Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
In The Name of love


__ADS_3

Makam malam berlangsung dengan kebahagiaan. Canda dan tawa mengisi acara makan malam tiga keluarga itu. Raja dan Ratu selalu menjadi bintang di sana dengan keusilan mereka sendiri.


Makan malam untuk merayakan kelulusan anak-anaknya serta membahas acara resepsi pernikahan Raja dan Ratu. Namun, Raja dan Ratu meminta agar Anita dan Hendra menikah lebih dulu.


"Tapi Sayang, kalian sudah satu tahun menikah dan kami belum mengadakan resepsi untuk kalian?" ucap Anita.


"Gak apa-apa, Ma!" ucap Ratu. "Ratu sama Raja masih malu. Teman-teman kami belum banyak yang tahu jika kami sudah menikah. Ratu gak bisa membayangkan reaksi mereka tahu-tahu kami mengadakan resepsi."


"Baiklah terserah kalian saja. Kalau begitu kalian kasih Mama cucu dulu, gimana?" tanya Anita.


Detik itu juga, Raja tersedak minuman yang sedang ia minum. Semua orang dibuat terkejut dengan itu. Ratu segera menepuk pelan punggung Raja.


"Kamu gak apa-apa, Ja?" tanya Ratu dijawab anggukan kepala oleh Raja.


Setelah batuknya reda, Raja kembali meminum air untuk menghilangkan rasa sakit di tenggorokannya.


"Ya ampun Raja, maaf ya Mama bikin kamu terkejut ya!" sesal Anita.


"Gak apa-apa kok Ma!" balas Raja.


"Kalian kan udah lulus sekolah, jadi kalian sudah bebas mau ngapain aja. Makanya Mama minta cucu sama kalian, biar mama punya temen main nantinya," ucap Anita.


"Iya Ma, nanti Raja sama Ratu usahain."


Ratu melihat raut wajah Raja berubah sedih. Itu bukan pertama kalinya, sudah beberapa kali Ratu melihat wajah sedih Raja jika sedang membahas anak.


"Iya, Sayang, Mama sudah gak sabar denger berita baik dari kalian." Anita begitu nampak sangat bahagia.


"Mama jangan bikin Ratu malu dong!" Ratu menutupi wajahnya sendiri dengan telapak tangannya.


Makan malam berakhir karena sudah larut malam. Semuanya kembali ke rumah masing-masing. Alan lebih dahulu mengantar Suci kembali ke rumahnya. Hendra pun juga mengantar Anita pulang.


Raja dan Ratu kembali ke apartemen mereka sendiri. Di dalam perjalanan, Ratu masih melihat wajah sedih Raja. Ratu tak tahu apa yang membuat Raja terlihat sedih jika sedang membahas seorang anak. Terbesit di pikiran Ratu untuk bertanya pada suaminya.


"Ja, kamu kenapa. Kok kayaknya kamu sedih dan terlihat tertekan setiap kali kita bahas masalah anak.?" tanya Ratu.


"Gak apa-apa, Dek. Aku cuma lelah!" jawab Raja.


"Tapi, Ja. Ini bukan pertama kalinya aku —"


"Dek, please! Kita bahas ini setelah kita sampai di rumah ya!" pinta Raja.

__ADS_1


Ratu pun menganggukkan kepalanya dan memilih diam, Ratu tak ingin memaksa Raja untuk mengatakan apa yang tidak ingin dia katakan.


"Makasih, Dek untuk pengertiannya," ucap Raja, tangannya mengusap sisi wajah Ratu.


Hening mengambil alih suasana di dalam mobil, keduanya pun diam seribu bahasa bahkan sampai mereka tiba di apartemen. Akan tetapi Ratu tidak tahan dengan situasi itu.


"Ja, kalo kamu ada masalah, kamu bilang dong sama aku." Ratu akhirnya membuka suara terlebih dahulu.


"Aku capek, Dek. Please gak usah bahas apa-apa dulu!" pinta Raja sedikit membentak Ratu.


Ratu terkejut mendengar Raja membentak dirinya. Bahkan tanpa rasa bersalah, Raja berjalan masuk ke dalam kamar meninggalkan dirinya.


"Kenapa lagi tuh anak?" Ratu bertanya pada dirinya sendiri


Raja berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, merasa menyesal telah membentak Ratu seperti itu. Setiap dirinya membahas masalah bayi, entah kenapa ia mengingat kembali tentang ibu kandungnya.


Raja memutuskan untuk membersihkan diri. Ia masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air hangat, membuat pikirannya sedikit tenang. Setelah cukup lama berada di dalam kamar mandi, Raja keluar dengan rambut basahnya. Rasa segar terasa di tubuh dan pikirannya. Setelah berganti pakaian Raja memutuskan untuk menemui Ratu untuk meminta maaf karena sudah berbicara kasar padanya.


