Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 24


__ADS_3

" Siapa anda ? " tanya Annisa.


Tante Sarah hanya menyunggingkan senyumnya dan menatap Annisa dari ujung kepala hingga ujung kaki.


" Sangat tidak pantas untuk Rain " batin Tante Sarah.


" Tante " Rain datang, Annisa dan Tante Sarah melihat ke arah Rain yang berdiri di depan pintu.


" Annisa, perkenalkan Tante ku , Tante Sarah "


Annisa berjalan ke arah Tante Sarah, dan menyodorkan tangan nya untuk menyalimi Tante Sarah. Dengan terpaksa Tante Sarah menerima uluran tangan Annisa dan dengan senyum yang terpaksa.


" Saya Annisa, maaf Tante saya tidak tau kalau Tante datang "


" Iya, tidak masalah " ucap Tante Sarah.


" Baiklah Tan, mari kita bicara di luar saja " ajak Rain.


" Annisa, jika kau ingin istirahat. istirahatlah " pinta Rain.


Melihat sikap Rain yang begitu perhatian kepada Annisa, membuat Tante Sarah kesal.


" Tidak Rain, aku akan ke kamar mandi sebentar. Setelah itu aku akan keluar " ucap Annisa lalu berjalan ke arah kamar mandi.


" Apa pekerjaan nya hanya tidur saja di sini ? " tanya Tante Sarah.


" Maksud Tante ? " tanya Rain.


" Maksud Tante, apa yang di lakukan di sini Rain ? apa dia hanya tidur - tiduran saja di apartemenmu ini "


" Dia sedang sakit Tan, oh ya bagaimana kabar Tante. Maafkan Rain, Rain belum ada waktu mengunjungi Tante "


" Tante baik Rain, Tante mengerti kau sedang sibuk. Maka dari itu Tante ke sini untuk menemui mu. Kabarmu juga baik kan ? Tante sangat merindukanmu Rain , semalam Kayla menghubungi Tante, apa dia menghubungi mu juga ? "


" Belum tan, beberapa hari ini aku sangat sibuk. Nanti malam aku akan menghubungi nya "


" Baguslah , oh ya Rain. Bagaimana dengan yang Tante katakan waktu itu , dengarkan Tante baik - baik ya Rain. Kau harus berhati - hati dengan wanita itu, jangan sampai kau tertipu daya oleh Annisa. Kau tau kan, firasat Tante selama ini selalu benar , terutama yang menyangkut tentangmu. Tante sayang denganmu Rain, Tante hanya ingin yang terbaik untukmu "


" Ya Tante "


" Bagaimana kalau kau dan Annisa tinggal bersama di rumah Tante, itu kan rumah mu juga Rain. Jujur Tante tidak tenang membiarkan mu dengan wanita itu hanya berdua di apartemen ini "


" Tante tidak perlu khawatir, aku rasa bukan dia dalang dari semua masalah yang menimpa ku. Annisa hanya wanita biasa yang terjebak karena kesalahan ku sendiri Tante "

__ADS_1


" Bagaimana kau bisa menebak nya Rain, kau sudah menyelidiki nya. Kalaupun benar masalah ini bukan karena Annisa, tapi tetap saja menurut Tante Annisa itu sangat tidak pantas untuk mu Rain. Lihat saja dirinya, sangat berbeda jauh dengan kita "


" Sudahlah Tante, percayalah kepadaku. Semua ini tidak ada hubungan nya dengan Annisa, ada seseorang yang memang ingin menjatuhkan citra ku dan orang itu masih belum bisa aku temukan "


" Baiklah Rain, Tante hanya ingin kau tetap berhati - hati. Mengerti !! "


Ceklek..


Pintu kamar Annisa terbuka, Tante Sarah dan Rain melihat ke arah Annisa. Tante Sarah kembali memaksakan senyum nya kepada Annisa.


" Kata Rain, kau sedang sakit ? " tanya Tante Sarah.


" Saya sudah baikan Tante, oh ya Tante sudah makan ? sebentar , saya akan memasak untuk makan siang "


" Ti..tidak..tidak perlu Annisa, Tante akan pulang sebentar lagi "


" Tante ingin pulang ? baiklah, tunggu sebentar aku akan bersiap, aku akan mengantar Tante pulang "


" Tidak usah Rain, Tante naik taksi saja. Duduklah "


" Tante yakin ? kalau begitu aku akan memesan taksi untuk Tante " Rain merogoh ponselnya dan segera memesan taksi online untuk Tante Sarah.


Annisa memperhatikan sikap Rain, Rain terlihat sangat perhatian terhadap Tante Sarah. Ini kali pertama nya Annisa mengenal salah satu anggota keluarga Rain. Karena sejauh ini hanya Reyhan yang Annisa kenal.


