Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 59


__ADS_3

Mohon dukungannya......


Happy reading.......


Anita yang sedang berada di rumah mantan mertuanya Murti dan Bagus, terkejut saat mendapat chat dari Gunawan. Chat itu berisi rekaman percakapan antara dua orang yang sangat ia kenal. Raja, menantunya dan Citra, keponakannya.


Gunawan tak sengaja mendengar pembicaraan dari sambungan telepon nya bersama Raja. Raja tak sadar jika sambungan teleponnya masih tersambung dengan papanya saat Citra datang ke kamarnya. Gunawan yang mendengar ketegangan antara Raja dan Citra, Gunawan berinisiatif untuk merekam semua pembicaraan antara Raja dan Citra. Gunawan melakukan itu karena takut kalau anak tunggalnya akan mendapat masalah setelah itu. Dan benar saja, anaknya sedang mendapat amukan dari Agung, papanya Citra.


Setelah Anita mendapat laporan dari Agung atas apa yang dilakukan Raja kepada Citra, Anita, Mahendra, Alan, dan Suci serta kedua mantan mertuanya melesat menuju rumah lamanya. Anita meminta agar Agung tak melakukan apapun kepada Raja sebelum dirinya datang. Namun nyatanya, Agung sudah lebih dulu menghajar Raja.


"Mas Agung apa-apaan? Saya sudah bilang jangan lakukan apapun kepada Raja sebelum saya datang!" Anita benar-benar kecewa pada Agung karena seenaknya sudah menghajar Raja.


"Untuk apa aku menunggumu untuk memberi pelajaran pada anak brengsek itu." Agung menunjuk Raja dengan tangannya serta dengan aura penuh kebencian pada Raja.


"Apa kamu punya bukti jika menantu saya benar-benar sudah menodai anakmu itu, Mas Agung?" tanya Anita geram. "Apa jika anakmu yang bersalah, kamu akan melakukan hal yang sama pada anakmu itu?" lanjut Anita.


"Untuk apa kamu ikut campur Anita, kamu bukan lagi bagian dari keluarga Wijaya!" ucap Lisa.


"Aku memang sudah bukan bagian dari keluarga Wijaya, tapi Ratu, darahnya mengalir keluarga Wijaya. Apalagi dia anaku, aku akan ikut campur jika menyangkut masalah keluargaku!" tegas Anita. Lisa memandang Anita dengan sinis, dan Anita tahu itu. Anita juga tahu kalau Lisa, dari dulu memang tidak suka pada dirinya. Dan dari dulu juga Lisa selalu ingin menjatuhkan nama baik dirinya, namun selalu gagal. Dan kini Lisa berniat menjatuhkan keluarganya lewat anak dan menantunya, Anita tidak akan membiarkan itu.


"Sudah, sudah!" Murti melerai perdebatan Anita dan Lisa. "Anita, kamu bilang kalau kamu punya bukti jika Raja tidak bersalah, sekarang tunjukan pada kami semua!" pinta Murti.

__ADS_1


"Iya, Mah ... sebentar." Anita mengambil ponsel dari tasnya. Anita membuka aplikasi WhatsApp dan membuka riwayat chat nya dengan Gunawan. Anita memutar rekaman percakapan antara Raja dan Citra.


Semua orang terkejut setelah mendengar rekaman itu. Terlebih lagi Raja, dari mana mertuanya itu mendapat rekaman percakapan dirinya dengan Citra.


"Sudah dengar Mas Agung, Mbak Lisa. Sekarang kalian bisa menyimpulkan siapa yang benar dan salah?" Anita bertanya dengan nada sinis.


"Itu bohong Pah, itu bohong!" elak Citra.


"Kamu tidak bisa mengelak lagi Citra," ucap Anita.


"Mamah dapat dari mana rekaman itu?" tanya Ratu. Ratu benar-benar sudah merasa emosi. Jika saja saat ini tangannya tidak digenggam oleh Raja, sudah dipastikan Citra tak akan selamat dari amukan Ratu. Jangan berani membangunkan singa betina yang sedang tidur.


"Daddy?" Ratu mengerutkan keningnya tak mengerti, kok bisa mertuanya itu bisa dapat rekaman itu.


"Raja kamu ingat saat itu kamu sedang berbicara dengan papamu di telepon. Ternyata kamu belum mematikan sambungan teleponnya saat Citra datang. Papamu dengar semua dan juga sudah merekamnya. Papamu mengirimkan ini pada bunda karena takut kamu kena masalah karena ulah Citra!" Dan benar firasat Gunawan, anaknya benar-benar sedang dalam masalah.


