
Jangan lupa like, rate, vote dan favorit nya
Raja, Radit, dan Aldo berlari di koridor rumah sakit setelah mendapat kabar dari Ratu tentang kecelakaan yang dialami oleh Suci. Rasa cemas menyelimuti hati Raja, meskipun sudah tak memiliki rasa terhadap Suci.
Raja sampai di ruang perawatan di mana Suci dirawat. Jalanan yang macet membuat Raja sampai di rumah sakit satu setengah setelah Ratu mengirim pesan pada Aldo. Rasa cemas dan emosi menjadi satu. Raja takut terjadi sesuatu pada istrinya.
Raja sampai di depan ruang perawatan Suci, ia mengepalkan tangannya saat melihat Alan. Raja berjalan mendekati Alan dan langsung memukul wajah Alan membuatnya tersungkur ke lantai. Setelah itu Raja mencengkram pakaian Alan.
"Brengsek lo! Udah gue bilang. Jangan pernah lo berani ngusik temen-temen gue dan sekarang lo malah nyoba nyulik Ratu." Aldo dan Radit berusaha memisahkan Raja yang sedang dalam kemarahan.
"Ja, kalo lo mau kasih Alan pelajaran jangan di sini. Ini rumah sakit," ucap Aldo.
Raja melepas cengkraman tangannya, ia pun mengusap wajahnya kasar.
Raja menjauh dari Alan dan menghembuskan napas lega saat melihat Ratu yang baru saja keluar dari ruangan di mana Suci masih terbaring.
"Ya ampun, Dek. Kamu gak apa-apa?" tanya Raja.
Ratu tak bersuara, hanya gelengan kepala Ratu yang mewakili jawaban atas pertanyaan Raja.
Raja langsung memeluk istrinya, mencium ujung kepala Ratu berulang-ulang. Kalau saja Raja tak sadar kalau mereka di rumah sakit, mungkin Raja tak akan melepaskan pelukan itu.
"Suci? Bagaimana keadaan dia, Dek?" Raja bertanya dengan sedikit ragu.
"Dia ... dia ...?" Ratu merasa tak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya.
"Dia kenapa, Dek?" tanya Raja sekali lagi.
"Dia keguguran. Tadi sempat pendarahan. Tapi untungnya kami sampai di rumah sakit tepat waktu," jawab Ratu penuh penyesalan.
Andai saja Suci tak menolong dirinya mungkin dia tak akan mengalami hal itu, Ratu merasa kalau semua itu adalah salahnya.
Raja menghapus air mata yang mengalir di pipi Ratu. Raja mengajak Ratu duduk di kursi tunggu di depan ruangan itu. Raja melirik sekilas ke arah Alan yang akan pergi, dengan segera Raja menghadang langkahnya.
__ADS_1
"Mau ke mana lo?" tanya Raja dengan tatapan mautnya.
"Gue mau balik. Gue sudah gak punya urusan di sini!" Alan menjawab dengan gaya tengilnya.
"Lo emang gak punya pikiran sama perasaan ya!" bentak Raja.
Alan mendengus kesal melihat tatapan dan mendengar ucapan Raja. Dengan kasar Alan mendorong pundak Raja membuat tubuhnya terdorong ke belakang.
"Minggir lo!" Alan berjalan meninggalkan Raja dan teman-temannya.
-
Alan duduk di balkon villa keluarganya dengan ditemani satu batang rokok yang ia sematkan di sela jarinya. Pikirannya melayang mengingat kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu. Alan begitu terkejut saat Suci jatuh dan terguling di anak tangga. Apalagi dengan mata kepalanya sendiri, Alan melihat darah keluar dari sela-sela kaki Suci. Tangannya bergetar saat dirinya mengangkat tubuh Suci, teriakan kesakitan Suci masih terngiang di telinganya sampai saat ini. Hal itu masih ia rasakan sampai saat itu.
"Bodoh, bodoh, bodoh"
Alan menarik rambutnya sekuat mungkin, berharap bayangan itu segera pergi dari pikirannya. Namun, semakin Alan ingin menghilangkan bayangan kejadian itu malah semakin membuatnya teringat jelas.
Alan menghembuskan napas kasar sebelum memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Alan duduk di dalam mobilnya membelah jalanan yang masih sangat padat. Pikirannya masih melayang memikirkan tindakan bodohnya yang membuat nyawa Suci hampir melayang.
