
Rintik-rintik hujan mulai turun , membuat Annisa semakin mempercepat langkahnya sembari berteriak memanggil Arkana.
" Arkana..."
" Arkana.."
" Arkana..."
Annisa terus memanggil nama Arkana , berharap Arkana mendengar suaranya.
Hujan turun semakin deras dan membasahi tubuh Annisa. Annisa terus berjalan mencari Arkana, tidak peduli dengan tubuhnya yang basah dan hawa dingin yang perlahan menusuk tubuhnya.
Semakin jauh Annisa berjalan, semakin Annisa tersesat , Annisa benar-benar tidak berpikir panjang. Yang ada di pikirannya hanya bagaimana ia bisa menemukan Arkana. Annisa tidak tahu bahwa banyak bahaya yang menunggunya di dalam hutan tersebut.
Sama halnya dengan Rain, Rain juga terus berjalan menyusuri hutan untuk mencari Annisa. Tidak peduli dengan hujan yang terus turun dengan lebatnya. Dan tidak peduli dengan luka yang terasa perih saat air hujan mengenai pergelangan tangannya.
Rain mengambil ranting pohon lalu mematahnya, ujung ranting pohon yang tajam ia pakai untuk menggores pohon kayu sebagai tanda agar ketika kembali ia tidak tersesat dan bisa mencari jalan keluar dengan melihat tanda tersebut.
" Arkana.."
" Arkana.."
" Arkana.."
Annisa merasa putus asa, sudah cukup jauh berjalan , Annisa tidak melihat tanda - tanda dari Arkana. Perasaan Annisa semakin tak tenang.
" Astaghfirullahadzhim "
Jalanan yang licin membuat Annisa terpeleset sampai membuat Annisa terduduk di tanah. Hal itu membuat tangisan Annisa tumpah.
" Hiks...hiks..hiks.."
Annisa menangis bukan karena sakit setelah terpeleset, melainkan karena hati nya yang resah, dan pikirannya yang kalut memikirkan Arkana.
" Arkana kamu dimana nak ? hiks..hiks..hiks.. "
Annisa menangis sesegukan sembari menunduk , Annisa tidak tahu kalau dari kejauhan ada yang melihatnya dan menghampirinya saat ini.
Dan saat mendongakkan kepalanya, Annisa terkejut melihat seekor harimau yang tengah berdiri tak jauh di depannya, menatap penuh lapar dan siap melahap Annisa.
__ADS_1
Perlahan Annisa berdiri dengan pandangan yang terus menatap harimau di depannya. Annisa berusaha tenang , dan menunggu waktu yang tepat Annisa pun berlari sekuat tenaga untuk menghindar dari harimau.
Melihat Annisa berlari, tentulah harimau tersebut mengejar Annisa dengan mengeluarkan suara Auman nya yang cukup keras.
Rain yang sedang berjalan tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mendengar suara auman Harimau. Tidak berpikir panjang, Rain berlari untuk mencari sumber suara tersebut.
Annisa terus berlari dan akhirnya terperojok , kini ia berada di depan jurang yang cukup dalam. Annisa tidak memiliki jalan lagi untuk menghindari Harimau tersebut.
" Ya Allah apa yang harus aku lakukan " batin Annisa.
Harimau yang tadi mengejarnya kini berada di depan Annisa dan siap menerkam Annisa. Annisa hanya bisa pasrah lalu menutup kedua matanya. Dan saat itu pula Rain langsung berlari ke arah Annisa , memeluk Annisa dan mereka berdua terjun ke dalam jurang tersebut.
Harimau yang tadi ingin menerkam Annisa hanya bisa mengaum dan melihat ke bawah jurang. Dan tak lama harimau itu pun pergi.
Rain dan Annisa terguling - guling, Rain memeluk Annisa dengan kuat agar Annisa tidak terlepas dari nya dan berusaha sekuat mungkin melindungi Annisa agar tubuh Annisa tidak mengenai benda-benda tajam dan batu saat mereka terguling dan terhempas kuat menuruni jurang tersebut.
Rain dan Annisa berada di dasar jurang, posisi Rain berada di atas tubuh Annisa. Rain mendekap erat tubuh Annisa, dan perlahan Rain mengangkat kepalanya lalu melihat Annisa yang wajahnya masih tertutup dengan cadar yang Annisa pakai.
