
Raja yang sedang terlalap di samping Ratu, terkejut, saat mendengar teriakan Ratu. Ratu terus meronta dan berteriak sakit dan memegangi perutnya.
"Dek, tenang!" Raja berusaha menenangkan istrinya. Namun, Ratu terus saja meronta. Raja langsung mendekap tubuh sang istri dan perlahan Ratu mulai tenang.
"Tenang, Dek!" ucap Raja lagi. Raja mengusap lengan serta mencium pucuk kepala Ratu. Raja bisa merasakan Ratu menghela nafas panjang untuk menetralkan nafasnya yang tersengal-sengal.
Raja meraih dua sisi wajah Ratu, mengusap jejak air mata di pipi istrinya itu. "Kamu kenapa, Dek?" tanya Raja lembut.
"Aku mimpi, Yank. Aku mimpi kalo aku jatuh, perut aku nabrak meja dan aku keguguran," jawab Ratu dengan air mata yang masih mengalir dari matanya. Ratu belum sadar jika ia sedang di rumah sakit.
Mendengar ucapan Ratu, wajah Raja berubah sendu. "Kamu kenapa, Yank?" kini Ratu yang dibuat bingung oleh sikap Raja.
"Itu bukan mimpi, Dek, tapi kenyataan." Ratu terdiam. Ratu baru sadar saat melihat jarum infus tertancap di tangannya, serta selang oksigen terpasang di hidungnya. Melihat semua itu Ratu kembali histeris.
"Jadi aku beneran keguguran. Belum sehari aku tahu dia ada di dalam perut aku, sekarang dia udah gak ada." Ratu kembali menjatuhkan kepalanya ke pundak Raja.
Raja kembali memeluk erat istrinya, membiarkan istrinya menangis untuk menumpahkan semua kesedihannya.
"Sabar ya, Dek. Mungkin dia bukan rezeki kita." Raja terus mengusap pundak Ratu untuk sedikit memberi ketenangan pada istrinya.
Ratu mengangguk di dalam pelukan suaminya. Ratu menarik diri dan melihat ada air mata di pipi Raja. Ratu segera mengusap air mata di wajah suaminya itu dan mencium pipinya. "Maaf, aku gak bisa jagain dia."
Ratu merasa bersalah atas semua ini. Bayi yang sangat ia dan suaminya nantikan ternyata sudah tidak ada di dalam perutnya lagi.
Raja dan Ratu sama-sama saling menutupi kesedihan mereka untuk saling menguatkan satu sama lain. Tak lama setelah itu, keduanya mendengar bunyi ketukan pintu. Mereka melihat ke arah pintu, ternyata keempat teman mereka yang datang. Suci langsung menghampiri Ratu dan memeluknya.
"Kamu gak kenapa-kenapa, 'kan?" tanya Suci. Ratu menggelengkan kepalanya di pelukan Suci diikuti air mata yang mengalir di pipinya.
"Aku keguguran, Ci. Padahal aku udah menantikan banget bayi tumbuh di perut aku. Kok mereka bisa jahat gitu sama aku," keluh Ratu.
Suci menarik diri terlebih dahulu dan menghapus air mata Ratu. "Sabar ya. Kamu kan bisa buat lagi sama suami kamu?" ucap
__ADS_1
Suci yang ingin mencairkan suasana. Dan itu sedikit berhasil. Semua orang di ruangan itu tertawa ringan setelah mendengar perkataannya.
Raja mengusap kepala istrinya. Pandangannya beralih kepada keempat temannya. "Kalian belum pulang?" tanya Raja saat.
"Belum! Kita lagi muasin lihat Egi, sebelum nanti malam tante Marisa bawa dia pergi ke Singapore," jawab Panji.
Ratu langsung meminta Raja untuk bertemu Egi. Namun, Raja menolaknya karena Ratu baru saja siuman. "Please, Yank. Aku janji cuma sebentar," mohon Ratu.
Raja menghela nafas berat sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya. "Oke, janji ya hanya sebentar, habis itu langsung istirahat." Ratu langsung mengangguk setuju.
