
Jangan lelah yah buat dukung karya author yang satu ini. Dukungan kalian penyemangat ku.
Happy reading ...
Raja dan Ratu sedang membereskan barang-barang yang akan mereka bawa ke Bali. Keduanya mendapat kado dari Mahendra tiket honeymoon ke Bali untuk sepuluh hari. Meski hanya ke Bali, Ratu senangnya bukan main. Tempat yang sangat ia ingin kunjungi dari dulu. Bukan karena tidak mampu namun waktu luang yang tidak bisa ia dapatkan. Lain Ratu lain juga dengan Raja. Raja tidak se senang Ratu. Bagaimana mau senang, jika mau honeymoon tapi Ratu sedang datang bulan.
Ratu memerhatikan wajah Raja yang memberengut. Ratu berjalan ke arah Raja yang sedang memasukan pakaiannya ke dalam koper dan memeluknya dari samping.
"Kenapa sih, Yank? Kamu kok kayaknya nggak suka kita mau jalan-jalan."
Raja melepas pelukan Ratu dan duduk di tepi ranjang. "Gimana mau seneng, Dek. Kita mau honeymoon tapi kamu nya malah datang bulan."
Ratu melipat bibirnya menahan tawanya, "Kasihan suami aku, puasa lagi deh," goda Ratu.
"Seneng kamu ya," kesal Raja yang makin membaut istrinya itu tertawa.
Raja makin cemberut melihat tawa Ratu. Raja menarik tangan istrinya, menjatuhkan nya ke atas ranjang dan menindihnya. Raja menatap wajah Ratu, menyingkirkan helai rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Yank, kamu mau ngapain?"
"Kamu pasti tahu apa yang mau lakuin, Dek?" Raja mengusap wajah Ratu dan mendekatkan wajahnya.
Mata Ratu terbelalak, "Yank, jangan macem-macem deh. Aku lagi datang bulan."
Raja tidak mendengarkan ucapan Ratu. Dia terus mendekatkan wajahnya membuat detak jantung Ratu semakin cepat. Semakin dekat dan semakin dekat, namun tiba-tiba Ratu berteriak saat Raja mendadak menggelitik pinggangnya. Ratu benar-benar tidak bisa menahan rasa geli yang menjalar di tubuhnya. Ratu tertawa bahkan sampai mengeluarkan air mata.
"Yank, ampun!" mohon Ratu.
"Kamu tadi ngetawain aku kan. Sekarang puas-puasin kamu ketawanya," tawa Raja.
Ratu yang sedang merasakan geli di tubuhnya tak bisa mengontrol tubuhnya, salah satu kakinya menendang koper di sampingnya.
Suara keras koper yang jatuh ke lantai membuat mereka terkejut. Raja langsung bangkit dari atas tubuh Ratu dan membereskan barang-barang yang tercecer dari dalam koper yang tidak tertutup itu.
Ratu ikut membantu Raja membereskan barang-barang, matanya tidak sengaja melihat foto dirinya yang masih berbadan gemuk, yang dulu Raja ambil di kamar Ratu yang ada di rumah eyang Bagas.
Ratu menatap sedih foto itu, mendadak ia teringat akan kegagalan kehamilannya. Raja melihat perubahan wajah Ratu. Raja berpikir Ratu tidak suka melihat foto dirinya saat masih gemuk. Dengan segera Raja mengambil foto itu dan menyimpannya di lemari. Namun ucapan Ratu menghentikan langkahnya.
"Yank, kalo aku nggak keguguran mungkin badan aku akan gemuk seperti itu saat aku hamil besar ya."
__ADS_1
Raja berbalik dan memeluk Ratu yang sedang duduk di lantai dari belakang. "Kamu masih ingat dia?" tanya Raja. Raja menempelkan sisi wajahnya ke wajah Ratu.
"Aku akan selalu ingat, Yank. Meski dia masih berupa gumpalan darah." Satu tetes air mata berhasil keluar dari mata Ratu.
Raja mempererat pelukannya. "Kamu jangan sedih lagi ya, jika kamu seperti ini dia nggak akan tenang di sana." Ratu hanya bisa mengangguk di dekapan suaminya.
"Kalo kamu udah nggak datang bulan, kita bisa buat lagi. Kalo bisa tiap jam," kekeh Raja yang ingin mencairkan suasana.
Ratu menjauhkan wajahnya dari wajah Raja dan menatap wajah suaminya itu. "Itu si mau kamu, Yank." Ratu memajukan bibirnya.
"Mau kamu juga, 'kan?" balas Raja. "Buktinya kamu yang suka minta tambah dulu."
Tubuh Ratu merinding dan wajahnya bersemu merah. Ratu mendorong pelan tubuh suaminya. "Jangan diomongin dong, Yank. Aku kan malu." Ratu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Raja menarik tangan Ratu yang menutupi wajah malunya lalu memeluknya. "Kamu masih malu aja sih, Yank, sama suami kamu sendiri." Raja tertawa pelan.
Ternyata usahanya tidak sia-sia. Melihat Ratu tertawa itu lah kebahagiaan Raja yang sesungguhnya. Entah kenapa rasa cinta untuk Ratu semakin lama semakin bertambah. Raja berpikir dirinya sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada perempuan ini, ia merasa sudah terbiasa hidup bersama Ratu dan Raja tidak bisa berpikir jika dirinya hidup tanpa Ratu.
