Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 85


__ADS_3

Happy reading...


Jangan lupa setelah baca tinggalkan jejak kalian....


Ratu berjalan mondar mandir di dalam kamar apartemennya. Ratu dan Suci sama-sama sedang memutar otak untuk mencari cara mendapatkan video aslinya dari Kiara.


"Aduh, gimana nih. Waktu kita tinggal tiga hari lagi." Ratu mengusap wajahnya kasar.


"Gue juga bingung, Ratu. Mana Alan susah banget dihubungi." Suci berdecak kesal saat berulang kali panggilannya tidak dijawab oleh Alan. "Lagi ngapain sih Alan," kesal Suci.


Suci membanting ponselnya ke kasur. Entah sedang apa Alan sekarang, kenapa ponselnya susah banget untuk dihubungi. Sekalinya diangkat, Alan pasti akan marah-marah.


"Gue makin merasa aneh sama tingkah Alan beberapa hari ini," keluh Suci kepada Ratu.


Ratu menghentikan langkahnya lalu menghampiri Suci dan duduk di samping Suci. "Aneh kenapa?"


"Alan jadi susah dihubungi, di chat juga nggak dibales, ditelepon juga nggak diangkat. Sekalinya di angkat, malah marah-marah," keluh Suci.


"Kayaknya abang tiri gue itu mulai kumat penyakit playboy nya deh," ucap Suci.


"Jangan bikin gue takut dong," protes Suci.


Suci makin merasa khawatir jika yang dipikirkan oleh Ratu benar adanya. Suci sangat takut jika harus kehilangan Alan kembali. Suci sungguh berharap jika yang dikatakan oleh Ratu semuanya tidak benar.


Ratu menepuk pundak Suci saat melihat calon kakak iparnya itu melamun. "Woy, mikirin apa lo?"


Suci langsung tersentak saat Ratu menepuk pundaknya dan membuyarkan semua lamunan akan Alan. "Lo mau bikin gue jantungan?"


"Maaf." Ratu terkekeh. "Lo mikirin apaan sih, serius banget kayaknya?" Ratu mengambil ponselnya di meja nakas saat mendengar bunyi di ponselnya.


"Gue mikirin Alan." Suci menoleh ke arah Ratu. Suci mengerutkan keningnya saat melihat wajah tegang Ratu. "Chat dari siapa?"


"Dari Angga," jawab Ratu dengan gagap.


"Ngomong apaan si Angga, kok kamu kayaknya tegang banget?" Suci penasaran dengan apa yang baru saja Angga kirimkan.


"Bukan apa-apa kok." Namun tanpa Ratu duga Suci sudah lebih dulu menghampirinya sebelum ia menyembunyikan ponselnya. Suci akhirnya melihat apa yang baru saja Angga kirimkan.


Suci langsung menutup mulutnya, menahan agar tidak berteriak setelah melihat apa yang baru saja Angga kirimkan.


"Jadi selama Alan berubah karena ini." Suci langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang dan menitihkan air mata nya saat melihat foto Alan yang sedang menyuapi Gea.

__ADS_1


Ratu mengusap pundak Suci dan mencoba untuk memenangkannya. "Sabar, Ci. Mungkin itu bukan Alan."


"Bukan Alan?" Suci menghapus air mata nya. "Mata gue belum rabun, Ratu. Gue masih bisa mengenali Alan." Suci mengambil tas nya lalu melangkah keluar kamar Ratu.


"Ci, lo mau ke mana?" Ratu mencegah Suci keluar dari kamarnya.


"Aku mau minta penjelasan dari Alan tentang semua ini." Suci menyingkirkan tubuh Ratu yang menghadang langkahnya.


"Tapi, Ci."


"Sorry, Ratu. Gue harus pergi."


Ratu mengeram kesal karena Suci tidak menghiraukan panggilan darinya. "Ci, tunggu!"


Ratu tidak punya pilihan lain selain mengejar Suci. Ratu berlari dan berhasil mengejar Suci. "Ci, gue anterin." Suci pun menganggukkan kepalanya.


Ratu dan Suci masuk ke dalam mobil dan bersama-sama menuju kafe di mana Alan dan Gea berada. Suci masih saja menangis mengingat Alan sekarang sedang bersama perempuan lain. Pantas saja beberapa hari ini sikap Alan padanya berubah dan ternyata itu lah alasannya.


