
Ratu sedang menemani teman-temannya pergi ke pasar Malioboro. Teman-teman ingin sekali mengunjungi pasar Malioboro terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke Jakarta esok hari. Ratu sebenarnya tak ingin pergi meninggalkan Raja sendiri di rumah. Namun Raja memaksanya untuk ikut bersama teman-temannya.
Ratu sedang memilih pernak-pernik di pasar Malioboro, namun tiba-tiba perasaannya menjadi tak enak. Ratu terus saja memikirkan Raja.
"Lo kenapa, Ratu?" tanya Rini yang dari tadi melihat Ratu diam dan terlihat cemas. Rini berjalan dan menepuk pundak Ratu dan membuat Ratu terlonjak.
"Eh, gak kok! Gak tahu lah, perasaan gue gak aja, gue kepikiran Raja terus," tutur Ratu.
"Cie, baru pisah sebentar udah kangen aja," ledek Rini.
Ratu berdecak, "Serius Rini!"
Rini terkekeh, "Sorry, sorry. Mending lo coba telpon Raja," usul Rini.
"Udah! Tapi handphonenya sibuk terus dari tadi."
"Mungkin dia lagi telfon sana bokap nya!"
Ratu menarik nafas dalam-dalam, semoga yang dikatakan oleh Rini benar. Dan semoga Raja baik-baik saja. Ratu mencoba untuk berfikir positif, namun perasaannya benar-benar tak tenang saat ini.
"Kenapa kalian di sini?" tanya Panji. "Nah, lo kenapa Ratu, gelisah banget kayaknya?" Panji memperhatikan Ratu berdiri diam sambil menggigit ujung jarinya.
Keduanya diam tak menjawab, Ratu memutuskan untuk pulang saja. "Gue balik aja ya, gue kepikiran terus sama Raja."
"Eh kok pulang? Ada apa sih?" tanya Panji.
"Gak tahu, Panji. Perasaan gue gak enak banget, gue kepikiran sama Raja terus."
"Ya udah gue anterin," ajak Panji.
"Gak usah, kalian lanjutin lagi aja belanjanya," tolak Ratu. Ratu berjalan melewati Panji dan juga Rini. Namun segera Panji menahan langkah Ratu.
"Gue anterin aja. Lo mau gue babak belur dihajar sama Raja kalo lo kenapa-kenapa," bujuk Panji. Ratu tersenyum tipis dan mengangguk.
"Bilangin ke yang lain ya, gue sama Ratu balik dulu," ucap Panji.
__ADS_1
Rini pun mengangguk, ia mengusap lengan Ratu, "Hati-hati di jalan. Jangan panik ya." Ratu mengangguk.
Panji dan Ratu keluar dari toko, mereka berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari toko yang mereka kunjungi. Ratu dan Panji masuk kedalam mobil bersama-sama. Keduanya pun melesat kembali ke rumah Ratu.
Raja sedang memeriksa pekerjaan di laptopnya. Pekerjaan yang selalu dikerjakan Raja di rumah. Raja duduk sendirian di atas ranjang karena Ratu sedang pergi bersama teman-temannya ke pasar Malioboro. Raja tak bisa ikut karena kondisi tubuhnya yang belum benar-benar pulih. Raja menyuruh Ratu untuk ikut pergi bersama teman-temannya agar Ratu tak merasa sedih lagi. Ratu sempat menolak untuk ikut karena mengkhawatirkan dirinya. Namun akhirnya Raja bisa menyakinkan Ratu untuk ikut bersama yang lainnya.
Raja beberapa kali memeriksa pekerjaan di dalam laptopnya. Sudah beberapa bulan Raja bekerja di perusahaan papanya dan Raja hanya mengerjakan cukup dari rumah saja, karena saat itu dirinya masih sekolah. Kecuali jika ada hal yang penting, Raja baru akan datang ke kantor papanya. Raja sudah memikirkan hal itu dari saat ia benar-benar sepenuhnya mencintai dan menerima Ratu sebagai istrinya. Raja malu jika dirinya dan Ratu masih terus mendapat uang jajan dari orang tua masing-masing. Namun orang tua mereka tetep bersikeras untuk tetap memberikan uang bulanan kepada Raja dan Ratu dengan alasan mereka tak punya anak lain lagi. Raja pun menerimanya dengan syarat agat dirinya membantu pekerjaan papahnya dan juga ibu mertuanya.
