Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
Penculikan Ratu


__ADS_3

Raja sedang berkumpul bersama teman-temannya di lapangan sekolahnya. Menggunakan seragam olahraga yang di dominasi warna biru, Raja sedang melakukan pemilihan anggota baru tim basketnya serta kapten tim basket yang baru.


Raja yang sudah berada di akhir sekolah ingin fokus pada ujian akhir sekolahnya. Bukan hanya itu, sudah 2 Minggu ini Raja sudah mencoba untuk bekerja paruh waktu di salah satu restoran milik sang ibu mertua. Rasa lelah sering kali ia rasakan. Namun, ia juga harus bertanggung jawab atas statusnya yang sekarang, menjadi suami dari seorang Ratu Amelia Wijaya.


Raja merasa malu kalau harus terus-menerus menerima uang bulanan dari sang ayah, meski nantinya semua harta itu akan menjadi hak penuh atas dirinya, karena ia anak tunggal dari Gunawan.


Saat Raja dan anggota tim basket lainnya sedang serius melakukan penilaian pada siswa yang sudah mendaftar diri, Alan dan teman-temannya datang ke lapangan basket itu. Pasti dia ingin mengacau.


"Gaes, lihat! Sang Raja Adi Gunawan, dia kayaknya udah gak sanggup mimpin tim basket kita," ledek Alan.


Raja masih tak memperdulikan ocehan Alan. Ia memilih untuk fokus pada kegiatannya.


"Raja, kenapa lo susah-susah buat bikin audisi seperti ini? Lo liatkan banyak anggota tim basket yang ikut sama gue?"


Tim basket sekolah Raja memang pecah, banyak yang ikut ke kubu Alan, itu juga karena sebuah sogokan uang.


"Iya, Ja. Mending lo langsung aja kasih jabatan tim basket itu kembali ke Alan," ucap salah satu teman Alan yang berdiri di samping Alan.


"Dan itu berarti lo pada siap-siap terima kekalahan terus-menerus." Raja tersenyum miring mendengar ucapan Aldo.


"Diem lo, Aldo. Lo mau aja jadi kacungnya Raja, pengin numpang tenar?"


Aldo bisa melihat rasa kesal di mata Alan, tetapi justru itu membuat Aldo tertawa.


"Berarti lo udah ngakuin kalo Raja memang lebih tenar dari pada lo?" balas Aldo, disambut gelak tawa siswa yang berada di kubu Raja.


Rasa kesal di diri Alan sudah tak terbendung, ia dan teman-temannya menghampiri Aldo dan menarik seragam basketnya. Melihat itu para siswa yang ada di kubu Raja dengan sigap menghadang Alan dan teman-temannya. Seketika lapangan basket itu siap menjadi area fight bagi mereka.


"Woy, santai!" Raja berusaha menengahi. Raja berjalan ke tengah-tengah, memisahkan Aldo dan Alan. Raja membelakangi Aldo dan menghadap ke Alan.


"Lo!" Raja menunjuk Alan dengan jari telunjuknya, "Kalo mau jadi ketua tim basket, kalahin Radit." Semua orang melihat ke arah Radit, anak kelas 11 yang ikut mendaftar menjadi anggota tim basket.


"Gue, Kak?" Radit menunjuk dirinya sendiri.


Raja mengangguk. "Kalo lo bisa ngalahin Alan, gue bakalan langsung jadiin loe ketua tim basket sekolah ini, gantiin posisi gue," ucap Raja pada Radit. " Dan lo, Alan ... kalo lo menang lawan Radit, jabatan ketua tim basket gue balikin ke lo!" Raja menatap Alan dengan senyum miringnya.


"Lo gak salah nyuruh gue lawan tuh anak bau kencur kaya dia?" Alan menunjuk Radit dengan jari telunjuknya yang langsung membuat Raja mengangguk. "Lo sudah ngakuin kekalahan lo, Raja!" Alan tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Jangan sombong, buktiin aja dulu." Raja dan Aldo menyuruh semua orang minggir ke lapangan, kecuali Radit dan Alan.


"Kalahin si anak sombong itu," perintah Raja pada Radit. Raja pu menepuk sebelah pundak adik kelasnya.


"Siaap, Kak." Raja dan Radit pun bertos dengan mengadu kepalan tangan mereka dan tersenyum tipis.


Raja menjadi wasit di pertandingan itu, Raja memegang bola di tangannya berdiri di antara Radit dan Alan.


"Siap lo berdua?" tanya Raja menatap Alan dan Radit secara bergantian.


Alan dan Radit mengangguk bersama-sama, setelah itu Raja melambungkan bola basket di tangannya. Detik itu juga pertarungan antara Radit dan Alan dimulai.


Di saat awal pertandingan Radit terlihat kewalahan menghadapi permainan Alan. Rasa khawatir terselip di hati Aldo, tetapi Raja nampak tenang.