Raja mengambil kursi roda yang ada di ruangan itu dan memindahkan Ratu dibantu oleh Alan. Setelah itu, Raja mendorong kursi roda dan membawa Ratu ke ruang ICU.
Keesokan harinya.
Ratu sudah menginap di rumah sakit semalam. Raja tersenyum saat melihat wajah lelah suaminya yang tertidur di sofa yang ada di kamar rawatnya. Raja bisa melihat wajah lelah suaminya. Sepertinya semalam ia tak tidur.
Ratu terisak saat kembali teringat akan kejadian di kantin kampus yang menyebabkan ia mengalami keguguran. Sungguh rasanya tidak adil bagi dirinya, baru merasakan kebahagiaan sebentar dan kini dirinya harus merasakan kesedihan kehilangan calon anaknya.
"Eh, Yank. kamu sudah bangun?" Ratu mengusap jejak air mata di wajahnya dan mencoba tersenyum.
"Gimana gak bangun, kamu nangisnya keras banget," ledek Raja, berharap istrinya tak merasa bersedih lagi.
Ratu tak tersenyum, Ratu malah menatap lekat wajah suaminya. Air mata itu kembali lagi meski Ratu mencoba menahannya. Ratu segera menundukkan wajahnya ke dada suaminya dan kembali menangis sejadi-jadinya.
"Kamu gak marah kan, sama aku, karena aku gak bisa jagain calon anak kita." Ratu berucap di dalam tangisnya.
Raja meraih dua sisi wajah istrinya, "Untuk apa aku marah, Dek. Ini semua kecelakaan." Satu kecupan Raja berikan di kening istrinya. "Aku juga sedih kehilangan calon anak kita. Tapi mungkin kita belum dikasih kepercayaan sana Tuhan. Kita bersabar aja ya." Ratu menganggukkan kepalanya menuruti ucapan Raja.
Ketukan pintu mengalihkan pandangan Ratu dan Raja. Keduanya melihat Anita dan Mahendra masuk ke kamar rawat Ratu.
"Sayang, maaf ya Mamah sama Papi kamu beru datang. Mamah baru tahu kalau kamu masuk rumah sakit tadi pagi." Anita memeluk putri kesayangannya.
__ADS_1
"Maaf, Bun. Raja belum sempet ngasih kabar Bunda sama Papi," ucap Raja.
"Gak apa-apa, Nak." Pandangan Anita berpindah ke Ratu. "Kamu gak kenapa-kenapa kan?"
"Ratu keguguran, Mah," ucap Ratu. Anita sebenarnya sudah mengetahui itu dari Alan. Anita memang merasa sedih kehilangan calon cucu pertamanya, namun sebisa mungkin Anita menyembunyikan hal itu dari Ratu. Yang terpenting bagi nya, anak kesayangannya baik-baik saja.
"Gak, apa-apa, Sayang. Kalian masih muda, masih bisa punya anak lagi." Anita mengusap rambut Ratu.
Senyum tipis tergambar di bibit Raja dan juga Ratu. Raja izin kepada kedua mertuanya untuk pulang karena dirinya ada kelas.
"Gak apa-apa kan kalau aku tinggal, Dek?" Raja meminta izin pada istrinya.
"Gak apa-apa kok. Di sini ada Mamah sama Papih."
"Iya, Raja. Kamu jangan terlalu mikirin hal ini." Raja menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari mertuanya.
Raja lalu pergi setelah mencium kening istrinya dan menyalami tangan kedua mertuanya. Raja keluar dari kamar rawat Ratu dengan mengepalkan kedua tangannya. Raja akan membuat perhitungan dengan orang yang menyebabkan Ratu masuk rumah sakit dan membuat dirinya kehilangan calon bayinya.
-
-
-
-
Raja memarkirkan mobilnya di parkiran kampus. Raja bertanya pada senior-seniornya di mana Kiara dan teman-temannya berada saat ini.
"Ada yang liat Kiara gak?" tanya Raja pada salah satu seniornya.
"Tadi gue lihat dia di kantin sama teman-temannya," jawab Mahasiswa yang satu angkatan dengan Kiara.
__ADS_1
Setelah tahu di mana Kiara dan teman-temannya berada, Raja langsung berjalan menuju ke kantin.