Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 79


__ADS_3

Merasa lelah karena berbaring terus menerus, Rain mencoba bangkit dan melihat ke balik jendela kecil yang ada di kamar Arkana. Dari balik jendela, Rain bisa lihat banyaknya anak-anak hingga remaja yang berpakaian serba putih dengan memakai sarung dan peci.


Sebagian dari mereka terlihat sedang bermain , dan sebagian lagi sedang membersihkan halaman.


Rain duduk lalu memperhatikan pemandangan dari luar jendela, seketika air mata Rain mengalir. Rain teringat akan Annisa, Rain merutuki dirinya sendiri karena kebodohan yang ia perbuat.


" Maafkan aku, Annisa. Maafkan aku " batin Rain.


Rain tertunduk, dan bahkan menangis sesegukan. Hingga hampir enam tahun lamanya barulah kedua mata hati Rain terbuka, Rain begitu bodoh karena tidak mempercayai Istrinya sendiri.


" Ya tuhan, berilah aku kesempatan untuk kembali bertemu dengan Annisa " batin Rain.


Rain terus menangis sesegukan, saat ini Rain merasa tak bernyawa, ia tak begitu bersemangat. Bahkan rasa sakit di perut nya pun tak ia hiraukan karena tidak makan sama sekali semenjak dua hari lalu saat ia sadarkan diri. Rain juga mengurung dirinya di dalam kamar, hanya berbaring dan beristirahat, mencoba memulihkan kondisi tubuhnya.


Rain selalu menolak makanan dan minuman yang di suguhkan oleh Ummi shofiah. Rain takut jika mereka meracuni nya sehingga ia meninggal. Rain masih ingin hidup, ia tidak ingin mati sebelum ia menemukan Annisa.


" Abah, sudah dua hari lelaki itu tidak keluar kamar. Dan dia juga tidak memakan apapun yang sudah Ummi suguhkan untuknya " ucap Ummi shofiah yang tampak khawatir dengan kondisi Rain.


" Abah mengerti Ummi, Abah akan mencoba berbicara dengannya "


Abah Rahman berjalan ke arah kamar, namun tiba-tiba Rain keluar kamar dengan wajah yang pucat.


Rain , Abah Rahman dan Ummi shofiah saling pandang. Saat ingin melangkahkan kaki, Rain merasa pandangan nya terasa kabur dan akhirnya ia terjatuh tidak sadarkan diri.


" Astaghfirullah, Abah...!! " teriak Ummi shofiah.


Abah Rahman dan Ummi shofiah berlari ke arah Rain.


" Panggil Amir , Ummi " perintah Abah Rahman.


Ummi shofiah berlari keluar mencari Amir, tak lama Amir dan ummi shofiah kembali. Amir membantu Abah Rahman membawa Rain kembali ke kamar.


" Bagaimana bah ? " tanya Ummi shofiah.

__ADS_1


" Dia hanya pingsan, sepertinya dia lemah karena tidak makan. Siapkan lah makanan untuknya , Ummi "


" Baik , Abah "


Ummi shofiah kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Rain. Arkana hanya berdiri di balik pintu kamar sembari memperhatikan Rain.


" Maksud Ustadz, semenjak sadar lelaki ini tidak makan sama sekali? " tanya Amir.


" Benar Amir, ia menolak dan tidak memakan sama sekali makanan yang ummi suguhkan "


" Aneh sekali, kenapa tidak mencoba bertanya kepadanya Ustadz ? kita harus lebih tahu lebih mendalam siapa dia, dan kenapa dia bisa hanyut di sungai dengan banyak luka di badannya "


" Dia sepertinya takut , Amir. Dia masih tidak percaya dengan kita. Aku tidak ingin memaksa nya, biarkan dia bercerita sendiri mengenai apa yang terjadi dengannya " ucap Abah.


Abah Rahman menemani Rain hingga akhirnya sadarkan diri.


