
Jangan lupa kasih like, rate, vote, tambah ke favorit. Jika ada Kritik dan saran, tinggalkan di kolom komentar.
Happy reading
Ratu berjalan kembali ke rumah sakit setelah membeli beberapa cemilan dari minimarket di seberang jalan rumah sakit. Ratu berjalan sambil sesekali melihat sekelilingnya. Matanya secara tidak sengaja menangkap Dokter Marisa yang sedang berbicara dengan seseorang. Ratu menyipitkan matanya, sepertinya ia pernah melihat orang itu, seorang perempuan. Dan saat perempuan itu berbalik, ternyata seseorang yang sangat dia kenal, Suci.
Namun, ada hal lain yang Ratu liat dari wajah Suci yaitu air mata.
Suci menangis?
Ratu penasaran apa yang Suci lakukan di rumah sakit, dan kenapa dia menangis?
Ratu sengaja menyembunyikan wajahnya saat Suci melintas di sebelahnya. Dengan segera Ratu berjalan menghampiri Dokter Marissa setelah Suci tidak terlihat lagi.
"Tante Marissa!" panggil Ratu.
Dokter Marissa mengurungkan niatnya untuk kembali masuk ke ruangannya. "Ratu, ada apa, Sayang?" tanya Marissa.
"Tante kenal sama perempuan tadi?" tanya Ratu sedikit ragu.
"Dia pasien Tante …kamu kenal juga?" tanya balik Marissa.
"Dia teman sekolah Ratu. Apa dia sakit?"
"Tidak, hanya memeriksakan...." Marissa tak melanjutkan ucapannya karena itu menyangkut privacy pasiennya.
"Memeriksa apa, Tante?" tanya Ratu makin penasaran. Ia ingin tahu kenapa Suci sampai menangis.
"Pemeriksaan biasa, Sayang," jawab Marissa.
Ratu tidak puas dengan jawaban yang Marissa berikan. Ratu bisa melihat kalau Marissa sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Tante ..." Ratu menjeda kata-katanya, ada sedikit keraguan untuk meneruskan ucapannya. Namun, rasa penasaran Ratu lebih besar. Sebelum Ratu kembali bicara, Ratu menarik napas dalam-dalam. "Suci hamil 'kan, Tante Marissa?"
Marissa tidak terkejut, ia tersenyum lalu mengusap lembut pipi Ratu. "Kamu sudah tahu jawabannya." Marissa nampak biasa saja justru Ratulah yang nampak syok.
Di ruang perawatan Egi.
Raja dan Egi sedang bermain game online di ponsel masing-masing. Terlihat mereka sangat serius memperhatikan layar ponselnya. Namun, saat ada seseorang yang membuka pintu ruangan itu, keduanya langsung menoleh ke arah pintu. Ternyata Marissa dan Ratu.
"Anak bandel … Mama suruh kamu istirahat tapi malah asyik maen game." Marissa menarik telinganya Egi dan membuatnya meringis, lalu Marisa merebut ponsel dari tangan Egi.
__ADS_1
"Raja yang ngajak," ucap Egi.
"Malah nyalahin orang," ucap Marisa.
Raja segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya saat melihat tatapan horor Ratu.
"Raja … makasih ya udah jagain Egi semalam," ucap Marissa.
"Sama-sama, Tante," balas Raja.
"Oh iya, ini Tante bawain kue kesukaan kamu." Marissa sengaja memesan kue tiramisu kesukaan Raja.
"Wah! Makasih Tante." Raja terlihat sangat senang, Marissa memang selalu memperlakukan Raja layaknya anak sendiri.
Tidak menunggu waktu lama, Raja langsung melahap kue yang dibawakan oleh Marissa.
"Udah ada Raja, aku dilupain. Anaknya Mama itu Raja apa Egi sih?" Egi memasang wajah cemberut.
"Sirik aja lo," ucap Raja, ia masih asyik memakan kue tiramisunya.
Egi sama sekali tidak pernah iri atau cemburu jika Marissa lebih memerhatikan Raja. Ia tahu kalau Raja sedari lahir sudah ditinggal oleh ibunya. Egi ikhlas jika Raja mendapat kasih sayang dari Marisa seperti dirinya.
"Habis ini kalian pulang saja ya. Tante udah shift malam. Sebentar lagi juga papanya Egi ke sini. Kalian istirahat ya." Marissa berucap pada Raja dan Ratu, keduanya pun mengangguk.
"Raja pamit ya, Tante," pamit Raja. "Gue balik, baik-baik lo disini," ucap Raja pada Egi.
"Gak tahu diri udah malam langsung pulang," cibir Egi. Raja hanya merespon dengan kekehan.
