
Rain dan Annisa sejenak saling pandang dan saat sadar segera melapas pelukan mereka.
" Ka..kau tak apa ? " tanya Rain dan di balas anggukan oleh Annisa.
Rain dan Annisa masuk kedalam mobil, terjadi kecanggungan di antara mereka berdua. Rain dan Annisa kembali saling pandang dan kemudian saling melempar pandangan ke tempat lain.
Perlahan Rain melajukan mobilnya menuju apartemen. sepanjang perjalanan hanya keheningan yang terjadi. Rain dan Annisa hanyut dalam pikiran mereka masing - masing sembari menetralkan denyut jantung mereka yang sejak tadi berdetak tak menentu.
Di perjalanan Rain teringat akan Annisa yang tidak memilki ponsel, dan hal itu juga karena salah nya yang telah merusak ponsel Annisa. Rain pun segera melajukan mobilnya ke toko ponsel terdekat.
" Ayo turun " ucap Rain lalu turun dari mobil terlebih dahulu.
Annisa mengekor di belakang Rain.
" Cepat pilih " ucap Rain menunjuk etalase yang sudah berjejer begitu banyak ponsel.
" Untuk apa ? " tanya Annisa.
Rain menghela nafas mendengar pertanyaan Annisa, lagi - lagi menurutnya Annisa kembali bertanya hal yang seharusnya tidak untuk di pertanyakan. Seharusnya Annisa mengikuti saja perintahnya tanpa harus bertanya itu dan ini.
" untukmu, lalu untuk siapa lagi ? " ucap Rain ketus.
Annisa menoleh ke arah etalase yang di dalamnya terdapat banyak ponsel mulai dari yang model biasa hingga yang moderen. Dan tentunya mulai dari harga yang murah hingga yang paling mahal.
" Itu saja " ucap Annisa menunjuk salah satu ponsel biasa yang berwarna hitam , bukan ponsel android.
Rain kembali menghela nafas panjang melihat sikap Annisa, biasanya wanita akan memilih ponsel paling canggih atau paling mahal jika di tawari gratis begini. Apalagi jika mengingat Sania, tanpa di suruh atau di pinta oleh Rain saja, Sania sudah pasti membeli barang - barang mahal dan branded. Tapi Annisa ? aneh sekali menurut Rain.
" Ponsel keluaran terbaru yang mana?" tanya Rain pada penjaga toko.
" Ini pak " ucap penjaga toko menunjukkan ponsel itu kepada Rain.
__ADS_1
" Baik, aku ambil yang itu " penjaga toko segera membungkus pesanan yang di pinta Rain.
" Kenapa beli yang itu ? " tanya Annisa.
" Tidak usah banyak bertanya " ucap Rain dingin.
Setelah mendapatkan ponsel yang di inginkan, Rain dan Annisa kembali ke dalam mobil. Sebelumnya kartu ponsel sudah Rain beli dan sudah di pasang oleh penjaga toko.
Rain membuka kotak ponsel, menyalakan ponselnya dan memasukkan nomor ponsel nya di sana.
" Nomor ponsel ku sudah ku masukkan di ponsel itu, nanti akan ku kirim nomor ponsel Bu Jessy. Aku membeli ponsel ini agar Bu Jessy bisa menghubungimu, bukan karena hal lain. Jika tidak karena Bu Jessy aku juga tidak peduli " ucap Rain.
" Ya aku tau, aku juga tidak ingin kau peduli. Dan seharusnya kau memang berhak membelikan aku ponsel, bukan kah ponsel ku rusak karena kau ? jadi kau memang harus tanggung jawab "
Rain hanya menatap Annisa tajam, lalu setelah itu melajukan mobilnya menuju apartemen.
" Rain , bisa kita berhenti di apotik sebentar " pinta Annisa, Annisa merasa tubuhnya kurang enak badan sejak siang dan ingin membeli obat.
" Ya sudah " ucap Annisa kecewa.
Rain dan Annisa tiba di apartemen, mereka berdua masuk ke kamar mereka masing - masing untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Setelah berganti pakaian, Annisa memilih untuk langsung berbaring di ranjang empuknya. Karena Annisa sudah memiliki ponsel, Annisa mencari catatan kecil yang ia simpan di dompetnya. Di kertas itu tertulis nomor ponsel salah satu perawat yang menangani Bu Ratna. Annisa memasukkan nomor ponsel perawat itu ke dalam ponsel nya dan mencoba menghubungi perawat dan bertanya mengenai keadaan Bu Ratna.
