
" MAAF "
Sebuah kata maaf yang sulit Rain ucapkan akhirnya keluar, Annisa yang sedang menunduk sembari memijiti tangan Rain pun langsung menadahkan kepalanya menatap Rain.
" Kau bilang apa tadi? " tanya Annisa dengan menahan senyumnya.
" Maaf " ulang Rain.
" Meminta maaf untuk apa? "
" Yaa... maaf, aku tau kau marah karena ulahku tadi kan? "
" Marah? tidak, aku tidak marah "
" Lalu , kenapa kau berubah? "
" Berubah, tidak. Berubah seperti apa maksudmu? aku tetap sama saja "
" ya kau berubah.. maksudku.. ya sudahlah, lupakan saja ucapan ku tadi " Rain mendengus kesal, ia berdiri berniat kembali ke kamarnya. Kali ini Rain yang kembali marah dan kesal karena sikap Annisa.
" Rain, kau mau kemana? tanganmu sudah tidak keram lagi? "
" Ya sudah " jawab Rain.
__ADS_1
Rain berjalan ke arah kamarnya, dan Annisa juga ikut beranjak dari duduknya dan mengikuti Rain.
" Aku juga minta maaf " ucap Annisa, Rain menghentikan langkahnya di depan pintu kamar.
" Aku juga minta maaf " ulang Annisa lagi setelah Rain berbalik badan menghadap nya.
" Terima kasih sudah mengerti Rain, aku tidak marah. Aku juga minta maaf jika bercandaku keterlaluan sehingga membuatmu kesal "
" I.. i.. ya, aku juga " ucap Rain dengan terbata-bata, tatapan tulus Annisa kepada nya membuat dirinya jadi salah tingkah.
" Kalau begitu selamat beristirahat Rain "
Annisa tersenyum manis kepada Rain lalu kembali ke dapur untuk membersihkan dan membereskan makanan yang belum di habiskan Rain.
Rain masuk ke dalam kamarnya dan senyum-senyum sendiri di balik pintu. Entah mengapa perasaan nya sekarang sudah lega dan senang karena Annisa tak marah kepadanya. Rain bisa tidur dengan tenang malam ini.
Keesokan harinya..
Rain berdiri di depan kaca dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Ia tampak begitu bersemangat pagi ini. Rain keluar dari kamar untuk segera sarapan pagi bersama Annisa.
" Dimana sarapan ku? " ucap Rain saat melihat tidak ada apapun di atas meja makan.
Rain berjalan ke kamar Annisa, " Apa dia begadang semalam, kenapa jam segini sarapan ku belum siap "
__ADS_1
Tok.. tok.. tok...
" Annisa "
" Annisa "
Tok.. tok.. tok..
" Annisa "
" Annisa "
Berulang kali Rain mengetuk pintu kamar Annisa, tetapi tidak ada sahutan dari dalam kamar. Rain menjadi khawatir jika terjadi sesuatu kepada Annisa, Rain mencoba membuka pintu dan ternyata kamar Annisa tidak terkunci. Tapi Rain enggan masuk karena takut jika nantinya kejadian waktu itu terulang.
" Tidak, mungkin dia sedang di kamar mandi. Aku tidak boleh masuk. Nanti jika kejadian waktu itu terulang bagaimana? dasar Annisa, sudah ku katakan jangan lupa mengunci pintu kamar. Baiklah kalau begitu aku tunggu saja sebentar "
Rain duduk di kursi makan sembari memainkan ponselnya, ia memeriksa beberapa email mengenai pekerjaan nya yang masuk dan juga beberapa pesan dari Reyhan mengingatkan kepada Rain jika mereka ada rapat hari ini pukul 8 pagi.
Sudah setengah jam menunggu, Annisa pun tak keluar dari kamarnya. Rain sudah tidak bisa lagi menunggu, ia berjalan ke arah kamar Annisa dan langsung membuka pintu kamar. Rain tidak melihat ada Annisa di sana, yang ada Rain terkejut melihat tempat tidur Annisa yang masih berantakan.
Rain berjalan ke arah kamar mandi, ia mengetuk pintu kamar mandi terlebih dahulu. Karena cukup lama juga tidak ada jawaban, Rain mencoba membuka pintu kamar mandi, dan dengan mudah sekali pintu kamar mandi itu terbuka. Rain segera masuk kedalam kamar mandi, ia kembali terkejut karena tidak ada Annisa di sana.
Rain merogoh ponsel yang ada di saku celana nya, melihat Annisa tidak ada di rumah membuat Rain segera menghubungi Annisa.
__ADS_1
" dimana dia? " ucap Rain setelah mencoba menghubungi Annisa namun tidak bisa.
Rain duduk di sofa sembari memainkan ponselnya, ia khawatir akan Annisa, dan karena sebentar lagi pukul 8, Rain pun memutuskan untuk ke kantor karena ia harus menghadiri meeting nya yang sangat penting.