Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 101


__ADS_3

Jangan lupa Like setelah baca, atau like dulu baru baca. Satu like kalian sangat berarti buat kami para author.


Ratu turun dari taxi di depan gedung perkantoran milik papa mertuanya. Raja sudah berjanji akan makan siang bersama dirinya. Ratu sangat bahagia, sudah lama meraka tidak makan siang bersama. Setelah membayar ongkos taxi online nya Ratu pun masuk ke dalam gedung itu.


Saat ia berjalan melewati parkiran mobil, ia bertabrakan dengan seseorang.


"AaWww." Pekik keduanya.


Ratu memegangi lengannya. Ratu melihat seseorang yang terjatuh karena bertabrakan dengan dirinya. Ratu berniat untuk menolongnya. Ratu mengulurkan tangannya untuk membantu perempuan itu untuk bangun, tetapi langsung ditepis olehnya.


"Gue nggak butuh bantuan lo, dasar perempuan sialan," makinya.


Perempuan itu pun bangun dan berdiri tepat di hadapan Ratu dengan sorot mata tajam.


"Apa lo nggak punya mata?" makinya.


"Sorry, bukannya lo sendiri yang jalan nggak lihat-lihat," balas Ratu.


Memang benar, perempuan itu yang menabrak Ratu. Perempuan itu sibuk dengan ponselnya dan tidak melihat Ratu sedang berjalan di hadapannya.


"Apa lo?" senga perempuan itu.


Ratu melihat perempuan itu dengan sinis. 'Siapa sih nih cewek? nyebelin banget'


Ratu tidak menghiraukan perempuan itu lagi. Ratu pergi meninggalkannya namun perempuan itu mencekal tangannya.


"Mau ngapain lo ke sini?" tanya nya.


"Gue mau ketemu suami gue," jawab Ratu.


"Oh, jadi suami lo kerja di sini?" Perempuan itu tersenyum miring. "Gue pastiin suami lo bakalan di pecat dari kantor ini, karena sikap lo yang nggak sopan sama gue," ancam nya.


Dih siapa sih nih cewek, berani banget ngancam gue kaya gini. Nggak tahu apa siapa suami gue.


"Siapa lo berani mecat suami gue, lo nggak tahu apa siapa suami gue, dia it,,,,"


Belum sempat Ratu menyelesaikan ucapannya, perempuan itu sudah memotong ucapannya. "Gue calon nyonya Adi Gunawan!"


"Hah, APA?" Ratu berteriak saat mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut perempuan itu.


Ratu memperhatikan penampilan perempuan yang berdiri di hadapannya, masa iya dia calon nyokap tirinya Raja. Umurnya saja kayaknya nggak beda jauh dari dirinya dan Raja.

__ADS_1


"Sudah lah, gue kasih lo kesempatan untuk masuk yang terakhir kalinya ke kantor ini." Perempuan itu melepaskan cengkraman tangannya di lengan Ratu.


Perempuan itu meninggalkan Ratu dan berjalan menuju mobilnya setelah sebelumnya sengaja menabrak pundak Ratu.


Ratu sendiri masih berdiri mematung di tempatnya, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Masa iya dia calon istri Dady nya.


Ratu tersadar saat suara keras klakson mobil mengejutkannya.


"Aku harus tanya ini sama Raja," guman Ratu.


Ratu langsung berlari masuk ke dalam gedung pencakar langit itu. Ratu menaiki lift khusus untuk menuju ruang suaminya. Di kantor itu hampir semua orang sudah mengenal Ratu jadi tidak seorang pun yang melarang Ratu saat masuk ke lift khusus yang biasa di gunakan oleh para petinggi perusahaan itu.


Ratu masuk ke ruangan Raja, ruang manager keuangan. Ya Raja susah menjadi Manager keuangan di sana.


Ratu langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membuat Raja terkejut. "Yank."


"Ya ampun Dek, kenapa teriak begitu, bikin aku kaget." Meski begitu Raja menyambut istrinya dengan senyuman.


"Yank, jelasin sama aku." Ratu langsung berbicara, terlihat nafas Ratu masih tersengal-sengal.


"Oke, tapi kamu duduk dulu," suruh Raja.


Raja menggiring tubuh istrinya ke sofa yang ada di sudut ruang nya. Ratu menetralkan nafasnya sebelum ia kembali berbicara.


Raja terkejut ternyata istrinya sudah bertemu dengan calon ibu tirinya. Raja mengusap wajahnya, Ratu bisa melihat wajah murung suaminya.


