
Happy reading...
Keesokan paginya, Ratu tengah bersiap untuk ke kampusnya. Ratu sedang mematut dirinya di depan cermin sambil memeriksa penampilannya. Ratu melihat dari kaca depannya, suaminya baru saja keluar dari kamar mandi dan nampak segar. Ratu melihat Raja telanjang dada dan hanya melilitkan handuk di pinggangnya saja. Terbesit ide jahil di kepala Ratu untuk mengerjai suaminya.
Ratu berbalik dan menarik handuk yang melilit di pinggang suaminya. Dengan segera Raja menahan agar handuknya tidak terlepas dari tubuhnya.
"Dek, kamu apa-apaan sih?" Ratu tertawa terbahak-bahak melihat wajah terkejut suaminya.
Ratu mendekat kepada Raja yang sedang membetulkan handuknya dan langsung memeluk tubuh suaminya.
"Aku kangen sudah lama nggak ngerjain kamu, Yank."
Raja tersenyum dan membalas pelukan istrinya dengan sangat erat. " Lagi manja nih."
"issh, memang kenapa? Manja sama suaminya sendiri gak boleh?"
"Ya, boleh dong, Sayang."
Ratu menarik diri dari dari tubuh Raja untuk bisa melihat langsung wajah suaminya. Tatapan mereka seketika bertemu. Raja meraih kedua sisi wajah Ratu lalu mengecup bibir merah itu berulang-ulang. Ratu pun langsung membalasnya. Raja menarik tengkuk Ratu untuk memperdalam ciuman mereka. Cukup lama mereka hanyut dalam suasana romantis itu. Sampai akhirnya Raja menarik diri terlebih dahulu karena dirinya tidak ingin lepas kendali. Ratu belum bisa diajak berhubungan suami istri karena kondisinya yang belum memungkinkan pasca keguguran. Dan ciuman lembut di kening Ratu menjadi akhir dari keromantisan mereka berdua.
Ratu mengusap bekas lipgloos di bibir Raja lalu mengambil pakaian kerja milik suaminya.
"Kamu yakin mau masuk ke kantor dady?" tanya Ratu.
"Yakinlah, Dek. Aku kan masih di skors dari kampus sebelum aku nggak terbukti bersalah." Raja memakai kemeja kerjanya lalu mengancing nya.
"Aku bakalan bantu kamu sebisa mungkin buat dapetin bukti kalau kamu nggak bersalah, Yank." Ratu mendekat ke suaminya dan membantu mengancingkan kemeja kerja suaminya.
"Makasih ya, Dek. Dengan kamu percaya sama aku saja itu sudah cukup."
"Iya, Yank." Ratu merapikan kemeja kerja suaminya dan membantu memasang dasi ke leher suaminya. "Sudah selesai. Aku siapin sarapan buat kamu dulu ya."
Raja mengangguk, "Makasih ya, Dek."
__ADS_1
Kini giliran Ratu yang mengangguk. Ratu pun keluar dari kamarnya dan melangkah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga suaminya. Ratu mulai menghangatkan susu dan memanggang empat lembar Roti dan tak berselang lama, Raja turun dengan pakaian dan tas kerjanya.
"Ganteng banget suami aku," puji Ratu.
"Baru sadar suami kamu ini ganteng?"
"Langsung deh besar kepala."
Keduanya terkekeh bersama. Ratu menata roti di piring dan memberikannya kepada Raja. Selesai sarapan, Ratu dan Raja berangkat bersama ke tujuan masing-masing. Raja terlebih dahulu mengantar Ratu ke kampus sebelum ia sendiri berangkat ke kantor papanya.
"Kamu nggak apa-apa 'kan di kampus sendiri?"
Ratu menoleh ke samping, "Kenapa, Yank. Takut aku di godain sama senior lagi," goda Ratu.
"Bukan gitu, Dek. Kamu tahu sendiri 'kan Kiara sama genk nya itu nggak bakalan tinggal diam sama masalah ini, aku takut kamu di apa-apain sama mereka."
"Nggak apa-apa, Yank. Aku bisa jaga diri kok. Lagian di sana juga ada Alan dan yang lainnya."
"Oke, Sayangku."
Raja menghentikan laju mobilnya setelah sampai di kampus mereka. Ratu dan Raja sama-sama keluar dari dalam mobil. Semua mata langsung menyorot ke arah keduanya. Meraka nampak heran keduanya bisa masih nampak mesra meski Raja sedang tersandung isu dengan Kiara.
"Aku berangkat ke kantor dulu ya." Raja mencium kening Ratu.
