
Hati Ratu masih berbunga-bunga mengingat kejadian di dalam kelas bersama Raja. Pikiran Ratu sekarang pun tidak bisa menyerap pelajaran yang sedang berlangsung. Rini, teman sebangkunya menatap heran ke arah Ratu yang diam. Temannya itu justru terlihat senyum-senyum sendiri.
"Ratu, Ratu, Ratu," panggil Rini dengan menyenggol siku Ratu dengan sikunya.
Ratu tersentak dan kesal kepada Rini, "Apaan sih lo?"
Rini memberikan kode mata kepada Ratu, sang guru ternyata sedari tadi memanggilnya.
"Ratu!"
Ratu melirik ke arah guru dengan sangat ragu. Sang guru memerintahkan kepada Ratu untuk menjawab soal yang sudah tertulis di papan tulis. Ratu tersenyum kikuk, dirinya mencoba meminta bantuan kepada teman sebangkunya.
"Rini, gimana ini, gue gak tahu," bisik Ratu.
Sang guru memang sedari tadi sudah melihat Ratu tak fokus saat pelajaran, dengan sedikit kesal guru tersebut memerintahkan Ratu untuk keluar kelas dan tidak bisa mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung. Ratu hanya bisa menghela napas panjang dan pasrah dihukum untuk keluar kelas.
Merasa bosan, Ratu pergi ke toilet untuk membasuh mukanya, ini karena gue mikirin Raja. Ratu menepuk keningnya merasa bodoh pada dirinya sendiri.
"Sepertinya emang gue suka sama Raja."
Ratu berjalan ke toilet. Langkahnya terhenti tepat di depan ruangan tempat penyimpanan peralatan kebersihan yang tidak terlalu besar. Ada suara benda jatuh di dalam sana, merasa penasaran Ratu perlahan menarik tuas pintu tanpa menimbulkan suara.
Saat pintu sedikit terbuka Ratu kembali dikejutkan dengan suara lain, Ratu mengintip lalu membelalakan matanya serta menutup mulutnya untuk tidak berteriak.
Ratu melihat dua orang yang sangat dia kenal sedang bercumbu mesra, bahkan kancing seragam milik siswi itu sudah terbuka semua. Ratu mengambil ponselnya di saku rok sekolahnya, dengan hati-hati. Ratu mengarah kamera belakang ponselnya ke arah dua murid tersebut lalu merekam apa yang mereka berdua telah lakukan.
Ratu benar-benar syok dengan apa yang ia lihat, kedua murid itu bahkan sampai melakukan hubungan layaknya suami istri, mereka benar-benar berani melakukan hal itu di lingkungan sekolah.
Ratu segera mematikan kamera ponselnya dan pergi dari depan ruangan itu diam-diam. Ratu langsung masuk ke dalam toilet dan membasuh mukanya.
"Gila mata gue ternodai." Ratu berulang kali membasuh mukanya lalu menarik napas panjang kemudian membuangnya. Ratu melakukan itu berkali-kali untuk menetralkan perasaannya.
Kleek
Ratu mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan melihat Suci masuk ke dalam toilet. Suci terkejut melihat Ratu sedang menatapnya, namun Suci mencoba untuk biasa saja.
"Ngapain lo di sini?" tanya Suci jutek.
"Menurut lo gue ngapain di toilet?" tanya balik Ratu.
Suci mendengus kesal, "Lo mending jauhin Raja, gue gak suka lo deket-deket sama dia."
Ratu terdiam, dalam hatinya ada gejolak amarah yang luar biasa, yang siap meledak kapanpun.
__ADS_1
"Meski lo sekarang jadi adiknya Raja, tapi gue gak percaya secara kalian berdua gak ada hubungan darah sama sekali," ucap Suci tanpa melihat ke arah Ratu.
Suci sedang merapikan rambut serta seragamnya. Suci melirik ke arah Ratu, ia tahu kalau Ratu sudah mulai kesal. Suci merasa senang karena sudah berhasil menguasai Raja.
"Udahlah, gak guna juga gue ngomong sama lo." Suci berjalan melewati Ratu. Namun langkahnya terhenti saat Ratu tiba-tiba mengeluarkan kata- kata yang tak Suci mengerti.
"Gue gak nyangka sama lo Ci. Kelakuan lo gak sama kaya nama lo."
Suci mengerutkan keningnya, "Apa maksud lo?"
"Lo harusnya tahu jelas maksud gue apa, pecun."
Setelah mengatakan itu, Ratu keluar dari toilet dengan membuka pintu sedikir keras. Di dalam toilet Suci sedang memikirkan apa yang sudah Ratu katakan padanya. Rasa khawatir menyelimuti hati Suci.
"Gue gak akan ngebiarin lo jauhin Raja dari gue," guman Suci.
Ratu kembali ke depan kelasnya menunggu sampai jam pelajaran itu selesai. Ratu melihat jam di ponselnya, satu setengah jam lagi jam pulang sekolah. Dan akhirnya setelah menunggu selama setengah jam, pelajaran itu selesai bersamaan dengan bel tanda pulang. Jam pelajaran sudah selesai semua murid berhamburan keluar sekolah untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Ratu, gue duluan ya, lo hati-hati bawa mobilnya," ucap Rini kepada Ratu.