Mengetahui keadaan Bu Ratna baik - baik saja , Annisa pun sudah merasa tenang. Tubuhnya terasa sakit sekali, dan tak butuh lama Annisa pun terlelap.
Jika Annisa dengan mudahnya terlelap, beda halnya dengan Rain. Rain justru tidak bisa tidur karena bayangan wajah Annisa meracuni pikiran nya saat ini. Entah mengapa kejadian tadi saat mereka saling berpandangan dengan jarak yang sangat dekat membuat Rain terus saja memikirkan nya.
" Sial..." umpat Rain saat mencoba memejamkan kedua matanya namun justru bayangan wajah cantik Annisa yang muncul.
" Apa dia menyihirku ? " ucap Rain.
__ADS_1
Karena tidak bisa tidur, Rain memilih untuk pergi ke club tempat ia bisa menghabiskan waktunya. Rain sempat melirik ke arah kamar Annisa sebelum akhirnya ia pergi.
Sekitar pukul 3 pagi, Annisa terbangun dari tidurnya. Annisa merasa sangat pusing dan ternyata tubuh Annisa juga terasa panas. Benar dugaan Annisa, itulah alasan Annisa ingin membeli obat, ia takut jika tengah malam nantinya ia akan demam atau mungkin merasa pusing seperti ini.
Perlahan Annisa mencoba bangkit dan keluar dari kamar, Annisa menuju dapur untuk mengambil minum. Annisa juga mengecek semua lemari dan laci untuk mencari obat namun tidak ada.
Karena tidak ada, sakit kepala yang tak tertahankan membuat Annisa terpaksa membangunkan Rain. Ia berjalan ke arah kamar Rain dan mengetuk pintu. Namun di setelah di coba, pintu juga tak kunjung terbuka.
" tidurnya nyenyak sekali, aku panggil saja tidak dengar " ucap Annisa.
Karena tidak ada jawaban dari Rain, Annisa memilih untuk kembali ke kamarnya. Baru saja melangkah, pandangan Annisa terasa gelap dan akhirnya Annisa jatuh pingsan di lantai.
Saat bersamaan Rain masuk dan baru pulang dari club. Apakah Rain dalam keadaan mabuk ? tidak, Rain selalu berusaha untuk tidak mabuk. Apalagi setelah kejadian waktu itu bersama Annisa. Rain tidak akan mabuk lagi.
" Annisa " ucap Rain saat melihat Annisa yang terkapar di depan kamarnya.
Rain segera menggendong Annisa dan membawa Annisa masuk kedalam kamar nya. Rain menempelkan tangan nya di kening Annisa, " panas , dia demam " Rain segera mengambil ponselnya dan menghubungi dokter pribadi nya.
Sekitar 20 menit , Dokter Reza datang dan memeriksa keadaan Annisa.
" Bagaimana keadaan nya ? ", tanya Rain dengan wajah khawatir.
Dokter Reza tersenyum melihat Rain, baru kali ini ia melihat Rain dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Dulu Sania juga pernah jatuh sakit, dan Dokter Reza juga yang menangani Sania, namun raut wajah Rain tidak sama seperti ini, sangat berbeda. Rain terlihat biasa saja saat melihat Sania sakit.
" Tenang saja Pak Rain, dia hanya demam biasa. Dan sepertinya dia juga punya asam lambung yang tinggi, saya sudah membawa beberapa obat, nanti setelah ia bangun tolong segera anda minuman obatnya " ucap Dokter Reza.
" Baik, terima kasih "
Dokter Reza pun pamit, meninggalkan Rain dan Annisa. Rain duduk di samping Annisa, menatap wajah pucat Annisa yang masih terlihat cantik.
Rain teringat jika tadi Annisa sempat meminta nya untuk singgah di apotik, mungkin karena Annisa ingin membeli obat untuk dirinya sendiri. Rain juga ingat jika tadi sore teman kerja Annisa mengatakan jika Annisa kurang enak badan. Dan lihat, sekarang Annisa benar - benar sakit
__ADS_1
Lagi - lagi Annisa kembali membuat Rain merasa bersalah, jika mengingat kata - kata Tante Sarah. Rasa nya tidak mungkin jika Annisa memilki niat yang tidak baik kepada nya. Apalagi melihat sikap Annisa yang sama sekali tidak menunjukkan hal itu, yang ada Rain selalu di buat merasa bersalah karena oleh Annisa.