"Iya bunda, Raja memang saat itu sedang menelfon papah saat Citra masuk kamar Raja." Raja bernafas lega sekarang, sungguh ia sangat berterima kasih pada papanya, Gunawan.


"Bohong" Teriak Citra lagi.


Ratu benar-benar kehilangan kesabaran. Ratu melepaskan genggaman tangannya dari Raja dan melangkah menuju Citra dengan emosi yang sudah memuncak. Namun, Raja langsung menghentikan langkah istrinya.

__ADS_1


"Dasar cewek jalang lo. Gue udah bilang jangan pernah ngusik gue, tapi lo malah mau ngejebak suami gue dengan cara murahan seperti ini!" Ratu meronta di dalam dekapan Raja.


"Dek, udah. Jangan buang-buang tenaga kamu buat orang gak tau diri kaya Citra." Raja mengusap rambut serta mencium ujung kepala Ratu. Emosi Ratu pun kian menurun.


Suasana panas di dalam rumah itu kian mereda, namun suasana panas kembali saat Agung menampar keras wajah Citra. Semua orang terkejut bahkan sampai menutup mulut dengan tangan mereka sendiri.


"Mas Agung!" teriak Lisa tak percaya melihat suaminya itu menampar wajah putrinya dengan keras.


"Apa selama ini papah mengajarimu untuk bertindak seperti ini. Apa salah Ratu pada mu, sehingga kamu berbuat seperti ini pada Ratu, jawab Citra!" Agung benar-benar emosi kepada Citra. Dirinya tidak menyangka jika anaknya yang ia kira lugu ternyata bisa berbuat seliar itu.


Citra menangis dalam kesakitan nya. "Papah ingin tahu kenapa?" Mata Citra menatap tajam ke arah papanya itu. "Selama ini semua orang selalu membanggakan Ratu termasuk papah sama eyang. Selalu Ratu, Ratu, Ratu, dan Ratu. Kalian selalu mementingkan Ratu, selalu saja membanggakan Ratu. Tidak ada yang memperhatikan Citra. Bahkan cowok yang Citra suka berpaling ke Ratu. Doni ninggalin Citra cuma untuk mengejar Ratu!" Akhirnya semua yang Citra pendam selama ini ia keluarkan bersama amarahnya.


Semua orang memang lebih memperhatikan Ratu, memang itu benar, mereka pun mengakui itu. Akan tetapi mereka lakukan karena Ratu hidup tanpa orang tua. Papannya meninggal dan Anita sibuk untuk mencari nafkah untuk Ratu. Anita rela meninggalkan anaknya di Jogja sementara Anita tinggal di Jakarta untuk mengurus bisnis peninggalan suaminya. Mereka lebih memperhatikan Ratu karena memang mereka berfikir Ratu lebih membutuhkan perhatian lebih dari pada Citra.


Dan untuk masalah Doni, Ratu menjelaskan jika Doni meninggalkan Citra bukan karena dirinya namun karena Citra sendiri. Saat itu Doni yang sudah tak tahan dengan sikap Citra yang selalu merasa iri pada Ratu, selalu egois, tak mau mengerti keadaan Doni. Membuat Doni merasa bosan dan memutuskan hubungan dengan Citra. Doni juga sempat mengakui perasaannya pada Ratu kalau Doni menyukai dirinya, namun Ratu menolak nya dan setelah itu Doni memutuskan untuk pindah sekolah dan tidak ada seorang pun yang tahu kemana Doni pergi.


Setelah semua orang menjelaskan kesalahpahaman Citra selama ini, Citra langsung menjatuhkan dirinya ke sofa di belakangnya. Citra menangis sejadi-jadinya. Sebenarnya Ratu dan Anita merasa kasihan pada Citra, namun mereka tak bisa berbuat apapun, mereka membiarkan Citra untuk merenungi kesalahannya selama ini.


"Mas Agung, sebaiknya Mas Agung bawa Citra pulang, biarkan dia beristirahat di rumah. Begitu juga dengan kami. Kita jernih kan pikiran kita semua," pinta Anita.


"Kalian juga istirahat anak-anak, besok kalian akan kembali ke Jakarta bukan?" Raja, Ratu beserta teman-temannya mengangguk bersamaan. Mereka menuju kamar masing-masing. Tak lupa juga Ratu meminta Mbok Sari untuk membawa air es ke kamarnya untuk mengompres luka lebam di wajah Raja.

__ADS_1


__ADS_2