Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
Putusnya Hubungan Raja dan Suci


__ADS_3

Ratu berjalan mondar-mandir di dalam apartemennya menunggu Raja yang tak pulang-pulang, padahal sudah lewat tengah malam. Sebelumnya Ratu mengatakan kepada Anita jika dirinya tak jadi menginap karena khawatir dengan keadaan Raja.


Ratu sudah meminta bantuan Egi dan lainnya untuk mencari Raja, tetapi entah kenapa sampai pukul 2 malam belum juga ada kabar.


Ratu duduk di sofa dengan menggigit ujung kukunya karena merasa cemas. Raja pergi dalam kea daan marah dan itu membuat Ratu sangat gelisah. Bukan maksud Ratu untuk menyembunyikan hubungan antara Alan dan Suci. Ratu hanya takut kalau Raja akan sakit hati. Dalam rasa frustrasinya Ratu mengumpat untuk memaki dirinya sendiri, bisa-bisanya dia salah mengirim pesan ke Raja.


Ratu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu masuk setelah mendengar suara bell. Ratu segera membuka pintu dan terkejut melihat Raja di papah oleh Egi dan Panji.


"Raja lo kenapa?" tanya Ratu cemas.


"Kita masuk dulu, Tu. Nanti saja jelasinnya!" jawab Egi terengah-engah.


Egi dan Panji membawa Raja masuk ke kamarnya dengan susah payah. Keduanya membaringkan Raja di ranjang bahkan Egi sampai ikut terbaring karena lelahnya membawa Raja yang dalam keadaan mabuk.


"Capek gue," keluh Egi.


"Gue juga," imbuh Panji.


Ratu dan teman-temannya keluar dan meninggalkan Raja di kamar. Ratu pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk ketiga temannya itu. Egi dan Panji melepas jaket karena kepanasan padahal ruangan itu full AC. Ratu menyodorkan gelas berisi air kepada tiga temannya.


"Thank!" Dalam sekejap air minum di gelas Egi dan Panji lenyap seketika.


"Raja kenapa? Kok dia bisa sampe minum dan mabok kaya gitu? Sudah lama dia gak kaya gitu," tanya Panji.


Egi, Panji, dan Angga tahu Raja kalau sedang ada masalah pasti minum.


"Dia marah sama gue, karena nyembunyiin hubungan Alan sama Suci." jawab Ratu murung.


"Udah bisa gue tebak. Gue juga heran sama Raja, dari pertama kali lihat Suci dia langsung berubah. Bahkan sampai rela pindah sekolah dan berpenampilan cupu kaya gitu." ucap Panji geram.


"Bodoh emang tuh anak. Apa bagusnya si Suci itu?" tambah Egi.

__ADS_1


"Gue rasa emang Suci yang sekarang beda sama Suci yang dulu. Pas waktu datang ke sekolah kita dia ramah dan banyak senyum." ujar Panji.


"Gimana gak berubah, deketnya sama Alan. Paling juga si Suci udah ditidurin sama Alan." celetuk Angga diangguki cepat oleh Panji dan Egi.


Ratu membelalakkan matanya, tebakan mereka sungguh tepat. Akan tetapi tidak mungkin dia menceritakan tentang video itu pada ketiga temannya.


"Ya sudah kita balik yuk, udah malam juga," ajak Angga.


"Malam apanya? Ini udah pagi." sahut Egi.


Ketiganya pamit untuk pulang. Sebelum itu Egi menghampiri Ratu lalu mengusap pipi Ratu untuk menghapus air matanya.


"Lo baik-baik di sini. Kalau ada apa-apa lo hubungi kita aja," ucap Egi yang angguki oleh Ratu.


"Thank, Gi. Maaf ya gue udah ngerepotin kalian," ucap Ratu.


Pemandangan itu dilihat oleh Panji dan Angga. Keduanya bisa menebak kalau Egi menaruh hati pada Ratu. Segera Panji menarik lengan Egi untuk membawanya keluar dari apartemen itu.


"Gue balik dulu, Tu," teriak Egi.


