
Ratu masuk ke dalam kantor tempat suaminya bekerja. Hatinya senang saat akan bertemu dengan suaminya. Entah kenapa rasanya Ratu ingin selalu dekat dengannya.
Sesekali Ratu melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Sebentar lagi sudah masuk jam makan siang. Dalam perjalanan ke kantor, Ratu sudah memesan beberapa menu makan untuk makan siang. Dirinya ingin makan siang bersama sang suami.
"Mbak, suami saya ada di ruangnya gak?" tanya Ratu pada sekertaris suaminya.
"Ada, Bu. Silahkan masuk."
"Terimakasih, Mbak." Ratu masuk ke dalam ruangan kerja suaminya.
"Lagi sibuk ya?" tanya Ratu saat sudah berada di dalam ruangan kerja suaminya.
Raja yang sedang berkutat dengan laptopnya, mengalihkan pandangannya saat mendengar suara Ratu.
"Kamu sudah datang." Raja beranjak dari kursi dan berjalan untuk menghampiri istrinya.
Raja mengecup kening Ratu lalu turun ke perut rata istrinya.
"Egi mana?" tanya Ratu. .
"Lagi ke kamar mandi," jawab Raja.
Raja membawa Ratu duduk ke sofa yang ada di ruangan itu.
"Kamu duduk saja di sini. Aku mau selesaikan pekerjaanku dulu," ucap Raja yang langsung diangguki oleh Ratu.
Raja mengusap kepala Ratu sebelum ia kembali ke meja kerjanya.
Ratu duduk di sofa sambil memperhatikan suaminya. Wajahnya makin tampan saat sedang serius bekerja.
"Isssh, kok aku jadi genit sih?" batin Ratu.
"Biasa aja kali mandang suami lo. Sampai gak kedip itu mata."
Ratu dan Raja mengalihkan pandangan mereka ke asal suara. Ternyata Egi baru saja keluar dari kamar mandi.
"Gue kira lo udah balik," ucap Ratu.
Egi berjalan dan duduk di sofa single di samping sofa yang di duduki oleh Ratu.
"Sebelum lo datang, suami lo gak kasih gue izin untuk pulang. Katanya takut diganggu sama makhluk gaib," ledek Egi.
Ratu tertawa kecil mendengar perkataan Egi.
"Bagus, kita jadi bisa makan siang bareng. Aku sudah pesan makan untuk kita," ucap Ratu.
Tidak lama ada seorang yang mengetuk pintu ruangan itu. Raja mempersilahkan seseorang itu untuk masuk.
"Permisi, ada kurir yang membawa pesanan makan, ibu Ratu," ucap sekretaris Raja.
"Oh iya, suruh masuk saja, Mbak," ucap Ratu.
Sekertaris Raja keluar dan meminta kurir pengantar makan untuk masuk ke ruangan itu.
Ratu menerima pesanan makanannya lalu membayar tagihannya.
__ADS_1
"Terimakasih, Bang," ucap Ratu.
"Sama-sama, Mbak." Kurir itu pun kembali keluar dari ruangan Raja.
"Yank, kita makan yuk. Ini sudah masuk jam makan siang," ucap Ratu.
Raja mengangguk lalu menutup laptopnya. Ia beranjak dari kursi untuk bergabung dengan istri dan sahabatnya.
Saat mereka sudah mulai makan siang, mereka dikejutkan dengan kedatangan seseorang.
"Raja, aku bawain kamu ...." Ucapan Megan terhenti saat melihat Raja tidak sendiri.
"Oh, si makhluk gaib," gumam Egi. Namun, Megan masih bisa mendengarnya.
Raja dan Ratu yang mendengar itu langsung melipat bibirnya menahan tawanya.
"Apa kata lo tadi?" Megan melotot ke arah Egi.
"Dih, galak banget. Lo gak kangen apa sama gue?" ledek Egi pada Megan.
"Gak usah khayal deh," balas Megan. "Ngapain lo di sini?"
"Gue nemenin Raja. Dia takut digangguin sama makhluk gak tahu diri kaya lo," jawab Egi.
"Jangan kurang ajar ya. Lo gak tahu siapa gue, hah!"
"Gue gak mau tau tentang lo," balas Egi.
