
Rain kembali ke kediaman Amir, dan Rain melihat Amir yang tengah sibuk membuat bahan pelajaran untuk para santrinya.
Rain duduk lalu memperhatikan Amir, Amir tetap fokus dengan apa yang ia kerjakan, ia mengabaikan Rain yang duduk di sampingnya.
" Aku minta maaf "
Amir diam saja, ia terus saja menulis dan tidak berkata apapun.
" Maafkan aku Amir, sejak dulu aku susah sekali mengendalikan emosiku sendiri "
" Karena itulah Annisa meninggalkanmu, bukan ? " tanya Amir dengan masih fokus menulis.
Rain hanya bisa diam , sebenarnya bukan Annisa lah yang meninggalkannya. Tapi dirinya lah yang sudah mengusir Annisa.
" Maukah kamu membantuku , Amir ? "
Amir tersenyum sinis, " Membantumu ? setelah kamu memukulku , lalu aku harus membantumu ? "
" Bantulah aku untuk memperdalam ilmu agama, aku ingin memperbaiki diriku , Amir. Menjadi pribadi yang lebih baik "
" Benarkah ? apa ini sungguh dari lubuk hatimu, atau semua ini hanya untuk mendapatkan perhatian dari Annisa ? "
Amir kembali berbicara pedas kepada Rain, sengaja memancing amarah Rain.
Rain menutup kedua matanya, ia mencoba menahan amarahnya mendengar ucapan dan pertanyaan Amir yang begitu menyakitkan hatinya.
Amir melihat Rain, " Kenapa ? apa kamu marah dengan ucapan ku ? mulailah belajar menahan emosimu dari sekarang "
Amir menutup bukunya lalu pergi, Rain melihat ke arah Amir, dan setelahnya Rain tersenyum. Ia mengerti maksud Amir, walaupun tidak secara langsung menyetujui permintaan Rain, namun Rain bisa mengerti kalau Amir ingin membantu nya.
Keesokan harinya , pagi-pagi sekali Rain pergi ke kediaman Abah Rahman dan memberikan secarik kertas kepada Ummi shofiah . Rain meminta ummi shofiah memberikan surat itu kepada Annisa.
" Ini apa Ummi ? " tanya Annisa saat bingung melihat Ummi shofiah memberikan secarik kertas kepadanya.
" Itu dari Rain "
" Rain ? "
Annisa mengambil surat yang Ummi shofiah berikan dan langsung membacanya. Kedua mata Annisa tampak berkaca-kaca sembari membaca surat tersebut.
" Ada apa Annisa ? "
__ADS_1
Ummi shofiah mendekati Annisa dan duduk di sebelah Annisa, Annisa lalu memberikan secarik kertas itu kepada Ummi dan Annisa tak kuasa menahan tangisnya.
Ummi shofiah membaca surat yang di berikan oleh Rain, dan kedua mata Ummi juga ikut berkaca - kaca , Ummi merasa tersentuh dengan apa yang di tulis oleh Rain.
Aku tahu kesalahan dan dosa yang ku perbuat kepadamu begitu besar, bahkan aku sudah membuat goresan dan luka yang di dalam dihatimu Annisa. Aku tidak meminta dan memaksamu untuk memaafkan ku, dan jika memang sudah tak ada lagi harapan untukku menjadi suami yang baik untukmu, maka beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku adalah seorang ayah yang baik untuk anak kita. Beri aku waktu dan kesempatan untuk memantaskan diriku menjadi ayah yang baik untuk Arkana.
Ummi lantas memeluk Annisa setelah membaca surat itu.
" Ummi juga ikut menangis setelah membaca surat ini "
Ummi melepas pelukannya lalu mengelus lembut kedua pipi Annisa.
" Apa kamu masih mencintai Rain ? " tanya Ummi Shofiah yang lantas membuat Annisa terkejut.
Sejenak Annisa hanya bisa diam, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Ummi. Annisa bingung dengan perasaan nya sendiri.
Ummi pun tersenyum melihat Annisa yang tampak kebingungan.
" Dari raut wajah kamu, Ummi sudah bisa menebak Annisa. Kamu masih mencintai nya bukan ? jika kamu masih mencintai nya, maka berilah dia kesempatan, berilah di waktu untuk membuktikan kalau dia bisa menjadi suami dan ayah yang baik "
Ummi lantas pergi setelah mengatakan hal itu kepada Annisa. Annisa hanya bisa diam dan menatap bayangan Ummi yang sudah menghilang di balik pintu.