" Syukurlah kamu sudah sadar " ucap Abah Rahman lalu memberikan segelas air kepada Rain.


Rain berusaha bangkit dan duduk , ia diam saja dan tidak menerima segelas air yang di berikan oleh Abah Rahman.


Apa yang di ucapkan oleh Abah Rahman benar, Rain ingin segera pergi dan mencari keberadaan Annisa, bagaimana ia bisa pergi kalau dirinya tidak berdaya.


Rain akhirnya menerima segelas air yang di berikan Abah dan langsung meneguknya hingga habis.


" Makanlah, istriku sudah memasak masakan yang enak untukmu. Jika kamu sudah pulih, aku akan mengantarmu untuk keluar dari kampung ini "


Abah pun keluar dari kamar dan memberi luang untuk Rain makan.


" Terima kasih " ucap Rain.


Abah Rahman berbalik badan dan tersenyum kepada Rain lalu menundukkan kepalanya. Setelah Abah Rahman keluar, Rain mengambil makanan yang ada di depannya dan dengan lahap memakan makanan tersebut.


" Bagaimana, Abah ? " tanya Ummi Shofiah.

__ADS_1


" Alhamdulillah mi, dia mau menerima minuman yang Abah beri. Dan sepertinya dia sedang makan sekarang "


" Alhamdulillah, syukurlah bah " ucap Ummi shofiah.


Abah menghampiri Arkana yang tengah duduk di ruang tamu, Arkana tersenyum melihat kakeknya yang kini sudah duduk di sampingnya.


" Apa yang kamu pikirkan Arkana? " tanya Abah sembari mengelus - elus lembut pucuk kepala Arkana.


" Tidak ada kek " jawab Arkana.


" Apa Arkana takut dengan paman yang ada di rumah kita ? " tanya Abah Rahman dan Arkana menjawab dengan menggeleng -gelengkan kepalanya.


" Kata Ummi, Arkana tidak boleh menjadi anak yang penakut. Arkana harus jadi seseorang yang pemberani kek " jawab Arkana.


Abah Rahman tersenyum, Arkana memang sangat pintar dan memori ingatannya sangat kuat.


" Alhamdulillah, kalau begitu nanti malam Arkana bisa kan temani paman itu. Tidur di kamar Arkana sendiri. Paman yang ada di dalam bukanlah orang jahat, jadi Arkana tidak perlu khawatir "


" Ya kek " jawab Arkana.


Malam harinya Arkana tidur di kamarnya bersama Rain. Rain terbangun tengah malam dan melihat Arkana yang berada di sampingnya tengah tertidur pulas.


Rain memiringkan badannya lalu menatap Arkana. Rain masih belum mengerti dan mendapat jawaban kenapa wajah anak kecil di depannya ini sangat mirip dengannya. Tapi yang jelas saat pertama bertemu Arkana, Rain merasakan suatu getaran di hatinya yang masih belum Rain mengerti.


Rain perlahan mengulurkan tangannya mencoba menyentuh wajah Arkana, namun Rain urungkan karena tiba-tiba Arkana membuka kedua matanya.


" Kamu belum tidur ? " tanya Rain terkejut melihat Arkana terbangun.


" Arkana ingin sholat, paman " jawab Arkana, bangun dan keluar dari kamar untuk mengambil air wudhu.


" Arkana ? jadi namanya Arkana " batin Rain.


Rain melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua pagi. Rain kembali bersedih tatkala mengingat Annisa yang dahulu nya juga sering bangun di tengah malam untuk melakukan sholat tahajjud. Rain pun kembali meneteskan air matanya.

__ADS_1


Setengah jam kemudian , Arkana kembali ke kamarnya. Rain segera menyeka airmatanya saat mendengar suara pintu terbuka dan Rain berpura-pura tidur agar Arkana tidak melihat kedua matanya yang bengkak karena menangis.


__ADS_2