"Ci, sabar ya. Jangan nangis dong." Ratu bingung sendiri bagaimana caranya membuat Suci tenang dan berhenti menangis.


"Bagaimana gue bisa tenang, Ratu. Cowok yang sekarang jadi tunangan gue mesra-mesraan sama cewek lain."


Ratu terkejut saat melihat Suci keluar dari mobilnya saat ia belum menghentikan laju mobilnya.


"Suci."


Suci tidak memperdulikan panggilan Ratu dan langsung masuk ke dalam kafe. Namun belum sempat Suci melangkah masuk ke dalam kafe, matanya melihat Alan dan Gea di parkiran kafe yang akan masuk ke dalam mobilnya. Suci langsung berlari dan mencegah Alan masuk ke dalam mobilnya.


"Alan."


Alan menoleh saat ia merasakan ada yang menarik tangan nya. "Suci?"


"Alan, apa-apaan ini? Kamu nggak angkat telepon dan nggak balas chat aku ternyata kamu lagi jalan sama cewek itu," tanya Suci dengan air mata yang mengalir dari matanya.


"Lo sudah lihat sendiri, jadi gue nggak perlu jelasin semua sama lo," ucap Alan.


"Kamu jahat Alan," teriak Suci. "Kenapa kamu melakukan ini sama aku?"


"Karena gue sudah bosen sama lo," senga Alan. "Minggir lo. Ngalangin jalan gue tahu nggak."


"Lan, please. Jangan tinggalin gue," mohon Suci.

__ADS_1


Alan sama sekali tidak memperdulikan tangisan Suci dan dengan kejamnya Alan meninggalkan Suci begitu saja di parkiran kafe itu.


"Alan ... Alan." Suci mengetok kaca mobil Alan, namun tidak di perduli kan oleh Alan.


Ratu menghampiri Suci yang sedang terduduk di lantai. "Ci, bangun."


"Ratu, Alan kenapa jahat sama gue?" Suci menangis sejadi-jadinya.


Ratu membantu Suci untuk berdiri dan membawa Suci masuk ke dalam mobilnya. "Ci, sudah dong. Lo jangan nangis terus, sayang air mata lo buat cowok kaya Alan."


"Tapi hati aku sakit, Ratu."


"Iya gue tahu. Ya sudah mending kita jalan-jalan dulu buat ngilangin rasa sakit lo." Suci pun mengangguk.


Suci duduk di dalam mobil Ratu dengan memandang keluar jalanan. Menatap pemandangan di luar mobilnya dan air matanya belum juga mau berhenti mengalir.


Ratu sendiri merasa bersalah pada Suci karena ia terlambat menyembunyikan foto itu dari ponselnya. Ratu menghela nafas berat, lalu membelokan mobilnya masuk ke dalam pusat perbelanjaan.


"Kok kita ke sini?" tanya Suci.


"Habisnya gue bingung mau ngajak lo ke mana?" Ratu memberhentikan laju mobilnya di parkiran bawah tanah. "Kita shopping saja yuk!" ajak Ratu.


"Gue males, Ratu," tolak Suci.


"Terus lo mau nangis di mobil gue sendirian?" Suci langsung menggelengkan kepalanya dan Ratu melepas safety belt nya. "Ya sudah, lo ikut saja. Kita cuci mata, barang kali nanti ada yang nyantol sama lo."


"Apaan sih, lo." Suci mendorong lengan Ratu dan tersenyum.


"Nah gitu dong senyum. Yuk jalan!" ajak Ratu dan Suci pun langsung mengangguk.


Ratu dan Suci turun dari mobil bersama-sama. Kedua nya bergandengan tangan dan masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu. Suci menarik nafas untuk menetralkan perasaan kecewanya pada Alan.


"Kita mau ngapain ke sini?" tanya Suci saat Ratu mengajaknya masuk ke dalam salon kecantikan.


"Kita manicure pedikur lah, biar kita fresh dan terlihat cantik dong, biar nanti ada yang ngelirik kita." tawa Ratu.


"Kamu ada-ada saja. Ketahuan Raja baru tahu rasa loh."


"Ya jangan sampai ketahuan," gurau Ratu.


Suci menggelengkan kepalanya lalu tersenyum tipis. "Ya sudah terserah lo saja lah," pasrah Suci. Ratu pun merangkul pundak Suci dan masuk ke dalam salom kecantikan itu.

__ADS_1


__ADS_2