Ratu juga melakukan hal yang sama dengan Raja. Setelah keduanya menyalami Marisa secara bergantian, keduanya keluar dari ruang rawat Egi dan kembali ke apartemen meraka.
Raja sedang konsentrasi mengemudi dan sesekali ia melirik ke arah Ratu. Raja menangkap ada sesuatu yang aneh pada Ratu. Semenjak kembali dari minimarket, raut wajahnya sudah berbeda.
"Dek, kamu kenapa? Kok aku perhatikan kamu dari tadi diem aja?" tanya Raja, dibalas gelengan kepala oleh Ratu.
"Kamu sakit, Dek?" Raja menempelkan punggung tangannya ke kening Ratu, ia memeriksa suhu tubuhnya.
"Aku gak kenapa-napa, Ja!" Ratu mengubah posisi duduknya menghadap kesamping, melihat ke arah Raja.
"Beneran?" tanya Raja lagi, tangannya mengusap sisi wajah Ratu. Dan keduanya saling berbalas senyuman.
Ratu kembali ke posisinya duduk menatap jalanan yang yang mulai ramai. Raja tetap bisa melihat ada sesuatu yang istrinya sembunyikan dari dirinya. Namun, Raja tidak ingin memaksa Ratu untuk mengatakannya saat itu tetapi tidak jika nanti mereka sudah sampai ke apartemennya.
__ADS_1
Dering ponsel memecah keheningan di antara keduanya. Raja melihat nama di layar ponsel dan ada panggilan dari ayahnya. Raja memberikan ponselnya kepada Ratu untuk menerima panggilan dari ayahnya.
Ratu menerima ponsel Raja, lalu dengan segera ia menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilannya.
"Hallo, Daddy." Ratu menyapa ayah mertuanya.
"Hallo, anak perempuan Daddy yang cantik," balas Gunawan dari seberang ponsel.
"Papa gombal nih sama Ratu, pasti ada maunya?" Raja langsung menyaut. Ratu sengaja menyalakan pengeras suara di ponselnya, agar Raja juga bisa mendengar suara ayahnya.
"Anak papa tahu aja." Terdengar kekehan Gunawan dari seberang sana.
"Ada apa Daddy?" sekarang Ratu yang bertanya.
"Kalian main lah ke rumah. Daddy kangen sama kalian," suruh Gunawan.
Ratu menoleh ke arah Raja, bertanya kepada Raja dengan isyarat dagunya. Raja menjawab dengan mengedipkan matanya serta anggukan kepalanya.
"Oke, Daddy. Ratu sama Raja langsung ke rumah Daddy kebetulan kita lagi di jalan," ujar Ratu.
"Mau ke mana kalian?" tanya Gunawan dari seberang sana.
"Kencan dong, Daddy." Raja terkekeh mendengar jawaban Ratu.
Raja tersenyum melihat keceriaan Ratu kembali. Tangannya terulur untuk mengusap rambut istrinya yang baru saja mematikan sambungan teleponnya. Raja segera berbelok arah lain untuk pergi ke rumah Gunawan.
Mobil yang Raja kendarai masuk ke dalam halaman rumahnya setelah seorang satpam yang bekerja di rumahnya membukakan pintu gerbang. Raja memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil sedan yang sangat mereka kenali.
"Mama di sini, Ja?" Ratu bertanya pada Raja saat ia melihat mobil mamanya terparkir di halaman rumah Gunawan.
"Kayaknya, Dek." Segera keduanya turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah besar itu.
Raja dan Ratu disambut oleh pengasuh Raja, Bibi Anna serta Gunawan dan Anita.
"Hallo, Sayangku." Anita mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk Raja dan Ratu secara bergantian.
"Mamah, di sini juga?" tanya Ratu setelah mencium punggung tangan Anita.
"Iya, Ratu. Mumpung hari libur kita kumpul-kumpul," jawab Anita saat Raja mencium punggung tangannya, lalu Anita tersenyum dan mengusap wajah tampan menantunya.
Anita lalu mengajak anak dan menantunya ke taman belakang. Ternyata Anita dan Gunawan sudah menyiapkan acara piknik kecil-kecilan. Sudah lama mereka tak berkumpul bersama semenjak kecelakaan yang di alami Gunawan.
__ADS_1
Sama-sama ditinggalkan selamanya oleh pasangannya serta sama-sama hanya memiliki satu anak, membuat Anita dan Gunawan merasa sangat kesepian. Bukan tak berkeinginan untuk kembali memulai rumah tangga, tetapi mereka hanya ingin menemukan pasangan yang benar-benar tulus untuk saling mengasihi di saat mereka sudah tak muda lagi, bukan semata-mata karena harta.