Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 106


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Raja masuk ke area rumah sakit yang diberitahukan oleh Egi. Suci langsung keluar dari mobil tanpa mau menunggu yang lainnya.


"Suci!" panggil Ratu.


Suci tidak mendengarkan panggilan dari Ratu maupun Raja. Ia memilih terus berlari untuk mencari keberadaan suaminya.


"Raja, mending lo susul Ratu sama Suci. Biar gue yang parkirin mobil sama jagain baby Al," ucap Egi.


"Oke, gue titip baby Al," ucap Raja dan Egi langsung menganggukinya.


Raja keluar dari mobil dan mengejar istri serta saudara iparnya. Raja mengambil ponsel dari saku celananya untuk menghubungi Ratu.


"Kenapa tidak diangkat?"


Beberapa detik kemudian ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya dan ternyata dari Ratu. Raja mulai membaca pesan Ratu dan terkejut melihat isi pesan itu. Segera Raja melangkah cepat menuju tempat yang diberitahukan oleh Ratu.


"Dek ...." Raja menghentikan perkataannya setelah melihat Suci sedang menangis di tepi tempat tidur rumah sakit.


"Alan meninggal, Yank." Ratu berjalan mundur dan kehilangan keseimbangan tubuhnya. Beruntung Raja langsung menahan tubuh Ratu agar tidak jatuh ke lantai.


"Sabar, Dek." Raja ikut menitihkan air matanya melihat keadaan Suci dan Ratu.


*****


Pada esok harinya


Proses pemakaman Alan sudah disiapkan. Semuanya sangat terpukul dengan hal itu. Tidak ada yang menduga jika Alan akan pergi secepat itu. Suci bahkan berulang kali jatuh pingsan dan terpaksa harus dibawa ke rumah sakit mengingat kondisinya yang sedang hamil.


"Aku yang akan temani Suci di rumah sakit," ucap Rini.


"Iya, sekalian sama lo, Ngga. Lo temenin istri lo," sambung Egi.


Ambulan yang akan membawa jenazah Alan sudah siap. Keranda berisikan jenazah Alan pun diangkat dan di masukan ke dalamnya. Ratu tidak berhenti untuk menangis dan terisak di pelukan ibunya. Meskipun ia dan Alan pernah berseteru, tetapi setelah dua tahun itu, Alan menjadi kakaknya yang sangat baik dan itu yang menyebabkan Ratu begitu terpukul akan kejadian itu. Tangisan semua orang pecah saat ambulan yang membawa jenazah Alan berangkat dengan membunyikan sirine nya.


"Sabar ya, Nak. Ikhlasin Alan," ucap Anita seraya mengusap lengan anaknya, Ratu.


Malam pun tiba, proses pemakaman dan tahlilan pada malam harinya selesai. Banyak pelayat yang sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing.


"Ratu, Nak ...," panggil Mahendra.


"Iya, Papi," sahut Ratu. Ratu yang baru keluar dari kamar baby Al berjalan menghampiri ayah tirinnya. "Ada apa, Pih?"


"Baby, Al sudah tidur?" tanya Mahendra.


"Sudah," jawab Ratu seraya menitihkan cairan bening dari matanya.


Bagaimana Ratu tidak menangis jika teringat akan kondisi baby Alvin. Sehari semalam anak itu menangis seolah tahu jika ayahnya meninggalkan dirinya untuk selamanya.

__ADS_1


"Kamu juga istirahat, jaga kondisi kamu jangan sampai sakit," ucap Mahendra.


"Papi juga." Ratu memeluk ayah tirinya dan tangisan itu kembali pecah begitu saja.


"Sudah, Nak. Ikhlasin Alan, biar dia tenang di alam sana," ucap Mahendra diangguki oleh Ratu meski masih dengan isak tangisnya.


Saat Ratu tengah menangis di pelukan Mahendra, Raja datang dan menghampiri mereka. Mahendra pun meminta Raja untuk membawa Ratu untuk beristirahat di kamar mereka.


"Bawa istri kamu ke kamar, biarkan dia beristirahat," suruh Mahendra.


Raja mengangguk lalu membawa Ratu ke kamar mereka. Ratu masih berdiam diri terhadap suaminya karena masalah foto yang ia lihat di sosmed dan Raja pun merasakan sikap diamnya istrinya. Namun, Raja belum mengetahui apa alasan istrinya marah kepadanya.


"Kamu istirahat ya," suruh Raja.


Ratu tidak merespon apapun. Ratu merebahakan dirinya dengan posisi membelakangi Raja.


Raja sudah tidak tahan dengan sikap Ratu selama sehari semalam itu. Raja naik ke atas tempat tidur dan ikut merebahkan dirinya di belakang tubuh Ratu.


"Kamu kanapa, Dek? Sikap ku aneh sama aku dari semalam." Raja bertanya seraya mengusap kepala istrinya.


