Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 108


__ADS_3

Ratu baru saja pulang saat Raja juga baru kembali dari kantor. Ratu kembali ke teras rumah untuk menyambut suaminya.


"Mukanya kusut banget kaya baju gak disetrika," ledek Ratu.


Ratu mengambil alih tas kerja suaminya dan langsung melingkarkan tangannya ke lengan suaminya.


"Gimana gak kusut, setiap hari diganggu makhluk gaib," ucap Raja.


"Makhluk gaib?" tanya Ratu tidak mengerti. "Memang di kantor ada hantunya, Yank?"


"Ada, tuh si Megan." Jawaban Raja membuat Ratu tergelak.


"Jahat banget. Gitu-gitu, dia pernah ada di hati kamu loh," ledek Ratu.


"Mana pernah, Dek," kilah Raja.


Raja menjatuhkan dirinya pada sofa yang ada di ruang tengah rumahnya, sedangkan Ratu pergi ke dapur untuk mengambilkan suaminya air minum. Tidak lama Ratu datang kembali ke ruang tengah dan memberikan air yang ia bawa dari dapur.


"Terimakasih." Raja meminum air putih yang diberikan oleh Ratu.


"Sama-sama." Ratu mengambil posisi duduk di samping Raja.


"Kamu baru pulang dari rumah bunda?" tanya Raja.


"Aku baru pulang dari rumah sakit nemenin Suci," sahut Ratu.


"Terus bagaimana keadaannya?"


"Tadinya dia masih gak mau makan, tapi setelah dibujuk Egi, Suci akhirnya mau makan banyak dan kondisinya sudah jauh lebih baik," jawab Ratu. "Besok juga sudah boleh pulang."


"Syukurlah."


"Kamu mandi dulu, aku siapin makan malam buat kamu," suruh Ratu.


"Gak usah, Dek. Aku sudah makan tadi sama papa sama si makhluk gaib juga."


Ratu tertawa setiap kali Raja menyebut Megan sebagai makhluk gaib.


"Dek, kamu belum mandi, 'kan?"


Ratu menatap suaminya dengan tatapan curiga.


"Belum, kenapa?"


"Mandi bareng, yuk," ajak Raja dengah senyum nakalnya.


Ratu tahu apa yang suaminya inginkan sebenarnya. Ratu tidak akan menolak, karena dirinya pun menginginkannya.


"Yuk!" Ratu langsung beranjak dari sofa dan melangkah menuju kamar mereka.


Raja bersorak ria, karena istrinya menerima ajakannya. Rasa lelah di tubuhnya seolah sirna dari tubuhnya. Raja menyusul langkah sang istri dan pada saat mereka sudah berada di dalam kamar, Raja langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Tidak puas setelah bergulat di dalam mandi, keduanya melanjutkan pergulatan panas mereka di atas tempat tidur.


Desahan penuh kenikmatan menggema di kamar tidur itu mengisyaratkan sebuah kenikmatan dalam diri mereka.


Meskipun bukan yang pertama kalinya mereka melakukan hubungan suami-istri itu, tetapi kenikmatan itu masih sama seperti saat malam pertama mereka.


Sentuhan Raja pada setiap inci tubuh Ratu begitu memabukkan, membuat Ratu kehilangan kendali atas tubuhnya. Dan bagi Raja, tubuh istrinya seolah sudah menjadi candu untuknya, membuat Raja tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri setiap berdekatan dengan sang istri.

__ADS_1


Tubuh keduanya dipenuhi oleh keringat, padahal pendingin di kamar mereka disetel dengan suhu dingin. Cukup lama mereka bergulat di atas tempat tidur sampai mereka merasakan akan sampai pada puncak kenikmatan.


Desahan panjang lolos dari mulut mereka, menjadi pertanda berakhirnya pergulatan panas mereka. Masih dalam posisi yang sama, keduanya berlomba meraup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga paru-paru mereka.


Setelah napas meraka kembali normal, Raja menggulingkan tubuhnya ke samping tubuh polos istrinya. Raja menarik tubuh polos istrinya, membawanya masuk ke dalam pelukannya. Setelah itu Raja menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


"Terimakasih, Sayang," ucap Raja seraya mengecup kening istrinya.


Ratu memberi anggukan kecil dengan wajah yang nampak malu-malu.


"Yank, maaf ya ... aku belum bisa kasih keturunan untuk kamu," ucap Ratu dengan wajah yang terduduk.


Raja melihat kesedihan pada wajah istrinya yang terduduk. Raja meraih dagu Ratu lalu mengangkat wajah istrinya.


"Jangan dipikirkan, mungkin kita memang belum dikasih kepercayaan untuk memiliki seorang anak," ucap Raja.


"Tapi ...."


"Sttt ...." Raja menaruh jari telunjuknya di depan bibir Ratu. "Kita jangan bahas ini ya. Jika sudah saatnya pasti benih aku akan bisa tumbuh di rahim kamu."


"Apa kamu tidak masalah?"


"Tidak, Dek. Lagipula kita jadi bisa menghabiskan waktu berdua seperti ini, 'kan?" ujar Raja yang ingin mencairkan suasana.


"Yank ...."


"Ada apa?"


