Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 93


__ADS_3

Raja membawa Ratu ke suatu tempat fan membiarkan Alan dan Suci untuk menyelesaikan masalah mereka. Sebelum itu Raja terlebih dahulu menutup mata Ratu dengan sepotong kain.


"Kita mau kemana sih, Yank?" tanya Ratu yang merasa penasaran ke mana suaminya akan membawa dirinya.


"Surprise dong, Dek. Kalau di kasih tahu nanti bukan suprise," jawab Raja.


Raja masih konsentrasi mengemudikan mobilnya. Senyum bahagia terpancar di wajah Raja. Setelah satu jam, Raja memberhentikan laju mobilnya di parkiran gedung mewah.


Raja membuka safety belt nya dan keluar lebih dulu dari dalam mobilnya. Raja berjalan memutar dan membukakan pintu untuk istrinya. Mata Ratu masih dalam keadaan tertutup. Raja membantu Ratu turun dari mobilnya lalu membawa Ratu masuk ke dalam gedung itu.


"Yank, kamu mau bawa aku ke mana?" Ratu benar-benar merasa penasaran ke mana Raja akan membawanya.


"Sebentar lagi juga kamu tahu." Raja masih menuntun Ratu.


Setelah berjalan berputar-putar di dalam kedung itu akhirnya Raja menghentikan langkahnya. "Sudah sampai."


"Boleh dibuka nggak penutup matanya, Yank?"


"Oke. Tapi kamu jangan buka mata dulu kalau sebelum aku suruh ya."


"Oke, Yank."


Raja mulai membuka ikatan penutup mata Ratu. Ratu sendiri masih menutup matanya menunggu instruksi dari suaminya.


"Sudah siap?" Ratu mengangguk. "Aku hitung sampai tiga setelah itu kamu bisa buka mata, Oke."


Ratu berdiri dengan tenang, rasa penasaran begitu besar saat ini. Kejutan apa lagi yang di siapkah oleh suaminya.


"Satu ... dua ...tiga ... buka mata kamu, Dek."


Ratu perlahan membuka matanya, berulang kali Ratu mengedipkan matanya untuk membiasakan cahaya yang masuk ke matanya. Setelah matanya terbuka lebar, Ratu terperangah melihat apa yang ada di hadapannya kini.



"Yank, ini apa?" tanya Ratu.


Raja memeluk Ratu dari belakang dan menempelkan dagunya di pundak Ratu. "Ini pelaminan kita."


"Maksud kamu?"

__ADS_1


"Ya, kita kan belum ngadain resepsi pernikahan kita, Dek. Dan aku mau kita merayakan ini. Aku sama yang lain sudah nyiapin ini dua minggu yang lalu, tapi karena masalah aku sama Kiara jadi aku menunda ini." Raja menarik nafas dalam-dalam. "Maaf ya."


Ratu melihat ke arah Raja. Mata Ratu menatap intens mata Raja. Mata bening yang selalu menenangkan dirinya. "Makasih, Yank."


Ratu menempelkan keningnya ke kening Raja. Perasaannya sungguh bahagia, entah bagaimana caranya Ratu untuk menggambarkan rasa bahagia itu.


"Aku suka banget kejutan ini." Keduanya masih berdiri dengan mesra, Raja masih memeluk Ratu dari belakang keduanya masih sama-sama menempelkan keningnya merasakan hembusan nafas satu sama lain. Dan jika saja Angga, Panji, dan Aldo tidak datang mungkin keduanya bisa saling menempelkan bibir mereka.


"Woy, penganten!" seru Angga. Raja langsung melepaskan tautan tangannya di tubuh Ratu dan keduanya sama-sama menoleh ke arah belakang mereka.


"Mesra-mesraan mulu kalian gue 'kan jadi iri," keluh Panji.


"Makanya nyari cewek sana," suruh Ratu.


"Gua pengin cari, tapi gue kasihan sama dua curut ini." Panji menunjuk ke arah Aldo dan Angga.


"Alesan aja lo, bilang aja lo gak laku," balas Angga. Raja, Ratu, dan Aldo menghembuskan nafas dan menggelengkan kepala mereka melihat pertengkaran kedua sahabat mereka.


"Woy, sudah dong." lerai Aldo. "Lo berdua lupa kita kesini mau kasih kejutan untuk Raja dan Ratu."