Ratu diam dan tidak berminat untuk bicara dengan Raja, suaminya.


"Dek, please ... jangan seperti ini. Kalau aku memang ada salah ... kamu ngomong sama aku, jangan diamin aku kaya gini," mohon Raja.


Ratu mengubah posisi tidurnya. Ia membalik tubuhnya menghadap ke arau suaminya.


Raja mengambil napas berat. "Kamu benar ingin tahu?"


"Aku berhak untuk tahu." Ada kemarahan dalam nada bicara Ratu.


"Oke, tapi setelah kamu tahu ... tolong jangan salah paham," pinta Raja.


Setelah Ratu mengangguk, Raja menarik napasnya untuk mengumpulkan keneraniannya untuk menceritakan masalalunya dengan Megan, calon ibu tirinya.


"Aku dan Megan pernah menjalin hubungan, jauh sebelum perjodohan kita. Tap tidak berlangsung lama, karena Megan pindah ke luar negeri. Pada saat itu aku pernah berjanji akan menunggunya, tapi sumpah, Dek ... janji itu hanya omong kosong agar dia mau pergi, " jelas Raja.


"Lalu?"


"Kemarin saat di kantor dia mengatakan akan menghancurakan hubungan kita melalui papa," ujar Raja. "Dia ingin meminta pertanggungjawaban padaku atas apa yang tidak pernah aku dan dia lakukan?"


"Maksud kamu ... kaku dan Megan pernah melakukan hubungan terlarang?" tanya Ratu dengan nada penuh emosi.


"Hampir, dan Megan pun tahu. Kami tidak pernah melakukan apapun," jawab Raja.


"Kamu gak bohong, 'kan?"


"Sumpah, Dek. Kamu perempuan pertama aku."

__ADS_1


Ratu menatap mata Raja untuk mencari sebuah kebohongan di sana. Namun, Ratu tidak menemukannya.


"Aku percaya, Yank."


Memang harusnya Ratu percaya pada suaminya, mengingat Raja mampu mengendalikan dirinya ketika bersama dirinya.


"Terimakasih atas kepercayaan kamu padaku, Dek," ucap Raja dibalas anggukan kepala oleh Ratu.


"Kamu tahu aku dan Megan pernah punya hubungan dari mana?" tanya Raja.


"Aku gak sengaja lihat di sosmed dan ada mengirim foto melalui pesan aplikasi pada ku," jawab Ratu.


"Jadi ini alasan kamu diamenin aku dari kemarin?" tanya Raja dan Ratu langsung mengangguk.


Raja menggenggam tangan, membawanya ke hadapannya untuk ia kecup punggung tangannya.


"Maaf ya, Dek. Aku takut untuk menceritakan ke kamu tentang semua itu. Aku takut jika kamu nantinya kepikiran terus dengan masalalu aku dan Megan," tutur Raja. "Tapi satu hal yant harus kamu tahu, aku sama sekali tidak pernah mencintai Megan. Aku hanya sekedar main-main dengan perempuan itu."


"Aku percaya, Yank. Aku minta maaf ya, harusnya aku tidak bersikap seperti kemarin dan saat ini padamu. Harusnya aku tidak marah sebelum aku mendengar penjelasan dari mu." Ratu pun mengecup punggung tangan Raja.


"Tidak apa-apa, Dek." Ada tarikan napas lega setelah menceritakan itu pada Ratu.


"Sekarang kamu tidur dan jangan mikir yang macam-macam," Suruh Raja.


Ratu mengangguk, "Tapi temenin aku ya."


"Iya, Sayangku." Raja menarik hidung Ratu karen merasa gemas jika istrinya sedang dalam mode manja.


Raja mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang dan membiarkan istrinya memeluk dirinya dan menjadikan pundaknya sebagai bantal oleh istrinya. Raja pun melingkarkan tangannya ke leher sang istri agar bisa mengusap kepala istrinya.


"Yank ...," panggil Ratu.


"Ada apa?" tanya Raja.


"Aku tidak sanggup untuk membayangkan kehidupan Suci seterusnya tanpa adanya Alan di sisi-nya," ucap Ratu.


"Tapi masih ada kita dan semuanya. Dia wanita yang kuat, pasti dia bisa melalui semua itu," tutur Raja dibalas anggukan Ratu.


"Sekarang yang harus kita pikirkan juga adalah mencari cara agar dady tidak terjebak dengan perempuan nakal itu dan juga agar perempuan itu tidak mengganggu hubungan kita," ujar Ratu.


"Iya, Dek. Aku gak rela jika papa nikah sama perempuan yang tidak baik seperti dia," ucap Raja.


Raja mengecup kening istrinya lalu menghapus jejak air mata yang yang hampir mengering.


"Kamu harus selalu ingat ini, Dek ... aku sangat mencintai kamu," ucap Raja.


"Aku juga sangat sangat mencintai kamu, Yank."

__ADS_1


Mipil Up,


__ADS_2