*****
Rain juga sempat beberapa kali menetaskan air matanya saat ia membaca Alquran, Rain menyesali perbuatannya karena ia sudah begitu sangat jauh dengan sang pencipta.
" Bagaimana, Amir ? " tanya Abah kepada Amir.
" Alhamdulillah, Ustadz. Rain bahkan bisa menangkap semua yang saya ajarkan dengan cepat "
" Alhamdulillah, terima kasih Amir. Teruslah bersabar menghadapinya, bimbinglah dia dengan sabar "
" Iya Ustadz "
" Allah pasti akan membalas semua kebaikan kamu Amir "
" Aamiin, terima kasih ustadz "
Abah Rahman lalu pergi, Amir hanya bisa tersenyum sembari melihat Abah dari kejauhan.
Flashback on
__ADS_1
Amir pergi kekediaman Abah Rahman lalu mencari Annisa. Dan kebetulan hanya ada Annisa di dalam rumah, dengan wajah panik Amir memanggil Annisa dan mengatakan kalau terjadi sesuatu kepada Rain. Mendengar hal itu tentu membuat Annisa begitu terkejut dan bergegas pergi untuk mencari Rain.
Sesampai di kediaman Amir, Annisa langsung masuk kedalam kamar untuk mencari Rain. Dan ternyata Rain tidak ada. Semua itu hanyalah akalan Amir saja.
" Dimana dia ? " tanya Annisa kepada Amir.
Amir lantas tersenyum kepada Annisa.
" Kak, kenapa tersenyum. Mas Rain dimana ? bukannya tadi kak Amir bilang kalau Rain pingsan ? " tanya Annisa masih dengan raut wajah khawatir nya.
" Kamu masih mencintainya , Annisa ? " tanya Amir.
Annisa membulatkan kedua matanya mendengar pertanyaan dari Amir.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Amir, Annisa lantas pergi. Annisa tahu kalau Amir hanya mengerjainya saja.
" Aku hanya mengerjai mu saja. Rain baik-baik saja Annisa "
Annisa menghentikan langkahnya sejenak setelah mendengar ucapan Amir.
Dan setelah itu kembali berjalan untuk kembali pulang ke rumahnya.
Sejak saat itu, Amir sadar kalau Annisa sebenarnya masih mencintai Rain. Dan Amir sadar bahwa ia tidak bisa memaksakan kehendaknya, ya walaupun sebenarnya kalau pun Annisa harus mencintai seseorang. Amir lebih rela jika orang itu bukan Rain, karena menurut Amir , Rain sangatlah tidak pantas untuk Annisa.
Bahkan saat Abah Rahman datang menemui Amir untuk meminta Amir membantu Rain. Amir sempat memberikan menolak dan memberikan pendapatnya.
" Tapi Pak Ustadz, bagaimana kalau dia sebenarnya hanya ingin berpura-pura dan hanya ingin menunjukkan semua itu agar Annisa bisa kembali kepadanya. Setelah semua yang terjadi kepada Annisa, bagaimana kita bisa mempercayai dia pak Ustadz ? "
Abah Rahman sempat terkejut dengan ucapan Amir.
" Amir, apa ada sesuatu yang mengganggumu , atau mungkin sesuatu yang mengganjal di hatimu ? "
Amir terdiam, Abah Rahman seolah tahu bahwa saat ini memang ada yang mengganggu nya. Yaitu cintanya kepada Annisa, hal itulah yang membuatnya tak menyukai Rain, terlebih lagi melihat kelakuan Rain.
" Jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, ikhlaskan lah nak. Aku tahu itu Amir, karena aku sudah lama mengenalmu. Amir yang aku kenal bukanlah Amir yang berkata seperti tadi "
" Maafkan saya Pak Ustadz "
Amir tertunduk malu di hadapan Abah Rahman.
" Tugas kita sebagai manusia adalah membantu sesama, apalagi jika ada salah satu teman atau keluarga kita yang ingin berubah , ingin kembali ke jalan Allah. Maka kita harus memberinya jalan, entah kedepannya seperti apa. Biarlah Allah yang mengurusnya, kita hanya perlu membantunya dan tidak berprasangka buruk kepadanya. Ingat Amir, yang menurut kita tidak baik, belum tentu hal itu tidak baik di mata Allah "
__ADS_1
Flashback off