Ratu dan Raja menaikan alis mereka. "Kejutan apa?" tanya Ratu.


Angga berdiri di antara Raja dan juga Ratu dan menunggu sampai panggilan video itu tersambung. Beberapa detik kemudian panggilan video tersebut dan kelima anak muda itu melihat wajah seseorang yang sangat mereka rindukan. Ratu sampai menangis melihat wajah seseorang yang terlihat jelas di layar ponsel Angga.


(Percakapan di sambungan video call)


"Yah kok nangis. Kangen ya sama gue," ledek orang itu.


"Diam lo," omel Ratu. Ratu bisa melihat wajah orang itu terkekeh.


"Sudah dong berhenti nangis nya, gue baru juga sembuh bisa sakit lagi gue di amuk sama suami lo karena bikin lo nangis."


Kelima anak muda itu tertawa kecil mendengar ucapan sahabat yang sudah lama mereka rindukan, Egi.


Raja mengambil alih ponsel di tangan Angga. "Kapan lo balik?" tanya Raja.


"Nggak tahu, gue masih dalam proses penyembuhan. Sudah kangen ya sama gue?"


Raja memutar bola matanya jengah. Ternyata sahabatnya itu masih tetap saja konyol. "Gue nantikan kepulangan lo."

__ADS_1


Egi mengacungkan jempol tangannya sebelum sambungan telepon itu terputus. Ratu menghapus air mata bahagianya, Ratu merentangkan tangannya pada ketiga sahabatnya, Angga, Panji, dan Aldo.


"Makasih buat kalian semua." Ratu bergerak untuk memeluk tiga sahabatnya namun langsung di tahan oleh Raja.


"Berani kalian meluk istri gue?" tatapan tajam Raja langsung mengarah kepada istri dan tiga sahabatnya.


"Pelit banget lo, Ja," ledek Panji. "Lo bisa sama Ratu juga atas bantuan kita, ya nggak, gaes." Aldo dan Angga mengangguk bersamaan sedangkan Raja mendengus membuat ledakan tawa istri dan teman-temannya.


"Woy udah dong. Kita nggak punya banyak waktu, dua calon pengantin ini harus bersiap-siap."


Aldo, Angga, dan Panji menggiring Raja dan Ratu ke kamar hotel yang sudah di sulap menjadi ruang ganti.


Raja dan Ratu tengah dirias oleh makeup artis sedangkan di lantai bawah, teman-temannya serta orang tua Raja serta Ratu sedang mempersiapkan resepsi pernikahannya. Resepsi yang sudah di persiapkan dua minggu yang lalu.


Dua jam sudah Ratu dirias oleh make up artis. Raja sendiri memperhatikan Ratu yang sudah hampir siap dengan pakaian adat Jogjakarta. Raja masih menunggu gilirannya karena Raja tidak memerlukan banyak waktu untuk bersiap.


Raja terpana saat melihat Ratu sudah siap dengan pakaian adatnya. Mata Raja tidak berkedip saat melihat betapa cantiknya istirnya itu.



"Mas Raja, natapnya biasa aja kali," ledek salah satu makeup artist itu. Raja terkekeh sedangkan Ratu sudah tersipu malu.


"Nggak nyangka aja, Mbak. Istri saya bisa cantik kaya gini," ledek Raja.


"Kamu muji apa ngeledek aku, Yank?" Mata Ratu mendelik ke arah Raja.


"Anggap aja dua-duanya." Satu kerlingan mata Raja berhasil membuat Ratu tersipu malu sekaligus kesal.


"Sudah-sudah mesra-mesraanya nanti lagi setelah selesai resepsi. Sekarang giliran Mas Raja ganti baju," ucap Makeup artist itu.



Anita dan Mehendra setra Gunawan masuk ke dalam kamar ganti itu untuk menjemput kedua mempelai itu. Mereka melihat betapa cantik dan tampannya anak-anak mereka.


"Kalian sudah siap?" tanya Mahendra.


"Sudah," jawab Raja dan Ratu bersamaan.


Mahendra dan Anita berjalan dengan menggandeng kedua tangan Ratu yang akan mereka serahkan pada Raja saat mereka sudah berada di pelaminan.

__ADS_1


__ADS_2