Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
Pernikahan Anita dan Mahendra


__ADS_3

Honda CRV warna hitam sedang melaju di jalanan kota Jogjakarta. Di dalam mobil itu ada Angga dan juga Rini. Angga terpaksa membawa mobil milik Egi. Saat melihat Rini diam dan menitahkan air mata sepanjang perjalanan dan sikap tidak peduli Egi pada Rini, Angga yakin ada masalah di antara mereka.


"Lo ada masalah sama Egi?" tanya Angga dengan sedikit ragu.


Tidak ada tanggapan dari Rini. Angga pun hanya bisa menghela napas. "Kalo lo ada masalah sama dia, lo bisa cerita sama gue, barangkali gue bisa bantu," ucap Angga.


"Aku bisa apa, Angga. Aku sebenernya juga suka sama dia, tapi temen aku bilang jika dia bukan cowok baik-baik. Dia itu playboy, suka mainin perasaan cewek dan yang lebih parah lagi, Egi bakalan ninggalin itu cewek kalo dia udah nidurin itu cewek," aku Rini.


Angga sebenarnya tidak terlalu terkejut dengan ucapan Rini. Sahabat yang satunya itu memang sangat ajaib, tanpa rasa berdoaa dia meninggal seorang gadis yang jika sudah merasa bosan.


"Oh jadi itu masalahnya." Angga manggut-manggut.


"Lo sendiri nilai Egi selama ini gimana? Maksud gue … pernah gak, Egi berbuat kurang ajar sama lo?" tanya Angga.


"Gak, dia baik sama aku," sahut Rini.


"Terus kenapa lo ragu sama dia." Angga melihat sekilas ke arah Rini. "Gue gak ada maksud buat belain Egi, Rin. Tapi asal lo tahu saja banyak cewek-cewek yang ngejar Egi. Mereka mau melakukan apa pun untuk bisa jadi pacar Egi bahkan mereka rela membuka kakinya lebar-lebar di atas untuk Egi," jelas Angga.


"Di sekolah gue, Raja sama Egi itu bisa dibilang idola cewek-cewek. Sepeninggal Raja, Egi jadi satu-satunya yang menduduki predikat itu. Banyak cewek yang mau menjadikan Egi pacarnya meski hanya sehari. Egi si oke-oke saja," lanjut Angga.


"Tapi harusnya dia gak boleh kaya gitu dong, dia 'kan bisa nolak secara halus," ucap Rini.


"Sudah dan hasilnya ada satu cewek yang nekat mau bunuh diri. Dan itu yang bikin Egi parno," ucap Angga.


"Satu hal lagi, Rin. Mungkin saja temen lo itu sirik sama lo karena Egi suka sama lo. Makananya dia ngomong yang enggak-enggak soal Egi ke lo. Jadi gue saranin jangan pernah percaya omongan jelek tentang Egi dari siapapun sebelum lo buktiin sendiri," lanjut Angga. "Dan satu lagi Rin, gue, Raja, sama Panji udah temenan lama sama Egi. Kami tahu baik buruknya dia."


Rini terdiam mencoba mencerna setiap perkataan Angga. Rini menghapus jejak air matanya dan tersenyum. "Terima kasih, Ngga!"


Angga membalas dengan senyuman dan anggukan kepala.


Di tempat lain, Egi juga sedang mencurahkan masalahnya dengan dua sahabatnya, Raja dan Ratu. Menceritakan masalahnya dengan Rini. Rini menganggap dirinya hanya main-main padanya. Lebih parahnya lagi, Rini lebih percaya dengan apa yang dikatakan oleh temannya dari pada dirinya. Mempercayai apa yang tidak pernah ia lakukan.


"Sabar, Gi," ucap Ratu.


"Gue gak tahu mesti gimana lagi buat ngeyakinin dia. Dia bahkan gak percaya sama omongan gue," keluh Egi.


"Gue bakalan bantu lo kok buat nyelesain ini sama Rini," ucap Ratu.


"Gak perlu. Gue gak akan ngedeketin dia lagi seperti apa yang dia mau," tolak Egi.


"Lo yakin, Gi?" tanya Raja.

__ADS_1


"Yakin!" jawab Egi.


"Lo sudah gak cinta lagi sama Rini?" sekarang giliran Ratu yang bertanya.


"Untuk apa gue pertahanin cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan," jawab Egi lagi.


"Beneran?" tanya Ratu. Ratu sengaja meledek Egi.


Egi mendengus karena tahu kedua temannya sedang mencoba meledek dirinya.


"Gue cium juga lo, Ratu," ancam Egi.


"Berani lo ngelakuin itu? Gue turunin detik ini juga dari nih mobil," ancam balik Raja. Gelak tawa tidak dapat dicegah Egi dan Ratu, melihat nada kecemburuan dari ucapan Raja.


"Cie, cie cemburu nih," ledek Ratu.