Raja mengetuk pintu kamar Ratu, namun tak ada sautan dari dalam. Raja membuka pintu kamar Ratu, begitu pintu terbuka sempurna Raja terkejut melihat Ratu mengerang menahan sakit di perutnya.


"Dek, kamu kenapa?" tanya Raja cemas.


"Perut aku sakit, Ja!" jawab Ratu.


"Ya sudah kita ke rumah sakit aja, ya," ajak Raja.


"Gak usah, Ja. Ini nanti sembuh sendiri kok!"


"Sembuh sendiri gimana, kamu aja sampe kaya gini." Raja tak tega melihat Ratu kesakitan sampai keluar keringat dingin.


"Ini biasa kok, kalo mau datang bulan!"


"Apa? Mau datang bulan sakitnya sampe kaya gini?" tanya Raja, diikuti anggukan kepala Ratu.


"Ya sudah aku bikinin kamu teh anget dulu." Raja segera berlari ke dapur untuk membuat teh hangat untuk istirnya.


Tidak lama Raja kembali ke kamar Ratu dengan membawa segelas teh hangat. Raja membuka pintu kamar Ratu lalu berjalan menghampiri istrinya. Raja pun membantu Ratu untuk meminum teh hangat yang ia bawa.


"Udah mendingan, Dek?"


"Udah kok!"

__ADS_1


"Ya sudah kamu istirahat gih!"


Raja duduk di samping Ratu yang tengah berbaring tangannya


mengusap kening istrinya penuh dengan kelembutan untuk memberi ketenangan padanya.


"Thank, Ja"


"Sama-sama, Dek!"


Raja terdiam, ia teringat kembali akan ucapan kasarnya pada Ratu. Dikecup nya kening Ratu seraya mengucapkan kata maaf.


"Maaf, Dek. Aku tadi bentak kamu. Aku gak ada maksud untuk itu, aku cuma merasa ...." Raja menjeda ucapannya. "Aku ...."


"Ja, maaf. Mungkin aku udah terlalu maksa kamu untuk mengatakan apa yang gak bisa kamu katakan. Cuma satu hal yang aku minta, kalau kamu punya masalah, please ngomong sama aku. Jangan bikin aku khawatir," pinta Ratu.


"Iya, maaf." Raja menggenggam tangan Ratu dan mencium punggung tangannya. "Aku memang belum siap untuk mempunyai anak, bukan karena aku gak suka anak-anak. Aku hanya takut, apa yang akan terjadi sama mamah aku, terjadi juga pada kamu. Jujur aku takut, Dek!"


Ratu terperanjat, ternyata itu alasan Raja selalu nampak sedih saat membicarakan soal anak. Ratu meraih tengkuk Raja membuat wajah Raja mendekat ke wajahnya. Ratu mencium kening Raja.


"Jangan khawatir, Ja! Mungkin apa yang terjadi sama mamah kamu itu sudah takdir. Please jangan sedih lagi, Ja. Aku sakit liat kamu sedih."


Raja mengangguk, keduanya beradu pandang. Raja menempelkan keningnya ke kening Ratu, keduanya saling melempar senyum sebelum akhirnya mereka terlelap menuju arus mimpi.


Di tempat lain


Alan berada di depan rumah Suci, rumah sederhana tak jauh dari tempat tinggalnya. Hubungan Alan dan Suci sudah membaik. Alan bahkan sudah berniat melamar Suci dan sudah disetujui oleh Hendra.


"Makasih, Lan sudah mau antar aku pulang," ucap Suci.


"Sama-sama, Ci!" balas Alan.


"Ya sudah, aku masuk dulu, kamu pulangnya hati-hati ya." Suci membuka pintu mobilnya, namun sebelum pintu itu terbuka Alan lebih dulu mengunci kembali mobilnya.


"Lan, kok dikunci lagi?" tanya Suci dengan wajah yang nampak kebingungan.


"Buru-buru banget sih!" Alan mengambil posisi duduk menyamping di dalam mobilnya. Ia menatap lurus ke arah Suci.


"Ini udah malam, Lan," protes Suci.


Tanpa permisi, Alan meraih tengkuk Suci lalu mengecup bibir tipis Suci membuat Suci terperanjat kaget.

__ADS_1


"I love you, Suci," bisik Alan.


Detik itu juga wajah Suci langsung merona. Dengan sedikit malu, Suci pun membalas ucapan Alan. "I love you too, Alan!"


__ADS_2