" Rain, sebenarnya kedatangan Tante ke sini ingin membicarakan mengenai jabatan Iyas. Kapan kau ingin mengangkatnya menjadi manager di perusahaanmu Rain ? bukankah pekerjaan yang di lakukan selama ini oleh Iyas tidak ada masalah "


" Akan aku pikirkan lagi Tan, mungkin setelah manager keuangan kami mengajukan cuti melahirkan. Aku akan mencoba menggantikan dengan Iyas "


" Benarkah ? Iyas pasti senang mendengarnya. Terima kasih Rain , sudah seharusnya seperti itu Rain. Kita ini keluarga, dan Iyas juga pasti akan sangat membantu pekerjaan mu di kantor "


" Iya Tante "


" Baiklah, Tante pulang sekarang. Tante pamit ya Rain"


Rain menyalimi tangan Tante Sarah, dan setelah itu bergantian Annisa pun juga begitu.


" Hati - hati di jalan Tante " ucap Annisa.


Tante Sarah hanya tersenyum tipis, ia pun keluar dari apartemen bersama Rain yang ikut mengantarkannya sampai parkiran apartemen.


" Kenapa..aku merasa Tante Sarah itu bukan orang baik ya ? " ucap Annisa sembari berjalan ke arah dapur untuk bersiap memasak makan siang.


" Sewaktu di kamar tadi, dia menatapku seperti tatapan tidak suka. Dan begitu di depan Rain, dia terlihat sangat ramah, ya sudahlah..aku tidak peduli " ucap Annisa.

__ADS_1


*****


Sebelum kembali ke apartemen, Rain menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu minimarket terdekat yang berada di seberang apartemen miliknya.


Rain membeli beberapa minuman seperti susu, jus, roti, selai, dan juga obat - obatan. Setelah itu Rain kembali ke apartemen.


" Sudah datang, apa yang kau bawa ? " ucap Annisa lalu berjalan ke arah Rain mengambil kantong plastik yang Rain bawa.


" Aku membeli roti , susu, dan juga beberapa selai. Mulai besok, kau tidak perlu memasak untuk sarapan pagi ku. Siapkan roti itu saja " ucap Rain.


" Hmm..baiklah "


Sebenarnya Rain sengaja membeli beberapa roti dan juga selai untuk sarapan pagi nya agar Annisa tidak perlu repot memasak. Entah mengapa Rain hanya tidak ingin Annisa kelelahan jika harus pagi - pagi memasak , dan sore harus memasak lagi. Sedangkan pagi - pagi sekali ia harus bekerja.


" Sekarang, bersiaplah. Kita akan pergi " pinta Rain.


" Bersiap ? kemana ? " tanya Annisa.


" Makan siang " ucap Rain.


" Makan siang ? aku sudah memasak untuk kita, lihatlah "


Rain berjalan ke arah Annisa dan melihat sup daging kesukaan Rain yang kembali Annisa masak.


" Kau yang memasaknya ? " tanya Rain lalu menatap Annisa tajam.


" Kalau bukan aku, lalu siapa ? ayo kita makan, tidak perlu makan di luar " ucap Annisa lalu menyodorkan piring di depan Rain dan menuangkan nasi di atasnya.


" Sebelum makan, jangan lupa berdoa. Ayo pimpin doa " pinta Annisa.


" aku ? " tanya Rain.


" Ya, kau "


" Tapi..aku "


" Tidak perlu di baca keras, dalam hati saja " ucap Annisa.


Rain pun memperbaiki posisi duduknya, dan mengangkat kedua tangan nya dan mulai berdoa. Mereka berdua berdoa dengan khusyuk.


" Aamiin " ucap Annisa.


" Mari makan " Annisa menuangkan sup daging di piring Rain, Rain terpana melihat sikap Annisa. Sudah sejak lama, semenjak kedua orangtua Rain meninggal. Tidak pernah ada yang menuangkan makanan di piringnya seperti ini kecuali ibu nya. Dan hari ini Annisa melakukan nya dengan penuh ketulusan, bahkan selama berpacaran dengan Sania pun, Sania tidak pernah melakukan hal sederhana ini kepada Rain.

__ADS_1


Rain dan Annisa menikmati makan mereka dengan sembari berbincang, ya lebih tepatnya Annisa lah yang banyak berbicara. Rain lebih banyak diam, mungkin karena begitu menikmati masakan Annisa, dan mungkin karena masih terpana dan tidak bisa berkata - kata dengan sikap Annisa yang begitu perhatian kepada nya, dan lebih tepatnya Rain mengingat mendiang ibu nya saat ini.


Rain makan sesekali melirik Annisa, " Ibu, kenapa dia mirip sekali dengan ibu. Masakan nya juga sangat persis seperti yang ibu buat, aku merindukanmu ibu "


__ADS_2