"Lo suka, 'kan sama Ratu?" tanya Angga.


"Lo pasti udah tahu jawaban gue." Egi langsung memakai helm setelah menyalakan motornya. Egi melaju lebih dulu meninggalkan kedua temannya yang masih berdiri mematung.


"Parah tuh anak," ucap Panji.


Di apartemen, Ratu mencari keberadaan Raja yang sudah tidak ada di ranjang. Ratu mendengar suara aliran air dari kamar mandi. Ratu membuka pintu kamar mandi dan mendapati Raja sedang memuntahkan isi perutnya. Ratu mengibaskan tangannya di depan hidungnya tak kuat mencium bau alkohol.


Raja kembali ke atas ranjang tanpa memperdulikan keberadaan Ratu. Raja membaringkan badannya di atas kasur lalu menutup matanya. Ratu sedih melihat sikap Raja yang seolah tak menganggapnya ada.


"Kalau tahu akan begini, lebih baik video itu gue hapus dari dulu." guman Ratu.

__ADS_1


Ratu menghampiri Raja yang sudah terlelap di ranjangnya. Ratu duduk bersimpuh di samping Raja. Ratu menatap nanar wajah Raja lalu mengusap keningnya.


"Apa sesayang itu lo sama Suci, Ja?" guman Ratu lirih di hadapan Raja yang sedang terlelap.


"Gua sakit liat lo jalan sama Suci. Tapi hati gue lebih sakit lagi kalo lo kaya gini. Gue sayang sama lo, Ja. Gue rela melakukan apa saja asal lo bahagia," ujar Ratu dalam tangis lirihnya.


Ratu mengusap air matanya, lalu berdiri untuk menyelimuti tubuh Raja. Ratu keluar dari kamar Raja setelah mengecup kening Raja. Ratu tidak tahu jika Raja belum benar-benar terlelap.


****


Keesokan harinya, Raja terbangun dari tidurnya. Kepalanya sedikit pusing akibat ia trlalu banyak minum. Kalau saja hari itu tak ada ulangan, pasti Raja sudah memilih untuk tidur kembali.


Raja segera turun dari ranjang untuk membersihkan diri. Raja melihat bayangannya sendiri di cermin di hadapannya. Rasanya muak mengingat selama ini dia mencoba untuk berubah demi perempuan yang ternyata tak memiliki perasaan padanya.


"Ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan," gumamnya.


Raja keluar dari kamarnya, Raja melihat kamar Ratu masih tertutup rapat. Raja ingin masuk namun perasannya menahannya.


Raja menuruni anak tangga dan langsung menuju pintu keluar.


Raja sampai di sekolah ia memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan. Raja turun dari mobil dan melihat dari kejauhan Suci memanggil Raja. Namun tak dihiraukannya. Suci yang melihat Raja meresponsnya langsung menghadang langkah Raja.


"Ja aku manggil kamu loh?" ujar Suci manja.


"Gue gak denger. Minggir lo." Raja menggeser tubuh Suci.


Suci yang tak terima langsung menarik tangan Raja, "Ja kamu kenapa. Kok kamu kasar sama aku?"


"Lepasin tangan gue!" ujar Raja kasar. Raja sama sekali tak ingin melihat Suci.


Suci masih tak menyerah. Suci memalingkan wajah Raja dengan tangannya lalu mereka saling berhadapan. "Ja kamu masih marah sama aku?"

__ADS_1


Raja menjauhkan tubuh Suci dengan kasar, lalu mencengkram kedua sisi wajah Suci. "Oh ya kalo lo lupa biar gue ingetin. Bukannya lo udah mutusin gue. Jadi jauh-jauh dari gue mulai sekarang! Detik ini juga."


Raja pergi meninggalkan Suci yang masih berdiri mematung di parkiran sekolah. Semua orang yang melihatnya merasa heran. Tak biasanya Raja bersikap kasar kepada Suci. Ada juga yang merasa senang melihat pertengkaran itu terutama kaum hawa. Mereka merasa punya peluang besar untuk mendapatkan Raja.


__ADS_2