"Kamu juga hati-hati ya, Yank." Ratu melambaikan tangan pada suaminya yang sudah berada di dalam mobil.
Ratu berjalan dengan santai di koridor kampusnya. Ratu tidak peduli dengan tatap orang-orang di sekitarnya. Ratu tahu jika kabar tentang Kiara dan suaminya sudah tersebar di saenteo kampus.
"Eh, Ratu," panggil salah satu teman seangkatannya yang bernama Siska.
Ratu berhenti sejenak dan menoleh ke arah orang yang memanggilnya. "Ada apa?" tanya Ratu dengan santainya.
Siska tersenyum sinis. "Apa saking cintanya lo sama Raja membutakan mata hati lo?"
__ADS_1
Ratu mengerutkan keningnya. "Maksud lo?"
Siska mendekati Ratu dengan gaya centilnya, dan berjalan memutari tubuh Ratu. "Lo pasti tahu kan, kasusnya Raja sama Kiara." Siska berdiri tepat di hadapan Ratu. "Apa karena lo takut kehilangan Raja, jadi lo memilih untuk memaafkan Raja?" tanya Siska dengan nada menyindir.
Ratu memutar bola matanya jengah. "Denger Siska, lo emang bener kalau gue takut kehilangan Raja karena dia cowok perfect buat gue." Ratu mencengkram dua sisi wajah Siska. "Tapi lo juga harus tahu, gue percaya sepenuhnya sama suami gue kalau dia nggak salah, denger itu." Ratu menghempaskan wajah Siska.
"Bukti sudah ada Ratu," ucap Kiara yang tiba-tiba ada di belakang Ratu.
Ratu dan Siska menoleh ke arah belakang Ratu dan melihat Kiara dan dua temannya berdiri tepat di belakang Ratu.
"Lo siap-siap bakalan nangis darah karena satu minggu lagi Raja bakalan jadi milik gue," ucap Kiara penuh dengan rasa percaya dirinya.
Ratu hanya menanggapi dengan senyuman remeh. "Tidur saja belum sudah mimpi duluan," balas Ratu.
Kiara menggeram dan menatap tidak suka pada Ratu. "Lo boleh sombong sekarang, tapi nanti, satu minggu lagi, lo bakalan nangis darah, Ratu." Kiara menunjuk Ratu dengan jari telunjuknya.
Ratu menatap jari Kiara yang menunjuk dirinya. "Lo memang cewek nggak tahu malu ya, kita sudah punya perjanjian dulu. Lo kalah balapan motor sama gue dan lo janji nggak bakalan ngedeketin Raja lagi, tapi sekarang lo ingkar janji." Ratu menurunkan tangan Kiara yang sedang menunjuk ke arah dirinya.
"Itu sudah satu tahun yang lalu dan itu sudah nggak berlaku buat gue." Kiara dan dua temannya memberikan senyum miring pada Ratu, namum tidak membuat Ratu takut sedikitpun.
"Sudahlah Ratu, lo nyerah saja. Ikhlasin Raja buat Kiara," sambung Gea.
"Sorry karena gue membuat lo kecewa Kiara karena gue nggak akan mau melepaskan Raja dan gue bakalan buktiin ke semua orang kalau Raja, suami gue nggak bersalah," ucap Ratu penuh penekanan.
Detik itu juga emosi Kiara memuncak, tangannya Kiara layangkan ke wajah Ratu. Namun dengan segera Ratu menahan tangan Kiara dan balik menampar Kiara.
PLAAAAK
Suara tamparan Ratu yang mendarat keras di pipi Kiara membuat mereka langsung menjadi pusat perhatian. Gea yang tidak terima Ratu menampar Kiara bersiap untuk memukul Ratu wajah Ratu namun lagi-lagi berhasil dihalau Ratu. Dengan sigap Ratu menahan tangan Gea dan memlintir ke belakang lalu mendorong tubuh Gea ke lantai.
"Itu buat anak gue yang meninggal gara-gara lo." Ratu melirik tajam ke arah satu teman Kiara lagi yang akan bersiap memukulnya. "Apa, mau gue patahin tangan lo?" ancam Ratu. Nyali Desi, teman Kiara itu pun seketika ciut melihat tatapan mau dari Ratu.
"Ini peringatan buat kalian bertiga," Ratu menjeda ucapannya. "Jika kalian bertiga berani mengusik gue dan orang-orang terdekat gue, gue bakalan ngelakuin hal yang lebih dari ini." Dan setelah mengucapkan nada peringatan itu, Ratu memilih pergi dari koridor kampus itu menuju kelasnya.
__ADS_1