Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 72


__ADS_3

Annisa tiba di apartemen, apartemen dalam keadaan gelap gulita. Annisa mencari kontak lampu dan segera menyalakannya. Saat lampu menyala, Annisa terkejut melihat Rain sedang duduk di ruang tamu dengan posisi tertunduk.


Annisa tersenyum melihat Rain, ia berjalan menghampiri Rain. Namun Rain memberi isyarat kepadanya untuk tidak mendekat.


" Mas " panggil Annisa.


Rain mendongakkan kepalanya, kedua matanya memerah karena habis menangis. Hati Rain semakin sakit melihat Annisa, Rain kecewa dengan Annisa, untuk kedua kalinya ia kembali tersakiti.


Annisa melangkah maju menghampiri Rain.


" Jangan mendekati ku " pinta Rain.


" Mas, Mas kenapa ? " tanya Annisa.


Rain menyunggingkan bibirnya, " kenapa ? kamu terkejut ? " ucap Rain.


Annisa tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh suaminya.


" Aku salah, ya aku bodoh karena terlalu mempercayaimu " ucap Rain. Air mata Rain kembali mengalir, dan Rain segera menyeka nya agar Annisa tidak melihat.


" Mas, aku tidak mengerti. Maksud Mas Rain apa ? "


Rain berdiri lalu menghampiri Annisa, dengan tatapan tajam. Rain menatap Annisa dan memperhatikan Annisa dari ujung kepala hingga ujung kaki.


" Menjijikkan" ucap Rain.


Annisa ingin memegang tangan Rain, namun segera di tepis oleh Rain.


" Jangan menyentuhku " ucap Rain dengan meninggikan suaranya.


" Mas, aku tidak mengerti. Mas Rain kenapa ? " tanya Annisa.

__ADS_1


" Kamu lihat ini " Rain melempar beberapa lembar foto ke hadapan Annisa. Foto yang sebelumnya ada di ponselnya sudah ia print untuk ia tunjukkan kepada Annisa.


Annisa pun memunguti foto yang berserakan di lantai. Hati Annisa hancur saat melihat foto tersebut, ini benar dirinya. Tapi bagaimana bisa, dia tidak kenal atau pernah bertemu dengan lelaki yang ada di foto tersebut.


" Mas ini..."


" Stop..tidak perlu berbicara apapun. Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun dari mulut kamu Annisa "


" Tapi Mas, ini.. "


" Aku bilang DIAM !! kamu mau membela diri, kamu mau katakan kalau di foto ini bukan kamu ? HAH !! " Rain kembali berbicara dengan nada tinggi kepada Annisa.


Annisa tidak tahu harus apa, kini ia hanya bisa menangis di depan Rain.


" Keluar dari sini " pinta Rain.


Annisa kembali melangkah maju untuk mendekati Rain.


Annisa sudah terbiasa menghadapi amarah Rain, tapi kali ini Rain terlihat begitu marah kepadanya.


" KELUAR " teriak Rain kembali.


Rain meneriaki Annisa tanpa melihat Annisa, posisi nya saat ini membelakangi Annisa. Sebenarnya Rain tidak ingin seperti ini, ia tidak pernah semarah ini kepada Annisa, tapi rasa sakit yang Annisa perbuat kepadanya tidak bisa Rain maafkan.


Dengan penuh air mata, Annisa terpaksa harus keluar dari apartemen. Sebelumnya Annisa memunguti semua foto-foto yang Rain berikan kepadanya. Annisa pungut dan ia bawa bersamanya.


Mendengar suara pintu terbuka dan kemudian kembali tertutup. Barulah Rain membalikkan badannya, Rain lalu terduduk lemas.


****


Di tempat lain, Reyhan tiba di hotel dimana Annisa sebelumnya berada. Reyhan berselisih dengan Annisa dan ia tidak bertemu Annisa. Setelah mendengar sedikit penjelasan dari Resepsionis hotel, Reyhan kembali ke apartemen karena Reyhan berpikir kemungkinan Annisa akan kembali ke apartemen.

__ADS_1


Rain membuka kan pintu apartemen untuk Reyhan.


" Apa Annisa datang ke sini ? " tanya Reyhan.


Rain seperti tidak peduli, ia kembali duduk di sofa dengan tatapan kosong.


" Rain, aku bertanya kepadamu " ucap Reyhan dengan sedikit meninggikan suaranya.


" Aku sudah menyuruhnya pergi " ucap Rain.


Tanpa menunggu lama, Reyhan seger berlari keluar , ia kembali mencari Annisa hingga ke area parkiran. Reyhan mendengus kesal karena ia kembali berselisih dengan Annisa dan tidak bertemu dengan Annisa.


" Kamu Gila Rain, kenapa kamu mengusir istrimu sendiri " ucap Reyhan.


Rain hanya diam, lalu ia beranjak menuju kamarnya. Namun Reyhan mencekal tangan Rain.


" Aku berbicara padamu Rain, kenapa kamu mengusir Annisa. Jangan bertindak bodoh hanya karena kamu sedang emosi "


" Lepaskan aku Rey " ucap Rain.


Reyhan melepas tangannya dari Rain, Rain lalu masuk ke dalam kamar dan mengunci dirinya dalam kamar.


Reyhan merasa frustasi, saat ini Rain sudah seperti orang gila. Bagaimana ia menghadapi Rain yang saat ini tidak ingin berbicara sama sekali. Belum lagi ia harus mencari Annisa. Kemana ia harus mencari Annisa ?


Tak jauh dari apartemen, Annisa duduk sendiri di sebuah bangku taman. Annisa menangis tersedu-sedu sembari melihat foto-foto yang tadi ia bawa.


Yang membuat Annisa bersedih sebenarnya bukan foto-foto itu. Ia begitu bersedih karena Rain tidak mempercayainya, dan bahkan tidak mau mendengar sepatah kata pun dari Annisa.


Hiks..Hiks..hiks...


Annisa terus saja menangis, melihat Rain marah, mendengar Rain membentaknya, itu sudah hal biasa bagi Annisa. Tapi bukan itu, bukan itu yang membuat Annisa bersedih, hati Annisa sakit karena Rain tidak percaya kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2