"Gi, gak boleh kaya gitu. Dia 'kan calon nyokap tiri suami gue yang artinya dia itu calon ibu mertua gue dan nenek dari anak gue nantinya." Ucapan Ratu terdengar seperti sindiran.
"Gue mau ketemu Raja," jawab Megan.
"Udah ketemu, 'kan? Cabut gih! Gue gak napsu makan lihat muka lo," ketus Raja.
Memang dasar Megan itu perempuan yang tidak tahu malu, sudah mendapat pengusiran dari Raja, tetapi masih saja tidak mau pergi.
Megan berjalan mendekati Raja. "Gue bawain makan siang buat lo."
Megan menyerahkan kotak makan siang untuk Raja. "Ini makanan kesukaan lo. Ayam kecap," ucap Megan.
Ratu mendadak hatinya memanas. Tidak suka melihat kehadiran Megan di ruangan itu.
"Sini buat gue aja." Egi mengambil alih kotak makan dari tangan Megan.
"Ini buat Raja bukan buat lo." Megan mencoba mengambil kembali kotak makanan yang ia bawa.
"Gue cobain dulu, takutnya ini makanan lo kasih jampi-jampi." Egi menyembunyikannya kotak makanan di belakang tubuhnya.
"Lo ...." Mood Megan untuk mendekati Raja sirna sudah. Ia memilih untuk pergi dari ruangan Raja dengan rasa kesal.
Setelah Megan pergi, Egi menaruh kembali kotak makan yang dibawa Megan ke atas meja.
"Tiap hari dia ke sini, Ja?" tanya Egi.
"Iya, males banget gue?" jawab Raja.
__ADS_1
"Lo gak ada ngomong sama bokap lo gitu tentang ini?" tanya Egi lagi.
"Gue udah bosen ngomong sama bokap gue tentang ini. Si Megan itu punya seribu satu alasan untuk bikin bokap gue percaya sama dia," ucap Raja.
Hati Ratu makin memanas mendengar obrolan Raja dan juga Egi. Ratu berdiri dan mengambil kotak makan yang dibawa Megan. Dengan rasa kesal, Ratu membuang kotak makan ke tempat sampah.
Egi terkikik melihat itu. Egi tahu Ratu sedang kesal. Maka dari itu setelah ia selesai makan, Egi pamit untuk pulang.
"Gue balik ya. Thank's untuk makan siangnya," pamit Egi.
Sebelum Egi pergi, ia memberi isyarat pada Raja jika Ratu sedang merasa kesal.
Raja pun sudah menyadari akan hal itu.
"Thanks juga sudah mau nemenin gue." Raja berdiri dan mengantar Egi ke pintu.
Setelah Egi pergi, Raja menghampiri istrinya yang sedang duduk di kursi. Raja melihat Ratu menekuk wajahnya.
"Yang lagi ngambek," ledek Raja.
"Gak lucu." Ratu masih tidak mau melihat suaminya.
Raja mengela napas untuk bersabar. Diputarnya kursi yang diduduki istrinya untuk menghadap dirinya. Raja menekuk lututnya di hadapan istrinya.
"Dek ...."
"Jadi setiap hari dia bawain makanan buat kamu?" Ratu bertanya dengan rasa kesal.
"Iya, tapi kalau gak sama papa aku gak makan kok," bujuk Raja.
"Bohong."
"Gak, Dek. Sumpah." Raja mengangkat telapak tangannya ke atas.
"Beneran?" Ratu akhirnya luluh mau melihat ke arah Raja.
"Iya." Merasa gemas Raja menarik hidung Ratu. "Yang lagi cemburu, gemesin deh."
"Awwww ... sakit, Yank," rengek Ratu.
Raja berdiri lalu mengulurkan tangannya ke arah Ratu. Ratu pun menyambutnya. Raja langsung menarik pinggang Ratu untuk mengikis jarak di antara mereka.
"Kamu mau di sini atau mau pulang?" tanya Raja.
"Aku mau nungguin kamu pulang saja," ucap Ratu.
"Ya sudah kamu istirahat gih."
Ratu menunduk dengan wajah malu.
"Tapi temenin," rengek Ratu dengan manjanya.
"Dih kok jadi genit."
"Biarin, genit sama suami sendiri ini."
__ADS_1