Ratu tersenyum sumringah mendengar perhatian dari Rini, "Eeeem … Rini baik banget deh sama gue, sayang gue bukan cowok, kalo cowok udah gue pacarin deh lo Rin," gurau Ratu.
Rini memutar bola matanya jengah, Rini tak menyangka ternyata Ratu anak yang mudah bergaul dengan siapa aja. Saat pertama kali melihat Ratu, Rini mengira kalau Ratu anak yang sombong dan angkuh, tetapi siapa sangka ternyata Ratu anaknya mudah di dekati dan sangat baik menjadi seorang teman.
"Ja, lo mau jalan ya sama Suci." Ratu mengerutkan keningnya saat tak mendapati jawaban dari Raja. Malah yang Ratu lihat wajah tak bersemangat Raja.
"Ja, lo kok gak jawab pertanyaan gue?'' Ratu mulai kesal.
Raja memandang wajah Ratu, "Gak, Dek, Suci ada urusan." Raja memakai tasnya. "Balik yuk," ajak Raja.
Raja berjalan mendahului Ratu, Ratu kesal dan merasa kasihan melihat Raja seperti itu.
Ratu melihat Suci akan keluar dari ruangan osis, dengan segera Ratu menahannya dan mendorong Suci untuk masuk ke dalam ruangan itu. Ratu mengunci dirinya sendiri serta Suci di ruangan osis.
"Apa-apaan lo Ratu?" tanya Suci. Terlihat jelas wajah ketidaksukaan Suci terhadap Ratu.
"Gue tahu selama ini lo udah bohongin Raja, iya, 'kan?"
"Gue gak ngerti lo ngomong apa, minggir gak." Suci mendorong tubuh Ratu dan berjalan ke arah pintu.
"Gue bakal rebut Raja dari lo," ucap Ratu.
Suci berhenti dan berbalik ke arah Ratu, "Gue udah duga lo suka sama Raja, tapi lo tahu kan Raja cinta mati sama gue. Jadi mending lo berhenti dari sekarang, sebelum lo sakit hati."
__ADS_1
Suci tersenyum remeh kepada Ratu lalu keluar dari ruangan osis.
Ratu menahan mati-matian amarah yang siap meledak di dalam dirinya setelah Suci pergi meninggalkan dirinya di ruang osis. Ratu menarik napas dalam-dalam untuk meredam amarahnya.
Setelah Ratu mulai tenang, ia keluar dari ruang osis dan berjalan menuju parkiran sekolah dimana mobilnya terparkir.
Sesampainya di parkiran sekolah, Ratu masuk ke dalam mobil, duduk di bangku kemudi, menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan area sekolah menuju apartemennya.
Rasa kesal Ratu kembali datang saat melihat jalanan yang ia lalui sangat padat. Ratu menempelkan keningnya ke gagang setir merasa lelah menunggu mobil di depannya yang tak kunjung melaju.
Hari Sabtu adalah hari yang melelahkan.
Ratu kembali melajukan mobilnya setelah mobil-mobil di depannya sudah melaju. Beruntung tidak ada kemacetan lagi, membuat Ratu sampai dengan cepat ke apartemennya.
Ratu melepaskan sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya sebelum keluar dari dalam mobil. Ratu mulai berjalan meninggalkan area parkir bawah tanah menuju lift yang akan mengantarkannya ke unit apartemennya.
Ratu menekan tombol passcode saat ia sudah sampai di depan pintu apartemennya. Saat Ratu masuk, ia melihat Raja duduk sambil menonton TV dengan tidak semangat.
Ratu tahu alasannya, pasti Suci. Ratu tidak akan lagi mementingkan perasaan Raja kepada Suci, Ratu tahu kalau Suci sudah membohongi Raja, apalagi dengan mata kepalanya sendiri Ratu melihat Suci melakukan hal hina di sekolah bersama Alan.
Ratu mendekati Raja dan duduk di sebelahnya, membuat Raja terkejut. "Ja, jalan-jalan yuk!" ajak Ratu.
"Maleslah, Dek."
"Ish … Raja mah gak asik, gue bilangin daddy Gun loh," ancam Ratu.
Raja menghela napas panjang, ia tahu Ratu sedang dalam mode manja. "Oke, mau jalan kemana, Dek?"
"Ke mana aja, anggap aja kita kencan."
Raja pasrah dengan kemauan Ratu, setelah dipikir-pikir dari pada diam di apartemen mending keluar mencari udara segar.
"Yuk, kita siap-siap."
"Oke." Ratu memperlihatkan jarinya membentuk huruf o.
Satu jam kemudian keduanya telah siap, Ratu tertegun saat melihat betapa mempesonanya suaminya.
"Ja, kok bawa helm?" tanya Ratu.
"Kita naik motor aja yah, Dek."
Ratu sangat bersemangat mendengar itu, menaiki motor berdua bersama Raja.
__ADS_1
Dengan semangat Ratu berlari kembali ke kamarnya untuk mengambil jacket.