Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 39


__ADS_3

Annisa berdiri sendiri di balkon apartemen, menikmati indahnya kota di malam hari, cahaya lampu yang gemerlap membuat keindahan kota semakin menawan. Jika ada waktu luang, Annisa selalu menghabiskan waktunya untuk bersantai di balkon. Tentunya setelah semua pekerjaannya seperti membersihkan apartemen selesai.


Apakah kalian tau apa yang sedang Annisa pikirkan sekarang? ya tentu saja memikirkan Rain.


Annisa penasaran akan wanita yang tadi bersama Rain, Annisa terus memikirkannya bahkan Annisa tidak fokus saat mengerjakan pekerjaan rumah.


" Apa dia kekasih Rain? tapi.. apa mungkin? apa Rain tidak tau jika dia sudah memiliki seorang istri " batin Annisa.


" Kenapa hatiku terasa sakit saat melihat Rain bersama wanita itu, Ya Allah apakah.. apakah aku mulai ada rasa padanya? "


Annisa menundukkan kepalanya , dengan kedua tangan yang berpegangan erat pada pagar balkon.


" Tidak,, jangan Annisa. Jangan terbawa perasaan, kau hanya perlu menjalankan pernikahanmu selama setahun ini dengan Rain. Hutangmu kepada Rain lunas, dan setelah itu kau akan menjalani hidup mu seperti semula. Jangan membayangkan apa yang di katakan oleh Reyhan, jangan Annisa.. jangan.. semua itu tidak akan terjadi, Rain sudah memiliki kekasih, dan lihat dia tidak peduli denganmu, ya karena memang pernikahan ini bukanlah pernikahan sebenarnya. Akhhhh... Rain.. menyebalkan!!! " teriak Annisa.


Annisa berteriak dengan keras, entah penghuni apartemen sebelah mendengar atau tidak Annisa tidak peduli. Setelah berteriak Annisa merasa sedikit lega, dan terlihat kedua mata Annisa berkaca-kaca.


Rasanya semua tidak adil baginya, tapi Annisa terus mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri dan yakin bahwa Allah telah merencanakan suatu hal yang terbaik untuknya.


" Siapa yang menyebalkan? " tanya Rain yang entah sejak kapan dan bagaimana kini ia sudah berdiri di samping Annisa.


" Rain " ucap Annisa terkejut, ya wajar saja Annisa terkejut karena Rain datang dengan tiba-tiba. Dan Annisa takut jika Rain tadi mendengar apa yang ia ucapkan.


" Siapa yang kau sebut menyebalkan? " tanya Rain kembali, kali ini Rain bertanya dengan mencondongkan sedikit badannnya ke arah Annisa, Annisa reflek mundur, dan merasa gugup karena Rain berlaku seperti itu kepadanya.


" Ti.. tidak.. mungkin kau salah dengar. Aku tidak mengatakan apa-apa "

__ADS_1


" Yakin?? " tanya Rain, dan Rain kembali berjalan dan mendekatkan tubuhnya ke arah Annisa. Annisa pun selangkah mundur.


Karena jarak antara Rain dan Annisa cukup dekat, Annisa bisa mencium aroma parfum yang tidak biasa pada tubuh Rain. " ini pasti aroma parfum wanita itu " batin Annisa, karena sudah cukup lama tinggal bersama Rain, Annisa sudah sangat tau dan hafal aroma parfum yang biasa Rain pakai. Dan yang Annisa cium ini bukanlah aroma parfum Rain, tentu saja aroma parfum wanita yang tadi bersama Rain.


" Sudah cukup Rain " ucap Annisa, lalu mendorong dada bidang Rain dengan kedua tangannya.


" Kau yang cukup, jangan berteriak malam-malam begini. Kau akan di kira gila oleh tetangga sebelah kita " ucap Rain sembari menatap Annisa, sedangkan Annisa pandangannya lurus kedepan melihat pemandangan malam dan jalanan yang penuh dengan kendaraan lalu lalang dengan lampu yang berkerlap-kerlip.


" Hey.. kau dengar tidak? " ucap Rain sembari melihat ke arah Annisa, sedangkan Annisa hanya diam saja tanpa menjawab ucapan Rain.