Selama satu jam Alan bergelut dengan jalanan yang sangat padat, akhirnya Alan sampai juga di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit, Alan masuk dan berjalan menuju ruang perawatan Suci. Alan tak melihat Raja dan Ratu, ia hanya melihat Radit dan Aldo yang sedang duduk di depan ruang perawatan Suci.
"Mau ngapain, lo?" tanya Aldo saat melihat Alan akan masuk ke ruang perawatan Suci.
"Bukan urusan lo!" jawab Alan. Tanpa menghiraukan ucapan Aldo, Alan masuk ke dalam ruangan di mana Suci masih terbaring tak sadarkan diri.
Alan berjalan ke arah Suci. Ia duduk di kursi di samping ranjang kecil itu. Alan menggenggam erat tangan Suci, lalu menciumnya.
"Cewek bodoh. Sudah berulang kali gue bilang supaya lo jauhin gue. Tapi lo keras kepala banget," ucap Alan pada Suci yang masih tertidur.
Alan mengusap kening Suci, "Maaf, bukannya gue gak mau tanggung jawab atas kehamilan lo, tapi gue belum siap, gue terlalu terkejut untuk menerima kabar ini, gue takut saat bokap gue mendengarnya, dia pasti akan murka sama gue." Untuk pertama kalinya Alan menitihkan air matanya.
"Maaf ... lo menjadi pelampiasan kekecewaan dan kemarahan gue sama nyokap gue yang sudah selingkuh dari bokap gue. Harusnya gue gak ngancurin masa depan lo dengan meminta kesucian lo waktu itu." Air mata mulai menetes dari matanya, mengalir di punggung tangan Suci yang masih ia genggam.
__ADS_1
"Lo boleh marah sama gue, lo boleh benci sama gue, kalau itu bisa bikin lo maafin gue." Alan menundukkan kepalanya di samping tubuh Suci yang masih tertidur, tangannya masih menggenggam erat tangan Suci.
Tanpa Alan sadari, Ratu dan Raja mendengar apa yang diucapkan oleh dirinya. Ratu sampai menitihkan air mata mendengar pengakuan Alan, sedangkan Raja mengira orang yang ada di hadapannya bukanlah Alan.
Ratu menghampiri Alan yang masih menundukkan wajahnya. Saat Alan mendengar ada langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Alan langsung menghapus jejak air mata di pipinya. Setelah itu Alan melirik sekilas ke sampingnya dan ternyata Ratu sudah dan Raja sudah berdiri di sampingnya.
"Lo pada ngapain masih di sini?" tanya Alan tanpa melihat ke arah Ratu dan Raja.
"Gue udah ngehubungin orang tuanya Suci kok, mereka lagi dalam perjalanan ke sini. Biar gue yang temenin Suci di sini sampai mereka datang," ucap Alan sekali lagi.
Alan melihat sekilas ke Raja dan Ratu yang masih berdiri mematung di sampingnya.
"Udah pergi sono, gue udah males liat muka kalian di sini," usir Alan.
Ratu dan Raja saling tatap, ingin rasanya Raja memukul wajah tengil Alan saat ini, karena Alan masih saja memperlihatkan wajah menyebalkannya itu. Namun, setelah Raja mendengar apa yang di katakan Alan, ada rasa iba di dalam hatinya.
Raja melingkarkan tangannya ke pundak Ratu dan membawanya keluar dari ruang perawatan Suci. Baru membalikan badannya, Raja berhenti dan menoleh ke belakang.
"Kalo lo punya masalah, lo bisa cerita sama gue," ucap Raja.
Alan mendengkus. " Gak usah sok baik kalian," ucap Alan tanpa melihat ke arah pasangan suami-istri itu.
Raja dan Ratu hanya bisa menghela napas panjang, lalu keluar dari ruangan itu.
"Balik, yuk," ajak Raja pada Radit dan Aldo saat ia sudah berada di luar ruang perawatan Suci.
"Di sini siapa yang jaga?" tanya Aldo.
"Ada Alan, dia yang nyuruh kita balik."
Aldo dan Radit mengangguk bersamaan.
Raja, Ratu, Aldo dan Radit masuk ke dalam satu mobil. Keempatnya langsung melesat kembali ke Jakarta.
__ADS_1