Anda sudah siap ? saya hanya membuat sarapan ini saja karena hanya ada ini di kulkas anda. Insha Allah nanti malam dan seterusnya saya akan memasak menu yang lain "
Rain hanya diam dan tak peduli dengan apa yang di ucapkan Annisa, Rain duduk lalu mulai menyuap omelet yang Annisa buat.
" Enak juga, walaupun cuma omelet " batin Rain sembari mengunyah makanannya.
" Saya kira anda tidak biasa sarapan, karena sudah beberapa hari ini saya tidak pernah melihat anda sarapan atau makan "
" Lalu, kau pikir aku ini apa ? bukan manusia , tidak perlu makan ? "
__ADS_1
" Hmm..mungkin saja " ucap Annisa sembari terkekeh.
" kau.. "
" Maaf, saya hanya bercanda. Jangan terlalu serius dalam menanggapi segala hal , orang yang mudah marah dan tersinggung hanya akan menderita. Jadilah orang yang bijak, jadi orang yang pemaaf dan berlapang dada itu rasanya nyaman sekali " nasihat Annisa untuk Rain.
" Tidak usah menceramahi ku " Rain menghabiskan suapan terakhirnya, Rain makan hingga habis.
Annisa hanya tersenyum melihat , " lelaki ini sebenarnya memiliki hati yang baik, hanya saja sikap dingin dan pemarah nya begitu tinggi " batin Annisa.
" Kenapa kau melihatku seperti itu ? " tanya Rain ikut menatap Annisa.
" Tidak "
" Baiklah, aku pergi " pamit Rain lalu meninggalkan Annisa.
Annisa merapikan meja makan dan mencuci piring terlebih dahulu sebelum ia pergi. Annisa bekerja dan setelah itu ia akan menjenguk Bu Ratna lagi di rumah sakit.
Di perjalanan tepatnya di persimpangan lampu merah, seorang nenek - nenek sedang menyeberang jalan, nenek itu terlihat sangat tua karena jalannya yang sudah membungkuk.
Nenek tersebut sedang membawa sebuah bakul besar di punggungnya, dan saat menyebrang jalan tiba - tiba nenek itu terjatuh. Tak seorang pun yang peduli, dan melihat hal itu Annisa segera turun dari sepeda motornya untuk membantu nenek tua tersebut.
Membantu nenek tua itu berdiri dan mengantarkan nya ke tepi jalan. " Terima kasih ya nak muda " ucap Nenek.
" Sama - sama nek "
" Kenapa tidak jalan Rey ? " tanya Rain yang juga berada di sana.
" sepertinya di depan terjadi sesuatu , sebentar ku lihat " ucap Reyhan lalu membuka kaca spion mobilnya dan mengeluarkan sedikit kepalanya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
" Ada apa ? " tanya Rain.
" Hanya nenek - nenek yang sedang menyeberang jalan, tapi sudah di bantu oleh wanita itu " ucap Reyhan menunjuk Annisa dari dalam mobil mereka.
Reyhan tidak tahu jika wanita itu adalah Annisa, karena Annisa sedang memakai helm dan juga masker. Tapi beda dengan Rain, Rain sangat tau wanita itu siapa.
" Annisa " batin Rain.
Rain sangat yakin jika itu Annisa, Rain terus memperhatikan Annisa yang sedang membantu nenek tua itu berjalan dan membawanya ke tepi. Sikap baik Annisa membuat Rain sedikit bimbang, melihat betapa baiknya Annisa kepada orang lain membuat Rain ragu apakah benar Annisa seperti yang di katakan oleh Tante Sarah ?
Titt...tittt...titt... deretan mobil yang ada di belakang sepeda motor Annisa membunyikan klakson mobil mereka berulang karena lampu jalan sudah berubah hijau dan mereka ingin segera berjalan.
" Hei...motor mu..kami ingin lewat "
" Iya " teriak Annisa lalu kembali berjalan menuju sepeda motornya.
__ADS_1
Bersambung..