Ratu memalingkan wajahnya, pandangannya bertemu dengan Raja. Ratu mengusap wajah Raja dan tersenyum. "Makasih ya, kamu selalu tahu bagaimana membuat aku tertawa."
Raja meraih tangan Ratu yang berada di wajahnya lalu mengecup punggung tangannya. "Kesedihanmu membuat hatiku sakit, Dek."
Detik itu juga Ratu langsung menempelkan kening nya ke kening Raja dan menutup matanya sejenak. Tidak ada kata-kata yang bisa mengutarakan kebahagiannya sekarang, Tuhan sangat baik memberikan suami sebaik Raja.
Raja dan Ratu tersenyum, Ratu mengusap bekas ciumannya di bibir Raja sebelum ia bangun untuk melihat siapa yang datang di jam sembilan malam.
Ratu berjalan menuruni anak tangga sambil mengikat rambutnya seperti ekor kuda. Ratu sampai di depan pintu lalu menarik handel pintu. Ratu mengerutkan keningnya saat melihat Angga ada di hadapannya dengan wajah kusut.
"Angga."
Angga mendongakkan kepalanya. Saking pusingnya memikirkan masalahnya, ia tidak menyadari jika Ratu sudah membukakan pintu untuknya.
"Sorry gue ganggu lo sama Raja malam-malam begini. Cuma gue bingung harus ngomong ke siapa lagi."
"Oke, oke. Lo santai aja, kita masuk dulu." Ratu terheran dengan Angga yang tidak biasanya menampakan wajahnya yang serius.
"Lo duduk dulu, gue panggil Raja sebentar!" Angga mengangguk lalu duduk di sofa ruang tamu.
Pikiran Angga benar-benar kacau dan itu terlihat oleh Ratu dari anak tangga saat melihat Angga duduk menundukkan kepalanya dia antara dua tangannya.
__ADS_1
Ada apa sama Angga ya?
Ratu membuka pintu kamarnya dan melihat Raja sedang kembali memasukkan pakaian mereka ke dalam koper.
"Siapa yang dateng jam segini, Dek?" tanya Raja tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Angga. Katanya ada yang diomongin sama kita."
Raja menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Ratu. Raja menatap bingung ke arah Ratu saat melihat wajah istrinya yang terlihat bingung.
"Kenapa, Dek. Kok wajah kamu kaya orang bingung?"
"Aku memang lagi bingung. Nggak biasanya wajah Angga murung kaya tadi."
Sekarang bukan hanya Ratu, Raja pun ikut terlihat bingung. "Kita akan tahu setelah kita bicara sama Angga."
Raja menarik tangan Ratu dan membawanya keluar dari kamar untuk menemui Angga.
"Tumben lo main ke sini sendirian?" Raja langsung duduk di samping sofa yang diduduki oleh Angga. Sementara Ratu membuatkan minuman untuk Raja dan juga Angga di dapur.
"Ada yang mau gue omongin sama lo dan Ratu."
"Serius banget kayaknya?" Ratu memberikan Angga dan Raja jus jeruk lalu ikut bergabung dengan mereka.
"Thanks"
Angga meminum jus jeruk yang Ratu berikan untuk sedikit menghilangkan rasa lelah di pikirannya. "Ini tentang Egi dan Rini."
Ratu dan Raja sama-sama mengangkat satu alisnya. "Kenapa lagi mereka?" tanya Raja.
"Ini bukan mereka, tapi Egi." Angga menaruh gelas ke meja di hadapannya. "Gue belum ngasih tahu ke kalian keadaan Egi yang sebenarnya." Angga menarik nafasnya sebelum kembali berbicara. "Kecelakaan itu membuat saraf-saraf kaki Egi rusak, dia lumpuh. Tetapi kata tante Marisa, Egi bisa kembali seperti sedia kala dalam jangka waktu yang lama. Egi juga sudah tahu kondisinya sekarang."
Raja dan Ratu terkejut mendengar penuturan Angga. "Kenapa Lo nggak ceritain ini ke kita semua?"
"Egi ngelarang gue. Dia nggak mau bikin kalian semua khawatir. Tapi yang paling bikin gue pusing, Egi secara terang-terangan meminta gue buat gantiin posisinya dia di hati Rini."
Dan kali ini Ratu dan Raja tidak bisa mengucapkan apapun lagi. "Oke gue jagain Rini sementara Egi belum kembali. Tapi Egi bilang dia nggak akan kembali sampai dia benar-benar pulih seperti sedia kala."
"Kenapa Egi nggak jujur sama Rini tentang keadaan dia yang sebenarnya?"
__ADS_1
"Dia bilang dia nggak sanggup untuk mengatakan ini pada Rini, bahkan dia ngelarang orang tuanya untuk ngomong ini sama Rini."
Kini ketiga diam dan tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Merak bertiga benar-benar tidak tahu apa yabg ada di pikiran Egi, tetapi yang mereka tahu, Egi akan selalu mengutamakan kebahagian orang lain ketimbang dirinya sendiri.