"Jadi itu benar, Yank?" Raja mengangguk lemah. Ratu langsung memeluk tubuh suaminya dari samping. Ratu pun menyenderkan kepalanya di pundak sang suami.


"Aku belum ketemu sama papah, aku juga mau tanya soal ini. Aku nggak setuju papah nikah sama dia," aku Raja.


"Aku juga nggak suka, Yank. Bukan karena dia masih seumuran sama kita, tapi sikap dia kasar banget Yank," tutur Ratu.


Raja langsung memandang wajah istirnya, dua raihnya kedua pundak sang istri penuh kekhawatiran. "Kasar? Kamu diapain sama dia, Dek. Dia nyakitin kamu nggak?" tanya Raja beruntun.


Ratu menaikan satu alisnya, ia bingung kenapa Raja terlihat begitu khawatir pada dirinya. "Nggak sih, Yank. Tadi nggak sengaja tabrakan aja sama dia. Dia nggak mau aku tolongin, malah ngancem mau pecat kamu dan kayaknya dia nggak tahu deh kalau aku ini istri kamu," jelas Ratu.


Raja menghembuskan nafas lega.


"Kok kamu kayaknya takut gitu sih, Yank. Kamu kenal sama tuh cewek?"


Raja terdiam bagaimana cara menjelaskan pada Ratu apa yang sudah terjadi antara dirinya dan calon ibu tirinya itu.

__ADS_1


"Yank, kok diem?" tanya Ratu. Ratu mengguncangkan tubuh suaminya membuat Raja terkejut.


"Dek, kita ke kafe yuk. Katanya mau makan siang, aku udah laper banget." Raja mencoba mengalihkan pembicaraan.


Ratu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi Ratu tahu jika Raja sedang cemas. Ratu mencoba untuk berpikir positif pada suaminya, toh selama ini dia tidak pernah macem-macem.


"Ya udah, yuk."


Ratu segera meraih tangan Raja dan bergelayut manja pada suaminya. Ratu dan Raja tidak peduli dengan pandangan karyawan-karyawan lain di kantor papanya. Memang kenapa kalau mereka mersa, toh masih dalam batas wajar. Lagi pula mereka berdua sudah sah menjadi suami istri.


Cafe tujuan Raja dan Ratu hanya berjarak beberapa meter, letaknya di depan gedung kantor itu. Raja dan Ratu memilih untuk berjalan kaki dari pada menaiki mobil karena pasti akan memutar jalan.


Berjalan dengan bergandengan tangan dan sesekali tertawa membuat iri orang-orang yang melihatnya.


"Kamu makan yang banyak ya, Dek. Lihat nih badan kamu kayaknya kurusan," ucap Raja.


Ratu meringis saat Raja menarik salah satu pipinya. "Nggak mau gendut nanti aku nggak seksi lagi," ucap Ratu.


"Tapi aku suka kamu yang gendut, lebih seksi," bisik Raja di telinga Ratu.


"Masa ada orang gendut seksi," celoteh Ratu.


"Kalau gendut kan empuk, Dek," seloroh Raja.


"Udah jangan dibahas, nanti ngomongnya bisa kemana-mana," ucap Ratu seolah mengerti arah pembicaraan Raja.


Raja hanya terkekeh melihat ekspresi wajah Ratu yang malu-malu. "Kalo lagi nggak di jalan, udah aku makan kamu," goda Raja. Raja menarik hidung Ratu gemas.


Raja dan Ratu sampai di depan pintu cafe. Keduanya disambut oleh salah satu pelayan cafe dan mengantarkan mereka ke meja yang masih kosong.


"Silahkan Bapak, Ibu. Mau pesan apa?" pelayan cafe itu memberikan buku menu pada Raj dan Ratu.


Setelah memilih menu makan siang meraka Raja dan Ratu kembali memberikan buku menu pada waiters itu.


"Di tunggu pesanannya," ucap waiters itu dengan sopan.


Raja dan Ratu duduk di dekat jendela. Keduanya duduk saling berhadapan. Ratu nampak sangat bahagia, jarang-jarang keduanya makan siang bersama.


Setelah menanti akhirnya pesanan mereka datang. Ratu mengambilkan lauk untuk Raja, ayam goreng madu dan tumis popcay.


Keduanya makan bersama dan saling menyuapi. Mereka tidak tahu jika ada sepasang mata yang memerhatikan keduanya dengan tatapan penuh kebencian.

__ADS_1


Nah loh siapa ya,


__ADS_2