Selain Raja bekerja di perusahaan orang tuanya, Raja juga ikut berinvestasi juga. Tak hanya investasi di perusahaan papanya, Raja juga investasi di salah satu restauran milik Anita, ibu mertuanya.
Raja mendengar dering di ponselnya ketika pekerjaan sudah selesai dengan pekerjaannya. Raja merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku lalu mengambil ponsel dari meja di samping ranjangnya. Raja melihat nama papahnya di layar ponselnya, Raja menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan papahnya.
"Haal....!"
Belum sempat Raja mengucapkan salam kepada papanya. Raja mendengar suara pintu kamarnya dibuka seseorang.
"Citra...." guman Raja.
Raja menjauhkan beda pipih hitam itu dari telinganya. Raja terkejut kenapa gadis itu berani datang ke rumah ini bahkan masuk ke dalam kamarnya.
"Gue denger kamu sakit, makanya aku pengin jenguk kamu," jawab Citra dengan nada di buat selembut mungkin.
"Oh. Gue udah gak kenapa-kenapa. Jadi lo bisa keluar dari kamar gue, sekarang!"
"Aku ke sini bermaksud baik loh, Ja. Aku pengin jenguk kamu." Citra tetap tak menghentikan langkahnya ke arah Raja.
"Stop, Citra. Mending lo keluar dari sini, sekarang!" usir Raja.
Raja melangkah mundur menjauh dari Citra. Namun dengan tidak tahu malunya, Citra tetap berusaha mendekati Raja. Citra yang tahu Raja akan keluar dari kamar segera Citra berlari arah pintu. Citra mengunci pintu, lalu mencabut kunci dan memasukannya ke balik bajunya, tepat di dadanya.
"Ambil jika kamu berani," tantang Citra.
"Lo ...." Raja menggeram kesal. Raja memijit keningnya, kenapa bisa gadis ini nekat melakukan ini.
"Citra apa yang lo mau sekarang?" tanya Raja.
__ADS_1
"Aku cuma mau kamu!"
"Hah,gue?" tanya Raja Tak mengerti. "Maksud lo?"
"Iya, aku mau kamu. Cerain Ratu, terus kamu nikah sama aku!"
Raja hampir saja pingsan mendengar perkataan Citra. "Lo mau gue nyerein Ratu, terus gue nikah sama lo?" Raja bertanya balik pada Citra untuk memastikan pendengaran nya tidak salah.
"Iya"
"Gak bakalan"
"Kenapa? Apa bagusnya dia. Liat aja, kamu sakit dia malah pergi sama teman-temannya. Kalo kamu nikah sama aku, aku janji bakalan selalu ada disisi kamu," paksa Citra.
"Terimakasih tawarannya. Tapi sayang, gue gak tertarik!" tolak Raja tanpa berfikir. Raja tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak percaya ada gadis tak tahu malu seperti Citra.
"Memang apa kurangnya aku, dibanding Ratu. Aku lebih cantik ke timbang Ratu. Apa kurangnya aku...?" tanya Citra.
"Kurang waras!"
"Dengar Citra. Gue cinta sama Ratu bukan saja karena dia cantik wajahnya, tapi dia juga cantik hatinya. Dan lo jangan berharap bisa sebanding dengan Ratu dengan tingkah murahan lo yang kaya gini," senga Raja.
Citra makin geram mendengar ucapan Raja yang mengatai dirinya tak sebanding dengan Ratu. Citra semakin membenci Ratu, kenapa dari dulu selalu saja Ratu yang selalu di banggakan oleh keluarganya.
Citra yang mulai di liputi rasa cemburu langsung saja melangkah cepat menghampiri Raja. Citra menarik tengkuk Raja dan berusaha mencium bibir Raja. Untung saja Raja langsung bisa mengelak. Raja segera memalingkan wajahnya. Raja lalu mendorong tubuh Citra membuat Citra tersungkur ke lantai.
"Lo emang cewek saiko, Citra!" geram Raja.
Mata Raja melihat kunci yang terlempar dari badan Citra. Dengan cepat Raja membuka pintu kamarnya dan segera menarik tubuh Citra dan melemparnya keluar kamarnya.
Raja segera mengunci pintu kamarnya dan menghela nafas untuk meredam emosinya. Raja melangkah kembali ke ranjang dan mengambil ponselnya. Raja baru ingat sebelum Citra datang, dirinya sedang menerima panggilan dari papanya.
Sedangkan di luar kamar, Citra sedang berdiri dengan senyum liciknya. Rencananya berhasil.
"Kali ini gue jamin lo bakal pisah sama Raja, Ratu."
__ADS_1