Raja dan Ratu mempertemukan pandangan mereka di satu titik yang sama.


"Terimakasih."


"Sama-sama." Raja kembali mendaratkan kecupan pada kening Ratu. "Jangan bahas masalah yang membuat kamu merasa terbebani."


"Sekarang kita tidur. Besok kita harus jemput Suci, 'kan," ucap Raja.


Rasa kantuk bercampur lelah melanda tubuh suami-istri itu dan membuat mereka cepat terlelap.


-


-


Pada esok harinya.


Tidur Raja terusik karena mendengar suara gerumuh dari kamar mandi. Raja pun mengulurkan tangannya ke sisi sebelahnya dan terkejut saat tidak mendapati Ratu di sampingnya.


Raja mengucek matanya lalu mengedipkan matanya secara berulang-ulang untuk membiasakan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Ketika matanya terbuka dengan sempurna, benar saja Ratu sudah tidak ada di atas tempat tidur.


"Ini masih jam 4 pagi, kemana dia? Tidak biasanya dia bangun secepat ini?"


Raja mendengar suara dari arah kamar mandi.


"Ratu ...." Rasa khawatir langsung menyelimuti diri Raja saat mendengar Ratu sepetinya sedang muntah-muntah.


Raja segera turun dari atas tempat tidur dan memakai celana pendeknya. Segera ia berjalan ke arah kamar mandi. Raja membuka pintu kamar mandi, matanya melihat Ratu sedang berjongkok di hadapan closet dan sedang berkutat dengan rasa mualnya.


"Dek, kamu kenapa?" Raja menghampiri Ratu dan membatu memijat tengkuk istrinya.


Melihat istrinya sudah berhenti memuntahkan isi perutnya, Raja menyalakan keran yang ada di closet itu. Setelah itu Raja menarik handuk untuk menutupi tubuh polos istrinya.

__ADS_1


"Yank, aku merasa pusing dan tubuhku lemas," ucap Ratu dengan suara lirihnya.


Raja melilitkan handuk ke tubuh istrinya lalu mengangkat tubuh istrinya dan membawanya keluar dari kamar mandi.


Raja merebahkan tubuh Ratu ke atas tempat tidur lalu menyelimutinya.


"Kamu kenapa bisa muntah-muntah kaya tadi. Kamu salah makan?" tanya Raja seraya mengusap kening Ratu.


"Aku gak tahu, Yank. Tadi mendadak aku merasa mual saja," sahut Ratu.


"Aku bikinin tes manis ya. Kamu tunggu di sini." Raja mengecup kening Ratu sebelum beranjak dari sisi Ratu.


"Yank, bisa minta tolong ambilkan aku baju," pinta Ratu.


"Oke."


Raja berjalan ke arah lemari pakaian mereka dan mengambil piyama tidur milik Ratu.


"Mau aku pakaikan?" tanya Raja.


"Tidak usah. Aku bisa kok," sahut Ratu.


"Ya sudah aku ke dapur dulu," ucap Raja yang langsung diangguki oleh Ratu.


Sepeninggal Raja, Ratu memakai piyama tidurnya dan turun dari atas tempat tidur. Rasa pusing dan tubuh lemas masih menyelimuti diri Ratu. Namun, rasa penasaran akan sesuatu hal membuat Ratu bertahan.


Ratu mengambil sesuatu dari dalam laci lemarinya dan melangkah perlahan menuju ke arah kamar mandi.


Ratu mengunci pintu kamar mandi setelah dirinya berada di dalamnya. Sesaat Ratu memperhatikan alat tes kehamilan yang baru ia ambil dari lemari.


Aku coba gak ya?


Ratu merasa ragu untuk mencoba alat tes kehamilan itu.


Tapi aku merasa penasaran.


Ratu akhirnya mencoba untuk melakukan tes. Ratu menyobek bungkus alat tes kehamilan dan mulai melakukan tes. Jantung Ratu berdegup kencang menanti hasil tes itu.


Dan pada saat dua garis merah muncul pada alat tes kehamilan itu, Rasa bahagia Ratu sudah tidak terbendung lagi. Air mata pun ikut mengiringi kebahagiaan itu.


Tok tok tok


"Dek, kamu di dalam?"


Ratu segera mengusap air mata yang jatuh ke pipinya. Ratu membuka pintu kamar mandi dan langsung melihat suaminya berdiri di hadapannya.


Ratu menatap Raja dengan mata yang berkaca-kaca, dan hal itu membuat Raja cemas.


"Kamu kenapa menangis, Dek?" Ada kecemasan dalam nada bicara Raja.


"Aku hamil, Yank." Ratu langsung memeluk tubuh suaminya yang membeku karena merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Apa yang kamu katakan tadi?" tanya Raja.


Ratu menarik diri dari pelukannya. "Aku hamil, Yank."


Ratu menunjukan alat tes kehamilan yang menunjukan garis 2 diatasnya.


"Ini beneran, Dek."

__ADS_1


Senyum Ratu memudar, seketika ia juga merasa ragu. "Aku juga tidak tahu."


Raja menangkup kedua sisi wajah Ratu. "Besok kita akan memastikan ini ke rumah sakit."


__ADS_2