Annisa masih saja terpejam, ia merasa kalau dirinya sudah mati dan ia tidak membuka kedua matanya.
" Annisa...Annisa... "
" Apa aku sudah mati ya Allah, tapi kenapa saat ini suara Mas Rain yang terdengar " batin Annisa.
" Annisa..sadar..Annisa... "
Rain tampak khawatir dan berusaha membangunkan Annisa, Annisa berada di pangkuan Rain saat ini.
" Itu suara Mas Rain, aku tidak salah dengar " batin Annisa.
Annisa pun perlahan membuka kedua matanya, dan benar saja sepasang mata mereka saling bertemu, Annisa melihat Rain yang tersenyum kepadanya.
" Alhamdulillah, kamu baik-baik saja " ucap Rain.
Barulah Annisa tersadar setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Rain. Annisa pun segera bangkit dan ia baru sadar kalau ia berada di pangkuan Rain saat ini.
" Mas Rain "
Annisa menjauh dari Rain, Rain tampak bingung dengan sikap Annisa.
__ADS_1
" Kamu benar baik-baik saja ? apa ada yang sakit ? " tanya Rain masih mengkhawatirkan Annisa.
" Ba..ba..gaimana Mas Rain ada di sini ? " tanya Annisa.
" Kata Abah Rahman kamu masuk ke dalam hutan, jadi aku mencari mu " jawab Rain.
" Mencariku...?? kita harus mencari Arkana sekarang "
Annisa berusaha berdiri dan berniat untuk kembali mencari Arkana.
" Arkana bersama Abah Rahman, Arkana baik-baik saja Annisa "
Annisa menghentikan langkahnya mendengar ucapan Rain , lalu berbalik badan melihat ke arah Rain.
" Baik-baik saja ? Mas Rain yakin ? Arkana baik - baik saja ? " Annisa begitu merasa senang mendengar kondisi putranya.
" Iya benar, dia bersama Abah dan warga "
" Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah "
Kedua mata Annisa tampak berkaca-kaca, ia begitu senang mendengarnya.
" Kalau begitu kita harus segera pergi dari sini Annisa, bisa saja Harimau tadi akan kembali untuk menyerang kita " ucap Rain lalu berjalan terlebih dahulu dari Annisa.
Annisa hanya diam saat Rain berjalan mendahului nya, Annisa tidak yakin apa dirinya harus mengikuti Rain.
Rain yang sadar kalau Annisa diam saja pun berbalik badan dan melihat Annisa yang masih mematung.
" Kenapa kamu berdiam diri di sana ? kita harus segera pergi dari sini " ajak Rain.
Annisa kembali diam dan tak bergerak sedikitpun . Sejenak Rain mengerti kenapa Annisa hanya diam saja dan tidak ikut berjalan bersama nya. Rain berjalan mendekati Annisa.
" Kalau kamu tidak ingin ikut bersama ku, maka aku akan tetap di sini bersamamu "
Annisa tampak tersentuh dengan ucapan lembut yang keluar dari mulut Rain, dan sikap Rain kali ini benar - benar di luar dugaan Annisa. Annisa kira , Rain akan marah kepadanya karena Annisa yang begitu keras kepala dan tidak mau ikut bersama nya, namun kali ini justru Rain memperlihatkan sikap lembut dan mengalah nya kepada Annisa.
" Baiklah kita pergi " ucap Annisa lalu berjalan terlebih dahulu dari Rain. Melihat sikap Annisa membuat Rain tersenyum.
Sepanjang jalan menyusuri hutan, hanya keheningan yang terjadi di antara Annisa dan Rain. Padahal di pikiran kedua nya saling memikirkan satu sama lain. Annisa yang sebenarnya penasaran dan ingin bertanya mengenai apa yang terjadi dengan lengan Rain dan juga bagaimana Rain bisa tahu kalau Arkana ada bersama Abah Rahman, padahal saat itu Annisa jelas tidak melihat Rain bersama mereka.
__ADS_1
Dan Rain juga sebenarnya memikirkan Annisa, ia begitu senang dan rasa rindu nya terbalas karena sudah lama sekali tidak melihat Annisa, bahkan di saat kondisi seperti ini Rain mengucapkan syukur karena ia jadi punya banyak waktu bersama Annisa.