" Kau dengar tidak......???? " teriak Rain tepat di telinga Annisa.


" Rain.... " teriak Annisa sembari memegangi telinga nya yang terasa sakit karena mendengar teriakan Rain, Annisa juga memukuli Rain karena sudah berteriak kencang dan tepat sekali di telinga Annisa.


" Hahahaa... makanya kalau di ajak bicara itu di dengerin " ucap Rain sembari terkekeh karena senang melihat Annisa yang sedang kesal.


" Aku dengar Rain, tidak perlu berteriak " ucap Annisa lalu Annisa kembali melihat pemandangan indah di depannya.


" Ada apa dengannya? " batin Rain, saat memperhatikan Annisa yang terlihat berbeda. Tentu saja menurut Rain berbeda, karena Annisa biasanya lebih banyak bicara dari pada Rain, tapi kini terlihat lebih banyak diam.


Rain melepas jas yang menempel pada tubuhnya lalu memasangkan jas itu ke tubuh Annisa. Melihat perlakuan Rain refleks membuat Annisa terkejut dan Annisa melihat ke arah Rain.


" Di sini udaranya sangat kencang, tidak baik untuk kesehatan " ucap Rain tanpa melihat ke arah Annisa, pandangan Rain ke depan melihat pemandangan kota yang indah.


Annisa tersenyum tipis mendapat perhatian dari Rain, sebenarnya di balik senyum tipis Annisa terselimut rasa kesedihan.

__ADS_1


" Rain, bolehkah aku kembali ke rumahku? " tanya Annisa.


Mendengar pertanyaan Annisa, Rain pun segera mengalihkan pandangan kepada Annisa.


" Maksudmu? " tanya Rain tak mengerti.


" Aku ingin kembali ke rumahku Rain, aku sudah mendapatkan kerjaan dengan gajih yang lebih besar dari pekerjaan ku yang kemarin. Aku janji akan membayar semua hutang ku, dan akan mencicil nya setiap bulan " jelas Annisa.


Sebenarnya Annisa sudah memiliki pekerjaan baru tanpa sepengetahuan Rain, Annisa bekerja di sebuah perusahaan tekstil yang cukup besar dan tentunya dengan penghasilan yang cukup besar pula untuk Annisa. Annisa sangat bersyukur karena ada perusahaan yang mau menerima nya bekerja.


Rain diam dan kedua matanya mulai memerah meredam amarah. Bagaimana tidak marah dan kesal, bukan ini yang Rain harapkan. Mendengar Annisa yang ingin kembali ke rumahnya setelah beberapa hari tidak pulang membuat kabar bahagia untuk Rain, bahkan Rain rela pulang lebih awal hanya untuk bertemu Annisa.


Perasaan senang pun berubah menjadi amarah tak kala Annisa justru meminta dan memohon pada nya untuk kembali kerumah dan bahkan membicarakan hutang yang jujur Rain saja sudah lupa dan mungkin akan melupakan hal itu selamanya.


" Terserah kau saja " ucap Rain lalu pergi meninggalkan Annisa.


Annisa kira Rain akan marah, namun ternyata tidak. Rain justru dengan mudahnya mengatakan terserah. Seharusnya Annisa bahagia mendengar akan hal itu, tapi entah mengapa hati Annisa terasa janggal. Tak lama Rain masuk kedalam , Annisa pun ikut juga kembali ke dalam apartemen.


Annisa tidak melihat Rain, Annisa memandang sejenak ke arah kamar Rain lalu kemudian ke dapur. Di atas meja makan tergeletak beberapa kantong plastik, dan saat Annisa lihat di dalamnya terdapat bermacam makanan dan kebanyakan semua adalah makanan kesukaan Annisa.


Annisa kembali melihat ke arah kamar Rain, " apa mungkin ini waktu yang tidak tepat untuk ku bicara, tapi.. tidak,aku yakin ini sudah tepat. Rain juga pasti senang jika aku tidak lagi tinggal bersama nya " batin Annisa.


Rain saat ini berada di dalam kamar mandi, ia berdiri di bawah shower dan membiarkan tubuhnya basah di bawah kucuran air. Entah mengapa mendengar Annisa ingin pergi dan tidak lagi tinggal bersama nya membuat Rain begitu marah dan kesal.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2