Raja yang kesal meraih tengkuk Ratu lalu mencium pipinya. Ulah Raja membuat laju mobil menjadi oleng. Beruntung Raja masih bisa mengendalikan mobil itu.


"Gila lo, Ja. Kalau mau berbuat mesum ingat tempat dong. Lo udah bikin gue iri dan masih belum puas mau bikin gue celaka?" sungut Egi.


"Iya, maaf," ucap Raja.


Tidak berselang lama, mobil Raja dan teman-temannya sampai di kediaman orang tua Anita. Terlihat sudah banyak tamu yang datang. Acara ijab kabul akal dilakukan siang hari, tepatnya pukul satu siang.


Raja dan teman-temannya masuk ke rumah yang sudah ditata dengan berbagai macam bunga dan juga lampu-lampu yang akan menyala di malam hari. Egi masih belum mau menyapa Rini, hanya melihatnya saja Egi belum mau. Teman-temannya yang melihatnya hanya diam tanpa tahu apa yang harus mereka perbuat.


Di dalam rumah mereka memilih untuk duduk sedangakan Raja dan Ratu menyapa sanak saudara mereka. Ratu juga memperkenalkan Raja dan juga para sahabatnya pada sanak saudaranya yang datang ke acara pernikahan itu.


Semua yang melihat Raja dan Ratu menilai mereka berdua adalah pasangan yang cocok. Namum, ada juga yang tidak suka. Siapa lagi, kalau bukan si centil, Citra.


Ratu menemui ibunya di kamarnya. Terlihat Anita begitu cantik dengan kebaya putihnya, serta sanggul yang terpasang di kepala.


"Mama cantik banget," puji Ratu.


"Makasih, Sayang. Pokoknya nanti Mama mau lihat kamu memakai pakaian adat saat resepsi nanti. Mama sudah membayangkan anak Mama ini akan sangat cantik," balas Anita.


Ratu bisa melihat kebahagiaan di wajah mamahnya. Ratu sangat bahagia jika mamahnya bahagia.


"Ratu … kamu melamun? Mikirin apa, kok sampai nangis gini?" tanya Anita yang melihat anaknya duduk terdiam dan menitihkan air mata. Segera Anita menghapus air mata di pipi anaknya.


"Ratu bahagia, liat Mama akhirnya bisa nikah juga. Semoga Om Hendra bisa selalu jagain Mama dan bikin Mama bahagia," ucap Ratu.

__ADS_1


Anita meraih wajah anaknya dan sekali lagi mengusap jejak air mata di wajah putri kesayangannya.


"Makasih, Sayang." Kecupan lembut Anita berikan di kening putrinya.


"Aduh, aduh, acara nangis-nangisnya ditunda dulu, make up nya bisa luntur," omel makeup artist yang ditugaskan untuk merias mamahnya.


Anita dan Ratu tertawa kecil, lalu mengusap air mata di sudut mata masing-masing.


Pukul setengah satu siang, terlihat rombongan dari keluarga mempelai laki-laki sudah masuk ke halaman rumah itu. Terlihat Gunawan, Alan, dan Suci, ada di antara rombongan itu.


Raja datang ke kamar dimana ibu mertua dan istrinya berada. Dia mengatakan acaranya akan segera dimulai.


"Ma, sudah siap? Om Hendra sudah dateng," ucap Raja.


"Sudah Raja. Aduh kok Mama gugup gini, ya?" ucap Anita.


"Idih, Mama … kaya baru nikah saja," ledek Ratu.


Anita tersenyum tipis, memang ini pernikahan kedua baginya. Namum, entah mengapa rasa gugup seperti dulu saat dirinya akan menikah untuk pertama kalinya.


"Sudah siap Anita?"


Raja, Ratu, dan Anita melihat kearah pintu. Anna, ibunya Anita datang untuk membawa putrinya menemui mempelai laki-laki yang tengah menunggunya.


Setelah semua orang sudah berkumpul, acara ijab kabul segera dimulai. Roni, ayah Anita menjadi wali nikah untuk Anita.


"Saya nikahkan anak saya, Anita Hermawan binti Roni Hermawan dengan seperangkat alat sholat ,emas 20 gram dan uang sebesar 20 juta, dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya, Anita Hermawan binti Roni Hermawan, dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."


"Sah!"


Anita sudah tidak lagi menyandang sebagai nyonya Wijaya atau pun Hermawan. Kini Anita menyandang gelar sebagai nyonya Anita Mahendra Atmajaya.


Semua orang bersorak bergembira dan mengucapkan selamat untuk kedua mempelai.


"Hei Alan, kita sudah resmi jadi kakak adik. Awas saja kalau lo gak jagain gue," ancam Ratu.


"Lo udah punya suami, 'kan? Minta jagain sama suami lo," tolak Alan. "Tapi gue yakin Raja kewalahan jagain lo yang kaya kancil itu," ledek Alan mengundang tawa semua orang yang mendengarnya.


"Tumben lo bener, Lan," imbuh Raja.

__ADS_1


__ADS_2