"Ja, lo gak salah, pilih Radit?" tanya Aldo pada Raja.


Raja menyeringai, "Lo liat aja nanti." Raja sebenarnya sudah sering memperhatikan Radit saat bermain basket di sekolah dan menurutnya, Radit bisa menggantikan posisinya karena permainannya bagus. Maka dari itu Raja sengaja mengajak Radit untuk ikut audisi tim basket yang baru.


Aldo mengangkat satu alisnya, ia tak tahu apa yang ada di kepala Raja. Ia hanya tak rela jika Alan menjadi ketua tim basket lagi, karena jika iya, pasti Alan bakal semena-mena pada anggota tim basket lainnya, seperti yang dulu ia pernah alami. Namun, Aldo mencoba untuk percaya pada sahabatnya itu, ia yakin Raja tak akan main-main jika menyangkut masalah basket.


Terdengar kembali tepukan tangan dari teman-teman Alan karena dia berhasil memasukkan bola kembali.


Namun Radit membalasnya dengan santai. "Gue hanya mencoba untuk berbaik hati memberikan lo sedikit kemenangan," balasnya.


Kemarahan di diri Alan sudah memuncak. Keduanya kembali berebut bola. Dan kini Radit benar-benar menyerang balik Alan, membuatnya kalah telak dengan selisih poin yang sangat jauh.


Raja dan teman-temannya menghampiri Radit dan Alan begitu juga dengan teman-teman Alan.


"Ngadepin Radit aja lo kalah, mau sok-sokan jadi ketua tim basket lagi." Aldo membuka suara dan ditanggapi senyuman tipis oleh teman-temannya.


"Jadi, Lan ... lo kalah. Sesuai perjanjian, Radit yang bakal ganti posisi gue," ujar Raja.


"Gue bakal bales ini, Raja," ancam Alan.


"Terserah. Dan satu hal lagi Alan ... jika lo berani ngelukain temen-temen gue lagi, gue bakal bikin perhitungan sama lo." Raja mengancam balik Alan.


Raja dan Alan saling pandang dengan tatapan penuh kebencian.

__ADS_1


Alan menyeringai licik, ia menyuruh teman-temannya untuk pergi dari lapangan basket itu.


"Selamat, Dit. Gue gak salah milih lo buat jadi ketua tim basket," ucap Raja.


"Thank, Kak!" ucap Radit.


Raja dan Aldo berada di ruang ganti di sekolahnya, setelah acara pemilihan ketua tim basket yang baru selesai, keduanya bersiap untuk pulang. Keduanya berniat untuk mengunjungi Egi di rumahnya.


Dering ponsel Raja menghentikan langkah Raja saat akan keluar dari ruang ganti. Raja melihat nomer ponsel yang tertera di layar, Raja mengerutkan keningnya. Meskipun tak ada nama, tetapi Raja tahu itu nomer mantan pacarnya, Suci.


Aldo melihat Raja tak berminat untuk menerima panggilan itu, ia pun penasaran siapa yang menghubungi Raja berkali-kali.


"Siapa, Ja?" tanya Aldo.


"Bukan siapa-siapa kok," jawab Raja.


"Angkat, Ja! Barangkali itu telpon penting, gak mungkin kan dia sampe nelpon gak berhenti-berhenti," suruh Aldo.


Raja sebenarnya malas untuk menerima panggilan dari Suci, tetapi ada benarnya juga kata Aldo, gak mungkin Suci menghubungi dirinya seperti itu kalau tak ada yang penting.


Dengan sedikit ragu dan malas, Raja akhirnya menerima panggilan Suci.


"Raja, kenapa kamu lama banget ngangkat telponnya?" Terdengar suara Suci panik dari seberang sana.


"Kenapa loe ngehubungin gue lagi, gue males ngomong sama lo," ucap Raja.


"Ja, aku lagi ngikuti Alan, dia bawa Ratu secara paksa."


"Apa? Lo lagi gak becanda, 'kan?"


"Jangan banyak nanya Raja, cepetan! Aku bakalan shareloc ke loe, buruan aku gak tahu apa yang bakalan dilakukan Alan ke Ratu."


Raja langsung mematikan ponselnya, ia benar-benar marah. "Ba*****t!" umpat Raja. Raja segera mematikan sambungan teleponnya dengan Suci.


Aldo terkejut mendengar umpatan Raja, "Kenapa, Ja?" tanya Aldo


"Alan nyulik Ratu dan sekarang Suci lagi ngikutin mereka."

__ADS_1


Aldo membelalakan matanya, lalu ia mengejar Raja yang sudah berlari menuju parkiran sekolah.


Mohon tinggalkan jejak kalian, like,rate, favorit,vote dan komentarnya.


__ADS_2